Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Telpon Dari Siska


__ADS_3

Victor tidak jadi pulang karena masih ada urusan yang masih harus diselesaikan. Menjadi ketua preman yang dipercaya beberapa bos besar di Jakarta membuatnya mampu membuka bisnis baru di beberapa pulau.


Victor tentu bukan preman asal preman. Dia memiliki ijazah sarjana, dia tidak mau menjadi preman selamanya, dia mau menjadi bos. Dia tentu sadar jika dia tidak selamanya muda, gesit dan bertenaga, maka selagi dia masih memiliki tenaga yang cukup, dia harus membangun kerajaannya sendiri dari sekarang.


Agni semakin gelisah begitu mendengarkan kabar dari Victor perihal ditundanya jadwal pulang ke Jakarta. Dia hendak keluar barang sebentar untuk bertemu dengan Elisa namun dia memikirkan kedua anaknya. Dia tidak mau Mbo Ratih semakin tidak menyukainya dan menuduhnya macem-macem kalau dia harus keluar dan meninggalkan si kembar.


Walau ada Siska di sana, dia tidak mau meninggalkan si kembar begitu saja di bawah pengasuhan Siska.


***


Baca juga: Zora's Scandal (Sudah tamat, lihat pada profil saya)


Victor telah memutuskan untuk membuka usahanya di tempat yang baru dia kunjungi, dia menempatkan orang kepercayaannya di sana. Dia cukup puas dengan apa yang dia kerjakan di sana.


"Ah, akhirnya aku bisa membuka cabang di sini!" Victor memuji dirinya sendiri.


Dia merebahkan badannya yang terasa penat di kasur salah satu kamar hotel terbaik di kota kota itu.

__ADS_1


Saat matanya mulai terlelap, dia mengingat Agni dan si kembar yang dia tinggalkan di Jakarta. Dia membayangkan untuk membahagiakan mereka bertiga dengan usaha yang mulai dirintisnya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia melihat ada panggilan dari Siska.


"Ada apa ya? Kenapa Siska menelponku selarut ini? Apa yang terjadi dengan Agni? Atau si kembar?" Victor tidak segera mengangkat panggilan dari Siska namun pikirannya tidak enak dan akhrinya dia memutuskan untuk menjawab panggilan itu.


"Iya, Sis. Ada apa?" Victor menjawab dan langsung bertanya keperluan Siska menghubunginya.


"Maaf, Pak. Tidak ada apa-apa, Siska hanya ingin menanyai kabar Bapak saja." Siska memasang suaranya yang genit.


"Oh, saya baik, Sis. Apa kabar kalian di sana? Kalian baik-baik saja kan?" Victor menjawab dengan lembut pada Siska.


"Baik kok, Pak. Bapak jaga diri di sana ya. Jangan lama-lama baliknya ya, Pak. Siska kangen. Hehehe!" Siska tertawa kecil.


Tawa Siska terdengar renyah di telinga Victor.


"Kangen? Kamu jangan menggodaku ya Sis. Aku sudah punya istri loh!" Victor mengingatkan Siska.

__ADS_1


"Lah, emang kenapa? Nggak ada yang salah loh dengan kangen. Aku nggak maksa kok kalau Bapak harus kangen padaku!" Siska menjawab dengan suara yang sangat merdu.


"Ya, nggak apa-apa juga sih. Tapi jangan terlalu kangen loh. Kangen itu berat, biar aku...." Victor tersadar, dia seharusnya tidak bisa berkata begitu pada Siska.


"Hehehe... sudah dulu ya, pak. Siska bobok dulu. Mimpi yang indah, Pak!" Siska langsung menutup panggilannya.


Victor bingung mengapa dia bisa bersikap seaneh tadi pada Siska.


"Apakah aku sudah mulai suka dengan Siska?' Victor bertanya di dalam hatinya.


Baca juga: Zora's Scandal (Sudah tamat, lihat pada profil saya)


Sepanjang malam itu, Victor selalu terbayang wajah Siska yang polos. Dia membayangkan Siska yang lugu yang tidak tahu apa-apa dan sangat menggemaskan.


Suara siska yang merdu selalu teringiang-ngiang di telinganya. Victor benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2