Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Laporan Elisa Tidak Diproses


__ADS_3

Elisa pamit pada Agni, Agni ingin ikut, dia khawatir pada Elisa karena dari tampang Elisa, Agni tahu jika ada yang tidak beres sedang terjadi.


"Tidak, elu di sini aja. Biar gue selesaikan sendiri, lagi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya kasus biasa dan..."


"Nggak, gue harus ikut!" Agni menyela kalimat Elisa, dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu.


"Tinggal di sini saja, biar gue yang ke sana, gue nggak mau elu diseret-seret karena persoalan gue yang ini, eh ini bukan persoalan gue, gue hanya disuruh datang dan memberi keterangan tentang apa yang gue tahu, jangan bawel dulu!" Elisa menahan Agni agar tetap berada di sana.


Agni tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia pasrah saja melihat Elisa keluar dari kamar apartemen itu dengan hati gelisah. Dikejarnya Elisa keluar.


"Kabari segera kalau kenapa-kenapa ya!" Agni teriak lada Elisa.


Elisa menunjukkan jempol kakanannya dan buru-buru turun lewat lift.


Agni kembali ke dalam kamar dan menutup pintu.


Tidak lama setelah dia menutup pintu Agni mendengar seseorang membuka pintu dan langsung mendekapnya dari belakang, dia bahkan tidak tahu siapa yang ada di belakangnya, namun dari badan dan tenaganya yang kuay itu, dia tahu jika orang itu pasti laki-laki.


***


Elisa sampai di Kantor Polisi yang disuruh oleh polisi tadi lewat panggilan telepon. Dia menyapa polisi yang berjaga di depan.


Tidak lama Elisa tahu jika dia telah ditipu oleh orang yang meneleponnya tadi. Dia kena prank oleh orang yang tidak bertanggungjawab.


Elisa sangat kesal, sebelum pulang dia mampir di gerobak penjual nasi goreng. Dia bungkus 2 nasi goreng, untuknya dan Agni. Kemudia dia balik ke kamar apartemennya.


Sesampainya di sana dia heran karena pintu kamarnya tampak terbuka, tidak pernah mereka membuka pintu seperti itu. Dia tahu ada yang tidak beres, dia berlarian dan benar saja, dia tidak melihat Agni di sana dan pintu terbuka, pasti ada yang menculik Agni.


Dilemparnya begitu saja nasi goreng yang dibelinya tadi dan memeriksa kamar mandi memastikan jika firasatnya itu benar, Agni diculik.


Setelah dia yakin dengan itu dia berlarian setelah mengunci pintu. Dia coba menghubungi Agni, masuk namun tidak ada yang menjawab. Elisa semakin panik sambil berjalan menuju Kantor Polisi terdekat.


Dia mau melapor pada polisi jika Agni telah diculik, namun tentu saja polisi tidak bisa memproses berita penculikan itu.

__ADS_1


***


Agni mendengar ponselnya berbunyi namun dia tidak bisa mengangkatnya tangannya diikat dan mulutnya disumpal serta matanya ditutup dengan kain berwarna gelap.


Agni mencoba teriak namun suaranya tidak cukup kuat untuk menarik perhatian orang. Dia didekap dan dimasukkan ke dalam kontainer besar dan dibawa turun dari apartemen kemudian Agni mendengar suara mesin mobil menyala dan mereka meninggalkan apartemen itu.


Agni bingung dengan apa yang dialaminya itu, "siapa gerangan yang mau menculikku?" Agni bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Victorkah yang melakukannya? Untuk apa dia melakukan ini padaku? Dia bisa memanggilku kapan saja kalau mau!" Agni menimbang-nimbang orang di balik semua yang di alaminya itu.


"Sesadis itukah Victor? Tidak mungkin, dia bahkan sangat cuek padaku, tidak mungkin Victor melakukannya padaku, lebih baik baginya mengabaikanku saja!" Agni masih memikirkan kemungkinan Victor yang melakukan semua ini.


Agni hanya bisa pasrah dan menunggu nasibnya hendak diapakan setelah ini. Tidak terlalu lama, mobil suda berhenti, dia mengira dia akan diangkat keluar dari mobil, ternyata bukan, dia salah prediksi tidak ada yang mengangkatnya.


Dari percakapan yang dia dengar, hanya ada 3 orang yang ada bersama dengan dia di mobil itu, sesekali mereka terbahak entah apa yang sedang mereka tertawakan.


Tidak lama, mobil itu melaju lagi, tidak terlalu lama juga mobil itu seperti berjalan di atas jembatan besi, kemudian berhenti.


Mesin dimatikan, orang-orang yang mendekapnya keluar dri mobil dan meninggalkan mobil itu, sementara Agni masih ada di dalam kontainer, di dalam mobil itu. Agni mulai sesak nafas.


Udara begitu kencang saat itu, Agni bingung entah dia berada di mana sekarang. Yang Agni tahu, dia sangat kedinginan karena udara yang sangan kencang itu.


"Sebentar, suara air?" Agni terkesiap. Dia tahu sekarang, dia sedang berada di atas kapal.


Tidak ada yang mengajaknya bicara, orang-orang di sana hanya bercengkerama dengan teman bicaranya masing-masing.


Tidak lama setelah Agni sudah mulai terbiasa dengan dinginnya angin itu, seseorang mendekat padanya dan membuka mulut Agni, melepas ikatan yang di mulutnya.


Agni ingin memaki namun dia tahu, usaha itu hanya membuang-buang energi, dengan berusaha sesantai mungkin dia menunggu apa yang akan mereka lakukan padanya.


"Kau tidak mau berteriak lagi?" Suara laki-laki yang terdengar berat terdengar di telinganya. Dia tahu jika laki-laki itu sedang berbicara padanya.


Agni diam saja, dia tidak memberikan komentar apa-apa, hal itu membuat laki-laki bersuara berat itu berang, dia tidak suka dicueki.

__ADS_1


"Mulai dari sekarang, kau bukanlah siapa-siapa lagi!" rambut Agni ditarik ke belakang.


"Awh!" Agni berteriak, tersentak karena dia tidak melihat dan tidak tahu jika laki-laki itu akan menarik rambutnya ke belakang.


"Nah teriak dong! Biar kelihatan masih hidup. Harus teriak!" Suara berat itu terdengar lagi.


Agni tidak menjawab karena dia takut jika dia berbicara, makianlah yang keluar dari mulutnya dan dia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya karena hal itu, maka Agni memilih untuk diam saja.


"Sebentar lagi, makan malam akan tiba, makan yang banyak ya!" Laki-laki bersuara berat itu sepertinya berbicara sambil menjauh darinya, suaranya semakin pelan.


Agni masih terdiam, dia tidak mau menjawab sedikitpun.


***


Agni tidak mau makan, dia meminta untuk matanya dibuka baru dia mau makan.


"Jangan macem-macem ya!" Suara yang lebih melengking menonjok kening Agni, tidak terlalu kuat memang, dia tidak mau Agni jadi lecet.


"Bagaimana aku bisa menyuap makanan ke mulutku sementara mataku tertutup?" Agni protes.


"Oh, kamu minta disuap ya? Okeh, aku suap sekarang!" Laki-laki tadi menyendok makanan ke mulut Agni.


Agni menolak, dia tidak mau disuap.


"Maumu apa sih?" Laki-laki itu setengah kesal.


"Buka pengikat mataku, baru aku mau makan!" Agni berbicara wajahnya seperti menatap ke atas, dia menyampaikan keberatannya.


Baca juga: Zora's Scandal (Sudah tamat, hanya di NT/MT)


"Jangan main perintah ya, aku bukan pembantumu!" Laki-laki itu geram. "Kalau kau tidak mau makan, terserah, biar saja kau kelaparan, nanti kau juga yang rugi!" Laki-laki itu meninggalkan Agni di sana, terduduk.


Benar saja, perut Agni mulai keroncongan, dia lapar sekali, dia memang belum sempat makan malam tadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2