Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Affair (Again?)


__ADS_3

Sudah terlalu larut, Victor belum juga kembali ke Villa. Agni semakin khawatir dengan keadaan Victor di luar sana. Berkali-kali dia mencoba untuk menghubungi ponsel Victor namun tidak ada jawaban.


Terakhir kali Agni mencoba menghubunginya, akhirnya ponsel Victor tidak bisa dihubungi lagi. Tidak aktif. Kekhawatiran Agni semakin bertambah karenanya, tidak sedikitpun matanya bisa terlelap.


“Apakah aku harus lapor ke polisi ya?” Agni menimbang-nimbang akan melapor ke polisi setempat jika Victor mungkin diculik, entah siapa yang menculik. Namun diurungkannya, pasti polisi akan menunda mencari karena durasi Victor tidak bisa dihubungi belum terlalau lama. Victor belum bisa dinyatkan hilang. Agni mengurungkan niatnya atas pertimbangan itu. Dia gelisah setengah mati karena Victor.


***


Sementara, masih di Pulau Dewata, Victor sudah setengah mabuk walau dia masih bisa mengendalikan dirinya. Dia hanya tersenyum melihat seorang perempuan sedang berjoged di panggung. Perempuan itu tampak mabuk juga, dia mengajak Victor untuk maju ke depan dan menari bersamanya.


Victor menolak, dia tidak terlalu pandai menari, selain dia juga malu menjadi tontonan banyak orang. Dia melambaikan tangannya, memberi kode kalau dia tidak mau diajak menari ke sana.


Victor meneguk lagi minuman yang ada di dalam gelasnya.


Karena Victor tidak mau diajak, perempuan itu mendatangi Victor. Dia duduk di sampingnya dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Victor.


“Kamu tidak takut kalau pacarmu melihatmu bersandar di pundakku?” Victor berusaha menatap wajah perempuan itu, namun dia tidak bisa, hanya kepala bagian atas perempuan itu yang kelihatan, kemudian Victor mengubah arah pandangannya ke arah panggung yang barus aja ditinggalkan perempuan itu.


“Kami tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku bosa dengannya, terlalu posesif, aku tidak suka!” Perempuan itu masih dengan pososisi yang sama.


“Lah, bukannya, perempuan suka dengan laki-laki posesif? Katanya itu tanda-tanda jika laki-laki sangat mencintai perempuannya!” Victor pura-pura membela mantan perempuan yang bermanja-manjaan di pundaknya itu.


“Siapa bilang? Hanya perempuan bodoh yang mau dikekang oleh pacarnya, belum jadi suami sudah begitu, bagaimana pula kalau suatu saat dia jadi suamiku? Aku bisa frustrasi dikekang dan dikurung di rumah terus. Ogah pacarana dengan laki-laki macam itu!” Perempuan itu mencurahkan isi hatinya.


Victor tersenyum, tertawa kecil.


“Jangan kira semua perempuan itu sama! Banyak kok perempuan yang mau mandiri, tidak suka dikekang, dan menurutku kebanyakan begitu kok!” Perempuan itu duduk dan memandang wajah tampan Victor. Matanya sayu, entah karena dia kagum pada ketampanan Victor atau karena dia sudah mabuk berat, hingga matanya begitu berat sekarang.


“Hmm, begitu ya?” Victor angguk-angguk.


“Jangan pura-pura bodoh ya!” Perempuan itu menjewer pipi Victor.


“Emang aku kira begitu kok!” Victor membela diri.


“Halah, aku sudah tahu siapa kamu, banyak perempuan yang sudah kau ajak tidur bersama, tidak mungkin kau tidak tahu sifat-sifat perempuan yang beragam, iya kan? Jangan pura-pura bodoh di hadapanku, aku tidak bisa kau tipu dengan kepura-puraanmu itu!” Perempuan itu memeluk tangan Victor yang kekar.


“Hehe!” Victor tertawa kecil, seperti sedang tertangkap basah, tipu muslihatnya tidak manjur pada perempuan itu.


“Padahal dia sangat tampan loh!” Victor mencoba memancing perempuan itu lagi.


“Siapa?” Perempuan itu melotot pada Victor.


“Pacarmu!”

__ADS_1


“Mantan! Sudah aku putuskan hubungan dengannya! Harus aku akui, dia tampan, tapi dia terlalu posesif, sepertinya kami tidak satu frekuensi, susah menyatukan persepsi dengan dia!” Perempuan itu mengeluh.


“Hanya karena itu kau putuskan dia?” Victor ingin tahu lebih jauh.


“Tidak sih!” Perempuan itu senyum-senyum di depan wajah Victor.


“Terus?” Victor penasaran.


“Karena ada kamu di sini!” Perempuan itu memainkan matanya pada Victor.


“Tapi, papamu adalah musuh bebuyutanku!” Victor mengingatkan perempuan itu.


“Kalau kalian bermusuhan, itu urusan kalian, aku tidak mau ikut campur. Yang aku mau adalah kamu seorang!” Perempuan itu mencubit hidung mancung Victor.


“Bagaimana kalau dia tahu?” Victor melihat wajah perempuan itu lekat-lekat.


“Tahu apanya?” Perempuan itu mengejar pertanyaan Victor.


“Tahu kalau…” Victor salah tingkah. Entah apa yang sedang dipikirkannya.


“Kalau kita sudah pacarana? Kamu nembak aku ya?” Perempuan itu memeluk badan Victor yang kekar.


“Eh, anu…”


Victor terpancing dengan gesekan-gesekan yang disengaja perempuan itu. Dia memeluk juga badan perempuan itu. Dia tidak perduli dengan orang-orang di sekitar mereka.


“Tapi aku sudah…”


“Sudah punya istri?” Perempuan itu memotong ucapan Victor.


“Iya, aku sudah beristri!”


“Tidak masalah, kita tidak perlu mengadakan press conference untuk memberitahu dunia kalau Victor sedang selingkuh dengan putri musuh bebuyutannya, nggak perlu sayang!” Perempuan itu mengelus wajah Victor yang kian memerah, antara pengaruh minuman atau gairah yang mulai muncul karena sentuhan-sentuhan mesra Elena.


“Elena…” Victor sayu melihat ke mata Elena.


“Jangan banyak bicara!” Elena mengecup bibir Victor yang seksi itu.


Victor menyabut bibir seksi Elena yang merah dan tipis. Lama mereka saling pagut, nafas mereka tersengal-sengal sekarang. Keduanya saling pagut, tidak perduli dengan banyak mata yang sedang menyaksikan mereka.


Karena tingkah mereka, banyak pasangan yang menyaksikan mereka juga akhirnya melakukan hal yang sama, mereka terpancing melakukan apa yang mereka lihat, apa yang dilakukan Victor dan Elena di sana.


“Bibirmu hangat sekali, sayang!” Elena memuji Victor.

__ADS_1


“Bibirmu juga sayang, enak sekali, hangat namun segar!” Victor memuji balik Elena. Dia sudah dikuasi oleh birahinya sendiri sekarang.


Elena tahu jika Victor sedang bernafsu sekali saat itu. Dia berdiri dan duduk di pangkuan Victor yang sudah mabuk kepayang dengan Elena yang seksi itu.


“Ow! Kau sudah on ya sayang!” Elena terkejut karena ada gumpalang yang mengeras yang dirasakannya sekarang.


Victor tidak memerdulikan perkataan Elena, dia menarik kepala Elena dan mendekatkan wajahnya dan mengecup lagi bibir ranum Elena.


Elena menyambut kecupan itu, mereka saling pagut lagi, sembari dia menggesek-gesekkan pantatnya di pangkuan Victor. Victor semakin bergairah dibuatnya.


“Kau liar sekali Elena!” Victor berbisik pelan di telinga Elena saat dia sedang menjelajahi leher jenjang Elena dengan bibir dan lidahnya.


Elena merasa Victor sedang memuji Elena. Dia terus melakukan aksinya itu.


“Kasihan sekali mantanmu yang kau tinggalkan itu!” Victor masih berbisik di telinga Elena, setelah mengatakan itu Victor menggigi pelan telinga Elena.


Elena menarik tubuhnya dari pangkuan Victor dan duduk di samping Victor kembali, ditatapnya Victor lekat-lekat.


“Kenapa kau selalu bawa-bawa mantanku sementara aku sedang berada di pangkuanmu?” Elena tidak senang karena Victor selalu menyinggung mantannya, terutama karena Victor kasihan dengan mantan Elena.


“Bukan begitu Elena, itu sebatas ejekan saja, masa kamu marah hanya karena itu?” Victor membela diri.


“Jangan menyinggung atau mengejek dia lagi di hadapanku, bagaimanapun dia adalah laki-laki yang pernah mengisi hari-hariku, aku tidak suka kau memperlakukannya demikian!” Elena malah semakin marah.


“Kau masih cinta dengannya?” Victor ingin marah tapi dia berusaha memelankan suaranya.


“Tidak!” Elena memandang sayu pada Victor.


“Kalau kau masih cinta, kenapa kau menyuruhku datang ke sini untuk menemuimu? Kau kira aku laki-laki bayaran?” Victor marah.


“Terus, kau kira aku perempuan bayaran?” Elena balik bertanya.


“Tidak!”


“Kenapa kau memperumit masalah ini sih? Aku hanya tidak mau kau menyinggung-nyinggum mantanku di sini. Kau dengar aku tadi menyinggung-nyinggung istrimu tidak?” Elena membela diri.


“Baik, lupakan saja!” Victor bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Elena di sana. Dia berjalan ke arah kasir dan menunjuk meja di mana Elena masih duduk di sana. Tidak berapa lama dia menyerahkan kartu kreditnya untuk membayar semua makanan dan minuman yang telah mereka pesan.


Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon)


Elena melihat Victor sudah melangkah menuju pintu keluar. Dia mengejar Victor sampai ke pintu depan. Victor benar-benar ingin Elena mengejarnya namun dia tidak mau melirik ke belakang.


Jangan lupa ninggalin jejak ya ka, Vote, like, komen dan share ya kaka, agar semua makhluk berbahagia hehehe😂

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2