
Agni merasakan ada yang semakin mengeras, berdenyut dan hangat di belakangnya. Dia sengaja diam di tempat seolah menimati rintisan hujan yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
Victor semkain bersemangat dan tertantang karena mengira Agni belum merasakan apa-apa walau dia sangat yakin apa yang dirasakannya pasti dirasakan oleh Agni juga.
“Kamu nggak ada cepenya ya!” Agni memberi satetement yang membuat Victor tersenyum, seperti tebakannya, Agni sudah merasakan apa yang telah dirasakannya.
“Tapi kamu suka kan?” Victor masih berbisik, kini diciumnya leher jenjang Agni dan dia menggesek apa yang hendak digesek, dia sangat paham ke mana dia harus melakukannya.
Agni tidak tahan dengan semua yang dilakukan Victor itu, dia berbalik dan berusaha meraih kepala Victor, dia menaruh kedua tangannya di leher Victor, dia jarus jinjit melakukannya. Dan Victor tidak mau Agni kewalahan sendiri, dia menundukkan kepalanya dan langsung memagut bibir seksi Agni. Shower masih mengaliri air bagai air terjun sejuk di tengah bara api yang sedang membara, yang tidak akan padam dalam waktu dekat.
Victor mengangkat tubuh Agni, didorongnya ke depan hingga Agni tidak lagi dihujani air dari atas, hanya tubuh bagian belakang Victor yang dihujani sekarang, kepalanya sudah sibuk bergoyang ke sana ke mari, memberi kehangatan pada Agni yang kian memanas.
Kini tubuh mereka semakin merapat, air tumpah begitu saja. Kita anggap saja air yang mengalir itu sebagai penetral suhu di dalam kamar mandi, atas udara yang keluar dari tubuh sepasang suami istri itu.
“Kamu suka begini sayang?” Victor menyempatkan berbicara pada Agni yang kian meronta.
“Lanjutkan!” Agni semakin tidak terkendali. Victor kini menuju area terlarang.
Victor pelan-pelan, dia melihat sekilas perut Agni yang cepat kembali seperti semula sejak dia melahirkan anak kembar. Tapi tentu saja tidak menjadi bahan utama yang harus diperhatikan, ada sesuatu yang harus lebih diperhatikan. Dan dia sedang memandanginya sekarang.
Tangan Agni memegang kepala Victor yang basah, dia mengarahkan kepala itu pada sesuatu yang nikmat, nikmat bagi Victor, dan nikmat bagi dirinya sendiri. Tak berapa lama, Agni kembali merintih, bukan, bukan karena kesakitan, jauh dari sakit, dia sangat menikmati apa yang sedang dirasakannya.
Dia tidak tahan, dia mendorong kepala Victor ke depan, dia butuh bernafas sebentar. Dia menarik kepala itu ke atas.
Victor tahu apa yang akan dilakukan Agni sekarang. Dia menuruti saja, dia berdiri menghadap pada Agni, dan Agni kini menyurutkan badannya ke bawah. Tangan Victor bersandar di dinding sementara Agni sudah ada di awah, di antara kedua kakinya yang dibuka lebar, selebar bahunya.
Kini Agni menghadap sesuatu yang sangat familiar padanya, entah kenapa dia merasakan berbeda sekarang dalam melihat milik Victor itu. Tidak ada sedikitpun rasa bersalah apalagi berdosa demi memandang apa yang dipandangnya kini.
__ADS_1
Tidak lama dia memandangi, dia meraihnya, dengan tangan kanannya yang gemetar. Victor bisa merasakan getaran itu walau sangat halus getarannya. Dan kalian tahu bagaimana Agni memperlakukannya kan?
Victor menahan apa yang harus ditahannya. Dia tidak mau kalah begitu saja, secepat itu, dia tidak mau, dia menarik nafas dalam-dalam agar tidak berakhir sedemikian rupa.
Dia sungguh tidak tahan lagi. Dia ingin teriak, namun bisikan yang didengarkan oleh Agni. Victor menyebtu nama Agni berkali-kali, tapi Agni pura-pura budek, dia tidak mau mengasihani Victor sedikitpun, dilanjutkannya aksinya, semakin mempercepat temponya.
Victor tidak tahan. Dia menunduk sedikit, meraih kepala Agni dan mengangkatnya ke atas, agar Agni tidak melangkah lebih jauh lagi. Dia butuh bernafas barang sebentar.
Air masih mengalir, tetapi masih terasa hangat di dalam sana. Agni mendengar nafas panjang Victor.
“Kamu menikmatinya, sayang?” Agni main mata pada Victor, dia menggodanya.
Victor tidak menjawab, dia langung menangkap kepala Agni untuk dikecup bibirnya. Agni terkejut sedikit, dia tidak diberi aba-aba oleh Victor.
Saat mereka berdua masih saling pagut, tangan Agni bergerak merayap keseluruh tubuh Victor yang kekar. Ada hangat di sekujur tubuh Victor. Kini Agni sampai pada apa yang dipermainkannya sebelum ini, Victor berhenti sebentar, kemudian melanjutkan kecupannya. Dia tidak perduli jika Agni akan melakukannya lagi.
Benar saja, Agni melakukannya lagi, dan dia kini sangat pelan, penuh perasaan, diaturnya tempo sedemikian rupa agar Victor benar-benar menikmatinya.
Agni memeluk lehar Victor yang kuat. Dibenamkannya kepala itu di kedua tonjolan di dadanya sementara tubuhnya kini sudah bergetar tidak terkendalikan lagi. Semakin lama Victor semakin kencang dan akhirnya mereka sama-sama teriak.
Akhirnya mereka saling basuh dan senyum-senyum sendiri. Mereka tentu saja sama-sama puas.
***
Pada sore hari, setelah istirahat yang cukup setelah pertempuran di kamar mandi, mereka pergi menuju pantai. Sepanjang hari itu mereke selalu berdandengan tangan. Agni selalu menggandeng tidak mau melepas lengan Victor. Setiap mata memandang mereka, tidak banyak yang senyum-senyum sendiri, karena Victor tampak cool dan cuek sedangkan Agni seperti menjaga pasangannya agar tidak diambil orang.
Setiap kali Victor dilirik oleh cewek bule, dia selalu memperhatikan Victor, apakah Victor membalas lirikan itu atau tidak. Kalau Victor ketahuan membalas lirikan itu, Agni akan mencubit pinggang Victor.
__ADS_1
“Awch!” Victor teriak. Agni mencubit Victor di pinggang saat Victor melihat seorang perempuan yang pernah dilihatnya entah di mana, dia lupa.
“Jangan gatel lagi ya!” Agni membalas mata Victor yang melotot, dia melotot balik.
“Itu, perempuan itu, sepertinya aku kenal!” Victor hendak membela diri.
“Siapa? Mantan-mantanmu ya?” Agni cemburu. Agni tahu perempuan yang ditunjuk Victor bukan perempuan yang jelek, tetapi yang cantik. Mungkin wajahnya tidak kalah cantik dari perempuan itu, tetapi, tubuhnya yang ramping lagi lumayan tinggi membuat Agni cemburu setengah mati.
“Bukan, itu seperti putri preman, musuh bebuyutan kami!” Victor menerangkan pada Agni. Dia menunjukkan perempuan cantik yang lewat terburu-buru dari samping mereka.
“Sudah jangan hiraukan!” Agni masih cemburu. Apa yang diucapkan Victor tidak lantas membuatnya tidak cemburu lagi. “Dia tidak menjadi musuhmu jika bapaknya musuhmu, bukan begitu hukumnya!” Agni mengajari Agni.
“Bukan itu, aku khawatir, musuh-musuhku ada di sini!” Victor berbisik namun dia tetap berjalan seperti tidak terjadi seuatu apapun.
“Elena!” Tiba-tiba ada seorang pria tampan lewat dari depan Agni dan Victor mengejar perempuan yang bernama Elena, putri dari musuh Victor.
“Benar, dia adalah putri dari musuhku!” Victor seperti meyakinkan dirinya sendiri, karena Agni tidak akan tertarik dengan apa yang sedang dibicarkaannya.
“Terus gimana?” Agni bertanya pada Victor.
“Tidak apa-apa, sepertinya mereka sedang berpacaran, dan Elena menghindar dari pria itu.” Victor menerangkan pada Agni.
Baca juga: Zora’s Scandal (Lihat pada profil saya di NovelToon atau MangaToon, by Otom)
Mereka sampai pada kursi yang disediakan untuk mereka, yang sudah dipesan sebelumnya. Pelayan itu meninggalkan mereka berdua setelah mempersilakan Agni dan Victor duduk di sana.
Mata Victor dan Agni masih memandang Elena dan pacarnya yang sudah semakin mengecil, menjauh dari mereka duduk.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kaka
Bersambung…