
"Terima kasih, sayang!" Victor mencium kening Agni dan mereka tidur berpelukan sampai matahari musim semi Korea Selatan yang hangat merekah.
***
"Hari ini kita ke mana lagi?" Victor bertanya pada Agni.
"Kita di sini saja, rebahan!" Agni ingin istirahat sekadar menikmati penginapan. Dia berencana hanya berjalan sebentar di sekitar penginapan mereka.
"Ok, as your wish!" Victor memberi kode lewat jari-jarinya pada Agni yang masih bermalas-malasan.
"Abi, kita di sini saja dulu, ya. Mama lagi cape kerja semalaman!" Victor melirik ke arah si kembar.
Si kembar yang sudah sarapan memandang Agni, seolah mereka berdua tahu jika mamanya yang sedang dibicarakan.
***
Agni sudah beres-beres, mereka berjalan menuju pasar lokal untuk melihat-lihat apa saja yang ada di sana.
Victor mendorong kereta si kembar, dia membebaskan Agni untuk melihat semua yang ada di sana.
Di tengah pasar ada panggung, tampaknya akan ada pertunjukan.
"Kita nonton ya, kayaknya baru akan dimulai malam nih!" Saat itu hari sudah sore.
__ADS_1
"Ok, sayang, beres." Victor menghormat Agni.
Mereka mencari tempat duduk yang strategis ke arah panggung, tapi tidak terlalu dekat dengan panggung itu.
"Kita akan makan makanan yang dijual di sini." Agni ingin merasakan makanan jalanan Korea malam itu. Dia memberi aba-aba agar Victor tidak terkejut saat dia akan beli banyak makanan, berbagai-bagai jenis jajanan Korea.
Setelah mereka duduk dengan nyaman, Agni mulai berkeliling ke arah para penjual jajanan Korea.
Tidak beberapa menit, Agni sudah kembali.
Tak lama setelah Agni duduk, satu persatu pesanannya sudah datang. Saat itu pasar itu belum terlalu ramai, namun Agni sudah memprediksi jika malam itu akan sangat ramai.
"Wah, banyak sekali ini?!" Victor terbelalak.
"Aku lapar banget! Ini masih kurang, yang di sebelah sana belum datang!" Agni menunjuk ke arah Timur.
Meja mereka sudah penuh sekarang, banyak sekali jajanannya. Agni tidak mau melewatkan satu jajanan pun yang ada di pasar itu.
"Kamu mau nge-vlog? Mukbang?" Victor masih terheran-heran dengan kekalapan Agni.
"Nggak, kita harus habiskan semuanya, jangan sampai berhenti!" Agni memberi instruksi pada Victor.
"Kalau berhenti, hukumannya apa?" Victor merasa tertantang.
__ADS_1
"Hmm, apa ya?" Agni berpikir, dia senang karena Victor merasa tertantang.
"Yang berhenti harus menerima hukuman dari yang makan terus, apapun itu harus dilakukan, dewi?!" Victor bertanya mengajukan pendapatnya, dia sudah memikirkan sesuatu.
"Ok, deal!" Agni memberikan jari kelingkingnya pada Victor, kemudian Victor melilitkan kelingkingnya ke kelingking Agni.
"Jangan ada yang mengelak dari hukumannya ya!" Victor mulai senyum-senyum sendiri.
"Ok, siapa takut?!" Agni juga sudah memiliki satu hukuman untuk Victor jika dia menang.
Saat itu lagu pertama sudah mulai dinyanyikan, lagunya mendayu. Mereka mulai makan.
Agni makan sambil menyuap si kembar.
Karena Agni sambil memberi makan si kembar, otomatis dia makan jauh lebih sedikit dari Victor.
Victor tahu Agni sedang curang, namun dia yakin jika dia akan menang, dia terkenal dengan perut karetnya, dan dia akan buktikan itu sekarang, sudah waktunya, dan hukuman bagi Agni melayang-layang di otaknya, dan dia tersenyum sendiri membayangkan Agni kena hukuman darinya.
Agni melirik Victor yang lahap sekali. Dia melihat makanan di atas meja itu masih banyak sekali.
Victor memberi kode pada Agni agar tidak berhenti makan.
"Kalau menyerah tinggal ngomong ya!" Victor melirik Agni dengan sinis.
__ADS_1
"Oh, mau nyerah nih?" Agni bertanya dengan angkuhnya.
Victor tersenyum, dia yakin kalau dia akan menang.