
Suasana keceriaan di acara pernikahan itu kini terlihat jelas apa lagi kini ketiga pria itu sudah memaafkan dan mencoba mengikhlaskan Jani untuk Atar, karena mereka mulai sadar dan membuka mata hatinya bahwa Jani memang ditakdirkan untuk menjadi Jodoh Atar.
Meski mereka menolak dan tak menerima tapi nyatanya Jani dan Atar memang pernah menikah tanpa sepengetahuan mereka dan cinta mempersatukan mereka kembali meski mereka terpisah amat jauh dan amat lama.
Jho, Gio dan Azka menyadari kalau cinta mereka pada Jani itu salah karena mereka tak seharusnya mencintai istrinya Atar yang merupakan sahabat mereka sendiri. Akhirnya mereka mulai belajar untuk mengikhlaskan semua.
Ditengah keceriaan mereka rupanya masih ada hati seseorang yang dirundung kegalauan pasalnya dia masih belum berani menemui dan meminta maaf pada Atar.
Ya, dia itu adalah Dion. Dion hanya menatap nanar kearah sang adik yang tengah duduk dipelaminan dengan wanita halalnya dari kejauhan. Rasa malu akan kesalahannya pada Atar itu masih bertengger dihati Dion hingga dia ragu untuk menghampiri Atar.
Disisi lain Shabira dan Jidan sedang asyik makan tiba-tiba netra Shabira menangkap sosok om nya yang sedang diam-diam memperhatikan ayah dan bundannya. Shabira lalu menghampiri Dion.
"Om Dion lagi apa disini? Kenapa om tidak menghampiri ayah dan bunda?" tanya Shabira yang berhasil membuat Dion kaget.
"Kamu! Kenapa sih hobby banget ngangetin?" gerutu Dion agar kesal tapi gadis kecil itu hanya menanggapi dengan senyuman.
Karena tak ada komentar apa pun dari Shabira, Dion lalu hendak pergi tapi Shabira menarik tangannya dan tak melepaskannya.
"Om jangan pergi om harus menemui ayah dan bunda" pinta Shabira dengan wajah memelas.
Dion menatap Shabira barang sejenak sambil mencoba melepaskan tangannya dari pegangan Shabira tapi gadis kecil itu tetap tak melepaskannya.
"Apa om akan tetap seperti ini pada ayah dan bunda? Katanya om mau berta'aruf dengan mbak Tari, lihat om disana ada mbak Tari, ada kakek Arya, nenek Rumi, kakek Hadi dan ibu serta bapak. Apa om tak mau memberitahukan kabar gembira ini pada mereka semua? Apa om tak mau meminta restu pada orang tua om untuk menikahi mbak Tari? Jangan didiamkan lama-lama om nanti mbak Tari di ambil orang loh" ujar Shabira yang membuat Dion menyernyitkan kedua alisnya.
Apa yang dikatakan oleh Shabira, sebenarnya ingin dilakukan oleh Dion tapi dia masih nampak ragu untuk melakukannya, Shabira yang menyadari itu lalu menarik tangan Dion untuk mengikutinya agar mendekati pelaminan. Atar yang menyadari kedatangan kakaknya bersama Shabira dan Jidan lalu menyambut kakaknya dengan suka cita.
"Bang Dion, aku senang abang mau datang keacara pernikahanku, aku minta maaf sama abang karena aku tetap nekad melangkahi abang" ucap Atar lalu memeluk kakaknya sejenak lalu melepaskannya kembali.
__ADS_1
Saat itu Dion tak berontak dari Atar tapi dia memilih untuk diam saja. Rumi dan Arya lalu menyambut Dion meski Dion masih tetap bergeming.
"Nenek, kakek, ibu, bapak, mbak Tari ada yang ingin om Dion katakan pada semuanya" ucap Shabira dengan memaksa Dion untuk segera mengutarakan maksud hatinya.
Dion sedikit mendelik padanya karena gadis kecil itu tak memberi kesempatan padanya untuk mengambil ancang-ancang agar dia bisa mengutarakan maksud hatinya.
"Apa yang ingin kamu katakan pada kami Dion?" tanya Rumi.
Semua mata menatapnya karena sedang menunggu jawaban dari Dion. Dion sempat menelan salivanya sebelum dia mulai berani mengutarakan maksud hatinya. Tak berapa lama kemudian Dion memeluk adiknya dan meminta maaf padanya karena dulu pernah menyalahkan, memarahi, dan menghajar Atar.
"Atar, abang sudah tahu semua yang terjadi antara kamu dan Jani dimasa lalu, abang tak sengaja mendengar pembicaraan kamu dengan ibu dan bapak. Abang minta maaf sama kamu karena perlakuan abang padamu dulu, abang menyesal sudah menyalahkanmu" ucap Dion dengan sepenuh hatinya.
"Iya bang, aku sudah memaafkan abang ko" ucap Atar sambil tersenyum pada Dion.
Setelah Itu Dion menatap semuanya lalu dia mulai mengutarakan maksud hatinya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada semuanya... " ucap Dion sengaja menggantung kalimatnya untuk mengumpulkan keberaniannya untuk melamar Tari.
Sontak Tari jadi tercengang kaget dia tak menyangka kalau Dion ingin melamarnya. Arya dan Rumi jadi berbinar-binar tentu saja mereka amat bahagia mendengar perkataan putra sulungnya itu. Mereka langsung meretui niat baik putra sulungnya itu.
Dion langsung mendekati Tari dia lalu memberikan sebuah kotak kecil berwarna maroon berbentuk lambang hati.
"Tari mau kah kamu jadi istriku?" tanya Dion.
Tari terus menunduk karena merasa amat gerogi dan malu saat Dion melamarnya dihadapan banyak orang.
"Ayo Terima saja mbak Tari, om Dion benar-benar sayang sama mbak, om Dion mau berubah demi mbak" kata Shabira.
__ADS_1
Tari sempat melirik kearah Shabira kemudian dia menatap Dion untuk sejenak lalu dia menunduk lagi. Dion mengulang kalimatnya hingga wanita berkerudung itu menganggukan kepalanya pertanda dia menerima lamaran dari Dion.
Semua akhirnya tersenyum senang karena selain hari ini hari bahagianya Atar dan Jani, hari ini juga Dion melamar Tarik dan berniat segera menghalalkan wanita berkerudung itu. Lengkap sudah kebahagian Atar kali ini karena semua kebahagiaannya sudah kembali dengan penuh cinta dan damai.
Ketiga sahabatnya pun sudah memaafkannya dan Atar ditawari untuk bergabung kembali dengan perusahaan mereka hingga dia tak jadi menyandang gelar pengangguran. Setelah acara resepsi pernikahan berakhir dengan meriah dan penuh suka cita semua kembali kerumah masing-masing.
Atar pun segera memboyong istri dan anak-anaknya kerumah yang baru dibelinya sebelum acara resepsi pernikahan, meski rumahnya tak sebesar rumah yang ditempati oleh orang-orang panti tapi rumahnya kali ini juga memiliki banyak kamar untuk kamar dia dengan Jani dan juga anak-anak mereka.
Karena sekarang Jani sudah menjadi istrinya Atar jadi semua anak-anaknya Jani juga dianggap sebagai anak-anaknya Atar oleh Atar. Kini Jidan pun memanggil Atar dengan panggilan 'Ayah' tapi ketiga anak angkat Jani yang lainnya tak mau memanggil Atar dengan panggilan Ayah karena mereka bertiga tidak mau merepotkan Jani dan Atar. Apa lagi sekarang bundanya sudah bersuami jadi mereka memilih untuk tetap tinggal bersama Bu Retno dan Pak Husen.
Saat berada dirumah yang akan ditempati oleh Atar dan Jani, Dion yang saat itu ikut mengantar mereka lalu mengajak Shabira dan Jidan untuk menginap dirumah nenek dan kakek mereka dengan alasan Dion ingin lebih mendekatkan diri dan lebih mengenal lagi keponakan nya itu. Shabira dan Jidan setuju dengan ajakan Dion, mereka lalu ikut Dion pulang kerumah orang tuanya, Kini dirumah itu hanya tinggal Jani dan Atar saja.
Jani saat itu sudah mandi dan sudah bersiap untuk tidur karena ini juga sudah malam, sementara Atar baru selesai berpakaian. Atar lalu duduk disamping Jani.
"Jani apa kamu mau tidur sekarang?" tanya Atar.
"Iya aku sudah ngantuk, ini juga sudah malam" jawab Jani seraya mengangkat kakinya yang tadi menjuntai menyentuh lantai keatas tempat tidur dengan mengibaskan selimut karena dia akan masuk kedalamnya.
Tapi tiba-tiba tangan kekar milik suaminya menahan Jani, seketika itu suasana kala itu berubah jadi lebih menegangkan bagi Jani, apa lagi wajah Atar semakin mendekatinya, nafasnya terdengar saling berburu seolah sedang menahan sesuatu yang begitu mendesak.
"A.. Atar ka.. kamu mau apa?" tanya Jani gugup dengan wajah terlihat memerah.
Atar lalu mendekatkan bibirnya didekat telinga Jani kemudian dia berbisik.
"Jani, apa kamu tahu semenjak kita melakukan hubungan itu vila hampir setiap hari aku mimpi basah, aku tidak tahu kalau aku pernah melakukannya jadi aku pikir aku tidak normal karena terlalu berlebihan dibandingkan dengan Azka, Jho dan Gio yang belum pernah merasakan itu, sekuat tenaga aku menahan keinginanku ini karena aku tahu, tidaklah benar jika aku sembarangan menyalurkan keinginanku, sepertinya aku sudah merasa candu padamu Jani. Jadi mau kah kamu membantuku untuk... " Atar sengaja tak melanjukan kalimatnya karena Atar yakin Jani sudah paham dengan maksudnya.
Seketika itu bulu kuduk Jani meremang bukan karena dia takut tapi karena dia merasa tegang, seolah ada aliran listrik yang menjalar ke sekujur tubuhnya, tiba-tiba suhu tubuh Jani semakin menaik apa lagi ketika bibir Atar mulai m*lu*at bibirnya dengan lembut.
__ADS_1
Tangan Atar mulai menjelajah nakal diarea sensitif milik Jani hingga keduanya semakin menegang, dengan perlahan tapi pasti Atar mulai menanggalkan pakai Jani dan juga pakainya hingga mereka berdua bergulat di dalam selimut.
Bersambung