
“Hei, hei, hei!” Elena mengejar Victor dari belakang.
Victor sengaja tidak melihat ke belakang, ke arah sumber suara itu datang. Dia mau tahu kegigihan Elena untuk mendapatkan kehangatan tubuhnya, Victor sangat percaya diri.
“Victor!” Akhrinya Elena menyebut nama Victor setelah mereka sama-sama sudah di luar. Victor berhenti, dia sengaja tidak melihat ke belakang. Dia pura-pura geram dengan teriakan Elena.
“Hei, kenapa kamu cepat ngembek sih?” Elena menarik tangan Victor, dia ingin Victor melihatnya berbicara.
Victor tidak mau berbalik, dia masih tidak mau bicara dengan Elana.
“Aku tidak menyangka kau sangat kekanak-kanakan, mudah ngam….!” Elena tidak menyelesaikan ejekannya pada Victor.
Tiba-tiba saja Victor telah menyambar bibirnya yang ranum itu lagi. Elena terkejut, dia baru tahu jika Victor ternyata tidak suka dianggap remeh seperti itu.
“Ini yang kamu mau kan?” Victor tersenyum pada Elena.
“Kau membuatku bingun, Victor!” Elena menarik kepalanya dari hadapan Victor.
“Kenapa?” Victor pura-pura bodoh.
“Kau seolah tidak menginginkanku, kau tinggalkanku begitu saja di dalam tadi, sekarang kau…” Elena lagi-lagi tidak menyelesaikan kalimatnya. Victor lagi-lagi mendaratkan kecupannya di bibir Elena.
“Aku pura-pura saja, sayang! Kau ternyata cepat marah juga ya!” Victor menatap mata Elena setelah dia melepas kecupannya.
“Apa kau benar-benar menginginkanku?” Elena bertaya ragu, dia mengerutkan keningnya.
“Tentu saja!” Victor membelalakkan matanya.
“Ada rencana malam ini?” Elena bertanya.
“Tidak ada! Ini malam terakhirku di sini!” Victor menjawab, memberi aba-aba pada Elena yang sangat menginginkan kehangatan tubuh Victor.
“Yakin?” Elena melirik Victor.
“Yakin, aku akan dengan senang hati memenuhi semua permintaanmu mala mini!” Victor memainkan matanya sambil tersenyum pada Elena yang mungkin sedang berpikir bahwa Victor tidak akan tega meninggalkan istrinya di dalam kamar, entah di mana mereka menginap hanya untuk menemani Elena.
“Yakin?” Elena mengulang pertanyaan yang sama.
“Kamu ragu? Kalau kamu masih ragu, aku akan pulang kalau begitu!” Victor menantang Elena.
“Baik, kau bebas membawaku kemanapun yang kamu mau sekarang!” Elena melempar bola pada Victor. Kini Victor yang akan menentukan ke mana mereka akan berlabuh malam ini.
“Kau mau main ke Villa yang kami sewa?” Victor menawarkan Villanya pada Elena.
__ADS_1
“Istirmu ada di sana kan?” Elena membelalakkan matanya.
“Iya, emang kenapa?” Victor pura-pura bodoh lagi.
“Aku tidak mau kalau harus bertemu dengan istirmu, untuk apa?” Elena protes.
“Hehehe, bercanda, kali aja kamu mau!” Victor menarik tangan Elena, menghampiri taxi yang sedang parkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Kemana?” Elena bertanya pada Victor yang tiba-tiba menarik tangannya itu.
“Katamu aku bebas membawamu ke mana saja yang aku mau, gimana sih? Nggak konsisten amat!” Victor masih menarik tangan Elena yang tampaknya masih ragu.
“Oh, okey!” Elena membuang semua keraguannya.
“Kita akan menginap di hotel dekat Bandara malam ini!” Victor memberitahu Elena arah tujuan mereka.
“Arah Bandara ya pak!” Victor memberi instruksi pada supir taxi.
“Siap, pak!” Supir yang masih muda itu mengangguk walau Victor dan Elena tidak peduli dengan anggukannya karena mereka berdua sudah saling pagut di kursi belakangnya.
***
“Victor kemana sih?” Agni masih uring-uringan di kamar sendirian. Dia mau menelepon sahabatnya Elisa, tapi dia segan, sudah terlalu larut, dia takut mengganggu Elisa bekerja.
Karena melihat wajahnya itu, dia teringat dengan seseorang yang mereka jumpai di pantai. Kini firasat buruk menghinggapi dirinya.
“Apa Victor sedang berduaan dengannya ya? Ah, tidak mungkin, dia kan putri musuh bebuyutan Victor, tidak mungkin mereka akhirnya saling atur jadwal bertemu!” Agni melawan firasatnya sendiri.
“Perempuan itu menghindari pacarnya, Victor melihat, mengagumi perempuan itu. Ah tidak, tidak mungkin, aku terlalu mengada-ada. Kau mengada-ada Agni, nggak mungkin Victor keluar hanya mau bertemu dengan perempuan itu, pasti karena urusan pekerjaan. Victor tampaknya mau memulai sebuah bisnis. Positif thinking, Agni!” Agni masih berkutat pada pikirannya yang saling bertolak belakang, saling berlawanan.
***
Sementara itu taxi yang ditumpangi Victor dan Elena sudah dekat ke Bandara. Sopir muda itu melirik dari cermin yang ada di depannya. Victor dan Elena masih saling raba dan pagut di dalam mobil itu. Diam au bertanya jadi segan sendiri. Tapi sampai kapan dia harus beridam diri, sementara mereka semakin dekat dengan Bandara.
“Ehem… maaf pak, kita ke hotel apa ya?” Sopir itu memberanikan diri untuk bertanya.
“Terserah bli, bawa ke mana saja rekomendasinya bli!” Victor menjawab sekilas sopir itu dan fokus lagi pada Elena.
“Nanti dulu, kita sudah dekat, nggak enak sama bang sopir!” Elena menolak kecupan Victor.
“Hmm, dari tadi enakan, sekarang sudah nggak enakan!” Victor meledek Elena.
“Biarin!” Elena bermanja-manja pada Victor, dia menyandarkan kepalanya pada bahu Victor.
__ADS_1
“Dasar!” Victor mencubit hidung mancung Elena.
“Aw, sakit, sayang!” Elena melebih-lebihkan, entah kenapa dia ingin pamer kemesraan pada sopir yang sedang membawa mereka semakin mendekati sebuah hotel mewah di sana.
***
“Sebentar, bisa jemput saya dan hantar ke Banara nggak?” Victor meminta pada sopir taxi.
“Boleh pak, tapi sepertinya hotel menyediakan mobil antar ke Bandara kok!” Sopir itu menjawab Victor.
“Nggak apa-apa, aku mau kamu saja yang hantar. Stand by di parkiran saja! Nanti aku bayar lebih!” Victor teriak sambil meninggalkan sopir itu. Dia menggandeng Elena masuk ke dalam lobby dan langsung memesan satu kamar untuk mereka berdua.
***
Sesampainya di kamar, ponsel Elena berbunyi, dia melihat mantannya sedang memanggilnya. Dia mengabaikan panggilan itu.
“Lebih baik, kau matikan saja ponselmu, daripada diganggu terus!” Victor melirik ponsel yang sedang di tangan Elena setelah dia mendapat kunci kamar mereka.
“Ide yang bagus, kamu juga, matikan ponsel ya, agar tidak ada yang mengganggu kita!” Elena menyarankan hal yang sama pada Victor.
“Tenang, dari tadi aku sudah mematikan ponsel kok! Malam ini kita bebas dari gangguang siapaun. Hahaha!” Victor tertawa, matanya sedikit sayu. Dia menarik tangan Elena dan berjalan menuju lift.
“Jujur, aku senang sekali melihat kau bertengkar dengan mantanmu itu!” Victor menatap mata Elena, mereka sedang berada di dalam lift.
“Ih, jahat!” Elena tersenyum. Dia tidak marah lagi karena Victor menyinggung mantannya.
“Iya, kalau tidak, aku tidak akan berani memberikan nomor ponselku padamu!” Victor tersenyum nakal pada Elena.
“Gila ya, kau bisa kibuli istrimu bulat-bulat begitu! Bisa-sinyanya dia tidak tahu kalau kau memberi nomor ponselmu padaku!” Elena geleng-geleng kepala.
“Aku ahlinya pada bidang-bidang itu, lagian, aku tidak terlalu suka dengan dia, aku hanya kasihan saja!” Victor berterus terang pada Elena.
“Benarkah?” Elena riang, entah apa yang diriangkannya, dia seperti mendapat setitik pengharapan untuk mendapatkan cinta Victor.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon)
“Benar!” Victor tersenyum, matanya menatap lekat-lekat mata Elena. Hampir saja dia mencium Elena di dalam lift kalau tidak ada bunyi lift tanda pintu akan terbuka. Ternyata mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju.
Jangan lupa kasih dukungannya ya ka, vote, like, komen dan share novel ini agar semakin banyak pengunjungnya, masih sepi banget nih! Hehehe, terima kasih kaka-kaka semuanya!
Bersambung…
__ADS_1