Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Hukuman Belum Selesai


__ADS_3

Sebelum baca, votenya dulu dong kaka, hehehe! Terima kasih buat readers baik yang telah kasih vote di novel ini, lopyu tomat, hehehe!


Victor pulang dari kamar hotel, meninggalkan kengerian di mata Elena. Elena benar-benar tidak menyangka jika mendapatkan perlakuan seperti itu dari Victor. Tadinya dia juga hendak menggoda Victor untuk melakukannya sekali lagi, namun niatnya itu sungguh mendapat tentangan dari Victor karena ulahnya sendiri.


Entah apa yang mendorongnya untuk mengirimkan video itu pada Agni. Dia mengira dengan mengirimkan video itu, Victor dan Agni akan segera becerai, Agni akan meninggalkan Victor kembali dan menerima Elena sebagai penggantinya, ternyata dugaannya itu salah besar. Dia malah ditinggalkan begitu saja dengan trauma yang dia sendiri tidak tahu akan sampai kapan trauma itu bisa sembuh.


Hampir saja nyawanya melayang karena kekonyolannya sendiri.


Victor sampai di kamar hotel yang mereka sewa. Dia membuka kamar dengan kunci cadangan yang dia minta di meja resepsionis barusan.


Victor menarik nafas panjangnya dan mulai membuka pintu itu berharap Agni tidak curiga dengan apa yang barusan dia lakukan.


Satu hal yang pasti, sebelum dia membuka ikatan tangan Agni, dia harus memastikan kembali jika video yang dikirim Elena itu benar-benar sudah terhapus dari ponsel Agni.


"Hai sayang, apa kau menikmati hukumannya?" Victor masuk dengan senyuman yang dipaksakan, bagaimana agar Agni tidak curiga, itulah yang harus dilakoninya.


Dia melirik sebentar ke arah si kembar, mereka berdua masih terlelap.


Agni melihat sinis pada Victor, dia sangat benci dengan hukuman seperti ini.


"Kenapa sayang? Kau benci dengan hukumannya?" Victor mendekat pada Agni. Dia pura-pura ingin membuka ikatan tangan Agni itu.


"Kenapa dima saja, sayang?" Victor berbisik dan menghembuskan nafasnya yang hangat ke telinga Agni.


Agni merasa geli di telinganya. Bukannya dia bertambah ***** dengan itu, malah dia merasa kegelian.


"Kau dari mana saja? Ini bukan hukuman tapi siksaan, Victor!" Agni menatap Victor tajam.


"Ini belum seberapa, sayang, kau harus dihukum berat hari ini!" Victor tertawa sinis pada Agni, dibuat-buat begitu agar Agni tidak bisa membaca kegundahan yang sedang berkecamuk di dalam hatinya jika video itu, video dia dan Elena memadu kasih dengan mesra dilihat oleh Agni, istri yang mulai dicintainya itu.


"Kau benar-benar sudah gila, Victor," Agni berharap tidak ada lagi siksaan yang harus dijalaninya.


"Kau mau aku lepaskan dari hukuman ini, sayang?" Victor bertanya pada Agni yang sudah memasang muka tidak bersahabat sejak dia meninggalkan hotel itu.


"Tidak usah, ikat aku terus seperti ini, samapi aku mati, biar kau puas, bukalah Victor, tanganku sudah mulai terasa kram!" Agni memohon pada Victor.


Victor mengambil ponsel Agni.


"Kenapa kau ambil ponsel itu?" Agni tidak tahu apa yang akan dilakukan Victor pada ponselnya itu.


"Kenapa sayang? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Victor malah menuduh Agni menyembunyikan sesuatu darinya.


"Tidak ada, jangan mengada-ada!" Agni membantah tuduhan Victor.

__ADS_1


"Aku tidak percaya sampai aku bisa memeriksa ponselmu, sayang!" Victor tertawa sinis.


"Tidak ada apa-apa di sana, kau mau apa sebenarnya?" Agni semakin curiga.


"Jangan pura-pura bodoh sayang, aku tahu ada laki-laki lain yang mengunjungimu saat aku di luar kota, kan? Aku tahu dia suka padamu, dan aku tidak suka itu, aku akan pastikan jika kau tidak pernah menghubunginya." Victor mulai mencoba membuka ponsel Agni.


Tidak bisa. Victor tidak tahu apa pin ponsel Agni.


"Kau sudah keterlaluan, Victor. Aku tidak pernah berusaha mendekati orang lain, jangan menganggap kelakuan orang di sekelilingmu sama dengan kelakukan bejatmu, jangan pernah!" Agni marah karena dituduh selingkuh oleh Victor secara tidak langsung.


"Aku tidak percaya, aku harus buka dan lihat sendiri, sebutkan pin-nya!" Victor meminta pin ponsel dari yang empunya.


"Tidak!" Agni menolak.


"Nah, kau pasti memiliki sesuatu untuk disembunyikan kan?" Victor menuduh lagi.


"Tidak ada, Victor. Lepaskan aku!" Agni kesal dengan perlakuan Victor yang berubah seratus delapan puluh derajat dari yang paling mesra yang dia lakukan sampai hal kejam seperti ini, Agni lupa kalau Victor adalah bos preman yang berusaha merintis usaha sendiri sekarang, hingga kekejaman di dalam jiwa Victor belum pudar seutuhnya.


"Maka sebutkan pin-nya!" Victor melotot pada Agni.


Agni ngeri melihat mata Victor yang melotot itu, dia melihat monster yang hendak menerkam mangsanya sekali telan.


"Tidak akan!" Agni mencoba bertahan.


Agni benci dituduh seperti itu, jika dia ingin selingkuh, sudah sejak lama dia melakukannya karena polisi tampan itu selalu berusaha mengajaknya untuk bertemu.


Agni harusnya tidak terlalu takut jika Victor harus membuka posnelnya dan memeriksa semua isi ponsel itu agar Victor tahu jika dia tidak melakukan apa-apa seperti yang dituduhkannya itu, namun Agni tidak mau, dia merasa tidak harus membuktikan semua hal untuk mendapat kepercayaan dari Victor.


"Agni, sebutkan!" Victor mulai tidak tahan untuk segera mengahpus video itu, ketakutannya kehilangan Agni membuat dia berbuat sekejam ini pada Agni sekarang.


"Tidak, Victor, tidak, semua tidak perlu dibuktikan agar kau percaya." Agni bersikeras untuk tidak menyebut pin posnelnya.


"Kalau begitu, kau akan tidur dengan tangan terikat seperti itu sepanjang malam ini." Victor membaringkan tubuhnya di samping Agni.


Agni menarik nafas panjang, dia masih menimbang dan bertanya-tanya, mengapa tiba-tiba Victor ingin sekali membuka ponsel Agni, padahal selama ini, dia bahkan menyentuh ponselnya saja tidak mau.


"Victor lepaskan aku, aku mohon!" Agni benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan tangannya yang sudah kram dari tadi. Tangannya hampir mati rasa sekarang.


"Tidak, tidak akan, sebelum kau mau menyebutkan pin ponselmu, emang apa sih susahnya menyebutkannya saja, kalau kau tidak menyimpan apa-apa rahasia yang tidak perlu aku tahu, kau tidak harus takut kok!" Victor menghadapkan wajahnya ke arah Agni yang masih terikat dan terduduk di atas tempat tidur itu.


Agni melirik ajah Victor dari atas. Dia benar-benar muak sekarang dengan gaya Victor yang kelewatan batas itu. Sebaiknya memang dia harus menyebutkannya, kalau tidak keras kepala Victor akan menyiksa Agni sepanjang malam ini.


Tangan Victor mulai masuk ke dalam baju Agni. Berusaha menggodanya.

__ADS_1


Agni merasakan hangat tangan Victor kini bermain-main di atas pertunya.


Agni menarik nafas dalam-dalam, dia merasakan sensasi yang aneh, dia kesakitan namun dia merasa sangat berhasrat sekarang karena sentuhan itu.


Tangan Victor mulai beranjak dari perut Agni menuju ke atas. Meremasnya pelan.


"Victor!" Agni mengeluh.


"Iya sayang!" Victor senyum, dia pura-pura tenang dengan senyumannya itu, padahal dia mau Agni segera menyerah dan menyebutkan pin ponselnya agar dia segear menghapus video yang dikirimkan Elena padanya.


Dia harus memastikan jika tidak ada Video itu tersimpan di ponsel Elena. Dia benar-benar harus memeriksanya segera. Maka dia akan menyiksa Agni selama dia tidak mau menyebutkan pin-nya itu.


Kini tangan Victor bergerak ke bawah, ke arah paha Agni.


Agni merasakan sensasi yang paling tragis yang pernah dia rasakan. Dia mulai meronta, ingin sekali dia menuntaskan permainan itu segera. Dia tidak tahan lagi.


"Ok, 999999!" Agni akhrinya menyebutkan pin ponselnya.


"Nah, gitu dong!" Victor langsung menarik tangannya dari tubuh Agni.


Dia langsung mencoba pin itu, ternyata salah, ponselnya tidak bisa dibuka.


"Kau mau mempermainkanku ya sayang?" Victor geram di dalam hatinya, Agni menyebutkan pin yang salah.


"Tidak, seingatku, itulah pin-nya!" Agni pura-pura lupa dengan pin-nya sendiri.


"Ternyata, hukumannya belum seberat itu ya?" Victor bangkit berdiri dan dia menghadap kedua kaki Agni dan menelentangkannya begitu saja.


Kini Victor maju ke arah depan. Agni bisa melihat dan merasakan sensasi itu lagi sekarang, lebih besar lagi sensasinya.


Wajah Victor sudah mulai dekat ke sana. Kedua kaki Agni langsung menangkap kepala itu.


Victor tertawa, dia tahu jika Agni sudah tidak tahan lagi.


"PIN-nya?" Victor bertanya lagi.


"123456!" Agni menyerah.


"Baik, aku coba dulu!"


Victor duduk dan mencoba memasukkan pin itu untuk membuka ponsel Agni.


Terbuka.

__ADS_1


Victor tersenyum, dia melihat ke arah Agni yang masih menarik nafasnya dalam-dalam.


__ADS_2