Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Menyewa Apartemen


__ADS_3

Elisa mencari-cari apartemen sewaan yang paling murah di salah satu mesin pencarian di internet. Sementara Agni menikmati kopi yang diseduh Elisa barusan.


“Kita akan berangkat mala mini?” Elisa melihat Agni yang memasang wajah ragu.


“Haruskah mala mini?” Agni bertanya, ragu, takut kalau-kalau Elisa akan mengejeknya lagi sebagai orang yang tidak berpendirian.


“Elu masih ragu?” Elisa benar-benar mampu menangkap ekspresi Agni yang ragu itu.


“Gw…!”


“Elu nggak perlu ragu lagi, lu mau dijemput paksa lagi oleh suruhan Victor?” Elisa melotot pada Agni yang masih ragu itu.


“Tapi…”


“Tidak ada tapi-tapi, kau tidak bisa ragu lagi, atau jangan-jangan elu masih mau kembali ke rumah itu? Kau dikasih apa oleh Victor? Lu diguna-guna ya? Tapi kalau lu diguna-guna, berarti dia sangat mencintai elu, nggak mungkin dia menyia-nyaiakan elu kayak gini. Elu nih yang nggak pakai otak, sudah disakiti begini masih saja berpikir untuk kembali ke sana, di mana elu tidak diterima sama sekali!” Elisa berkotbah.


“Sa…!


“Halah,” Elisa memotong lagi Agni berbicara lagi, dia tidak mau mendengar alasan yang mau keluar dari mulut Agni, sahabatnya itu.


“Lekas habiskan kopinya, kita akan berangkat malam ini ke apartemen, gw sudah bayar biaya sewa selama setahun. Demi elu, Agni, kalau elu masih ragu juga, elu harus bayar uang yang sudah masuk di rekening pemilik apareten itu!” Elisa memberi keterangan agar Agni tidak ragu lagi. Alasan uang akan memberatkan Agni dan dia pasti akan menyetujui saran Elisa kali ini.

__ADS_1


“Baiklah!” Agni menyerah.


Baca juga: Zora Scandal (Lihat pada profil ini)


Elisa tidak menunggu lama lagi, dia langsung memesan taxi dan membawa beberapa barang-barang yang bisa dibawa ke apartemen malam itu juga.


Mereka berdua berangkat ke apartemen agar anak buah Victor tidak bisa menemukan mereka lagi. Elisa menitip semua barang-barang yang ada di kontrakan itu pada tetangganya dan berpesan untuk tidak memberitahu siapaun tentang keberadaan mereka, bahkan tentang Agni yang datang ke sana juga tidak.


***


Victor terbangun di pagi hari, tidak ada lagi wanita muda itu di dalam dekapannya.


Victor keluar dari kamar mengenakan celana pendek tanpa atasan. Dia mencari Agni.


“Mbo, Agni ada di mana?” Victor menjawab.


“Tidak tahu tuan, apa tidak ada di kamar?” Mbo Ratih bertanya balik.


“Kalau di kamar ada, aku tidak mungkin bertanya padamu, mbo!” Victor sedikit kesal, tetapi dia tidak bisa marah pada perempuan setengah baya itu.


“Coba dilihat lagi!” Mbo Ratih menyuruh Victor melihat kamarnya kembali, namun matanya tertuju pada bulu dada Victor yang mulai lebat di dadanya yang bidang.

__ADS_1


“Mbo, lihat apa?” Victor buru-buru menutup badannya dengan kedua tangannya.


“Tidak ada!”


“Ah, mbo kebiasaan!” Victor kembali ke dalam kamarnya dan mencari Agni di sana. Namun dia benar-benar tidak melihat keberadaan Agni di sana.


Dia pergi ke kamar mandi, dia juga tidak menemukan Agni di sana.


Victor meraih telepon yang ada di kamarnya. Dia menghubungi petugas yang ada di gerbang rumah itu.


“Siapa yang jaga tadi malam?” Victor memasang wajah berang.


“Suruh dia menghadap ke dalam rumah!”


“Saya tunggu, jangan lama lagi!” Victor melanjutkan perintahnya pada orang yang jaga di gerbang.


Victor keluar dari kamar memakai kaos oblong yang putih, rapi namun masih memakai celana pendek. Victor berjalan menuju ruang tamu tempat petugas malam yang menjaga gerbang.


Bersambung….


Jangan lupa dukungannya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2