
Setelah selesai mengerjakan shalat jum'at para jama'ah mendengarkan khotbah dari seorang Ustadz. Dion yang saat itu berada di barisan shaf depan terlihat sangat khusyu mendengarkan ceramah dari sang Ustadz. Entah ada gerangan apa pada diri Dion tapi Arya dan Atar yang saat itu ada di barisan shaf belakang merasa sangat senang akan perubahan Dion yang merupakan seorang preman suka mabuk-mabukan dan suka berulah. Tapi kini dia mau pergi kemesjid untuk shalat jum'at.
Dari sudut berbeda Jidan yang berada di barisan shaf bersama Hadi terus celingukan mencari Dion. Saat netranya sudah menemukan sosok yang dicari, diam-diam Jidan tersenyum karena apa yang dikatakan oleh Shabira itu benar kalau Dion menyukai Tari buktinya Dion pergi ke masjid untuk shalat jum'at agar bisa bertemu dengan Tari.
Meski niat awal Dion pergi ke masjid masih belum benar tapi Jidan bersyukur akhirnya dia mau kemesjid juga untuk shalat jum'at. Semoga diawali dengan ini Dion akan semakin berubah lebih baik lagi.
Setelah semua selesai para jama'ah pun kembali pulang tapi Dion sengaja pulang paling belakangan agar dia bisa bicara dengan Tari agak lama sebab kalau sekarang dia menemui Tari pasti dia tidak akan bisa bicara cukup lama karena Tari sibuk membagikan makanan pada para jama'ah.
"Tari apa makanan di boxmu sudah habis? Kalau box punya ibu sudah habis?" tanya bu Retno.
"Masih ada beberapa bu" jawab Tari sambil melihat ke dalam boxnya. Bu Retno lalu minta izin untuk pergi ke toilet sebentar.
"Assalamu'alaikum"
Tiba-tiba ada seseorang yang mengucap salam pada Tari, Tari menjawab sambil mengangkat wajahnya pada sumber suara.
"Wa'alaikumussalam"
Tari sedikit kaget ketika melihat si pemilik suara pasalnya si pemilik suara itu sudah familiar baginya. Wajahnya kali ini terlihat berbeda dia yang tempo hari terlihat sangar sekarang terlihat hangat dan meneduhkan.
"Bukankah dia yang ngamuk tempo hari itu? Aduh! Dia mau ngapain ya kesini? Jangan-jangan mau bikin kerusuhan lagi nih. Tapi, sekarang ko penampilannya berbeda? Apa dia sudah ikut shalat jum'at?" batin Tari wajahnya sedikit menegang saat melihat Dion.
Tapi tiba-tiba pria itu tersenyum padanya. Tari merasa bingung apakah ini pertanda baik atau buruk. Dia celingukan, disana hanya ada dirinya dan Dion sebab Bu Retno pergi ke toilet mesjid dulu.
"Apa aku boleh meminta makanannya?" tanya Dion dengan senyuman ramah.
"Eee... eee... i-iya...iya... boleh.. tu-tunggu sebenar ya mas, saya ambilkan dulu" ujar Tari merasa gugup.
"Lama juga nggak apa-apa aku tungguin deh" ucap Dion tak berhenti menatap Tari yang sedang salah tingkah seraya mengulas senyuman pada wanita berkerudung itu.
"Eeee... ini mas, makanannya" ucap Tari tanpa berani melihat pria yang kini ada di hadapannya.
Dion lalu mengambil makanan yang sudah dikemas dalam box ukuran sedang. Kemudian Dion mengulurkan tangannya pada Tari.
"Namaku Dion Arasya panggil saja mas Dion. Namamu siapa?"
Tari semakin salah tingkah saat pria itu mengajaknya berkenalan dengan terus menatapnya sambil tersenyum. Wajahnya seketika berubah jadi merah padam.
"Na... namaku Tari" lirih Tari masih menunduk malu.
"Aku minta maaf ya tempo hari sudah marah-marah dan mengusir orang-orang panti, itu semua aku lakukan karena aku tak mau adikku menikahi wanita yang salah, aku tak mau dia disakiti oleh seorang wanita"
"Tapi Jani orangnya baik, mas. Ditambah dia kan sudah punya anak dari Atar jadi sudah sewajarnya kalau Atar bertanggung jawab pada Jani. Jangan biarkan Jani menanggung semua kesalahan ini sendiri" lirih Tari tanpa berani menatap Dion.
__ADS_1
"Ya aku tahu itu. Tapi, saat itu aku amat kesal dan marah karena adikku malah berbuat dosa dengan Jani. Rasanya aku ingin menyalahkan tapi aku tak tahu harus menyalahkan siapa atas masalah ini"
"Iya saya juga tahu mereka memang salah. Tapi, mereka sudah menyesali kesalahannya jadi tolong maafkan mereka, redakanlah perasaan marah mas dan lihatlah Shabira. Gadis kecil itu butuh sosok ayah dan bundanya jadi izinkan mereka untuk menikah" tutur Tari.
"Baiklah aku akan memaafkannya tapi sebagai gantinya apakah kamu mau berta'aruf denganku" pinta Dion tanpa basa basi lagi.
Sontak perempuan berkerudung itu langsung mendongakan wajahnya pada Dion karena dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ke...kenapa... mas memilihku untuk berta'aruf, kenapa tidak perempuan lain?" tanya Tari gugup dan terbata-bata.
"Karena menurutku kamu perempuan yang solehah kamu juga cantik dan anggun" jawab Dion dengan tulus.
Tari jadi merasa diatas awan, perasaan gugup dan salah tingkah itu semakin mengeroyok hatinya hingga dia amat malu dan ingin berlari sejauh mungkin agar dia bisa menyembunyikan perasaan malunya.
"Aku... aku... " Tari gelagapan.
"Aku tak minta kamu menjawab sekarang, karena aku tahu aku bukan orang baik jadi tolong beri aku waktu untuk berubah" ucap Dion memotong pembicaraan Tari.
Tari langsung menganggukan kepalanya dengan malu-malu. Tanpa mereka sadari Jidan yang sedari tadi menguping pembicaran mereka lalu segera pergi untuk menemui Shabira karena dia sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Dirumah Jidan segera menceritakan apa yang dilihatnya tadi dan Shabira merasa amat senang karena sepertinya rencananya akan berhasil hanya kini tinggal melihat tindakan Dion selanjutnya.
...****************...
Seminggu sebelum acara pernikahan digelar Atar dan Rinjani pergi ke kantor KUA untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Dikantor KUA nampak begitu ramai dengan orang-orang yang berkepentingan didalamnya.
"Wah! Disini ramai juga ya. Apa mereka juga akan mendaftarkan diri untuk pernikahan mereka?" tanya Atar.
"Mungkin begitu, aku tidak tahu. Sepertinya kita harus mengantri deh, seperti yang lain. Cari tempat duduk dulu yuk setelah mengambil kartu antrian" ajak Jani.
"Oke" Atar langsung minta nomor urut antrian setelah itu mereka duduk untuk menunggu antrian.
Sudah beberapa jam mereka menunggu akhirnya nomor antrian mereka dipanggil juga. Atar dan Jani segera masuk keruangan pengurus pendaftaran. Aura dingin dan tak bersahabat dari petugas KUA yang terlihat sangar dengan kumis baplangnya menambah rasa tegang dikedua insan itu.
Mereka langsung duduk di kursi yang menghadap ke petugas KUA. Petugas KUA itu nampak sedang berkutat dengan komputernya tanpa menyapa kedatangan mereka. Suasana menjadi hening untuk sesaat karena Atar maupun Jani bingung harus memulai dari mana, apa lagi petugas itu nampak tak ramah.
"Namamu dan bin nya siapa?" tanya petugas itu tanpa basa basi dengan langsung menanyakan nama Atar.
"Nama saya Rafatar Alfarasya bin Arya" jawab Atar dengan singkat.
"Namamu siapa dengan bintinya juga?"
"Nama saya Rinjani Maharani binti Hadi Himawan"
__ADS_1
Suasana hening kembali untuk beberapa saat dan yang terdengar hanya suara ketikan dari komputer si petugas KUA.
"Jadwal sidang perceraian kalian hari Kamis pukul 11.00 siang, ini isi formulirnya dan sebutkan alasan kenapa kalian mau bercerai setelah itu formulirnya serahkan ke petugas yang ada didepan" titah petugas itu.
Sontak Jani dan Atar langsung tercengang kaget pasalnya mereka datang kesini untuk mendaftarkan pernikahan mereka tapi kenapa petugas itu malah membicarakan perceraian.
"Pak, tunggu dulu deh. Kami kesini ini untuk mendaftarkan pernikahan kami lalu kenapa bapak malah membicarakan perceraian?" tanya Atar kebingungan.
"Woy! Emangnya kalian mau nikah dua kali" bentak si petugas KUA.
"Menikah dua kali, maksudnya gimana pak kami masih belum mengerti?" tanya Jani yang makin tak mengerti dengan ucapan petugas KUA itu.
"Nama kalian sudah terdaftar di KUA sebagai sepasang suami istri. Udah sana! Jangan buang-buang waktu saya dengan pertanyaan kalian, di luar masih banyak yang mengantri"
Atar yang merasa disini ada kesalahan yang mesti diluruskan kemudian dia berdiri dari duduknya lalu mendekati si petugas untuk melihat komputernya.
"Pak pasti ini ada yang salah, mungkin yang bapak maksud nama orang lain bukan kami hanya saja namanya mirip dengan kami jadi tolong dicek lagi soalnya kami belum menikah, kami datang kesini untuk mendaftarkan pernikahan kami" ucap Atar yang masih tak percaya.
Petugas itu lalu mengecek kembali nama tersebut, dia meminta nomor NIK Atar dan Jani sesuai KTP mereka.
"Tuh! Lihat ini sudah jelas nama sama NIK cocok dengan kalian jadi kalian memang sudah benar-benar menikah. Ah! Saya tahu kalian mau jadi pengantin baru lagi ya" goda si petugas dengan senyuman ganjilnya.
Jani mengangkat kedua alisnya karena merasa aneh dengan petugas itu, tadi yang terlihat julid dan garang kini malah tersenyum dengan senyuman yang aneh bagi Jani dan Atar.
"Jani emangnya kita pernah menikah? Kapan?" tanya Atar wajahnya nampak amat kebingungan.
"Mana aku tahu, tapi kayanya kita belum menikah deh"
Brak!
Suara gebrakan meja yang dilakukan oleh si petugas KUA itu membuat Jani dan Atar yang saat itu saling menatap kebingungan jadi kaget, hampir-hampir jantung mereka mau copot dibuatnya.
"Disini nama sama NIKnya jelas-jelas punya kalian, kalian ini sudah menikah tanggalnya disini menunjukan kalian menikah 10 tahun yang lalu jadi lebih baik sekarang kalian keluar dari ruangan saya, pekerjaan saya banyak, jangan buang-buang waktu saya" bentak si petugas sambil mengusir Jani dan Atar agar mereka segera keluar.
Masih dalam keadaan bingung Atar terpaksa menarik Jani untuk segera keluar dari ruangan itu sebelum mereka kena sembur lagi dari petugas KUA yang aneh itu karena sebentar-bentar marah tak lama kemudian tersenyum setelah itu marah lagi.
"Ayo kita keluar sebelum kena sembur petugas itu lagi, nanti kita pikirkan lagi soal ini diluar" ajak Atar seraya menarik bahu Jani.
"Ta.. Tapi bagaimana dengan pernikahan kita?"
"Nanti kita pikirkan lagi diluar"
Bersambung
__ADS_1