Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Hilang seperti ditelan bumi


__ADS_3

Akhirnya mereka telah sampai divila milik keluarga Azka, mereka kesini dengan menggunakan mobil milik Azka karena dari semua orang cuma Azka yang punya mobil dan cuma dia yang sudah bisa menyetir mobil.


Ternyata saat pergi kevila Omnya Gio pun ikut karena diajak oleh temannya yang tidak lain adalah Irwan, alasannya agar Irwan ada teman yang seumuran dengannya.


Sesampainya divila mereka istirahat dulu barang sejenak untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan jauh, satu jam kemudian barulah mereka hiking dipegunungan itu.


Dengan beranggotakan tujuh orang, enam laki-laki dan satu perempuan mereka menjelajahi bukit itu sampai jam 18.00 setelah itu mereka kembali ke vila. Disana mereka masak barbaqiu diatas pemanggangan yang mereka simpan dihalaman depan vila.


"Teman-teman dan om-om aku mau beli minuman dan camilan dulu ya soalnya kita kehabisan minuman nih, tadi saat kita pergi hiking aku lihat dibawah vila ada minimarket" ucap Azka.


"Kamu mau pergi sendiri? Apa perlu aku temani?" Atar menawarkan diri untuk menemani Azka beli minuman.


"Nggak perlu lah biar aku sendiri aja lagian nggak jauh-jauh amat ko" jawab Azka.


"Ya udah, kamu hati-hati ya Azka" ucap Irwan.


"Iya om Irwan, aku pergi dulu ya, assalammualaikum"


"Waalaikummusalam" serempak mereka menjawab.


Azka lalu pergi sementara yang lain sibuk menyiapkan makan malam mereka. Setelah membeli banyak minuman dan camilan Azka kembali ke vila dengan berjalan kaki.


Diperjalanan dia sibuk ngecek barang-barang belanjaannya yang dimasukan kedalam dua kantong plastik besar berwarna putih susu hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang preman yang juga saat itu sedang membawa satu kantong plastik ukuran besar hingga kantong plastik mereka terjatuh tapi tidak sampai isinya berhamburan.


Azka yang menyadari langsung minta maaf pada preman itu.


"Maaf bang, maaf saya tidak sengaja tolong maafkan saya bang" ucap Azka sambil sedikit membungkukan tubuhnya berkali-kali.


"Maaf, maaf mata lo ditaruh dimana?" bentak preman itu.


"Tolong maafkan saya bang, saya akan ganti kerugian abang" Azka lalu mengeluarkan beberapa uang kertas berwarna merah.


"Ini buat abang, apa ini sudah cukup?"


Preman itu langung merebut uang dari tangan Azka sambil tersenyum kemudian dia mengambil kantong plastiknya dengan acak karena terlalu senang mendapat uang dari Azka.


"Ya udah, gue maafin lo, sering-sering aja lo nabrak gue ya" ujar preman itu sambil menepuk bahu Azka lalu dia pergi.


"Bisa bangkrut aku kalau nabrak dia terus" gumam Azka.


Lalu dia mengambil kantong plastiknya tanpa Azka sadari kalau kantong plastik yang satunya tertukar dengan kantong plastik milik preman itu. Azka pun segera kembali ke vila.


Di Vila


Ketujuh anak manusia itu lalu makan bersama untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan. Setelah selesai makan Atar dan Gio memilih bermain catur diruang tamu sebelum mereka kembali tidur. Irwan dan Omnya Gio memilih duduk lesehan ditaman sambil menikmati pemandangan gunung dimalam hari, sementara Azka, Jani dan Jho memilih menghabiskan makanan sisa bakar-bakar. Setelah itu mereka bertiga bernyanyi dengan diiringi petikan gitar dari gitar milik Jho dibawah kolong langit.


Diruang tamu


Atar dan Gio asyik main catur yang kalah maka wajahnya akan dicoret hingga wajah mereka jadi cemong.


"Ah! Sial aku kalah lagi deh" gerutu Gio.


Gio memang cerdas dalam hal pelajaran tapi soal permainan catur Atar jagonya dari semua teman-temannya tak ada yang bisa mengalahkan Atar.


"Hahaha...Sini mukamu biar aku coret lagi" gelak tawa Atar penuh kepuasan.


"Jangan banyak-banyak dong, ini muka gantengku udah nggak kelihatan" protes Gio pada Atar yang mencoret mukanya dengan tidak kira-kira.


"Ya terserah aku dong yang kalah terima nasib aja" ucapnya sambil menatap Gio dengan menyeringai.


Tanpa tanggung-tanggung Atar lalu mencoret wajah Gio dengan coretan tebal yang berwarna hitam pekat.


"Akhh! Atar kebanyakan nih" protes Gio sambil menggeram kesal.

__ADS_1


Atar malah menertawakan muka cemong Gio tanpa peduli sahabatnya itu yang sedang kesal.


"Hahahaha...!" gelak tawa Atar.


"Udah ah! Mainnya ganti permainan lain" kata Gio.


"Alah! Kamu pasti gak akan bisa ngalahin aku Gio" ujar Atar sambil tersenyum.


"Nggak usah sombong, ayo coba dulu" tantang Gio.


"Emang mau main apa lagi kita?" tanya Atar.


Mereka berpikir sejenak, tiba-tiba netra Gio terfokus pada kantong plastik berwarna putih yang tersimpan dimaja. Gio lalu melihat isinya, ada banyak minuman disana.


"Minuman apa ini ko aku baru lihat?" tanya Gio pada Atar.


Atar lalu mengambil dan melihatnya kemudian dia menjawab pertanyaan Gio "Sepertinya ini minuman yang dibeli oleh Azka deh"


Gio lalu mengambil dua botol minuman untuknya dan dua botol minuman untuk Atar.


"Gimana kalau kita lomba siapa yang bisa menghabiskan minuman dua botol paling cepat dialah pemenangnya dan yang kalah harus dihukum dengan hukuman melakukan gerakan konyol dan gila dihadapan orang banyak gimana kamu setuju tidak?" saran Gio.


Atar lalu mengepalkan sebelah tangannya kemudian melakukan salam gaul ala anak gaul jaman now dengan mengadu tangannya dengan Gio sambil tersenyum.


"Oke aku setuju, aku terima tantanganmu" kata Atar.


Mereka lalu bersiap-siap untuk lomba minum cepat.


"Dihitungan ketiga kita mulai ya" ucap Gio.


Atar pun mengangguk setelah hitungan ketiga mereka segera meneguk dan menghabiskan kedua botol minuman itu hingga ditemukanlah pemenangnya.


"Yeeeaaahh...! Aku duluan akulah pemenangnya" teriak Gio kegirangan sambil jingkrak-jingkrak seperti anak kecil.


Sementara Atar terlihat manyun karena dikalahkan oleh Gio. Tapi tiba-tiba Gio merasa amat teramat pusing.


Tiba-tiba Gio tumbang dan tak sadarkan diri disofa. Tak berapa lama Atar pun merasakan hal yang sama dia juga tumbang lalu terkulai disofa. Kedua pemuda itu seketika langsung tepar tak sadarkan diri.


Diluar


Irwan dan Seno lalu bergabung dengan Jani, Azka dan Jho untuk makan.


"Aku haus nih! Minuman disini juga habis. Azka tadi beli minumannya banyak gak?" tanya Jho.


"Iya banyak, kalau udah abis ambil aja minumannya di kantong plastik satunya lagi tadi aku simpan dimeja ruang tamu" jawab Azka.


"Ya udah, aku ambil dulu deh" Jho lalu pergi mengambil minuman dimeja ruang tamu.


Cukup lama Jho pergi membuat yang lainnya juga pada mau minum.


"Jho lama banget ya ngambil minumnya" ucap Irwan.


"Wan kayanya enak nih! Kalau kita minum bandrek anget dimalam dingin kaya gini" ujar Seno.


"Iya juga ya"


"Kita beli bandrek yuk, tadi aku lihat ada yang jualan dibawah vila sana" ajak Seno.


Karena Irwan mau minum bandrek akhirnya mereka pergi kebawah vila.Tak berapa lama Jho pun kembali sambil membawa minuman.


"Ini minumannya" kata Jho sambil memberikan pada Jani dan Azka.


"Jho ko kamu lama banget sih! Ngambil minumannya?" tanya Jani.

__ADS_1


"Tadi aku lihat Gio sama Atar tidur disofa, aku kasihan sama mereka mungkin karena kelelahan setelah hiking tadi siang jadi mereka ketiduran makannya aku pindahin mereka kekamar dulu" jawab Jho.


"Oh gitu ya"


Tiba-tiba Jho merasa pusing dan ingin mual akhirnya dia izin pergi kekamarnya kini tinggalah Azka dan Jani ditempat itu.


"Eh! Ini minuman siapa? Aku nggak ngerasa beli minuman ini" tanya Azka kebingungan.


"Udahlah biarin punya siapa juga aku haus nih" ujar Jani dia lalu meminum minuman di botol itu.


Azka pun meminum minuman botol itu. Sama halnya seperti Jho, Gio dan Atar, Jani dan Azka pun merasakan hal yang sama seperti mereka karena tak kuat oleh rasa pusing itu akhirnya Jani dan Azka pergi.


2 Jam kemudian


Irwan dan Seno baru kembali setelah membeli bandrek dibawah Vila sana. Ternyata setelah mereka pergi dan kembali, Vila sudah sepi.


"Sepi amat anak-anak pada kemana nih?" tanya Seno.


"Apa mungkin mereka udah pada tidur ya" terka Irwan.


"Sepertinya sih! Begitu, ya sudahlah kita minum saja bandreknya yuk" ucap Seno.


"Aku ambil gelasnya dulu ya" ucap Irwan.


Seno lalu mengangguk kemudian Irwan pun pergi mengambil gelas didapur setelah itu dia kembali. Mereka kemudian meminum bandrek hangat itu.


Pagi hari kemudian.


Semua sudah terbangun dari tidurnya kecuali Atar, dia masih terlelap dalam tidurnya dibalik selimutnya yang tebal dan hangat. Namun, samar-samar dari luar kamarnya dia mendengar keributan diluar sana. Lama-lama suara itu semakin jelas hingga tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


Ceklek!


"Atar! Ayo! Bangun Jani menghilang, Ayo! Kita cari dia" ucap Jho diambang pintu tanpa masuk ke kamar Atar sambil celingukan.


Atar yang baru terbangun dari tidurnya hingga nyawanya belum sepenuhnya terkumpul, dia lalu mengucek kedua netranya masih dalam posisi berbaring.


"Apa! Jani hilang? Hilang kemana?" tanya Atar masih belum beranjak dari tidurnya.


"Iya Jani hilang semua sedang mencarinya, buruan kamu mandi lalu bantu cari Jani" ucap Jho lalu dia pergi mencari Jani lagi.


Setelah itu Atar pun pergi mandi, berpakaian lalu dia ikut mencari Jani.


Didepan Vila mereka semua berkumpul.


"Apa kalian menemukan Jani?" tanya Irwan dengan khawatir.


"Belum Om kami belum menemukannya" ucap Gio.


Atar yang baru ikut bergabung lalu bertanya tentang awal mulanya Jani dikatakan menghilang secara tiba-tiba.


"Bagaimana Jani bisa hilang?" tanya Atar kebingungan.


"Tadi pagi Om mau bangunin Jani ke kamarnya tapi dia tak ada disana Om cari divila ini tapi tak ada, lalu kami semua mencari dia kemana-mana tapi Jani masih tak ditemukan, dia menghilang tanpa jejak seperti ditelan bumi" tutur Irwan.


"Apa sudah menghubungi orang rumah? Mungkin dia pulang duluan tanpa pamitan sama kita" ucap Atar.


"Sudah tapi kata bang Toriq, Jani tak pulang kerumah ditambah lagi kalau dia pulang pastilah dia bawa tas, pakaian,handphone dan dompetnya tapi semua itu ada dikamarnya" jelas Irwan.


"Apa Om dan semuanya sudah mencari kesekitar kampung ini? Mungkin Jani pergi jalan-jalan" terka Atar.


"Rencananya Om mau cari Jani ke kampung sekitar vila sekarang, mungkin orang kampung ada yang melihat dia" ujar Irwan.


"Kalau begitu mari kita pergi sama-sama untuk mencari Jani" ajak Atar.

__ADS_1


Mereka kemudian segera bergegas mencari Jani yang tiba-tiba saja menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.


Bersambung


__ADS_2