
"Awas kalau kamu sampai suka dengan dia ya!" Agni mencubit perut Victor.
"Awch, sakit, Agniii!" Victor melotot.
"Awas!" Agni mengelalkan tangannya pada wajah Victor.
"Asalkan dia tidak menggoda saja!" Victor bercanda, dia ingin melihat bagaimana reaksi Agni.
"Awas saja kalau aku tahu kau terpikat padanya!" Agni berhenti sejenak. "Atau perempuan lain!" Disambungnya lagi.
"Kalau aku sampai selingkuh, berarti kau harus refleksi, harus bertanya pada diri sendiri, apa yang salah pada dirimu!" Victor senyum-senyum melihat Agni makin berang. Biasanya dia tidak berani pada Victor. Victor tertantang menggoda Agni karena dia benar-benar ingin tahu bagaimana Agni bisa sedrastis itu perubahannya.
"Kalau kau selingkuh, itu artinya kau selingkuh, jangan menyalahkan orang lain, jangan buat kesalahan orang lain sebagai tameng untuk menutupi perbuatanmu! Kalaupun aku salah, kau bisa ingatkan, bukan jadi alasan kau bisa sesuka hati berbuat apapun yang seharusnya tidak kau lakukan." Agni berang, belum apa-apa, Victor sudah mulai menyalahkannya, dan dia tidak suka itu.
Seorang pelayan membawa 2 bua kelapa muda. Melihat itu, mereka sama-sama diam dan saling tatap karena mereka tidak mau pelayan itu mendengar perdebatan mereka.
__ADS_1
"Silakan Pak, Bu!" Pelayan itu meletakkan buah-buah kelapa itu di atas meja.
"Pesanan makanannya sedang dipersiapkan, nikmati kelapa muda dulu ya Pak, Bu!" Senyum ramah terpancar dari wajah pelayan itu. Agni dan Victor membalas senyum itu berbarengan sambil pandang-pandangan.
"Saya pamit sebentar, Pak, Bu!" Pelayan itu mundur beberapa langkah kemudian berjalan menuju arah kedatangannya tadi.
Hanya senyum yang bisa terpancar dari kedua pasangan suami dan isteri itu. Dan itu adalah isyarat mereka mengizinkan pelayan itu, mereka belum membutuhkan bantuan pelayan itu sekarang. Padahal pelayan itu tidak perlu izin dari Agni dan Victor untuk meninggalkan mereka.
***
"Kenyang yah, enak banget ikannya, manis, sepertinya ikan itu baru didapat dari laut." Victor mengomentari apa yang sudah dimakannya.
"Kita belum selesai pada masalah perempuan-perempuan yang selalu gonta-ganti kau tiduri!" Agni belum move on dari perdebatan tadi. "Sengaja tadi aku diamkan, agar bisa fokus makam seefood segar ini!" Agni benar-benar tidak mau diam kalau Victor tidak mengakui kesalahannya.
"Ih, cerewet!" Tangan Victor menjangkau hidung Agni kemudian memencetnya.
__ADS_1
Agni kesedak, dia bersin, keluar angka 11 yang sudah mulai mengental.
"Apa-apaan sih, kenapa kau cubit hidungku?" Agni protes sambil melap tumpahan air kental yang jatuh dari hidung itu.
"Aku gemes, sama keposesifanmu!" Victor memonyongkan mulutnya.
"Aku hanya mengingatkanmu, sebelum kau melakukan hal yang sama yang membuatku marah!" Agni ingin memperbaiki terminologi posesif yang dialamatkan Victor padanya.
"Nggak usah diingatkan, aku tahu apa yang harus aku lakukan." Victor membela diri, kini dia serius menanggapi kekhawatiran Agni yang belum tentu pasti.
"Baiklah kalau begitu!" Agni pasrah dengan hati yang belum puas. Dia ingin bisa marah-marah kepada Victor sesuka hati, maka Victor tidak bisa khilaf melakukan apa-apa yang salah menurut Agni.
Tiba-tiba Elena dan pacarnya mendekati mereka. Victor melirik sebentar pada mereka, dia pikir Elena akan duduk dengan mereka namun mereka berhenti di meja tepat sebelum meja mereka.
Victor melihat jelas wajah Elena yang kini memandangmya dengan tatapan misterius, soalnya Elena menatap Victor sejak dia duduk di sana. Elena benar-benar tidak memberikan perhatian pada pria yang mungkin telah membuatnya marah tadi, pria yang satu meja dengannya.
__ADS_1
Bersambung, jangan lupa baca Zora's Scandal. Tinggalkan jejaknya ya ka🙏