
Tiba-tiba Siska terbangun dari tidurnya, dia hendak kemas-kemas ingin mulai bekerja lagi. Namun langkahnya terhenti karena dia melihat bonekanya sudah tergeletak di lantai.
"Astaga, kenapa kau bisa tergeletak di situ?" Siska langsung meraih boneka itu.
Dia kasihan pada boneka itu. Sekilas diingatnya kembali mimpinya, seram mata boneka itu menatapnya.
"Ah, andaikan aku benar-benar jadi menikah dengan Mas Victor, indahlah dunia ini," Siska bergumam di dalam hatinya.
Dia melihat jam dinding, ternyata masih pukul setengah 2 subuh.
"Hmm, aku tahu siapa yang membangunkanku!" Gumam Siska di dalam hatinya. Dia melihat boneka kesayangannya itu.
"Kamu sepertinya tidak suka kalau aku menikah dengan Victor!" Siska berbicara pada boneka itu.
Boneka itu diam saja. Seperti biasanya, boneka itu hanya diam saja, Siska yang menganggapnya bisa berbicara, kalau pun memang bisa, hanya Siska yang bisa dengar apa yang boneka itu katakan.
Entah Siska yang sudah gila, berhalusinasi, atau memang bonekanya itu benar-benar bisa diajak berbicara. Tapi, sejak kecil memang Siska selalu berbicara pada boneka itu.
***
Elena masih ada di Korea Selatan, dia masih butuh menenangkan diri di sana, sebenarnya mengingat perlakuan Victor padanya, ingin sekali dia pulang dan mengadu pada papanya, musuh bebuyutan Victor, namun dia tidak mau melakukan itu, dia masih sangat berharap pada cinta Victor padanya, entah sejak kapan Elena suka pada Victor, tapi dia benar-benar terobsesi sekarang.
Entah apa yang harus dilakukannya sekarang agar Victor mau hidup bersama dengannya. Dia harus menyelidiki apa kelemahan Victor dari sekarang. Membayar orang suruhan pun dia rela.
***
Agni dan Victor sudah siap-siap mau berangkat ke Bandar sekarang. Mereka sudah tampak harmonis lagi, Agni tidak lagi mau mengingat apa yang sudah dilakukan Victor padanya. Begitupun Victor seolah tidak mau mengingat kekejamannya pada Agni. Keduanya berusaha melupakan kejadian itu.
__ADS_1
"Sayang, sudah puas kan jalan-jalan di sini. Kapan-kapan kita ke Las Vegas ya, aku pengen main judi di sana. Katanya di sana seru, sayang. Mau ya!" Victor seolah memberikan rayuan pada Agni yang sudah disakitinya itu.
"Bisa, asalkan bersamamu, aku mau, mas!" Agni tersenyum pada Victor.
Victor senang, dia senang karena tidak sedikitpun raut wajah istrinya itu menunjukkan kekesalan padanya, semuanya sudah kembali seperti biasanya. Saat-saat kemesraan yang sudah mulai tumbuh setelah pasang surut kehidupan rumah tangga mereka.
"Sering-seringlah libur, mas, jangan kerja terus!" Agni mencoba menenangkan Victor, dia ingin Victor tahu jika dia benar-benar sudah tidak memikirkan kejadian itu lagi.
"Pasti, aman itu, kalau usaha kita sudah bisa ditinggal-tinggal lebih lama, kita pasti akan lebih sering lagi pergi berlibur." Victor mengecup kening Agni.
Agni tersenyum menyambut kecupan itu.
Hal-hal romantis seperti inilah yang diinginkan Agni. Victor benar-benar mampu mendapat kesan positif dari Agni yang memang sejak awal sudah berkomitmen untuk mencintai Victor apa adanya. Maka dia akan mati-matian mencintai suaminya itu.
"Kalau semua sudah siap, kita berangkat yuk, akan lebih aman kalau kita berangkat lebih awal, agar tidak ketinggalan pesawat!" Victor memandang si kembar yang sudah rapi di kereta dorong mereka.
Tampak mobil yang membawa keluarga kecil itu melaju menuju Bandara.
Victor sempat tertegun dan melamun, membayangkan kejadian di hotel saat bersama Elena, hampir saja dia menjadi tersangka pembunuhan kalau dia tidak bisa menguasai dirinya sendiri.
Dia juga mengingat saat-saat dia mengikat Agni di atas tempat tidur, memang kali ini Victor sedang beruntung, saat dia dan Agni bermain, dia menang, dan dia berhak memberikan hukuman pada Agni dan dia langsung memutar otak untuk hukuman yang akan diberikannya pada Agni agar dia selamat dari ancaman Elena. Hampir saja Agni tahu kalau dia dan Elena pernah bercinta begitu mesra.
Victor menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya agak kuat hingga Agni bisa mendengarnya.
Agni tahu sedang ada yang dipikirkan suaminya itu, dia melirik sebentar pada Victor. Saat Victor melihat Agni sedang meliriknya, dia sadar seketika jika Agni sedang memperhatikan gerak-geriknya.
Victor cepat-cepat tersenyum pada Agni, agar Agni tidak terlalu curiga padanya yang mendesah sesaat setelah mekeka sudah mengakhiri liburannya. Orang lain kalau liburan akan membawa kebahagiaan, beda dengan Victor yang sepertinya meiliki beban pikiran yang semakin berat. Agni tidak tahu apa yang sedang di pikiran suaminya itu, namun yang pasti, dia tahu jika Victor sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Kenapa, mas?" Agni akhirnya buka mulut, dia tidak tahan kalau tidak bertanya pada suaminya itu, dia ingin diam saja dari tadi, tetapi entah apa yang mendorongnya agar dia bertanya seperti itu.
"Nggak apa-apa!" Victor berbohong, dia tidak mau menceritakan apa yang sedang di pikirannya.
"Kenapa seperti sedang banyak pikiran?" Agni malah semakin cerewet, padahal dia sudah mau berhenti saja bertanya, tetapi entah kenapa keluar lagi pertanyaan dari mulutnya itu.
"Nggak kok, aku tidak sedang memikirkan apa-apa, cuma ngantuk saja!" Tentu saja Victor sedang berbohong.
Agni tahu benar kalau Victor sedang berbohong, tetapi dia harus menahan diri untuk bertanya lebih lanjut lagi. Dia harus mencarinya sendiri nanti, apa yang sedang dipikirkan suaminya itu.
Akhirnya mereka sampai juga di Bandara.
"Thank you, sir!" Victor menyalam sopir yang membawa mereka ke Bandara, dia menyelipkan uang kertas pada sopir itu sebagai tip.
"Thank you, sir!" sopir itu menunduk dan berterima kasih pada Victor dengan logat khas orang Korea.
Victor tersenyum dan menunduk, begitupun Agni, dia juga menunduk. Belum ada sebulan mereka di Korea, tetapi Agni dan Victor sudah sangat terbiasa dengan budaya Korea yang selalu menunduk itu.
Akhirnya mereka masuk ke dalam pesawat.
Tanpa disengaja, Victor menangkap sosok perempuan yang dikenalnya di dalam pesawat itu. Jantungnya langsung berdetak kencang. Dia kenal betul dengan perempuan itu.
Dia melirik Agni yang kerepotan mendudukkan si Kembar di kursinya masing-masing.
Victor tentu saja pura-pura tidak mengenal perempuan itu, dia tidak mau melakukan kontak mata apalagi menyapanya. Bisa jadi perempuan itu berbuat aneh-aneh di dalam pesawat, dan dia tidak mau jika Agni tahu siapa perempuan itu. Padahal Agni sendiri tidak tahu apa yang terjadi antara perempuan itu dan Victor, tetapi Victor begitu ketakutannya saat itu kalau-kalau perempuan itu datang menyapa mereka. Victor berdoa di dalam hatinya agar perempuan itu tidak melihat mereka yang baru duduk itu.
"Hmm, kenapa bisa satu pesawat? Aku tidak melihatnya tadi di Bandara!" Victor bergumam di dalam hatinya. Wajahnya benar-benar disembunyikannya agar dia tidak dikenali perempuan itu.
__ADS_1