Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Dipecat jadi ayah


__ADS_3

POV Atar


Siang hari yang cerah ini ku langkahkan kaki disepanjang trotoar yang menjadi tempat untuk para pejalan kaki, pedagang kaki lima yang mangkal dan banyak orang yang tengah menunggu kendaraan umum lewat sesuai dengan tujuannya masing-masing, di hari minggu ini aku memang sengaja pergi ke kota terdekat karena aku ingin pergi ke swalayan.


Kalau saja ketiga temanku tak sedang memusuhiku mungkin dihari libur ini aku ajak mereka untuk pergi bersama, tapi sayangnya itu hanya harapan kosong belaka yang mungkin tak akan pernah terwujud lagi.


Ya, semenjak ku bulatkan tekadku untuk menikahi Jani ketiga temanku benar-benar memusuhiku, mereka bahkan tak mau berbicara lagi denganku meski kami tinggal satu rumah. Sebenarnya hatiku sangat sedih dengan semua ini.


Tapi, aku tak mau Jani menanggung aib ini sendirian, aku tak mau membuat putriku sedih karena tak ada seorang ayah dihidupnya, meski aku harus mengorbankan persahabatanku dengan Gio, Azka dan Jho, meski aku harus dibenci oleh mereka aku akan menerimanya.


Tak terasa kakiku kini sudah membawaku didepan pintu swalayan yang terbuat dari kaca transparan, dari luar saja sudah bisa kulihat rak-rak berjajar rapih dengan banyak produk dan barang-barang yang tertata rapih sesuai dengan jenis dan produk barang.


Disana juga sudah banyak orang-orang yang sedang berbelanja, memilih-milih barang dan memasukannya kekeranjang atau troli. Karena akan ada banyak barang yang akan kubeli jadi aku mengambil satu troli yang nanti akan kugunakan untuk mengangkut barang-barang yang akan kubeli.


Lalu aku berjalan diantara barisan rak-rak itu sambil menatap satu persatu barang-barang yang tertata di etalase, begitu banyak barang-barang yang ada hingga aku bingung mau beli apa. Sebenarnya aku hanya ingin membeli hadiah buat Shabira karena sekarang dia sudah sembuh total.


Berkat terapi dan kegigihannya untuk bisa jalan lagi akhirnya dia bisa pulih kembali dengan waktu yang cepat dan aku ingin membelikannya hadiah untuk usahanya itu.


"Aku beli apa ya, bingung nih. Tak ada Gio, Jho atau Azka yang bisa kutanyai soal ini" ucapku lalu menunduk sedih.


Tiba-tiba saja otakku terpikir sesuatu, aku pun melebarkan senyuman ketika menemukan sebuah ide untuk permasalahan ku. Ku rogoh layar pipih di dalam saku celanaku. Aku lalu mencari icon google dilayar pintar milikku itu kemudian kutekan voicemail dan menahannya beberapa saat sambil kuucapkan kalimat yang ingin kucari.


"Barang-barang yang diperlukan anak gadis"


Tak berapa lama muncullah banyak opsi ku klik salah satunya dan ku baca.


"Boneka... sepertinya itu ide bagus, aku beli boneka ah, buat Shabira" pikirku


Ku masukan kembali ponsel pintar ku itu dan aku mulai berburu boneka yang menurutku itu lucu. Saat di toko boneka, lagi-lagi aku dibuat bingung karena begitu banyaknya boneka yang terpajang dan semuanya sangat lucu.


"Ternyata belanja itu perkara yang melelahkan, membosankan dan menguras pikiranku. Aku heran kenapa perempuan suka banget benja ya" batinku bermonolog karena aku menyerah sebelum bertempur.


Tak ingin membuang-buang waktuku akhirnya kupilih rendom saja, ku ambil boneka Teddy bear yang ukurannya super jumbo. Setelah itu aku shearching kembali guna membaca kelanjutan dari opsi tadi.


Seperti itu dan seperti itu hingga banyak barang yang sudah masuk kedalam troliku hingga suatu ketika aku melihat ada deretan aksesoris lucu hingga berbagai jepit rambut.


"Sepertinya jepit rambut ini lucu buat Shabira, dia akan terlihat sangat cantik kalau pakai ini, aku ambil ini ah!" monolog ku dengan sumringah.


Karena aku ingin memberi Shabira banyak hadiah akhirnya aku shearching lagi, n'tah ini handphone ku eror, tak ada sinyal atau apalah itu aku tak tahu tapi kali ini google menampilkan kata skincare. Aku langsung menautkan dahiku.


"Skincare?! Emangnya Shabira udah pake skincare?" tanyaku kebingungan.


"Ah! Aku beli aja deh, buat perawatannya Shabira"


Kupilih beberapa produk skincare yang menurutku bagus meski aku tak tahu itu kualitasnya beneran bagus atau tidak. Setelah itu aku searching kembali, kubaca opsi yang dimunculkan di google. Kali ini opsinya membuatku sedikit tercengang kaget hingga aku menyernyitkan dahiku pasalnya google menampilkan kata Pembalut.


"Ko pembalut sih? Emangnya anak kelas 3 SD sudah datang bulan ya?" pikirku tak paham.


Akhirnya dengan kepolosan ku yang tak tahu menahu soal anak gadis. Fix, kuputuskan untuk membelinya, siapa tahu Shabira memang membutuhkannya. Setelah begitu banyak barang-barang yang kubeli untuk Shabira akhirnya aku pun belanja keperluan ku.


Cukup lama kakiku berkeliling dan aku berkutat dengan barang-barang yang membuat otakku hampir meledak karena aku bingung harus pilih mana akhirnya aku sampai di finish juga, inilah saatnya untukku membayar barang-barang yang sudah ku angkut dalam troliku, aku pun segera membayarnya kekasir.


Selain menguras pikiran dan isi dompetku ternyata belanja itu membuat kakiku pegal-pegal juga. Hulffhh! Kalau bukan karena aku ingin membahagiakan putriku, lain kali aku lebih baik memilih belanja online saja dari pada harus belanja langsung ke tokonya, biarkan jari-jariku yang bekerja mencari barang-barang diponsel pintar ku, dengan begitu barang-barang yang kubeli akan dikirim kerumah tanpa aku harus repot-repot keliling mencarinya.

__ADS_1


Esok harinya, barulah aku memberikan barang-barang yang kubeli kemarin pada putri tercantiku. Aku cukup kerepotan juga membawa begitu banyak totebag dan boneka beruang yang besarnya bisa menutupi tubuhku.


Sesampainya dipanti asuhan aku ingin memberinya kejutan, ketika pintu dibuka aku sengaja bersembunyi dibalik boneka teddy bear dan kejutanku berhasil, saat Shabira membuka pintu dia terlihat kaget, aku lalu menyapa dia masih sambil bersembunyi dibalik boneka teddy bear, kugerak-gerakan tangan boneka teddy bear sambil berucap.


"Hay princess cantik aku adalah teddy bear yang akan memberikanmu banyak hadiah asal kamu mau menampakan wajah cantikmu dengen tersenyum" ucapku.


"Ayah, aku tahu itu ayah, berhentilah bersembunyi dibalik teddy bear ini gak lucu ayah" kata Shabira dengan wajah datarnya.


"Teddy bear nya sedih nih, soalnya princess nya gak mau senyum, senyum dulu dong cantik" pintaku.


Mungkin Shabira ingin cepat mengakhiri candaan ku yang terasa garing dan kekanak-kanakan baginya hingga akhirnya dia menarik garis lengkung dibibirnya dan senyum nya itu terlihat sangat terpaksa.


Aku tahu Shabira itu memang sangat acuh sedikit jutek dan badmood'an, tapi sebisa mungkin aku ingin selalu membuatnya tersenyum meski aku tak bisa memahami apa yang diinginkannya. Tapi, ya sudahlah. Aku segera memberikan boneka teddy bear itu pada Shabira.


"Ini buat kamu, apa kamu suka bonekanya?"


tanyaku lalu Shabira hanya menjawab dengan anggukan.


"Karena putri ayah yang cantik ini sudah gigih menjalankan terapi dan terus latihan buat bisa jalan lagi hingga sekarang sudah sembuh, makannya dari itu ayah mau memberi hadiah untuk kamu, selain teddy bear ayah juga punya hadiah lain, ini buat kamu" ucapku sambil memberikan banyak totebag pada putriku itu.


Shabira menyimpan boneka teddy bearnya dilantai kemudian menerima banyak totebag dariku, seketika wajah juteknya berubah jadi ceria. Sepertinya dia suka dengan hadiah yang kuberikan, dia mulai mengintip satu persatu isi totebagnya.


Dan...


1


2


3


"Makasih" ucap Shabira singkat.


Bruk!


Tiba-tiba saja putriku menutup pintu dengan amat kencang hingga nyaris jantungku mau copot karena kaget. Tentu saja ini membuatku amat kebingungan karena aku tak tahu letak salahku ada dimana saat Shabira menunjukan peringai seperti sedang marah. Pada akhirnya aku hanya bisa diam mematung dengan seribu pertanyaan yang menggelayuti pikiranku.


...****************...


Shabira terus berjalan menuju kamarnya dengan amat tergesa-gesa, matanya yang berkaca-kaca karena menahan bendungan air mata seketika jebol tanpa permisi dengan seiring jebolnya pertahanan air matanya seketika itu pula tangisannya pecah dan membahana diudara.


"Hhuuaaaaaaa... hiks... hiks... hhuuaaaaaa..."


Dia segera masuk ke kamarnya, membanting pintu kamar, melempar boneka teddy bear serta totebagnya keatas kasur kemudian Shabira melemparkan tubuh kecilnya di atas tempat tidurnya.


Dengan posisi tengkurap dia menutupi kepalanya dengan bantal tanpa henti-hentinya menangis sambil meronta-ronta, memukui kasur dengan kedua tangan dan kakinya.


Jani yang tak sengaja mendengar suara tangisan Shabira dia langsung mendatangi putrinya ke kamar.


"Shabira, Kenapa kamu menangis?" tanya Jani sambil duduk disamping Shabira.


"Bunda jangan kesini aku tidak mau bertemu dengan siapa pun hiks... hiks.. hiks... " ucap Shabira yang masih menutupi kepalanya dengan bantal.


Mendapat pengusiran dari putrinya tentu saja membuat Jani merasa khawatir karena tak biasanya putrinya itu menangis histeris seperti ini.

__ADS_1


"Sayang, jangan buat bunda khawatir dong sebenarnya kamu kenapa? Ayo, cerita sama bunda" bujuk Jani.


Awalnya gadis kecil itu menolak untuk bercerita karena merasa malu tapi karena Jani takut putri kesayangannya itu kenapa-kenapa akhirnya dia terus membujuk Shabira hingga dia mau bercerita.


Shabira lalu duduk sambil menempelkan tubuh kecilnya di nakas yang terdapat diujung kepala tempat tidurnya seraya menelusup kan wajahnya dibalik bantal yang dipeluknya.


"Kamu jangan buat bunda khawatir dong, sayang. Ayo! Cerita sama bunda. Kenapa tiba-tiba kamu menangis histeris gini?" tanya Jani sekali lagi.


Masih dengan terisak Shabira lalu menunjukkan telunjuknya kearah totebag yang ada disampingnya.


"Totebag? Kenapa dengan totebag itu?"


Shabira masih tak menjawab dia masih menunjukan telunjuknya kearah totebag. Karena penasaran Jani lalu meraih semua totebag dan melihat isinya.


"Skincare?! Punya siapa ini?"


"Pembalut?!"


"Hhuuuaaaaaaaa..." tangisan Shabira kian pecah dan kencang meski wajahnya masih tersembunyi dibalik bantal.


"Ini punya kamu?"


Shabira mengangguk dibalik bantalnya meski begitu tapi Jani bisa melihat anggukan Shabira.


"Kamu kan belum pake skincare, kamu juga belum datang bulan"


"Hhuuuaaaaa...hhuuuaaaaa... " tangisan Shabira makin kencang lagi.


Jani yang paham kalau putrinya sedang merasa malu kemudian dia meminta maaf sambil meralat ucapannya itu.


"Iya...iya... bunda minta maaf bunda tidak akan ucapkan itu lagi. Tapi siapa yang udah kasih kamu barang-barang seperti ini kekamu?"


Tangisan Shabira mulai pelan, dengan masih terisak-isak dia lalu menjawab, "Ayah, aku malu bunda hiks...hiks...hiks..."


"Ataaarrr... Apa maksudnya coba dia ngasih barang-barang kaya gini kepada putrinya yang masih kelas 3 SD?" berang Jani dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya karena menahan amarahnya.


"Ya sudah, bunda akan omelin ayah abis-abisan kamu jangan nangis lagi ya, bunda gak mau kamu bersedih, sekarang bunda akan temui ayahmu" kata Jani seraya beranjak dari duduknya.


Tapi tiba-tiba tangan kecil putrinya menarik tangan Jani, gadis kecil itu menatap Jani dengan wajah sedih dan wajahnya masih terlihat merah padam.


"Ada apa sayang?" tanya Jani sambil menoleh kearah Shabira.


"Aku mau ayah dipecat jadi ayahku, aku tidak mau punya ayah seperti ayah Atar, dia sangat memalukan, aku tak mau melihatnya lagi" pinta Shabira dengan memelas.


Hati Jani merasa benar-benar miris mendengar permintaan putrinya. Bagaimana bisa Atar membuat kesalahan bodoh yang membuat putrinya merasa amat malu hingga dia tak mau punya ayah seperti Atar. Ini membuat Jani amat kesal.


"Baiklah, sayang. Bunda akan bicarakan soal ini pada ayahmu, sekarang juga bunda akan samperin ayahmu. Dimana ayahmu sekarang?"


"Tadi sih didepan rumah" jawab Shabira masih terisak.


"Oke, bunda akan samperin. Kamu jangan nangis lagi ya" imbuh Jani sambil mengelus lembut pucuk kepala Shabira.


Shabira lalu mengangguk kemudian Jani mencari Atar keluar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2