
“Kamu di mana?” Agni akhirnya berhasil menghubungi Victor, suaminya itu.
“Aku sudah di Bandara, aku tunggu di sini ya!” Victor entah kenapa agak sungkan memanggil ‘sayang’ pada Agni.
“Ok!” Agni masih kesal dengan Victor karena meninggalkannya begitu saja di Villa tanpa memberi tahu kabar padanya.
Agni bergegas menyusun semua barang-barang mereka ke dalam satu koper.
“Saat berangkat dari Jakarta, aku seperti putri raja diperlakukannya, sekarang aku kembali tidak dianggap!” Agni bersungut-sungut di dalam hatinya.
Agni diantar oleh sopir Villa ke Bandara Ngurah Rai, di mana Victor telah menunggunya dengan perasaan dongkol. Dongkolnya bukan pada Agni tetapi pada Elena yang telah mempermainkannya. Dia kesal dengan perempuan itu karena tidak mau menuntaskan permainan sebagaimana mestinya, sesuai kemauannya, tidak pernah dia diparlakukan seperti itu oleh perempuan lain. Hanya Elena yang telah berhasil membuatnya uring-uringan.
Elena meninggalkan Victor begitu saja tadi pagi, sebelum dia benar-benar telah terbangun dari tidurnya. Dia merasa tidak segagah yang dulu lagi, sampai-sampai ada perempuan yang meninggalkannya begitu saja. Biasanya semua perempuan bertekuk lutut di hadapannya.
***
“Kamu dari mana saja?” Agni masih suara datar, dia duduk di samping Victor yang tampaknya tidak begitu bersemangat.
“Bukan urusanmu!” Victor dengan suara ketus, dia bahkan tidak melihat Agni.
“Sekarang menjadi urusanku, aku istrimu, mas!” Diraihnya tangna Victor. Agni masih berusaha datar tanpa emosi, padahal emosinya sedang meledak-ledak di dalam, dia tidak mau mengeluarkanya saat itu juga, dia masih mau bertahan. Dia harus hati-hati, dia tidak mau emosi hanya karena prasangka semata, dia tidak mau membuat Victor semakin sedih, karena dia melihat Victor begitu murungnya.
“Bukan urusanmu, aku bilang!” Victor mengulang lagi, dia merasa jika dia tidak punya kewajiban untuk menceritakan semua hal pada Agni. Dia masih kesal dengan Elena. Dia benar-benar terpukul sekarang.
“Maaf jika aku memaksamu, kamu sedang bersedih ya? Silakan cerita, aku siap mendengarkan!” Agni masih menahan semua emosi yang ada di dalam hatinya.
“Tidak, aku hanya kurang tidur saja!” Victor berbohong.
“Baiklah kalau begitu, nanti di pesawat bisa tidur dengan pulas!” Agni masih berusaha menghibur Victor yang tampak uring-uringan.
Agni melihat ekspresi bersedih Victor, dia tidak bisa menebak apa yang sudah dialami Victor malam tadi hingga dia bisa semurung itu. Dia tahan emosinya sedemikian rupa.
“Mari ke dalam, sebentar lagi pesawat kita mungkin akan take off!” Agni mengajak Victor ke dalam.
Victor berjalan mendahului Agni tanpa membawa apapun juga. Dia tidak menghiraukan Agni yang sedikit kerepotan karena barang-barang mereka.
“Bisa bantu bawakan ini?” Agni meminta pertolongan Victor.
Victor tidak menoleh, dia meninggalkan Agni begitu saja.
“Victor!” Agni setengah teriak, dia tidak tahan lagi dengan kelakuan suaminya itu.
Victor menoleh, “Kau bisa memakai troli, jangan cengeng!” Victor menyahut pada Agni yang tampak mulai menunjukkan emosinya. Victor benar-benar tidak peduli.
Agni terkejut bukan main dengan jawaban Victor, apa yang membuat Victor sekesal itu, Agni tidak tahu, dan dia tahu bahwa apa yang dialami Victor tadi malam bukanlah perkara kecil, Agni penasaran.
Agni mengambil troli dan mendorongnya sendiri, dia melihat Victor berjalan di depannya. Menunjukkan boarding pass pada petugas kemudian menunjuk ke arah Agni. Lalu masuk ke dalam tanpa menunggu Agni yang sedang mendorong troli. Petugas itu hampir geleng-geleng dibuat tingkah Victor yang seolah tidak peduli dengan Agni, namun dia urungkan untuk geleng-geleng karena dia tahu kalau hal itu bukanlah urusannya.
__ADS_1
Agni mendorong troli dengan senyum yang pura-pura, dia tidak mau orang lain tahu kekesalan yang dialaminya saat itu, terutama saat melewati petugas yang memasang mimik kasihan padanya. Agni tersenyum, seolah dia hendak mengatakan bahwa dia sedang baik-baik saja.
***
“Kau bisa cerita apa saja padaku sekarang!” Agni berusaha membujuk Victor agar cerita padanya, tentang apa yang telah membuatnya bersedih saat itu.
Victor tidak menyahut, dia malas meladeni Agni yang tampak semakin cerewat saat itu.
“Sayang!” Agni memegang tangan Victor.
Victor melotot pada Agni, dia tidak bersuara. Kemudian pandangannya kembali ke arah depan. Dia tidak mau berbicara pada Agni.
“Kau benar-benar tidak merasa besalah saat meninggalkanku begitu saja di Villa?” Agni mulai mengungkapkan kekesalannya pada Victor.
“Aku mau tidur, kau yang bilang tadi, aku bisa tidur di dalam pesawat. Jangan ganggu dulu!” Victor memjamkan matanya tanpa mengindahkan kekesalan Agni.
“Victor!” Agni menahan suaranya agar orang-orang di sekitarnya tidak mendengar suaranya yagn kesal.
Victor tidak menghiraukan Agni sama sekali, dia tidak bisa tidur, hanya pura-pura tidur, dia hanya mau menghindari pertanyaan Agni yang dia tidak mau jawab itu.
“Aku tahu kau tidak bisa tidur!” Agni berbisik di telinga Victor, dihembuskannya nafas hangatnya pada Victor. Dia mau menggoda Victor.
Victor tidak mau tergoda, dia masih mengingat wajah Elena. Dia kesal dengan Elena, dia masih memikirkan bagaimana membuat Elena sampai bertekuk lutut padanya, dia benar-benar penasaran dibuatnya.
Agni memegang paha Victor, mengelusnya, tidak lama, tangannya semakin naik ke atas. Victor masih tidak menunjukkan respon positif atas perlakuan Agni.
Kini tangan Agni sudah akan menyentuh bagian tubuh paling sensitif Victor. Victor masih tidak peduli, matanya masih tertutup.
Agni terkejut dengan reaksi Victor, padahal dia tahu jika Victor sudah sedang bernafsu sekali saat itu.
“Tidak tahu malu, di pesawat juga kau mau melakukan itu!” Victor melotot pada Agni. Victor seperti menunjukkan kebenciannya pada Agni, seolah dia sangat jijik dengan Agni.
“Apa aku senista itu?” Agni berpikir sendiri. Dia benar-benar tidak tahu mau menjawab apa pada Victor.
“Jaga sikapmu, aku kira kau sudah bertobat, ternyata belum!” Victor seolah mengungkit-ungkit masa lalu Agni.
Flashback On
Malam itu, Victor mendapat pelayanan dari seorang kliennya. Dia diberi kamar hotel mewah untuk menginap dan dijanjikan akan diberikan seorang gadis padanya. Sebenarnya dia tidak pernah mau melakukan hal itu pada orang yang belum dikenalnya. Namun kliennya itu memaksanya dan berjanji tidak akan mengecewakannya sedikitpun.
Malam itu, Agni masuk ke dalam kamar sesuai perintah bosnya. Dia baru pertama kali mendapat pelanggan. Dan bosanya mengingatkannya kalau pelanggan ini bukan orang biasa. Banyak perempuan yang berebut untuk mendapatkannya, Agni, katanya beruntung karena mendapatkan laki-laki yang akan menjadi pelanggan pertamanya itu.
Agni melihat Victor, sedang meminum champagne. Dia masuk dengan ragu, Victor melihat Agni yang mengenakan gaun yang sangat cocok dengan lekuk tubuhnya.
“Silakan duduk!” Victor mempersilakan Agni duduk di dekatnya.
“Mau minum?” Victor menwarkan gelas berisi champagne pada Agni.
__ADS_1
“Belum terbiasa minum!” Agni menjawab lembut pada Agni. Dia menolak tawaran Victor.
“Wah, barang bagus nih!” Victor berbisik di dalam hatinya.
“Kenapa tidak mencoba? Sedikit saja!” Victor agak memaksa Agni.
Agni mengangkat gelas yang disodorkan Victor, mencicipi isinya. Tidak ada reaksi yang berarti. Dia seperti sudah terbiasa dengan apa yang diminumnya.
“Sudah pernah minum sebelumnya?” Victor bertanya pada Agni.
“Belum, ini yang pertama kali!” Agni menjawab, tentu saja dia bohong, dia sudah terbiasa dengan minuman seperti itu sejak mengenal Elisa.
“Tapi ekspresimu mengatakan yang sebaliknya!” Victor mencencar Agni.
“Harusnya bagaimana kalau baru pertama kali?” Agni bertanya.
“Biasanya ada ekspresi tidak suka, atau seperti makan makanan yang asam, atau tidak enak!” Victor mencoba menjelaskan pada Agni yang pura-pura polos.
“Oh!” Agni menjawab singkat.
“Tapi nggak apa-apa, berarti kamu menyukai rasanya, kalau begitu!” Victor menyimpulkan.
“Silakan habiskan, setelah itu, kita mulai petualangan yang lebih seru!” Victor membuka jaket kulit yang dikenakannya dari tadi, hawa ruangan semakin hangat padahal AC masih hidup.
Bau keringat bercampur parfume Victor menyeruak, Agni bisa menicium bau itu, dia suka dengan baunya.
Victor memegang tangan Agni. Menatapnya dalam-dalam. Dia mau Agni tidak takut melakukan apa yang akan mereka lakukan.
“Kamu cantik!” Victro berbisik, mencium tangan Agni pelan. Hangat.
Darah Agni mengalir lebih kencang, dari ujung kaki hingga ke kepala, nafasnya mulai sesak. Victor tahu jika Agni mulai on.
“Dia polos, namun nafsunya mudah naik juga!” Victor berbisik di dalam hatinya, dia senang sekaligus bangga karena dia bisa membuat Agni on dalam tempo yang tidak terlalu lama. Dia merasa sangat menggairahkan, dan dia bangga dengan itu.
Setelah perjumpaan itu, pertemuan mereka semakin intens. Agni bisa dipanggil kapan saja, namun Victor tidak mau mengekang Agni, dia memberi kebebasan pada Agni untuk tetap menerima pelanggan-pelanggan lainnya.
Flashback Off
“Aku melakukannya pada suami sahku, bukan kepada orang lain? Apa aku sehina itu di hadapnmu?” Agni protes.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon)
Victor mendengus, dia kesal dengan jawaban Agni.
“Victor! Kalau kau tidak suka, katakan, jangan menyinggung-nyinggung masa laluku!” Agni masih datar, namun emosinya sudah memuncak. Karena itu, dia hanya bisa menangis, meratapi nasibnya lagi. Seketika dia mengingat sahabatnya Elisa.
__ADS_1
Jangan lupa kasih dukungannya ya ka, vote, like, komen dan share novel ini agar semakin banyak pengunjungnya, masih sepi banget nih! Hehehe, terima kasih kaka-kaka semuanya!
Bersambung…