
Agni luluh, akhirnya dia memutuskan untuk mengikut pada Victor. Elisa kesal, namun dia tidak bisa memaksa Agni lebih jauh lagi. Dia sangat yakin jika Agni akan menyesal pada pilihannya lagi tetapi dia tidak bisa memaksa Agni, in the end of the day, hidup Agni bukan dalam kontrolnya, dia sama sekali tidak berhak mengekak Agni untuk mengikuti apa maunya, yang sebenarnya adalah demi kebaikan Agni juga.
“Baiklah, kalau memang ini sudah menjadi pilihanmu,” Elisa memeluk Agni. Dia kasihan pada Agni yang sangat rapuh itu.
“Gw akan mengabarimu secepat mungkin, ini kesempatan terakhir buat Victor,” Agni berbisik pada Elisa saat dia menyambut pelukan Elisa.
“Terima kasih sudah menjagaku dan kedua anakku ya,” Agni menyalami Elisa setelah melepas pelukan erat Elisa.
“Sama-sama, elu harus baik-baik di sana, kalau elu masih diperlakukan seperti ada dan tiada di sana, kabari aku!” Sengaja Elisa mengencangkan suaranya agar Victor bisa mendengar apa yang dia katakn.
Tidak lama setelah Agni meng-iyakan untuk kembali bersama Victor anak bua Victor langsung masuk membantu mengangkat tas dan barang-barang bayi kembar Agni.
Agni menggendong anak yang paling sulung dan Victor menggendong yang paling bungsu.
“Kami pamit ya, Sa. Sekali lagi terma kasih!” Agni memasang wajah yang bersungguh-sungguh, dia lagi-lagi ingin meyaiknakan Elisa jika pilihannya itu tidak akan salah.
“Iya, hati-hati di jalan!” Elisa menyahut.
“Te….!”
“Sama-sama!” Elisa memotong ucapan Victor yang ingin berterima kasih juga.
Victor terdiam, kalau Elisa laki-laki mungkin Victor sudah memukulnya dari tadi. Victor geram dengan kelakuan Elisa yang seolah memiliki hak untuk menetukan jalan hidup Agni, istirnya.
***
__ADS_1
“Hai, selamat datang kembali,” Mbo Ratih menyambut mereka di depan pintu rumah.
“Hai, mbo,” Agni melempar senyum pada Mbo Ratih yang menyabut mereka.
“Anak kalia kembar ya?” Mbo Ratih sangat riang melihat ada dua anak yang sedang digendong, satu digendong Victor dan yang satunya digendong Agni.
“Iya, mbo! Hehehe!” Agni semakin melebarkan senyumnya pada Mbo Ratih. Dia melirik pada Victor sekilas, dia melihat Victor juga tersenyum, sepertinya dia juga gembira dengan keberadaan anak kembar itu.
“Mbo sebenarnya basa-basi saja, mbo sudah tahu jika anaknya kembar, mbo sudah siapkan tempat tidur double buat si kembar! Namanya siapa?”
“Belum dikasih nama, Mbo!” Agni tertunduk.
“Nanti kami rembuk dulu masalah nama, mbo. Kami bisa masuk dulu!” Victor nyengir pada Mbo Ratih yang menghalangi jalan mereka masuk ke dalam rumah.
“Oh, eh, iya, iya silakan masuk, silakan masuk!” Mbo Ratih memberikan jalan pada mereka yang dari tadi berusaha menjawab semua pertanyaan dari Mbo Ratih.
***
“Aku yakin, kau akan datang menemuiku, cepat atau lambat, maka aku menunggumu untuk memberi nama pada mereka berdua!” Agni tersenyum, senyum yang kaku, dia belum terbiasa dengan kehangatan yang diberi Victor. Sikapnya sangat berbeda dengan yang biasanya dia hadapi.
“Aduh, maafkan aku ya, sayang, jadi kita mau kasih nama siapa mereka berdua?” Victor meminta maaf pada Agni juga pada kedua bayi kembarnya dan meminta pada Agni untuk merekomendasikan nama bagi anak kembar mereka itu.
“Kamu saja yang kasih nama!” Agni tersenyum.
“Jangan gitu dong, harus kasih nama bareng-bareng!”
__ADS_1
“Nggak apa-apa, silakan! Mereka lebih pantas mendapat nama darimu!” Agni masih tersenyum.
“Jangan begitu, aku semakin merasa bersalah karena tidak bisa menemuimu dan mereka saat hari lahir mereka itu!” Victor mendekatkan diri pada Agni yang sudah duduk duluan di pinggir tempat tidur kemudian memandang bayi yang digendong oleh Agni.
“Tidak apa, aku memang sudah menduganya dari awal. Tidak ada sedikitpun niat untuk membuatmu menjadi merasa bersalah. Tidak apa-apa, semua orang bisa khilaf dan kemudian menyesal, dan aku lebih memilih untuk memaafkanmu!” Agni menatap wajah Victor yang kusam, tidak terawat. Dia kasihan, pasti dia sudah mencarinya ke mana-mana namun tidak menemukan mereka.
“Dia pasti sangat stress memikirkan kami,” Agni berbisik pada dirinya sendiri.
“Terima kasih atas pengertianmu, sayang!” Victor mencium kening Agni.
Agni merasa hangat, merasa diperlakukan lebih baik, lebih pantas, malah terkesan berlebihan sehingga ada sedikit ragu di dalam dirinya, dan dia berusaha membuang jauh keraguan itu dari pikirannya.
***
Malam itu Agni tidak bisa tetidur, sementara Victor sudah tidur sambil memeluknya. Bukan karena dia tidak suka dengan bagaimana Victor memperlakukannya sekarang tetapi karena dia merasa sangat nyaman dengan perlakuan itu. Dia tidak mau terlelap dan setelah terbangun nanti dia malah mendapati kalau dia sedang bermimpi. Yang dia rasakan ini, seperti mimpi adanya. Tidak terasa air matanya menetes di pipinya.
Dia bergeser dan kini menghadap pada wajah Victor yang sudah dicukur bersih olehnya sebelum tidur, saat mereka menghabiskan waktu bersama di dalam kamar mandi.
Baru sekarang Agni benar-benar merasakan kehangatan yang dari pada Victor. Dia selalu mendambanya, sangat tergakum-kagum padanya, bukan karena kehangatannya tapi karena kedinginan itu, dia penasaran dengan kedinginan yang membalut jiwa hangat Victor yang sebenarnya.
Yang dia damba sebenarnya adalah perubahan Victor, dari manusia dingin menjadi manusia yang hangat yang memberi sedikit hati pada dunia orang lain, terutama pada keluarganya, pada dirinya sebagai istri dan kedua anknya yang baru lahir.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru Tamat, lihat pada profil)
Semakin dia memikirkan perubahan itu semakin dia mencintai Victor. Semoga Victor tidak akan berubah menjadi manusia yang dingin lagi. Diusapnya wajah Victor yang kini bersih, hanya bekas cukuran yang terasa di tangan Agni. Didekatkanya tubuhnya lebih merapat pada tubuh Victor yang hangat. Diciumnya pipi itu dan dia mulai berusaha lagi untuk terlelap, lengan Victor jadi bantalnya. Dia memeluk Victor dan muali terlelap.
__ADS_1
Bersambung…