
Pria yang sudah tak muda lagi itu kemudian menyuruh Atar untuk bangkit dengan menarik kedua lengan Atar agar dia berdiri, setelah Atar berdiri Hadi mengerutkan kedua alisnya seraya berkata.
"Kenapa kamu minta maaf pada Om? Kesalahan apa yang sudah kamu buat hingga kamu bersujud meminta maaf pada Om?"
"Aku minta maaf Om, aku tahu memang tak akan mudah memaafkan kesalahan yang telah kubuat tapi aku berharap Om memberiku kesempatan untuk bertanggung jawab. Aku ingin menikahi Jani Om, karena aku sangat menyayangi Jani dan karena dia juga sudah melahirkan darah daging ku Om" lirih Atar dengan wajah sedih dan penuh sesalnya.
Seperti tersambar petir di siang bolong, Hadi merasa kaget mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Atar. Wajah Hadi berubah menjadi merah padam.
"Maksud kamu apa Atar, Jani sudah melahirkan darah dagingmu?" tanya Hadi dengan wajah gusar.
Atar lalu menunduk dan berkata dengan lirih, "Aku... aku dan Jani pernah... pernah melakukan hubungan terlarang hingga Jani hamil dan melahirkan anakku dan inilah alasan kenapa Jani menghilang selama 10 tahun ini. Dia merasa hancur, dia takut pada Om karena sudah mengecewakan Om sebab Jani gagal mempertahankan kesuciannya karena aku dari itu dia memilih melarikan diri dari masalah. Alih-alih dia terhindar dari masalah ternyata masalah besar sedang menantinya. Jani malah mengandung anakku Om"
Mendadak hati Hadi menjadi sakit dan terasa sesak, bagaimana bisa putri kesayangannya itu harus mengalami aib dan penderitaan ini sendirian selama 10 tahu sementara pria yang sudah menghamilinya bisa hidup bebas tanpa bertanggung jawab pada putrinya, dia juga bisa bersekolah sampai perguruan tinggi dan bisa meraih cita-citanya sementara putrinya harus mengandung dan melahirkan anaknya sendirian.
Hadi tak sanggup membayangkan betapa menderitanya Rinjani kala itu, dia yang harus menanggung aib sendirian, melahirkan dan membesarkan anak dari seorang lelaki yang dulu bergelar sahabat terbaiknya tapi dia malah tega menghancurkan hidup putrinya dengan merampas kesuciannya hingga dia hamil.
"Jani apa yang dikatakan Atar itu benar? Apa kamu mengandung dan melahirkan anaknya si Atar?" tanya Hadi dengan nafas yang saling berburu karena menahan emosi yang membuncah didadanya.
Jani tak berani menjawab dia hanya menunduk sambil terisak karena merasa sedih.
"Jawab pertanyaan bapak Jani, kenapa kamu malah diam saja?" bentak Hadi yang mulai tak bisa menahan emosinya.
Membuat Jani makin merasa tertekan dan takut tapi pada akhirnya dia mengiyakan pernyataan Atar karena bapaknya terus mendesak dia. Emosi Hadi makin tersulut dan tak terkendali dia lalu melampiaskan kemarahannya pada Atar dengan menampar pipi Atar berkali-kali.
Plak!
Plak!
"Biadab kamu Atar! Kenapa kamu membuat putriku menderita? Kenapa kamu membiarkan dia menanggungnya sendirian? Kenapa kamu tidak mati saja hah! Dasar tidak berguna" bentak Hadi yang sudah kalang kabur karena kemarahannya pada Atar.
Dia lalu mencekik leher Atar hingga kedua mata Atar berubah menjadi sayu dan urat-urat disekitar jidat dan leher Atar jadi menegang karena Atar hampir kehabisan nafas.
"Aakkhhhh... Aakkhhhh..." ringis Atar seperti ikan kehabisan nafas.
__ADS_1
Jani yang melihat itu lalu segera menghentikan aksinya karena dia tak mau bapaknya membunuh Atar.
"Bapak hentikan! Tolong jangan cekik Atar, ini semua bukan sepenuhnya kesalahan Atar pak, Jani juga salah pak karena Jani tak melakukan perlawanan saat Atar melakukan itu pada Jani sebab kami sama-sama dipengaruhi oleh minuman beralkohol pak. Jadi tolong lepaskan Atar pak" pinta Jani dengan memelas seraya terisak menangis dan menarik bapaknya menjauh dari Atar, tapi kekuatan Jani kalah oleh bapaknya yang telah dirasuki emosi tingkat tinggi.
Hadi tak mau mendengarkan penjelasan Jani dia terus mencekik Atar dengan kedua tangannya, Atar yang merasa pasrah tak mau melawan karena dia tahu, dia salah dan mungkin inilah hukuman yang ingin diberikan Hadi pada dirinya hingga dia memilih pasrah saja pada keadaan.
Tapi Jani tak bisa melihat Atar terus-terusan dicekik oleh bapaknya lalu dia meminta bantuan Irwan dan Toriq untuk menghentikannya.
"Om Irwan tolong hentikan bapak Om, Atar benar-benar tak sengaja meminum-minuman itu hingga dia tak sadarkan diri dan melakukan hubungan itu denganku, Azka yang membawa minuman itu ke vila Om, Om tahu sendiri kan saat itu Azka mengakuinya sendiri kalau dia membawa minuman beralkohol itu ke vila. Tolong hentikan bapak Om" pinta Jani dengan memelas.
Irwan terus bergeming karena mengingat kembali kejadian di vila waktu itu. Jani yang tak sabar lalu menarik tangan Toriq untuk menghentikan aksi bapaknya yang terus mencekik Atar.
"Om tolong Om jangan biarkan bapak membunuh Atar, aku tidak mau bapak masuk penjara Om, gara-gara ini tolong hentikan bapak Om" Jani terus memelas pada kedua Om nya.
Disisi lain gadis kecil yang menyaksikan itu lewat jendela kaca mobil, diam-diam meneteskan air matanya karena merasa sedih. Kalau saja dia tidak terlahir kedunia ini mungkin kedua orang tuanya tidak akan menderita seperti sekarang ini, hati kecil anak itu begitu rapuh dan amat sedih.
Dia terus merutuki dirinya dalam hati dan terus menyalahkan diri atas kelahirannya. Shabira merasa dia tak layak untuk hidup jika hanya membuat aib bagi kedua orang tuanya tapi gadis kecil itu merasa tak berdaya dan tak tahu harus berbuat apa akhirnya dia hanya menangis sambil menyesali kelahirannya.
Akhirnya Irwan dan Toriq menghentikan aksi Hadi yang brutal itu karena Atar sudah terlihat lemas sebab kurangnya oksigen yang masuk kedalam tubuhnya akibat dicekik oleh Hadi. Guratan merah memanjang bekas dicekik pun terlihat di kulit leher Atar.
Jani lalu menghampiri Atar, dia menyentuh bahu Atar seraya bertanya dengan cemas dan khawatir, "Atar apa kamu baik-baik saja?"
Atar mendongakan wajahnya menatap Jani, pancaran matanya begitu sayu dan lemah.
"A... aku... baik... baik... saja" jawab Atar dengan lirih dan terbata-bata.
Jani benar-benar merasa sedih melihat kondisi Atar, dia tahu Atar terluka dan juga sakit tapi dia berkata kalau dia baik-baik saja. Nurani Jani terenyuh karena itu hingga dia meneteskan air matanya lagi. Sementara Irwan berusaha menenangkan emosi Hadi dan dia juga menguatkan ucapan Jani bahwa Atar benar-benar tidak sadarkan diri saat melakukan kesalahan itu karena minuman yang dibawa Azka.
"Heh! Atar! Kalau memang kamu tidak sengaja melakukan kesalahan itu lalu kenapa kamu tidak ceritakan soal ini pada kami sedari dulu?" tanya Hadi masih emosi.
"Ma...maafkan aku om, itu karena aku tak ingat apa pun tentang kejadian malam itu, aku pikir Jani kabur bukan karena kesalahanku makannya aku tak berkata apa pun. Aku baru mengetahui kesalahanku setelah 10 tahu berlalu dan itu pun karena aku bertemu kembali dengan Jani hingga sebuah fakta mencuat kepermukaan" lirih Atar seraya menunduk sedih.
"Selama ini tak pernah terlintas dipikiranku kalau aku akan memiliki seorang anak dari Jani, ini pun sangat mengejutkan bagiku, aku sempat shock saat mengetahui anak yang dilahirkan Jani adalah anak kandungku tapi aku ingin menebus kesalahanku, aku ingin bertanggung jawab pada Jani dan anak kami dari itu tolong restui kami untuk menikah Om?" Atar memohon dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Iya Hadi, sebaiknya kamu menerima permintaan maafan dari Atar, terimalah dia jadi menantu kamu, abang rasa Atar benar-benar menyesali atas perbuatannya" bujuk Toriq agar Hadi mau memaafkan Atar.
Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah bagi seorang ayah yang melihat putrinya menderita gara-gara seorang pria. Irwan, Jani bahkan kakek Muiz berharap Hadi bisa memaafkan Atar dan menerima Atar untuk jadi menantunya karena walau bagaimana juga Atar adalah ayah dari cucunya jadi dia harus bertanggung jawab atas anak dan cucu Hadi.
"Bapak Jani mohon maafkan Atar ya, tolong restui kami untuk menikah ya pak demi anak kami pak"
Hadi memang masih sangat marah pada Atar tapi dia juga tak bisa egois, dia tak mau putri kesayangannya itu terus menanggung aib sendirian jadi Hadi juga mau Atar bertanggung jawab pada putrinya. Hadi yang mulai tenang lalu bertanya.
"Lalu dimana anak kamu Jani? Dimana cucu bapak?"
Mendengar itu Atar segera bangkit dari berlututnya kemudian dia pergi ke mobil untuk membawa Shabira menemui kakeknya.
"Sayang ayo kita temui kakek" ajak Atar seraya mengulurkan tangannya pada Shabira.
Gadis kecil itu masih saja duduk di pojok kursi seraya menatap uluran tangan ayahnya, pipi gadis kecil itu masih terlihat basah ketika Atar menyadari bahwa putrinya habis menangis.
"Sayang, Apa kamu habis menangis? Kenapa kamu menangis?"
Shabira enggan untuk menjawab hingga dia memilih untuk diam seribu bahasa.
"Apa kamu melihat kejadian tadi? Apa kamu merasa takut karena kakekmu marah? Semuanya sudah berlalu, sayang. Kakekmu sudah menerima semuanya jadi ayo kita temui kakekmu kamu jangan takut ya, ayah akan selalu ada untukku, untuk melindungi kamu" ucap Atar masih mengulurkan tangannya pada putrinya.
Meski pun ragu akhirnya Shabira mau ikut dengan ayahnya keluar dari mobil untuk menemui kakeknya. Shabira mengekori Atar dari belakang.
"Om inilah anak aku dan Jani. Namanya Shabira Nur Arafah dan kini usianya sudah 9 tahun" Atar memperkenalkan putrinya pada keluarga Jani.
Gadis kecil itu masih nampak takut dan ragu, takut dirinya tak diterima oleh keluarga ini hingga dia terus bersembunyi dibalik tubuh ayahnya.
"Shabira, Apa kamu tidak mau menemui kakek hingga kamu terus bersembunyi dibalik tubuh ayahmu?" tanya Hadi yang mulai membuka hatinya untuk menerima semua ini.
Gadis kecil itu lalu menyembulkan sebagian kepalanya dibalik tubuh Atar untuk mengintip sang kakek yang kini tengah mengulurkan tangannya untuk menyambut cucunya. Shabira yang mulai merasa kalau keluarga ini sudah mulai bisa menerima kehadirannya lalu dia menampakan seluruh tubuh kecilnya di hadapan semua.
"Masya Allah cucu kakek sangat cantik kamu sangat mirip dengan ibumu saat masih kecil, kakek jadi ingat ibumu waktu masih kecil, sini sayang kakek ingin memeluk cucu kakek yang cantik ini" ucap Hadi merasa terharu.
__ADS_1
Shabira mulai menarik garis lengkung dibibirnya kemudian dia mendekati sang kakek. Hadi langsung memeluk erat tubuh kecil sang cucu. Suasana tadi yang sempat menegang karena kemarahan Hadi kini berubah jadi isak haru dan bahagia karena keluarga mereka berkumpul kembali dengan kehadiran sikecil yang menambah bahagia keluarga itu.
Bersambung