
Agni yang keroncongan perutnya itu akhirnya mulai makan. Setelah makan barulah kantuknya segera menghampiri. Dia tertidur sangat pulas, kantuknya tidak tertahan walau dia masih was-was dan penasaran.
Agni terbangun di pagi hari yang cerah, dia sudah entah di mana. Dia tidak tahu, dia hanya tahu kalau dia pasti sudah di pulau yang lain, terpencil, tidak ada suara yang ramai di sana.
"Cepat keluar, dan mandilah, berdandan secantik mungkin!" laki-laki dengan suara yang berat menyeret Agni keluar dari dalam mobil.
Entah kenapa dia bisa masuk di dalam mobil itu. Agni berusaha mengingat-ingat lagi apa yang sudah dilakukannya tadi malam, namun yang dia ingat hanyalah, dia makan dan setelah itu dia ngantuk, itu saja, selebihnya dia tidak ingat lagi apa-apa.
Agni berjalan menuju kamar yang ditunjukkan oleh laki-laki jangkung dengan suara yang berat itu, seperti suara orang yang kehausan, berat sekali.
Agni mandi, segar sekali air di pulau itu, seperti pulau yang masih perawan, Agni bisa merasakan kesegaran airnya itu. Saat Agni keluar dari kamar mandi, dia mendapati ada baju di atas tempat tidur. Agni tahu jika baju itu adalah diberikan padanya, dia kenakan baju itu. Sedikit sempit, namun cukup nyaman untuknya, tidak terlalu vulgar.
Agni tahu apa yang sedang dijalaninya. Dia mereka-reka skenario terburuk di dalam pikirannya. Dia, walau belum pasti, akan dijual kepada laki-laki hidung belang.
***
Saat itu Elisa sudah sangat panik, dia tidak tahu harus mengadu pada siapa lagi, dia mendatangi Victor. Walau Elisa kurang yakin kalau Victor masih peduli dengan Agni, istrinya itu, namun dia, mau tidak mau harus mengabari Victor akan hilangnya Agni dari kamar apartemen sewaan mereka.
"Aku sudah tidak peduli lagi dengannya, kau carilah sendiri!" suara Victor yang dingin menyadarkan Elisa kalau Victor benar-benar bukan manusia, dia adalah monster yang tidak memiliki hati, sama sekali tidak ada empatiknya dengan cerita hilangnya Agni, istrinya sendiri. Luar biasa.
Elisa pulang dengan tangan hampa. Kemudian dia ke Kantor Polisi, hanya itu harapan satu-satunya milik Elisa sekarang, tidak ada yang lain.
***
"Laporannya kami terima ya bu, kalau ada perkembangan akan segera kami kabari!" Polisi itu melempar senyum pada Elisa.
__ADS_1
Elisa membalas senyuman itu, dia ragu jika mereka akan segera mencari Agni, namun dia harus percaya pada mereka, tidak ada pilihan lain.
Elisa balik ke kamar apartemennya, dia tidak memiliki gairah lagi untuk melakukan aktivitasnya hari itu juga.
Elisa membuat status , berita hilangnya Agni, lengkap dengan fotonya di beranda akun facebooknya.
***
Setiap hari, Agni harus melayani pria-pria hidung belang yang memang sengaja mampir ke pulau itu untuk mencari kenikmatan duniawi.
Tidak ada jalan keluar untuknya untuk terlepas dari sanderaan itu. Semua perempuan yang ada di sana memang bertugas hanya untuk melayani para pria-pria kesepian yang tajir milimpir yang butuh kehangatan.
Agni tidak boleh sedikitpun memegang ponselny, semua alat komunikasi tidak diperkenankan di sana, benar-benar steril.
Hanya televisi yang bisa ditontonnya saat dia berada di kamar. Setiap orang memiliki kamar tersendiri. Para pekerja itu harus mencuri-curi waktu jika ingin mengobrol satu dengan yang lainnya.
"Tok, tok, tok!" suara pintu kamar Agni diketuk dari luar.
"Agni, ada yang menunggumu di luar!" suara laki-laki yang berat itu terdengar dari balik pintu.
"Tapi aku baru saja pulang, pak!" Agni menolak untuk keluar dari kamar. Dia tahu, dia harus melayani orang yang mencarinya itu sekarang juga.
"Jangan membantah, dia orang penting di sini!" suara yang berat itu sedikit naik dengan nada membentak.
"Besok saja, pak!" Agni berusaha menolak.
__ADS_1
"Kau tidak punya pilihan untuk menolak, keluarlah, atau aku dobrak pintu ini?" suara pria yang berat itu tampaknya tidak main-main.
"Iya, iya, aku keluar!" Agni masih memakai pijama membuka pintu.
"Pakai baju yang layak, jangan pakai itu!" pria itu menunjuk pijama Agni.
"Pakai ini saja deh!" Agni masih bernegosiasi.
"Hanya kau yang banyak protes, mau diperlakukan kasar seperti teman-temanmu yang lain?" Pria itu melotot pada Agni.
"Ti, tidak pak. Aku ganti baju sekarang!" Agni buru-buru menuju lemari pakaiannya.
Memang Agni lumayan diistimewakan di sana, itu yang membat sebagian besar teman-temannya iri padany. Agni juga tidak tahu mengapa mereka tidak terlalu kasar padanya.
Agni keluar dengan gaun pendek berwarna merah menyala. Pria tadi melihati Agni dengan rasa kagum di hatinya.
Agni berhenti karena dia menunggu pria itu mendahuluinya menuju orang penting yang ingin bertemu dengannya.
"Aku harus ke mana?" Agni pura-pura tidak melihat tatapan liar pria itu padanya.
"Oh iya!" Pria itu tersadar.
Baca juga: Zora's Scandal (Novel tamat di NT/MT, lihat pada profil saya!)
"Di sana, di kamar, mari saya hantar!" pria itu menjawab sedikit gugup karena terperogok Agni jika dia sedang melihati tubuhnya yang seksi itu, Agni tahu betul akan hal itu.
__ADS_1
Bersambung....