Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Siraman (Bukan Rohani)


__ADS_3

Victor ikut bergabung di meja makan setelah semua makanan selesai disajikan. Wajahnya tampak tidak bersahabat sama sekali.


“Mbo!” Victor memberikan kode pada Mbo Ratih.


Mbo Ratih langsung ingin menyendok makanan ke dalam piring dan menyerahkannya kepada Victor.


“Biar aku saja, Mbo!” Agni meminta piring yang dipegang oleh Mbo Ratih.


“Biar Mbo Ratih saja, bukannya dari tadi diambilin, haru dikasih kode dulu, istri tapi nggak peka, biarkan Mbo Ratih yang buat, kau duduk manis saja!”


“Biar aku saja!”


“Aku bilang Mbo Ratih saja, kau sedang kepayahan, bawa badan sendiri susah, jangan cari-cari muka, basi!” Victor ketus. Mbo ratih menahan tawanya.


“Sini nya, biar Mbo saja!”


“Biar aku saja, Mbo. Eh, jangan panggil nya dong, apalagi di depan dia, bisa-bisa dia berang lagi, kayak beruang keluar dari hutan!” Agni menolak permintaan Mbo Ratih.


“Jangan kau pikir aku sudah budek ya, berani-beraninya kau mengata-ngataiku di depanku pula!” Victor membentak lagi.


Agni cuek saja, disendoknya beberapa lauk ke dalam piring itu sampai menggunung.


“Kau kira aku serakus itu? Bukannya nanya dulu!”


“Nggak apa-apa, dimakan aja dulu, biar kenyang, biar ada tenaganya marah-marah lagi!” Agni menyerahkan piring yang penuh itu di depan Victor.


“Ngelunjak ya!” Victor berdiri. Dia menarik rambut Agni dan mendudukkannya di kursinya.


“Aw!” Agni kesakitan, dia duduk di bangku Victor, sekarang piring itu sudah di depannya sendiri.


“Kau habiskan sekarang, agar kau punya tenaga dimarahin seharian!” Victor menyuruh Agni memakan makanan itu semua.


Baca juga: Zora's Scandal (Lihat pada profil) 🙏


“Ini makananmu!”


“Kau memang keras kepala, sesekali harus dikasih pelajaran!”

__ADS_1


“Aku keras kepala karena kamu!”


“Nggak sadar ya, kau ini sejak lahir sudah keras kepala, orang tuamu saja sudah tidak memperdulikanmu karena kepalamu yang keras ini,” Victor menjotos kepala Agni dengan telunjuknya


“Jangan membawa-bawa orang tuaku ke sini!”


“Aku tidak membawa orangtuamu ke sini, siapa yang bawa, kau lihat ada orang tuamu di sinikah?” Victor pura-pura tidak tahu apa maksud perkataan Agni.


“Dasar, manusia salju, aku doakan akan datang matahari panas agar kau benar-benar meleleh!” Agni menyumpah Victor.


“Kalau mau menyumpah, jangan memakai banyak pribahasa, orang lain nggak ngerti, dan Tuhan, tidak suka dengan sumpah serapah manusia! Sekarang, habiskan makanan yang kau sendoki sendiri ini!” Victor menunjuk makanan yang ada di hadapan Agni.


“Tidak mau!” Agni menolak.


“Jangan sampai aku memaksamu ya!” Victor mulai mengancam Agni.


“Kalau ia kenapa?” Agni menantang.


“Lihat saja nanti, sekarang habisin semua makanan ini, jangan menyisahkan makanan sedikitpun di piring, itu belinya pakai duit semua!”


“Mbo, tinggalkan kami berdua di sini!” Victor mengusir Mbo Ratih yang masih berdiri di sana menyaksikan kemesraan pasangan suami istri itu.


Mbo Ratih melihat perkelahian mereka itu adalah perkelahian receh, perkelahian yang seharusnya tidak terjadi, apalagi sekelas Victor yang disegani di banyak komunitas, Mbo Ratih merasa tidak mungkin Victor berperilaku seperti itu. Mbo Ratih melihat itu sebagai tanda kasih sayang Victor pada Agni, namun caranya yang salah membuat orang lain yang mungkin melihat itu adalah kekejaman.


Sepeninggal Mbo Ratih, Victor mulai menyendok makanan dan menyuapnya ke dalam mulut Agni.


Agni menolak, dia tidak mau menurutui semua tindakan semena-mena dari Victor.


“Aku mau makan hanya dengan satu syarat!” Agni mengeluarkan suaranya.


“Syarat apaan? Nggak, nggak, kau harus habiskan makanan ini sekarang, ayo buka mulutnya!” Victor tidak mau bernegosiasi lagi dengan Agni.


“Nggak mau!” Agni masih menolak.


Victor menjambak rambut Agni dan menariknya ke belakang dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih memgang sendok dengan makanan di ujungnya.


“Aw!” Agni teriak kesakitan lagi.

__ADS_1


“Makan nggak?” Victor mengancam.


“Nggak mau!”


Victor menarik rambut Agni lebih ke belakang, sekarang Agni melihat ke atas, matanya mencoba memandang mata Victor yang tidak berperasaan itu.


“Apa aku nangis saja ya, dia kan tidak tahan melihatku menangis!” batin Agni.


Victor melepaskan jambakannya, kini dia memegang mulut Agni memaksa mulutnya terbuka agar makanan yang ada di sendok itu bisa masuk ke dalam mulutnya.


“Nggak mau!” Suara Agni tidak jelas karena mulutnya sedang terbuka karena dipaksa oleh Victor.


Victor tidak berbicara lagi, dia memasukkan makanan itu ke dalam mulut Agni yang terbuka setelah makanan itu masuk semua ke dalam dia melepaskan tangannya dari mulut Agni.


Agni mengunyah makanan itu, matanya nanar melihat wajah Victor yang tersenyum puas karena bisa mengerjai Agni, dia masih tidak puas dengan apa yang dilakukannya di kamar tadi.


Saat yang tidak diduga Victor pun terjadi. Agni menyembur semua makanan yang dikunyah sampai halus itu ke wajah tampan Victor.


Tangan Victro refleks menampar pipi kiri Agni. Kuat sekali, dia lepas kendali.


Agni meraung kesakutitan, dia juga tidak menyangka jika Victor akan sekejam itu padanya, akan setega itu padanya. Dan walau dalam keadaan kesakitan, dia puas membuat Victor marah besar dan hilang kendali, artinya misinya tercapai membalas dendam karena Victor telah memaksanya makan.


Mata Agni meneteskan air mata, antara sedih, ngeri dan puas karena telah memberi pelajaran pada Victor walau konsekuensinya dia harus mendapat tamparan keras dari Victor, Agni benar-benar puas dengan apa yang baru saja dilakukannya. “Tentu kau sudah sangat malu sekarang, iya kan? Kau kira aku tidak berani melawanmu?” Agni emosi, dia beteriak di dalam hatinya.


Victor melihat jelas air mata Agni mengalir di pipi merah bekas tamparan tangan Victor yang besar itu. Dia yakin, kalau lebih keras lagi, rahang Agni bisa-bisa patah.


Victor sadar sekarang kalau dia sudah benar-benar menyakiti Agni, secara fisik. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia menyesal tetapi di satu sisi dia juga puas telah memberi pelajaran pada Agni yang selalu melawan apa maunya dia.


Victor tidak mau ada seorangpun yang membantah perkatannya di rumah itu. Dia merasa pemilik tunggal di rumah itu dan selain dia, semuanya adalah penumpang maka sudah sepantasnya dia bisa berbuat sesuka hatinya di dalam rumah itu.


Untuk beberapa saat, mata mereka saling menatap, yang satu dengan berlinang air mata dan emosi yang memuncak sampai tdiak tahu harus meluapkannya sangkin besarnya emosi itu. Yang lain menatap dengan rasa bersalah namun di satu sisi ingin tertawa terbahak-bahak karena sudah mampu membuat wanita yang ada di depannya itu menangis walau dia sesungguhnya tidak suka melihat seorang wantia menangis di hadapannya, namun rasa bersalah yang kuat itu membuatnya bertahan di sana.


Victor untuk sesaat bingung mau melakukan apa, apakah dia harus meninggalkan Agni dengan air matanya di sana, atau dia harus membujuk Agni dan meminta maaf padanya. Kalau boleh memilih Victor lebih senang berkelahi dengan laki-laki, entah apa mimpinya hingga Agni yang keras kepala itu sampai di rumah ini, tidak pernah ada wanita yang bisa membantah perkataannya.


Bersambung…


Jangan lupa dukung novel ini dengan vote ya kaka🤗, yang sudah vote, terima kasih, semoga amalnya dicatatkan oleh yg Kuasa🙏

__ADS_1


__ADS_2