Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Mencoba Bertahan


__ADS_3

Victor meninggalkan Angi seorang di meja makan. Dia masuk ke dalam kamar mereka dan masuk lagi ke kamar mandi. Dia mandi, keramas, memikirkan semua yang terjadi. Dia tidak terlalu suka berlaku kasar pada perempuan, tetapi Agni seolah memaksanya untuk melakukan itu.


“Huft,” Victor menghembuskan nafasnya, kemudian menarik nafas dalam-dalam lagi. Air mengguyur ke seluruh tubuhnya yang kini tanpa sehelai benang pun. Dibiarkannya beberapa menit air mengguyur dari atas kepalanya hingga ke semua bagian badannya, menghadap ke dinding dia memegang dinding kamar mandi itu dengan kedua tangannya.


Agni yang ditinggalka sendiri di ruang makan menangis tanpa suara. Pilu yang dirasakannya, sebenarnya dia sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Victor padanya, namun lagi-lagi bayi yang ada di dalam rahimnya menjadi alasan untuk tetap bertahan di sana.


Agni bahkan belum sempat untuk mendiskusikan perihal pacar-pacar satu malam yang sering dibawa Victor ke rumah ini, bahkan ke kamar mereka sendiri. Agni muak dengan semua yang dilakukan Victor padanya.


Sementara Victor berada di dalam kamar mandi dan menghidupkan shower dengan derasnya Agni masuk ke dalam kamar, dia menanti Victor keluar dari kamar mandi, dan dia sudah bulat tekadnya untuk membuka perdiskusian pada Victor mengenai pacar-pacarnya itu.


Sudah beberapa lama Agni menunggu Victor keluar dari dalam kamar mandi, namun Victor tidak kunjung keluar, akhirnya Agni meraih majalah yang ada di meja, di sampingnya dan mulai membaca, namun dia tidak konsentrasi membaca buku itu, otaknya masih tertuju pada Victor, pada apa yang akan dikatakannya, pada apa yang mungkin terjadi jika dia mengatakan itu pada Victor, dia takut namun dia harus mengatakannya.


“Aku tidak suka jika kau membawa pacar-pacarmu ke dalam kamar ini!” Agni mulai berbicara ketika dia melihat Victor keluar.


“Bukan urusanmu, dan ingat, ini bukan kamarmu!” Victor memutus pintu negosiasi.


“Ingat, aku istrimu sekarang!” Agni menaikkan suaranya.


“Aku tidak peduli!” Victor masih dingin dan tidak berperasaan.


“Aku akan melakukan apa saja asal kau jangan membawa pacar-pacarmu itu ke sini!” Agni tidak menyerah dengan pendiriannya.


“Aku tidak ingin bernegosiasi denganmu!”

__ADS_1


“Bagaimana kalau aku benar-benar memohon padamu?” Agni mencoba melunak.


“Aku bukan Tuhanmu, yang bisa kau lakukan adalah menuruti semua perintahku dan jangan membantah, aku tidak suka membantah!”


“Kau tidak suka dibantah, namun kau tidak pernah memikirkan orang-orang di sekitarmu, bagaimana kau harus memperlakukan mereka dengan baik.”


“Jangan mengajariku tentang berperilaku yang baik, aku bukan anak kecil lagi. Lagi kau yang datang ke rumah ini. Di mana lantai dipijak di situ atap dijunjung, kau harus mengikuti aturan-aturan di rumah dimana kau diberi tumpangan, bukan sebaliknya.”


“Aku tidak menumpang di sini, aku istrimu, ingat itu!”


“Terus?” Victor cuek.


“Kau tidak bisa seenaknya begitu, bukan begitu cara memperlakukan istri, istri bukan objek yang bisa kau perlakukan semena-mena,” Agni bangkit mendekati Victor.


Victor terkejut dengan pelukan itu, dia belum sempat menjawab perkataan Agni yang lagi-lagi mengguruinya bagaiman bersikap pada isteri. Agni lebih tekejut lagi, dia tidak tahu apa yang mendorongnya untuk melakukan pelukan itu pada Victor yang telah menyakitinya.


“Aku mau pergi, lepaskan tanganmu dari badanku!” Victor dingin lagi, dia gugup.


“Baik, hati-hati di jalan!” Agni melunak, diam emaki dirinya sendiri yang tiba-tiba melunak itu, dia bingung mengapa dia melakukan itu. Dia seperti tidak menjadi dirinya sendiri saat ini.


“Jangan berusaha menggodaku, dan tidurlah dengan Mbo Ratih malam ini, aku ada tamu malam ini. Tapi kalau kau berseikeras lagi untuk tidur di sini, jangan salahkan aku, dia lebih berani dari wanita-wanita lain, daripada kau sakit hati, aku sarankan untuk mengikuti perintahku kali ini.” Victor meninggalkan Agni.


Baca juga: Zora’s Scandal (Lihat Pada Profil)

__ADS_1


***


Sepeninggal Victor, Agni menelepon Elisa. Dia memberi aba-aba pada Elisa untuk bersiap-siap menampungnya di kontrakan itu.


Elisa menyarankan pada Agni datang sekarang juga namun Agni menolak, dia benar-benar ingin melihat apa yang akan dilakukan Victor, dia selalu penasaran pada keberanian Victor yang kelewatan itu, yang tidak berperasaan itu. Agni selalu penasaran melihat tingkha ekstrim yang dilakukan Victor, belum ada laki-laki sekejam Victor yang dia temui selama ini.


“Apa aku sudah gila?” Agni bertanya di dalam hatinya.


Agni menyibukkan diri dengan menemani Mbo Ratih melakukan pekerjaannya. Mbo Ratih tentu saja tidak memberi Agni memegang apapun juga, dia tidak mau terjadi apa-apa dengan bayi yang ada di rahim Agni.


“Kau harus tetap sabar, Agni. Aku yakin sebenarnya tuan sangat menyayangimu, hanya dia malu mengakuinya, dia masih merasa canggung untuk menyayangi orang lain,” Mbo Ratih mengencangkan suaranya walah jarak mereka tidak terlalu jauh, dia sengaja mengencangkan suaranya, sebagai suatu penegasan kembali pada Agni, agar Agni bertahan dulu.


Mbo Ratih yakin akan tiba saatnya Victor berubah dan kembali menyanyangi Agni dengan sikap yang wajar apa adanya, tanpa malu-malu lagi.


“Tapi malam ini, dia akan membawa kembali perempuan ke dalam kamar, apa aku harus terus bertahan melihat satu persatu perempuan lain masuk ke dalam kamar kami?”


“Hmmm, memang berat kuakui, tapi bisakah kau bertahan sedikit lagi?” Mbo Ratih mendekat pada Agni.


“Baik Mbo, aku mau lihat dulu, apakah dia benar-benar akan membawa perempuan ke dalam kamar atau tidak!”


Bersambung…


Like, komen dan votenya ya kakak, terima kasih 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2