
Sore ini, sesuai saran dari Mbo Ratih, Agni bersolek, apa yang mereka beli beberapa hari yang lalu dipakai olehnya untuk menyambut kedatangan Victor.
Agni membaca majalah langganannya untuk membunuh waktu, membunuh kebosanan yang ada.
Sudah beberapa menit berlalu, Agni sudah mulai gerah dengan apa yang dikenakannya, sejam berlalu, belum ada tanda-tanda Victor akan segera tiba di rumah. Dia hendak menelpon Victor namun diurungknnya, dia tidak mau disemprot lagi karena Victor menggap Agni kepo karena pertanyaan-pertanyaan semacam: Kamu di mana? dan Sudah makan belum? adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting menurut Victor.
Sudah berjam-jam Agni menunggu, akhrinya dia beranjak ke ruang makan. Dia melahap apa yang sudah dipersiapkannya di sana sore tadi, kini sudah terlalu larut, dandanannya pun sudah tidak berbentuk lagi.
Agni makan sangat lahap, seperti orang yang tidak makan seharian, dia menghabiskan banyak lauk. Setelah kenyang dia pergi ke kamar tidur mereka, beberapa jam dia membolak-balik majalah yang dipegangnya namun tidak ada satupun yang masuk ke otaknya, pikirannya hanya tertuju pada Victor. Entah apa yang membuat Agni begitu kangen dengan Victor, padahal dia selalu dianggap tidak ada di rumah itu.
“Ah, mungkin bayi yang ada di dalam kandunganku ini yang kangen dengan kehadiran papanya, hihihi!” Agni membayangkan anak kecil yang belum bisa berbuat apa-apa kangen pada papanya.
Tidak lama kemudian, Agni akhirnya terlelap karena malam sudah terlalu larut.
Saat itu pula Victor masuk ke dalam kama, lagi-lagi Victor membawa wanita yang menyukainya, entah karena gantengya Victor, entah karena ketajirannya, atau hanya karena memang takut menolak ajakan Victor.
“Sialan, aku lupa dia ada di rumah!” Victor mengumpat, suaranya pelan, dia tidak mau wanita yang ada digandengannya mendengar.
“Siapa?” wanita itu bertanya pada Victor dengan nada keheranan.
“Bukan siapa-siapa,” Victor dengan cekatan menarik keluar lagi wanita itu sebelum dia melihat sosok Agni yang sedang tergelatak di kasur dengan bentuk yang tidak menggairahkan.
Baca juga: Zora's Scandal (Lihat pada profil)
“Loh, kok keluar lagi?” wanita itu heran, dia tersentak karena tangannya tiba-tiba ditarik dengan tenaga yang lumayan kuat hingga dia hampir kehilangan kendali.
“Kita di kamar itu saja!” Victor menunjuk kamar sebelah.
“Oh, ok!” wanita itu mengiku langkah-langkah Victor dari belakang.
Victor membuka pintu kamar itu, menyalakan lampu dan melihat betapa berdebunya kamar itu karena tidak pernah disentuh.
“Kurang ajar, si Mbo apa kerjaannya sih? Kenapa kamar ini masih kotor begini?” sambil mengumpat Mbo Ratih, dia menarik kembali tangan wanita itu untuk beranjak dari sana.
“Loh, kok?” wanita itu melotot pada Victor.
__ADS_1
“Jorok, kita di kamar tadi saja!” Victor masuk lagi ke kamar di mana Agni ada di dalam sedang terlelap.
Agni benar-benar tidak mendengar Victor dan wanita itu masuk ke dalam kamar itu.
“Loh, dia siapa?” wanita itu bertanya keheranan pada Victor.
“Kau tidak perlu tahu dia siapa,” Victor memagut bibir wanita itu, dia tidak mau mood-nya berkurang karena harus menerangkan siapa Agni pada wanita itu.
Wanita itu menyambut kecupan Victor. Dia juga tidak terlalu peduli dengan wanita yang ada di atas tempat tidur itu. Dia sungguh menikmati kecupan Victor. Sudah lama dia menanti saat-saat seperti ini dengan Victor.
Desi, wanita yang kini memeluk dan dipeluk Victor adalah teman sekelas Victor waktu SMA dulu. Victor selalu menolak ajakannya berpacaran, saat itu Victor sangat anti dengan perempuan, dengan kata kerja berpacaran. Dia tidak mau membuang-buang waktu dengan melayani permintaan-permintaan manja para wanita di sekolahnya.
Mereka bertemu kembali dalam satu mega proyek di Kalimantan. Saat mereka harus sama-sama kembali ke Jakarta, Victor mengajaknya menginap di rumahnya saja.
Flashback On
“Sudah terlalu larut, kita nginap di rumah saja ya?” Victor mengajak Desi untuk menginap di rumahnya.
“Ah, nggak usah, aku pulang ke rumah saja!” Desi pura-pura menolak.
“Dendam kenapa?” Desi tidak tahu kenapa Victor tiba-tiba mengatakan itu.
“Karena aku tolak, dulu waktu SMA?” Victor tersenyum, menggoda Desi.
“Ah, kamu, masih ingat saja, buat malu saja!” Desi pura-pura malu.
“Nggak dendam berarti?” Victor memiringkan wajahnya, daun telinganya sebelah kanan mendekat sedangkan yang di sebalah kiri menjauh.
“Ya nggak lah, itu sudah lama sekali, ingat juga nggak aku!” Desi berbohong. Dia memang tidak ada dendam, hanya marah sedikit, dia malah belajar menjadi manusia yang lebih baik, lebih menarik dan lebih ikhlas menerima apa yang dia miliki.
“Kamu semakin cantik loh!” Victor menggoda Desi.
“Kamu menggodaku sekarang?” Desi tidak percaya dengan apa yang didengarnya, hal itu pertanda baik baginya. Artinya, Victor mulai menyukainya walau sebatas kecantikan fisik, tapi itu mampu membuat Desi terbang ke langit ke-5, jauh, tinggi sekali itu.
“Aku tidak menggoda, itu kenyataan!”
__ADS_1
“Ok, apa maumu sekarang?” ketegasan Desi muncul lagi, dia mau Victor berterus terang dengan maksudnya mengatakan pujian itu.
“Aku ingin bercinta denganmu!” Victor berbisik di telinga Desi.
Nafas hangat Victor menyapu daun telinga Desi. Hal itu sukses membuat Desi menjadi sangat bergairah.
“Kau tidak pernah serius dengan wanita!” Desi masih tidak percaya.
“Aku mau buktikan di rumah…, kalau kau mau!” Victor tersenyum lagi dengan manisnya.
“Kenapa harus di rumah? Ada banyak hotel di sini!”
Pertanyaan itu berarti ‘ya’ dari Desi atas permintaan Victor. Victor tahu benar kelemahan Desi, dia sudah sangat lihai menilai perempuan. Sudah banyak korban kelihanan Victor. Dan malam ini, akan tambah satu lagi, Desi.
“Aku tidak mau mengambil resiko!” Victor memegang tangan Desi sekarang.
Sentuhan itu membuat Desi bergidik. Dia menghirup udara sebanyak mungkin agar pernafasannya stabil lagi.
Desi menepis tangan Victor, dia tidak kuat, mereka masih ada di Bandara saat itu, dia tidak mau menjadi tontonan banyak orang di sana.
“Ok!” bisik Desi, hanya itu yang bisa keluar dari mulut Desi.
“Baik, supir saya sudah menunggu di parkiran, mari keluar dari sini!” Victor memencet ponselnya dan berbicara pada supirnya agar menjemput mereka di area penjemputan.
Flashback off
Desi membuka kemeja yang dikenakan oleh Victor. Kini bau badan Victor tercium oleh Desi, bercampur dengan parfum maskulin miliki Victor, bau itu menjadi sangat kuat dan sungguh mampu membuat Desi tak kuat menahan hasratnya.
Dirabanya dada Victor yang bidang dan berisi itu. Victor tidak mau kalah, dia membuka baju yang dikenakan Desi, kini Victor mampu melihat kulit putih mulus milik Desi dengan lebih leluasa.
Saat Desi mendorong tubuh Victor yang atletis itu ke atas kasur, kasur itu berguncang dan membuat Agni terbangun.
Agni mengucek matanya, dan dia melihat wanita setengah telanjang kini menimpa Victor, suaminya.
Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah, hehehe, love you all!❤
__ADS_1