Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Bulan Madu (2): Kita Mulai Dari Sini


__ADS_3

Pelayanan yang sangat memanjakan didapatkan oleh Victor dan Agni, makanan di restoran itu juga sangat nikmat. Makan malam itu merupakan makan malam ter-romantis yang pernah dirasakan Agni.


Bagi Victor makan malam itu juga merupakan makan malam yang terbaik yang pernah dia rasakan. Makan bersama istrinya, dia tidak pernah menyangka jika suatu saat dia akan makan bersama dengan seorang istri, berbulan madu di Bali, melakukan hal-hal regular yang orang kebanyakan lakukan, menikah dan akhirnya memiliki anak.


Pengalamannya ditinggalkan oleh kedua orangtuanya sejak kecil membangun Victor menjadi pria yang tidak mau menikah karena takut jika dia menjadi ayah yang tidak bertanggung jawab, sama seperti papanya, seperti mamanya. Untung ada Mbo Ratih yang menjaganya, merawat dan membesarkannya menjadi seorang yang tegar seperti yang sekarang.


Flashback On


Hari itu hujan sangat deras. Victor kecil masih berumur 4 tahun, dalam pelukan Ratih yang masih muda Victor menangis karena menyaksikan mamanya dipukul oleh ayahnya sendiri, entah apa penyebab dari pertengkaran mereka.


Mbo Ratih tidak pernah menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada papa dan mamanya hingga terjadi pertengkaran yang hebat itu. Mamanya melengkingkan suara di tengah badai hujan yang deras. Victor kecil terus meraung karena takut melihat papanya yang berang memukul mamanya.


Victor sebenarnya tidak terlalu dekat juga dengan mamanya, karena dia tidak pernah mendapat kasih sayang dari mamanya itu. Mamanya selalu sibuk di luar, dan selalu masuk rumah dengan keadaan mabuk di subuh hari.


Kalau sudah terbangun, saat Victor minta digendong oleh mamanya, mamanya selalu menolak untuk menggendong Victor kecil, saat-saat seperti itu, peran Ratih sangat dibutuhkan, dia yang akhirnya akan menggendong Victor dan membawanya menjauh dari mamanya itu.


Ratih tidak mau jika Victor akan dipukul juga oleh mamanya karena telah mengganggu ketanangannya.


Setelah sarapan, mama Victor akan segera siap-siap untuk keluar lagi. Pakaiannya rapi terus, Ratih yang sudah terlatih sudah tahu pakaian apa yang harus dipersiapkan untuk majikannya itu.


Papa Victor beda lagi, dia sangat jarang ada di rumah. Sekali dia ada di rumah, hanya satu dan dua hari saja hubungannya dengan istrinya itu akur, selebihnya pasti sudah bertengkar. Dari hal-hal yang remeh temeh saja mereka pasti bertengkar.


Malam itu adalah malam yang paling diingat oleh Victor. Mamanya lari dari rumah di tengah badai hujan hanya untuk menghindari siksaan dari papanya. Saat mamanya lari itu, pagi-pagi sekali, ada mobil ambulance datang ke rumah membawa jenazah mamanya.


Mamanya ditabrak oleh orang yang tidak bertanggung jawab saat menyeberang ingin naik taxi, tidak jauh dari rumah mereka. Seisi rumah tidak tahu jika mama Victor tewas ditabrak orang. Orang-orang di sekitar membawa mama Victor ke rumah sakit namun tidak lama setelah samapi di sana, mama Victor menghembuskan nafas, dia tidak tertolong lagi.

__ADS_1


Setelah mama Victor dikuburkan, papa Victor mengusir Ratih dari rumah, tidak hanya Ratih, dia juga tidak mau Victor berada di rumah itu. Entah apa alasannya, Ratih tidak mau menjelaskan lebih detail mengenai hal itu pada Victor.


Belakangan Victor tahu jika papanya menikah lagi. Tidak sekalipun papanya mau bertemu dengan Victor. Sekeras apapun Victor ingin bertemu dengan papanya, papanya selalu menghindar dan seisi rumah yang dulu ditempati Victor sudah diberitahu untuk tidak menerima Victor atau ratih masuk ke dalam.


Setelah Victor berangjak dewasa dengan asuhan Mbo Ratih, Victor mendengar kabar jika papanya juga telah meninggal. Ditabrak oleh orang tidak dikenal. Kabarnya, dia ditabrak oleh suruhan saingan bisnisnya.


Flashback Off


Itu sebabnya Victor masih merasa aneh sampai sekarang, saat mereka bebulan madu dengan istrinya, ibu dari anak-anaknya, Victor aneh dengan dirinya sendiri. Dia seperti bukan Victor yang dia kenal. Dia kaku dengan hal-hal yang romantis seperti yang sedang dialaminya sekarang dengan Agni.


Agni melihat raut wajah Victor yang kaku. Victor seperti berada di dunia yang bukan dunianya sendiri. Dia terasing dengan situasi yang ada di hadapannya.


“Sayang? Kenapa?” Agni mencoba menyapa Victor yang melamun. Sebenarnya dia masih kesal dengan apa yang telah dilakukan Victor padanya barusan di kamar tadi, tetapi dia berusaha melupakannya. Dia tahu jika Victor sedang bercanda saat itu, dia yakin kalau Victor sedang mengukur kemampuan Agni untuk bertahan dari gempuran-gempuran laki-laki lain.


“Enak, tapi kenapa melamun? Pasti ada yang kau pikirkan kan?” Agni bertanya lagi.


“Tidak ada, aku bersyukur, akhrinya aku bisa ke sini bersamamu saat ini. Aku tidak pernah membayangkan menjalani bulan madu seperti ini!” Victor berterus terang.


Namun tentu saja Agni tidak seratus presen tahu apa yang sedang dilamunkan oleh Victor. Dia mengangguk, dianggapnya kalimat Victor itu sebagai permintaan maafnya secara tidak langsung karena telah menganggapnya tidak ada di rumah di awal-awal pernikahan mereka.


Agni hanya tersenyum saja mendengar pengakuan itu. “Aku juga senang, sayang, aku juga tidak pernah menyangka akan pernah ke Bali suatu saat!” Agni berterus terang.


“Itu karena lu nggak mau aja! Hahaha!” Victor ngakak, merasa pertanyaan Agni adalah sesuatu yang berlebihan, terlalu merendah.


“Beneran, makanya, aku akan mengingat ini seumur hidupku.” Agni meyakinkan Victor.

__ADS_1


“Kau terlalu berlebihan. Jangan buat aku marah ya!” Victor melotot.


“Aku suka kalau kau marah!” Agni main mata, menggoda Victor.


Victor cepat-cepat menyudahi makan malamnya. Dia sudah tidak sabar ingin menyelesaikan permainan mereka yang masih tanggung tadi.


Agni seolah tahu apa yang sedang ada di dalam pikiran Victor. Dia juga buru-buru menghabiskan makan malamnya yang memang tinggal sedikit itu.


Mereka berdua saling tatap-tatapan, berkomunikasi dalam diam. Tiba-tiba kaki Victor naik ke atas paha Agni. Agni terkejut ada kaki yang betengger di pahanya. Dia tahu itu kaki Victor. Dia menurunkannya, kemudian melotot ke arah Victor. Memberi kode jika Victor harus menahannya sampai mereka sampai di kamar.


Victor tidak mau mengalah, dia juga melotot, seolah dia mau mengatakan, “Kita mulai dari sini!”


Berkali-kali Victor harus menaikkan kakainya ke atas paha Agni namun untuk ke sekian kalinya Agni menjatuhkan kaki itu ke bawah.


Victor lagi-lagi tidak mau mengalah, dia melorotkan badannya melebarkan kaki-kaki Agni hingga kaki Agni membentuk huruf v terbalik. Agni harus menutup apa yang harus ditutup dari gempuran Victor.


Agni hendak berdiri dari kursinya, dan melihat mata Victor yang melotot. Dia tidak perduli, dia meninggalkan Victor sendiri di sana menahan konaknya sendiri. Victor tidak langsung mengikuti Agni, dia gengsi.


Baca juga: Zora’s Scandal (Lihat pada profil saya di NovelToon atau MangaToon, by Otom)


Namun gengsinya tidak bertahan lama, dia tidak tahan dengan fantasinya sendiri, membayangkan bulan madu yang benar-benar manis, semanis madu yang baru dipanen dari hutan tropis, di pedalaman yang pohon-pohonya masih asri sekali.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kaka🙏


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2