
Waktu terus berputar setiap hari, jam, menit dan detiknya, seiring waktu itu pula Ayla terus belajar bahasa Indonesia untuk memperlancar komunikasinya dengan keluarga Gio. Lama kelamaan keluarga Gio mulai bisa menerima Ayla bahkan ibunya Gio menginginkan Ayla sebagai menantunya.
Gio yang awalnya tak mencintai Ayla terus dibujuk oleh Yuni agar dia menikah saja dengan Ayla meski mereka beda agama, tapi Ayla mau merubah keyakinannya demi cintanya terhadap Gio, Ayla pun mulai belajar tentang keyakinan yang dianut oleh Gio.
Gadis bule itu terus menunjukan kesungguhannya terhadap Gio, dia juga rela berkorban banyak untuk sang pujaan hati, Ayla tetap tak menyerah meski Gio tak menunjukan tanda-tanda kalau dia mulai menyukai Ayla, dia terus memberi perhatian lebih dan menunjukan kebucinannya terhadap Gio.
...****************...
Setelah polisi menyelidiki kasus Raisa dengan bukti-bukti dan kesaksian korban akhirnya Raisa mulai disidang. Semua keluarga Jani, keluarga Atar, keluarga Raisa, Jho, Azka, Gio, bu Retno dan pak Husen pun ikut menghadiri sidang itu.
Pengacara Atar selaku penggugat terhadap Raisa segera membacakan tuntutannya kepada Jaksa dan Hakim. Pengecara itu juga menyebutkan semua penganiayaan yang pernah dialami oleh Jidan.
Atar dan Jani ikut bersaksi atas kejahatan Raisa demikian pula Jidan yang merupakan korban penganiayaan oleh Raisa, dia pun ikut bersaksi meski Jidan terlihat amat gugup dan ketakutan. Tapi, pada akhirnya semua kesaksian mereka berjalan dengan lancar.
Hingga Hakim menjatuhi hukuman 30 tahun penjara pada Raisa dengan tiga tuntutan yang dilayangkan Atar pada Raisa sekaligus. Raisa merasa sedih dengan jeratan hukum yang menjeratnya, dia jadi menyesali atas semua perbuatannya itu.
Apalah mau dikata semua sudah terjadi pihak Atar pun tak mau mencabut tuntutannya hingga wanita itu mau tak mau harus bersedia menerima hukumannya. Saat sidang selesai Raisa hendak dibawa kembali ke jeruji besi tapi dia minta izin dulu untuk menemui ibu dan anaknya serta dia juga ingin meminta maaf pada Atar dan keluarganya.
Mereka semua lalu memaafkan Raisa tapi dia tetap harus menerima hukumannya. Setelah itu polisi kembali membawa Raisa ke jeruji besi. Atar akhirnya bisa bernafas lega sebab dia kini sudah benar-benar membuktikan pada semua orang kalau cintanya hanya untuk Jani seorang.
Kedua insan itu terlihat amat bahagia ketika masalah yang mereka hadapi kini sudah berhasil mereka lewati. Dari kejauhan Gio menatap mereka, hatinya yang terluka karena takdir dan merestui cintanya terhadap Jani pada akhirnya dia harus benar-benar menerima kenyataan kalau Rinjani itu diciptakan dari tulang rusuknya Rafatar jadi sesulit apa pun masalah yang dihadapi pasangan suami istri itu tetap saja pada akhirnya cinta mereka tak goyah malah jadi semakin kuat.
Meski Gio menebar kebencian dihati Atar terhadap Jani dengan memfitnah Jani bahwa bayi yang dikandungnya itu merupakan anaknya Gio tapi rupanya itu pun tak bisa membuat Atar gentar dan menyerah begitu saja.
Meski sempat terbersit kekecewaan dihati Atar tapi walau berita yang didengar Atar tentang Jani itu benar atau hanya fitnah belaka, cintanya terlalu kuat pada Jani hingga dia rela menerima Jani dengan apa adanya tanpa peduli lagi dengan omongan orang lain.
Dari itu juga, semakin meyakinkan Gio kalau mereka tak akan bisa terpisahkan, Gio juga jadi sadar cinta itu tak bisa dipaksakan lebih baik dia merelakan Jani dengan Atar untuk kebahagian mereka dan Gio mulai mencoba membuka hatinya untuk seseorang yang benar-benar tulus mencintai dirinya.
Gio lalu memutuskan untuk menerima Ayla sebagai pendamping hidupnya setelah dia melihat dan meyakinkan dirinya kalau Ayla lah yang terbaik untuknya. Gio lalu melangkahkan kakinya mendekati Atar dan Jani.
"Atar aku ingin bicara denganmu" ucap Gio dengan tatapan datar.
"Kamu mau ngomong apa? Ngomong aja langsung" kata Atar sambil mengalihkan pandangannya kesegala arah karena jujur saja masih ada rasa marah dihati Atar terhadap Gio.
"Aku minta maaf atas ucapanku dulu tentang Jani, semua itu tidak benar, Jani tidak pernah mengkhianati kamu, dia benar-benar mencintai kamu dengan setulus hatinya jadi percayalah sama Jani, jangan pernah kamu dengarkan apa kata orang lain yang hanya ingin membuat bahtera rumah tangga kalian runtuh" tutur Gio dengan penuh penyesalan atas fitnah yang ditunjukan pada Jani dulu agar Atar membenci Jani.
Atar mulai menatap wajah Gio, dari sorot matanya yang berbinar-binar karena menahan air mata yang hendak terjatuh, Atar bisa melihat kalau sahabatnya itu tulus saat dia berucap.
__ADS_1
"Berbahagialah kalian berdua, tolong jaga Jani dan anak-anak kalian, jangan biarkan mereka terluka karena jika itu terjadi maka aku adalah orang pertama yang akan menghukum kamu, Atar. Mulai sekarang aku akan benar-benar merelakan Jani untukmu. Aku akan mengubur dalam-dalam rasa ini tanpa akan menggalinya lagi, aku pun akan mencoba membuka hatiku untuk wanita lain. Jadi tetaplah kalian bersama meski ada badai lagi yang menggoyahkan cinta kalian" lanjut Gio.
"Terimakasih Gio, aku akan ingat baik-baik perkataan kamu dan aku akan melakukan semua yang kamu katakan padaku" ucap Atar lalu mereka berpelukan dengan perasaan haru.
Jani yang dari awal tak tahu kalau Gio dan Atar sempat bertengkar gara-gara memperebutkan cinta darinya, dia hanya menatap mereka dengan keheranan. Tapi, pada akhirnya semua tertawa bahagia karena satu persatu masalah telah selesai mereka hadapi dengan akhir yang bahagia.
Beberapa bulan kemudian.
Acara pernikahan Gio dan Ayla digelar dengan begitu sempurna dan lancar, semua akhirnya berbahagia karena kini 5 sekawan itu sudah menemukan cinta abadi mereka hingga akhir hayat mereka. Kebahagian yang tak terkira terukir jelas diraut wajah mereka, gelak tawa dan canda ria menghiasi acara pernikahan Gio dan Ayla.
Saat semua sedang berbahagia tiba-tiba Jani meringis kesakitan dan itu membuat Atar amat khawatir.
"Aduh! Perutku sakit banget" ringis Jani.
"Kenapa bisa perutmu sakit?" tanya Atar khawatir.
"Kayanya aku mau lahiran deh"
"Tapi kan usia kandungannya masih 8 bulan ko mau lahiran sih?" Atar kebingungan.
Karena kontraksi itu semakin intens Atar lalu berpamitan pada semua karena dia akan segera membawa Jani kerumah sakit. Jho dan istrinya mengantar Jani dan Atar sementara Azka dan istrinya tetap ditempat untuk menemani Gio dan Ayla agar pernikahan mereka tetap berlangsung.
Jani yang baru sampai dirumah sakit langsung ditangani oleh Dokter dan perawat sementara yang lain menunggu diluar karena yang dibolehkan menemani persalinan Jani hanyalah suaminya yaitu Atar.
Beberapa jam kemudian.
Suara tangisan dari jagoan kecil Jani dan Atar telah lahir dengan sehat dan selamat. Jagoan kecil itu diberi nama Eril Alfarasya. Tangis haru pun mulai membanjiri pipi sepasang suami istri itu setelah melewati proses persalinan yang tentunya amat sakit bagi Jani karena dengan melahirkan buah hatinya dengan Atar, Jani sudah mempertaruhkan nyawanya untuk kehidupan kecil itu.
Tapi Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar dan sehat semuanya. Setelah melahirkan dan menerima penanganan Jani lalu dipindahkan ke kamar rawat VlV, semua keluarganya pun berkumpul disana untuk melihat jagoan kecil yang baru terlahir kedunia ini.
"Jani bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Rumi.
"Alhamdulillah bu aku baik-baik saja" jawab Jani masih berbaring ditempat tidurnya.
Tak berapa lama Atar datang sambil menggendong bayinya setelah dia diadzanni oleh Atar.
"Bu lihat bu, bayiku ganteng bangetkan mirip sama ayahnya" ucap Atar sumringah.
__ADS_1
"Iya ya, dia mirip banget sama kamu"
"Anak siapa dulu dong bu, Akuuu...dia kan mirip banget sama aku" ucap Atar dengan penuh kebanggaan tapi itu malah mengundang kemarahan Jani.
"Oh gitu ya, jadi menurut kamu Shabira bukan anak kamu gitu karena dia tidak mirip sama kamu, Shabira lebih mirip sama aku jadi menurutmu Shabira bukan anak kamu gitu?" Jani jadi sewot membuat Atar jadi gelagapan karena Jani salah paham.
"Bukan begitu, aku hanya senang saja karena bayi kita sangat mirip dengan aku... " kalimat Atar segera dipotong oleh Jani.
"Jadi kamu gak seneng karena Shabira gak mirip sama kamu?"
"Aduuh! Gimana ya ngejelasannya? Bukan begitu maksud aku, aku sangat senang karena punya Eril aku juga senang karena punya Shabira, aku sayang sama semua anak kita. Hanya saja sekarangkan lagi momentnya Eril jadi aku mengekspresikan rasa bahagiaku terhadap Eril" jelas Atar dengan kebingungan.
"Oh jadi karena kamu tidak punya momen kelahiran Shabira jadi kamu tidak bahagia dengan adanya Shabura?" Jani masih sewot.
"Ya ampun aku masih salah juga, gimana ini?" gumam Atar sambil menepuk jidatnya.
Tanpa dia sadari Shabira sedang menatap tajam pada ayahnya karena dia mendengar percakapan ayah dan bundanya.
"Aduh mana putri cantikku denger ucapanku dengan Jani lagi, bisa-bisa Shabira menyangka aku tak mengharapkan kelahirannya lagi padahal itu semua tidak benar gimana ini, apa yang harus kulakukan" batin Atar panik.
Sementara yang lain yang ada ditempat itu hanya tersenyum melihat kepanikan Atar karena istri dan anak gadisnya merajuk padanya.
Bersambung.
Halo semua semoga kita diberi kesehatan selalu ya, terimakasih untuk semua yang selalu mendukung author. Kali ini authornya mau kasih visual lagi nih. Ini visualnya Shabira dan Jidan saat mereka berusia 17 tahun, semoga suka ya🥰🤗
Ini visualnya Jidan.
Ini visualnya Shabira.
__ADS_1