Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Pergi berlibur


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 04.00 pagi semua peserta MOS sudah kembali ke perkemahan, mereka semua dikumpulkan lagi dilapangan dan mulai menanyakan misi-misi yang diberikan berbeda-beda pada setiap kelompok.


Kalau mereka gagal menjalankan misi maka mereka akan mendapatkan hukuman. Satu per satu kelompok mulai ditanyai hingga tibalah saatnya kakak kelas menanyai soal kelompok Jani.


"Orang tuanya Upin dan Ipin saya minta maju kedepan" titah kakak kelas.


Jani dan Azka lalu maju kedepan sementara yang lain hanya duduk untuk memperhatikan kedepan sambil nunggu giliran dipanggil.


"Gimana apa Upin dan Ipin masih hidup?"


"Masih kak" serempak Jani dan Azka berkata.


Setelah itu mereka memberikan kedua telur yang diberi nama Upin dan Ipin tapi saat mereka akan memberikan Upin dan Ipin, Azka malah tersandung hingga telur itu terlempar dari tangannya lalu jatuh ke tanah hingga pecah.


"Ya pecah, Azkaaaa! Udah susah-susah jagain malah dipecahin" umpat Jani dengan kesal.


Azka buru-buru bangun lalu dia berkata "Ya maaf nggak sengaja itu"


"Kalian udah mecahin telurnya jadi kalian harus dihukum" ujar kakak kelas.


"Ya, dihukum lagi deh, ini semua gara-gara kamu Azka" umpat Jani pada Azka.


Akhirnya Jani dan Azka dihukum lagi dengan 100 kali squat jump. Persami pun terus berlalu hingga sang rawi sudah menampakan cahayanya yang hangat akhirnya mereka semua kembali pulang kerumah masing-masing setelah acara persami selesai.


...****************...


Malam minggu pukul 20.00


Jani sedang bersiap-siap hendak pergi malam mingguan bersama ke empat temannya dengan nongkrong dipos ronda sambil nyanyi-nyanyi diiringi gitar milik Jho dan sebagai seksi konsumsi dimana pun dan acara apa pun Azka selalu menyediakan makanan dan minuman untuk mereka yang tentunya dana konsumsi dari sakunya sendiri. Tapi sebelum pergi Jani berpamitan dulu pada bapaknya.


"Pak Jani mau malam mingguan dulu ya sama teman-teman dipos ronda"


"Eh! Makan malam dulu kamu kan belum makan" titah Hadi.


"Jani belum lapar pak, lagian disana juga pasti Azka bawa makanan jadi kalau nanti Jani lapar Jani akan makan" ucap Jani dengan malas.


"Kamu ya, bapak itu udah cape-cape masak buat kamu tapi kamu malah tidak mau makan. Ya udah, kalau begitu bapak tidak akan masakin lagi buat kamu" kata Hadi.


"Ih! Bapak ko gitu sih! Ya udah Jani makan dulu deh"

__ADS_1


"Nah! Gitu dong, kamu harus makan. Ayo! Bapak ambilkan nasi buat kamu" ajak Hadi.


Jani lalu duduk dikursi menghadap meja makan sementara Hadi mengambil piring kemudian mengambil nasi dan lauknya setelah itu diberikan pada putri kesayangannya itu kemudian Hadi menuangkan segelas air putih kegelas lalu diberikan pada Jani.


Hadi pun duduk dikursi yang ada disamping Jani dengan setianya dia menunggui sang putri kesayangannya itu untuk makan malam sambil menatap putrinya.


"Jani kamu itu putri bapak satu-satunya, bapak tuh! Sayang banget sama kamu, apa pun akan bapak lakukan untuk kamu..." kalimat Hadi terpotong oleh Jani.


"Makasih bapak, Jani juga sayang banget sama bapak" ucap Jani sambil memeluk bapaknya setelah itu Jani kembali makan.


"Dengerin bapak ya Jani, walaupun kamu itu tomboy kaya laki-laki tapi kodrat kamu tetap seorang perempuan, semakin hari kamu semakin tumbuh dewasa bapak jadi semakin khawatir sama pergaulan kamu jadi kamu harus hati-hati" nasehat Hadi pada putrinya.


"Iya bapak, Jani nggak akan macam-macam ko bapak sendiri kan tahu siapa teman-teman Jani lagian Jani mainnya sama mereka aja nggak ada yang lain"


"Ya tetap aja bapak khawatir karena kamu perempuan sementara teman-teman kamu itu laki-laki semua, bapak takut kaya yang diberitakan disosial media itu"


"Jadi bapak takut Jani sama mereka ngapa-ngapain gitu? Jadi bapak ragu sama Jho, Azka, Gio dan Atar gitu? Bapak kan sudah kenal mereka dari kecil sama orang tua mereka juga bapak udah kenal jadi kenapa bapak masih takut?" ujar Jani.


"Kamu ini, bapak kan orang tua kamu jadi wajar dong kalau bapak punya rasa khawatir pada anaknya ya walau pun bapak tahu Jho, Gio, Atar dan Azka mungkin tak akan seperti yang bapak pikirkan"


"Ya terus kenapa bapak masih merasa takut? Udah ah! Jani udah kenyang Jani pergi dulu ya pak assalammualaikum" Jani pamitan sambil mencium punggung tangan bapaknya.


Dipos ronda


Disana sudah ada keempat remaja laki-laki itu, mereka sedang bernyanyi dengan diiringi petikan senar dari gitar milik Jho. Tak berapa lama Jani pun datang dengan menaiki sepeda kesayangannya. Jho lalu berhenti memetik senar gitar.


"Jani! Tumben telat?" tanya Jho.


"Disuruh makan dulu sama bapak kalau aku nggak makan nanti bapakku ngambek dan gak mau masakin aku lagi" jawab Jani.


"Wah! Kalau gitu kamu nggak akan makan nasi padang yang aku beli buat kita semua dong. Tadinya kita semua nungguin kamu buat makan nasi padang bersama" ujar Azka sedikit kecewa.


"Eh! Kalau soal makanan tenang aja perutku masih muat ko jadi kita masih bisa makan bersama" ucap Jani sambil tersenyum dan mengelus perutnya yang terlihat rata.


Akhirnya Jani makan lagi bersama mereka.


...****************...


Hari-hari telah berlalu, tak terasa banyak kisah suka mau pun duka yang telah kami lewati bersama. Kisah persahabatan ini akan terus kami ukir dalam sejarah kehidupan kami hingga akhir hayat ini, hingga kami menua dan hingga maut memisahkan itulah tekad kami.

__ADS_1


Kami sadar hidup selamanya tidak akan menjadi seorang remaja, disuatu hari nanti pastilah kami akan berkeluarga dengan menikah lalu punya anak, meski pun nanti kami tak akan seperti sekarang yang selalu bersama karena kesibukan keluarga masing-masing tapi setidaknya kami tidak akan memutus tali silaturahmi karena kami saling menyayangi satu sama lain layaknya rasa sayang ini kepada sahabat yang terasa seperti keluarga sendiri.


Meski dihari-hari kami terkadang ada sebuah pertengkaran tapi pada akhirnya kami akan kembali baikan dan jika salah satu dari kami ada yang kesulitan pastilah yang lainnya saling menolong seperti itulah persahabatan kami yang terasa begitu indah.


Ya, selagi kami bisa maka kami akan terus bersama. Sama halnya saat memutuskan untuk kuliah dimana dan jurusan apa. Kami pun bersepakat nanti akan kuliah ditempat dan jurusan sama setelah kami lulus SMA.


Tak terasa ujian kelulusan sekolah pun telah kami lewati dan tibalah saatnya pembagian kelulusan sekolah SMA. Ternyata kami semua lulus dengan hasil ujian lumayan bagus berkat belajar bersama dengan si genius Gionino.


Rasa bahagia yang tak terkira terukir jelas diraut wajah kami akan kelulusan ini dan untuk merayakan semua ini Azka mengajak kami semua untuk berlibur divila milik keluarganya yang ada dipuncak. Tentu saja kami menyetujui semua itu, hanya saja kami harus dapat izin dari orang tua kami untuk pergi kesana.


...****************...


"Pak boleh ya aku ikut pergi liburan ke vila keluarganya Azka dipuncak sama Azka, Jho, Gio dan Atar" bujuk Jani.


"Nggak, bapak tidak akan izinkan kamu pergi" tolak Hadi sambil sibuk masak untuk sarapan pagi mereka.


"Kenapa nggak boleh pak?" tanya Jani agak kecewa.


"Pasti disananya nginap kan?" Hadi malah balik bertanya.


Jani cengengesan sambil menjawab "Cuma sehari semalam doang ko pak"


"Nggak bisa Jani, kamu itu anak perempuan dan mereka anak laki-laki bapak tidak mau jadi fitnah kalau kalian akan bermalam divila"


"Tapi pak vila milik Azka itu ada ditengah-tengah bukit kebun teh yang jauh dari pemukiman warga jadi kalau begitu siapa yang akan ngegerebek kami? Jadi boleh ya pak Jani ikut liburan ke vila"


"Tetap aja nggak boleh Janiiii..."


"Ayo dong pak Izinin Jani ya, lagian kan ini bukan pertama kalinya Jani pergi liburan sambil bermalam sama mereka, pleaseee...izinin Jani pergi ya pak" rengek Jani sambil terus membujuk bapaknya.


Hadi lalu menatap wajah memelas putrinya itu dengan amat lekat.


"Bukannya bapak tidak percaya sama Jho, Atar, Gio dan Azka tapi n'tah kenapa kali ini hati bapak merasa tak enak dan sangat berat hati untuk mengizinkan kamu pergi" batin Hadi yang terus menatap putrinya itu.


Sementara Jani terus merengek tak henti-hentinya sebelum keinginannya dituruti sama bapaknya, meski beberapa kali Hadi nyuekin Jani karena tak mau mengizinkan putrinya pergi berlibur ke vila tapi Jani yang tak pantang menyerah terus memohon hingga akhirnya Jani diizinkan pergi berlibur dengan ke 4 sahabat laki-lakinya itu.


Tapi dengan satu syarat Irwan harus ikut pergi dengan mereka, setidaknya disana Irwan akan jagain Jani dan teman-temannya. Jani pun menyetujui persyartan itu akhirnya mereka pun bisa pergi liburan bersama.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2