
Setelah pintu kamar terbuka, Vicor menarik tangan Elena masuk ke dalam kamar dan menutupnya kembali, pintu otomatis terkunci lagi setelah ditutupkan kembali.
“Kamu mau apa sekarang?” Victor bertanya pada Elena.
“Kamu mau apa?” Elena balik bertanya.
“Aku tidak mau apa-apa!” Victor merebahkan badannya di atas tempat tidur setelah melepas sepatu dan kemejanya. Sekarang dia hanya mengenakan singlet saja di bagian atas badannya.
“Terus kenapa mengajak saya ke kamar ini?” Elena bingung. Dia duduk di tepi tempat tidur, membelakangi Victor.
“Aku mau istirahat sebentar sebelum nanti balik ke Bandara!” Victor meraih ponselnya. Dihidupkannya kembali ponsel itu.
“Itu saja?” Elena berbalik, melihat ke arah Victor.
“Iya!” Victor tersenyum, dia ingin melihat reaksi Elena yang dia Yakini telah berharap bisa mendayung kasih bersamanya malam ini.
“Hahaha, kamu pasti bercanda kan?” Elena mendekati Victor, dia tidak harus malu lagi jika memang menginginkan kehangatan dari Victor.
“Kamu tidak takut telah mengkhianti papamu ya?” Victor bertanya pada Elena yang telah memeluknya.
“Emang kenapa? Karena kau musuh papaku, bukan berarti kau juga musuhku kan?” Elena melirik mata Victor yang sudah terlalu dekat dengannya.
“Ya sudah kalau memang itu tidak masalah denganmu!” Victor menarik badan seksi Elena mendekat lagi padanya.
“Aku tidak perduli dan tidak ada urusan dengan yang lain, aku adalah pribadi yang bebas, yang bisa menentukan jalan hidupku sendiri, dan aku akan menanggung semua konsekuensi yang ada atas keputusan yang kuambil!” Elena terdengar bijaksana.
“Baik kalau begitu, itu tandanya kau sudah tumbuh menjadi perempuan yang dewasa!” Victor memuji Elena yang masih cukup polos itu.
Elena hanya tersenyum saja.
“Kalau misalnya mantanmu melaporkanmu ke papamu, bagaimana?” Victor ingin tahu apa tindakan yang akan diambil Elena.
“Oh, itu, dia emang pasti melapor sih. Ya aku bilang saja, dia nggak cocok denganku lagi, beres, dan papa pasti ikut apa kataku!” Elena begitu percaya diri dengan kepercayaan papanya padanya.
“Oh, kau terlalu percaya diri. Pernah berpikir tidak kalau ternyata pacarmu itu adalah orang suruhan papamu yang tugasnya hanya untuk menampingimu saja, dia menjalankan instruksi papamu saja?” Victor mencoba menebak-nebak kemungkinan yang ada, mengapa mantan pacar Elena begitu posesif.
__ADS_1
“Ah, nggak mungkin. Aku mau denganmu saja. Cukup ah bahas yang itu-itu terus, aku mau menikmati watu besamamu saja, itu saja, jangan bahas-bahas yang lain lagi!” Setelah Elena menyelesaikan kata-katanya, dia mencium bibir seksi Victor. Dia sungguh-sungguh tergila-gila dengan bibir itu sekarang.
Victor menarik bibirnya, “Kamu nakal juga ya!” Victor menatap mata Elena yang sayu, penuh keteduhan cinta, teduh yang membara sekaligus. Sampai penulispun tak bisa menggambarkannya, hahaha.
Elena tidak menjawab, dia memasukkan tangannya ke dalam singlet Victor dan meraba semua bagian badan Victor yang terasa semakin hangat.
“Badanmu hangat sekali, sayang!” Elena menggoda Victor dengan kerlipan matanya sebelah kiri.
Victor tersenyum.
Elena bangkit dan duduk di badan Victor. Dia meraba semua bagian badan Victor yang kini menjadi miliknya seorang, hanya berdua mereka di sana, tidak ada yang lain.
Victor bangkit, dia mencium bibir Elena, membuka singletnya sendiri agar Elena dengan leluasa melihat pemandangan tubuhnya yang kekar itu. Dia ingin memamerkannya pada Elena, dia mau Elena menjelajahi semua bagian badannya sekarang.
Benar saja, Elena seperti tahu apa maunya Victor, dia menjelajahi semua badan Victor, dari pertunya yang six packs, dadanya yang menonjol kekar, semuanya dimainkannya dengan penuh penghayatan, dia tidak mau ada satu inci bagian tubuh Victor yang dilewatkannya, dia cumbu semuanya dengan leluasa. Victor hanya tersenyum-senyum saja dibuatnya.
“Anak ini benar-benar kehausan!” Victor berbisik pada dirinya sendiri. Masih dibiarkannya Elena menjelajahi tubuh kekarnya itu. Dia tahu Elena benar-benar menikmati itu.
Elena kini tidak mau hanya menjelajahi tubuh Victor bagian atas saja. Dia ingin menjelajahi bagian tubuh Victor di bagian Selatan, biasanya bagian itu jauh lebih hangat, apalagi di bagian garis khatulistiwanya, daerah tropis dengan hutan yang lebat yang sering pohon-pohonya dibabat habis oleh pemiliknya.
Elena berpikir jika bajunya akan benar-benar dilepas oleh Victor, namun dia salah, dia biarkan baju itu menggantung di tangannya yang mengulur ke atas, matanya tertutup bagian bajunya paling bawah, namun Victor bisa melihat ada bukit yang menjulang secara horizontal, menantang tepat di wajah tampan Victor.
Victor tahu jika bukit itu belum terlalu sering dijelajahi orang. Dia tersenyum penuh kemenangaan.
Elena yang pandangannya masih terhalang bajunya sendiri terdiam, dia tahu jika ada sepasang mata yang sedang terpana memandangi bagian badannya yang paling dibanggakannya selama ini. Dia biarkan untuk beberapa saat mata-mata itu menikmati indahnya pemandangan yang kini dipertontonkannya.
“Kau belum pernah ya?” Victor berbisik.
“Pernah apanya?” Elena balik bertanya.
“Dijamah mantanmu?” Victor menjawab dengan pertanyaan lagi.
“Boro-boro, dia menciumku saja tidak berani!” Elena menjawab dia mendorong bukit itu lebih ke depan, dia mau tahu jika wajah Victor benar-benar sedang memandangnya atau bukan.
Benar saja, hidung mancung Victor menyentuh dadanya yang masih terbungkus rapi, hanya bagian atasnya yang Victor lihat selama ini.
__ADS_1
“Kalau kau suka, kau bisa melakukan apa saja padanya!” Elena menantang Victor.
Victor, tanpa aba-aba selanjutnya langsung memburu di atas bukit itu. Dia mencari-cari sesuatu yang mungkin sudah sering dicarinya setiap kali dia berburu di atas bukit.
Tangannya membuka pembungkus yang menghalangi pandangan matanya akan bukit-bukit yang masih asri itu.
Victor benar-benar kagum dibuatnya. Tanpa instruksi yang jelas dari Elena dia langsung memburu, menelajahi setiap incinya.
***
Malam ini adalah malam bulan madu yang terindah bagi Victor. Dia bisa menikmati malam-malamnya penuh dengan kegairahan yang bertubi-tubi. Kini di hadapannya, dengan sangat pasrah, seorang gadis menyerahkan dirinya secara cuma-cuma padanya. Bukan gadis biasa yang digaulinya, namun putri seorang musuh bebuyutannya. Dia merasa menang, seperti sedang mendapat super win kalau jackpot terlalu besar untuk apa ayang kini dia dapatkan.
Kini tiba saatnya Elena ingin menyerahkan dirinya seutuhnya pada Victor. Victor sampai bergetar badannya karena mengingat gadis yang sedang melayaninya adalah putri musuh bebuyutannya.
Saat dia ingin menuntaskannya, Elena menolak. Dia bangkit berdiri dan mengambil alih permainan. Memegang senjata pemburu Victor yang sudah siap menembakkan pelurunya pada target yang dituju.
Dia tersenyum pada Victor yang kini merasa dipermainkan oleh Elena.
“Kenapa?” Victor bertanya namun dia tetap menikmati belaian tangan Elena pada senjatanya itu.
“Aku belum siap!” Elena tersenyum dan menambah speed tangannya yang sedang memegang senjata itu.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon)
“Benar!” Victor tersenyum, matanya menatap lekat-lekat mata Elena. Hampir saja dia mencium Elena di dalam lift kalau tidak ada bunyi lift tanda pintu akan terbuka. Ternyata mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju.
Victor tidak tahan lagi, dia melepas semua kekesalannya di tangan Elena. Dia tentu saja tidak bisa memaksa Elena, itu sama saja memperkosa, dan dia tidak mau melakukannya. Bisa saja dia melakukannya tetapi Victor memilih untuk tidak melakukannya. Dia tahu batas-batasnya sendiri.
Victor menarik selimut menutupi badannya yang tidak mengenakan sehelai benangpun. Elena menuju kamar mandi, membersihkan diri. Kemudian mendekati Victor yang telah tertidur pulas.
Jangan lupa kasih dukungannya ya ka, vote, like, komen dan share novel ini agar semakin banyak pengunjungnya, masih sepi banget nih! Hehehe, terima kasih kaka-kaka semuanya!
Bersambung…
Walaumasih level 3 (bte sudah lamaaa bgt level 3) saya harus bangga telah mampu menamatkan novel ini dengan baik, semoga kalian juga mampir ya ke novel ini. Terima kasih 🙏
__ADS_1