
Hari-hari Agni merawat si kembar sangat melelahkan. Dia hampir frustrasi karena dia tidak bisa memberikan kasih sayang seorang bapak pada kedua anaknya. Tiap kali dia membicarakan itu pada sahabatnya Elisa, sahabatnya itu akan menolak usulannya.
Elisa tidak mau jika Agni jatuh pada kubangan yang sama, merasa sakit hati karena ulah suaminya sendiri.
“Gw sudah merepotkanmu terlalu lama, Sa!” suara Agni memelas, dia masih berusaha membujuk Elisa agar dia mempersilakan Agni kembali ke rumah Victor.
“Gw ikhlas kok melakukannya untukmu! Nggak usah merasa bersalah karena itu!” Elisa tidak melirik pada Agni sedikitpun, dia masih membentuk alisnya agar kelihatan lebih simetris dan enak dipandang mata.
“Elu nggak harus bekerja keras hanya demi membutuhi kebutuhan kami….”
“Kalau elu pulang ke rumah si bajingan itu?” Elisa memotong kalimat yang akan disampaikan Agni.
“Sa, gw akan terima apapun yang akan dilakukan Victor padaku!”
“Dia benar-benar nggak peduli dengan elu dan anak-anak elu ini, kalau dia peduli dia pasti mencarimu kan?” Elisa berusaha memberikan pengertian pada Agni.
“Kita nggak tahu jika Victor mencariku atau tidak, bisa saja dia karena belum bisa menemukan keberadaan kita!” Agni masih berpikiran positif terhadap Victor.
“Dia bisa pasang iklan di mana-mana untuk menemukanmu, dia punya banyak anak buah yang bisa disuruh untuk mencarimu, tapi apa? Dia tidak melakukan apa-apa untuk menemukanmu!” Elisa masih ngotot dengan pendiriannya.
“Mungkin dia tidak mau mempermalukan diri sendiri, dan gw, dia tidak mau jadi tontonan publik, mungkin!?” Agni masih memberi kemungkinan-kemungkinan pada Elisa.
“Nggak Agni, elu harus bisa mandiri, harus bisa menafkahi diri sendiri agar tidak dipandang enteng dengan laki-laki. Sudah cukup patriarki menekan kebebasan dan kemandirian kita selama ini, elu, gw, dan semua perempuan manapun bebas merdeka melakukan apapun yang dia suka, selama tidak mengganggu kenyamanan orang lain.” Elisa menghentikan coretan yang dilakukan di kedua alisnya, kini dia memandang Agni yang menunduk.
“Jadi, apa yang harus gw lakukan sekarang? Gw stress harus diam di kamar ini, harus merawat dua orang anak ini, gw mau gila rasanya!” Agni mengungkapkan kebosanannya pada Elisa.
“Kalau elu setuju dan mau, kita titipkan si kembar di penitipan anak, elu bisa keluar dan kerja juga sama sepertiku!”
“Kerja apa?” Agni mengertukan keningnya, matanya menatap Elisa.
“Kerja yang tidak menarik banyak perhatian orang, kerja seperti biasanya!”
__ADS_1
“Jadi pemuas laki-laki lagi?”
“Iya, emang kenapa?”
“Gw sudah bersuami!”
“Dan suami elu itu mengabaikan elu!” Elisa memegang pundak Agni, ingin menekankan agar Agni ingat apa yang sudah terjadi padanya.
“Sa…!”
“Udah, jangan mikir macem-macem lagi, elu harus belajar menerima kenyataan. Kau tahu, semua laki-laki itu brengsek!” Elisa membuat generalisasi.
“Jangan begitu, om Jono tidak!”
“Elu belum tahu saja sisi-sisi buruknya, yang dia tampilkan hanya sisi baiknya saja. Mana ada orang yang ingin citranya buruk di depan orang-orang di sekitarnya, nggak ada Agni!”
“Tetap saja, elu tidak bisa menyingkap sisi buruknya, artinya pernyataanmu tidak valid juga, elu terlalu mengeneralisasi!”
“Ah elu bisa berkata demikian hanya karena cintamu ditolak sama om…!”
“Nggak kok, beneran deh!” Dipotongnya perkataan Agni, Elisa mengelak dari tuduhan itu.
Baca juga: Zora’s Scandal (Lihat pada profil)
“Ah, elu nggak bisa terlalu berpandangan negatif sama semua orang, kalaupun ada yang tidak setia, jahat dan lain sebagainya, itu hanya dilakukan oleh oknum-oknum tertentu, tidak semuanya!”
“Ok, gw setuju, tidak semuanya, tetapi Victor masuk di dalam oknum yang elu baru sebutkan, elu harus amini itu sebagai kenyataan, fakta, Agni, jangan berfantasi jika Victor akan mencintaimu seperti pangeran Charles mencintai Lady Diana, eh tunggu, Charles tidak pernah benar-benar mencintai Lady Diana deh kayaknya, nah kisahmu ini, mirip-mirip dengannya, jangan konyol berfantasi aneh-aneh makanya!” Elisa berusaha mengeluarkan semua referensi yang dia miliki untuk meyakinkan Agni, sahabatnya itu.
“Sa, kasih gw kesempatan sekali lagi untuk membuktikan jika g wakan baik-baik saja!”
“Pergila ke san ajika elu sudah benar-benar mapan, tidak tergantung lagi pada Victor, secara ekonomi elu harus punya dulu, gimana kalau ternyata Victor tidak berubah dan elu malah diusir dari istananya itu? Elu mau ke mana?” Elisa menantang Agni.
__ADS_1
“Terus anak-anak gimana?”
“Jangan terlalu elu pikirkan itu, kebutuhan mereka adalah makan, minum susu, dan kasih sayang dari seorang ibu, mereka belum tahu jika harus butuh bapak di samping mereka. Ingat, banyak anak di dunia ini yang hidup, baik-baik saja tanpa bapak, kok!”
“Tidak Sa, gw nggak baik-baik saja!” suara Agni bergetar, air matanya mau tumpah, matanya terasa panas sekarang, namun Agni berusaha menahannya.
“Agni…!” Elisa melunak, matanya juga sendu.
“Nggak apa-apa, Sa, gw harus menuruti perkataanmu, benar memang, belum tentu Victor sudah berubah secepat itu, terima kasih sudah menasihatiku berkali-kali walau gw selalu keras kepala dan kita selalu berdebat tentang hal-hal yang sama terus.” Agni melunak juga, dia tiba-tiba ingat jika Elisa mempunyai kisah yang lebih sedih lagi darinya.
“Kalau begitu, aku kerja dulu ya, baik-baik di rumah,” Elisa memeluk erat Agni untuk sesaat.
Kemudian Elisa mendekati kedua anak Agni. “Kalian juga jangan rewel ya, jangan buat ibu sedih, awas ya kalau rewel-rewel nanti tante cubit!” Elisa mencubit gemas pada pipi keduanya.
Si kembar tersenyum, seolah mereka tahu jika Elisa sedang bercanda. Mata mereka mengejar Elisa sampai ke pintu, sampai keluar dari kamar itu.
Agni mencium kedua anaknya setelah pintu ditutup lagi oleh Elise. Dia memandangi kedua anak itu, menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya pelan dari mulut, dia ingin mengurangi ketegangannya sendiri. Diusapnya air mata yang menggenang di dalam matanya dari tadi.
“Baik-baik dengan ibu ya nak, ibu berjanji akan merawak dan mengasihi kalian sepanjang hidup ibu, jangan nakal, jadilah anak yang baik. Suatu saat, kalian akan berjumpa dengan bapak juga, tenang saja, waktunya akan segera tiba!” Agni berbisik pada kedua anaknya.
Tidak terasa air matanya berlinang lagi, dia tidak dapat menahannya kali ini, tumpah begitu saja. Dihapusnya segera agar kedua anak itu tidak melihat air mat aitu.
Kedua anak itu seolah mengerti jika Agni sedang bersedih, muka mereka memerah, mulutnya bergetar, si sulung mulai menangis, mendengar abanya menangis, si bungsu ikut-ikutan menangis.
“Loh, kok pada nangis sih? Maaf ya, ibu buat kalian jadi bersedih, padahal kalian belum mengerti bapak ya? Ibu jahat ya? Sudah-sudah jangan menangis lagi!” Agni tersenyum, dia benar-benar tersenyum sekarang.
Aura kegembiraan itu sampai pada kedua anaknya, mereka juga mulai tersenyum. Walau tampaknya keduanya ragu untuk beralih dari mode sedih ke mode senang, namun akhirnya mereka benar-benar tersenyum sekarang.
Like, komen, fav, vote, share, hehehe, terima kasih readers-ku semuanya🙏
Bersambung...❤
__ADS_1