Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Ganti Nama


__ADS_3

Sementara itu di Jakarta, Mbo Ratih merencanakan sesuatu secara diam-diam. Dia sangat yakin bahwa anak-anak itu menangis terus karena diberi nama yang sangat sederhana, Adik dan Abang. Dia yakin kalau dia ubah nama itu anak-anak itu akan hidup lebih tenang.


Dia letakkan kedua anak itu di tempat tidur masing-masing, bersebelahan. Kemudian dia mengambil air di dalam baskom kecil berwarna putih. Di dalamnya ada dua kain berwarna putih juga, sapu tangan yang sudah dicucinya bersih kemarin.


Anak-anak itu masih menangis. Tubuh mereka mulai hangat memang. Dipandanginya anak-anak itu.


“Ini, si Abang mana, si Adek mana nih?” Mbo Ratih bingun. Dia lupa, anak-anak itu terlalu mirip, susah dibedakan.


“Hah, bodo amat!” Mbo Ratih berbicara pada diri sendiri.


“Baik mulai dari sekarang, nama kalian saya ganti!” Diremas-remasnya kain putih yang ada di dalam baskom berisi air dingin itu.


Setelah tidak terlalu basah lagi, dilipatnya sapu tangan yang dingin itu dan diletakkannnya pada kening salah satu anak itu.


Anak itu mungkin terkejut dengan apa yang dirasakannya, dan dia diam seketika, seolah bertanya-tanya apa gerangan yang diletakkan Mbo Ratih pada keningnya, sedangkan yang satu lagi masih menangis.


“Mulai sekarang namaumu adalah Abisatya, karena kau kuanggap yang lebih sulung dari adikmu ini!” Walau Mbo Ratih tidak terlalu yakin jika anak itu adalah si Abang.


“Tuh, kan, diam!” Mbo Ratih memuji dirinya sendiri.


Diambilnya satu kain putih lagi dan seperti yang sudah dilakukannya pada kain putih pertama dilakukannya juga pada kain putih itu kemudian diletakkannya pada bayi selanjutnya.


“Dan sekarang namamu adalah Abiwara, kau kuanggap sebagai adik dari Abisatya!” Mbo Ratih senang karena kini keduanya terdiam, menimati dinginnya sapu tangan yang diletakkan ke keningnya masing-masing.


Mbo Ratih tentu bangga dengan apa yang telah dilakukannya.


“Memang ya, papa dan mama kalian itu tidak punya hati, tega sekali mereka meninggalkan kita di sini, meninggalkan kalian berdua!” Mbo Ratih seolah ingin memprovokasi anak bayi yang tidak tahu apa-apa itu.


Mereka berdua tentu tidak tahu apa-apa. Mereka terdiam hanya karena merasa lebih enakan badannya setelah dikompres oleh Mbo Ratih, sebenarnya kedua anak itu sedang demam, makanya badan mereka terasa hangat.


“Kalian setuju kan, denganku?” Mbo Ratih berbicara pada mereka. Dipandanginya satu per satu anak-anak itu, bergantian.


“Jangan rewel lagi ya, cepat gede makanya biar bisa ikut jalan-jalan sama papa dan mama, yah!” Mbo Ratih menganggap mereka sudah mengerti dengan apa yang sedang diucapkannya.


“Oh iya, sebelum aku lupa lagi!” Mbo Ratih teringat akan sesuatu.


Dia pergi meninggalkan anak-anak itu yang telah terdiam dan menikmati dinginnya sapu tangan yang ada di kening mereka.

__ADS_1


Mbo Ratih kembali lagi, dia memakaikan gelang penanda bagi kedua bayi itu. “Agar Mbo nggak lupa, aku kasih nama kalian di sini ya, di gelang ini!” Diikatnya gelang itu di tangan mereka berdua. Ada nama keduanya di sana, yang baru saja ditulisnya.


“Nah, kalau begini kan, Mbo nggak akan kesulitan lagi mengenal kalian berdua.” Mbo Ratih tersenyum pada keduanya.


Seperti mengerti apa yang sedang diucapkan Mbo Ratih, keduanya juga turut tersenyum.


“Nah, gitu dong, tersenyum, jangan nangis lagi. Sebentar Mbo basuh lagi ya sapu tangannya!” Diambilnya sapu tangan yang menempel di kening Abisetya, dicelupnya ke dalam baskom itu, diperasnya, kemudian ditempelkan kembali di kening Abisetya.


Begitu juga pada Abiwara, Mbo Ratih melakukan hal yang sama pada anak itu. Keduanya sangat menikmati perlakuan Mbo Ratih itu. Mbo Ratih senang karena keduanya akhirnya diam juga.


***


Elisa mendapat kabar dari Agni kalau dia sedang ada di Bali, bersama dengan Victor. Elisa dikabari jika mereka sedang melakukan bulan madu.


Elisa senang mendengar kabar itu, apalagi perlakuan Victor kini sudah jauh berbeda, sangat baik. Dia kini lebih banyak mengalah pada Agni.


“Ok, nanti gw ceritakan lagi ya, Victor sudah datang.” Pesan terakhir dari Agni pada Elisa malam itu.


Elisa tersenyum di dalam kamar apartemennya. Dia bersyukur jika hal-hal baik sudah menghampiri Agni sekarang, walau dia kesepian sekarang, tetapi dia turut senang mendengar kabar itu.


***


“Iya, sayang. Dengan Elisa, memberi kabar padanya!” Agni tersenyum pada Victor.


“Oh, semoga kau beri kabar yang baik-baik saja padanya!” Victor tersenyum sambil masuk ke dalam kamar mandi.


“Pasti, sayang!” Agni tersenyum.


Victor menutup kamar mandi. Walau Victor menutup kamar mandi itu, Agni bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh Victor.


Saat Victor mulai membuka celananya, Agni bisa melihat semua bagian tubuh Victor yang biasanya tidak bisa dilihatnya jika Victor sedang memakai celana.


Victor tidak kaku, dia malah menggoda Agni, tetapi Agni jual-jual mahal. Dia tidak mau basah lagi karena dia sudah membasuh tubuhnya setelah dari kolam tadi.


Victor membasuh badannya, memakai kimono yang tersedia di sana, kemudian berjalan mendekati Agni.


“Pakai baju dulu, sayang!” Agni menolak ajakan Victor.

__ADS_1


“Kita makan malam dulu!” Agni menolak lagi ajakan Victor.


“Aku maunya sekarang!” Victor tidak mau mendengar kata-kata Agni. Didorongnya tubuh Agni ke belakang.


Agni telentang sekarang. Agni menghalangi pelukan Victor dengan kakinya, kini telapak kaki Agni berada di dada bidang Victor.


Victor tidak mau berhenti. Diciumnya kaki itu, dipegangnya kaki Agni dan diangkatnya tinggi-tinggi dan kemudian menciumi kaki itu dari telapak kaki sampai ke betis Agni.


Agni tergoda, namun dia menahan birahinya sendiri. “Aku lapar!” Agni mengeluh.


“Aku juga lapar, sayang! Lapar yang ini lebih menyiksa!” Victor masih menggoda, memohon pada Agni agar mau melayaninya.


“Sayang…” Agni terdiam karena bibir Victor sudah memagut bibirnya yang ranum itu.


Kemudian tangan Victor mulai bergerilya mulai dari pinggul Agni sampai ke bagian yang paling menonjol dari tubuh Agni.


Agni keenakan. Lapar perutnya kini kalah, dia membalas semua perlakuan Victor padanya. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menjatuhkan Victor, dan kini dia berada di atas tubuh Victor.


Agni tidak mau kalah dengan permainan Victor tadi, tangan dan bibirnya mulai bergerilya ke mana-mana. Victor keenakan juga, kini kimono Victor sudah terbuka lebar, Agni bisa melihat semua bagian tubuh Victor, bahkan bagian yang paling seksi sekalipun, semuanya terpampang di depan Agni.


Agni duduk di kaki Victor dan tangannya ingin memegang adik Victor yang sangat dimanjakannya itu. Belum sampai tangan Agni ke sana, Victor menangkap tangan itu. Memegang kedua tangan Agni, ditarkinya ke atas, tinggi sekali, Agni tidak berdaya, dia tidak diberi kesempatan untuk mempermainkan apa yang ingin dipermainkannya.


Victor mendekatkan mulutnya di di telinga Agni, menghembuskan nafas hangatnya di leher Agni seraya bekata, “nanti kita lanjutkan, kita makan dulu, aku tiba-tiba lapar!” Victor tersenyum setelah mengatakan itu pada Agni.


Agni kesal dengan perlakuan Victor. Dia merasa dikalahkan dengan gampang oleh Victor.


“Andaikan saja aku tadi yang bersikeras tidak mau melayaninya, akut tidak akan dipermalukan seperti ini!” Agni berbisik pada dirinya sendiri, dia kesal.


Victor berdiri, mengangkat tubuh mungil Agni dan mendudukkannya di atas tempat tidur, sementara dia berjalan menuju lemari tempat baju mereka diletakkan.


Victor memakai celana pendek berwarna putih dan kaos polo berwarna merah jambu. Sangat serasi pada kulitnya yang lumayan putih.


Victor mengulurkan tangannya pada Agni. Agni bangkit dari tempat tidur dan menyambut tangna Victor. Dia masih kesal.


Baca juga: Zora’s Scandal (Lihat pada profil saya di NovelToon atau MangaToon, by Otom)


Mereka menuju restoran, tidak jauh dari lobi Villa itu. Sebenarnya mereka bisa memesan makanan di dalam kamar saja tetapi mereka tidak melakukannya karena Agni ingin melihat-lihat sekitar Villa juga katanya.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kaka! Terima kasih!


Bersambung…


__ADS_2