Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Tawa dibalik duka


__ADS_3

Kini rumah makan itu sudah dikosongkan, berbagai alat berat sudah berjejer rapih, sang pengendara pun sudah siap meruntuhkan bangunannya tinggal menunggu sang komando memberi perintah.


Jho dan para mandor yang sudah mengenakan APD (Alat perlindungan diri) lengkap tengah menatap bangunan yang akan segera diruntuhkan, tapi sebelumnya Jho memastikan kalau bangunan itu sudah bersih dan tak ada barang-barang milik si pemilik sebelumnya.


Setelah dirasa semua tak ada masalah Jho segera memberi komando agar alat-alat berat itu segera bergerak untuk merubuhkan bangunan itu. Pak Husen dan istrinya yang ingin melihat peruntuhan bangunan yang dulu tempatnya mengais rezeki hanya bisa menatap sedih saat alat berat itu mulai bekerja.


"Pak, ibu merasa sedih lihat rumah makan kita dihancurkan. Apa keputusan kita sudah tepat untuk menjual lahan ini dan pindah ke Bogor?" tanya Bu Retno meragu.


Pak Husen lalu merangkul pundak istrinya sambil meyakinkan keraguan sang istri.


"Insya Allah keputusan kita tidak salah bu. Anak-anak tumbuh semakin besar kita juga jadi butuh biaya lebih banyak untuk sekolah dan keperluan anak-anak. Usaha kita disini tak menentu, kita sering cari donatur untuk menutupi kebutuhan panti tapi kan selama ini tak ada yang jadi donatur tetap"


"Atar kan berjanji sama kita dia akan jadi donatur tetap dan dia juga mau cariin tempat usaha yang strategis buat kita, semoga kehidupan kita di bogor semakin membaik dari sekarang ya, bu" sambung Pak Husen.


"Aamiin, aamiin iya Pak semoga doa kita terkabul"


"Ya udah, sekarang kita pulang yuk bu, kita bantuin Jani dan Tari masak buat catering nanti sebelum jam makan siang kan kita harus segera mengirim cateringnya ke tempat kontruksi buat makan siang para kuli bangunan" ajak Pak Husen.


"Iya Pak, mari kita pulang" sahut Bu Retno.


Semenjak rumah makan mereka dikosongkan Pak Husen memang diminta untuk membuat catering oleh para arsitek muda itu agar panti asuhan masih ada pemasukan sebelum akhirnya mereka pindah ke Bogor, dengan omset yang cukup banyak karena mereka harus menyediakan dua kali jatah makan untuk para pekerja bangunan ditempat pembangunan parawisata itu yang pekerja bangunannya sekitar 1000 orang belum ditambah jatah makannya ke empat arsitek muda itu jadi 1000 lebih dikali 2 totalnya sekitar 2008 kotak makan yang harus dibuat oleh Pak Husen.


Waktu jam makan siang pun telah tiba Pak Husen yang dibantu oleh Jani dan Tari sudah berada ditempat kontruksi, mereka sudah siap untuk membagikan makan siang pada para pekerja, para kuli bangunan itu lalu berbaris untuk mengambil jatah makanan mereka.


Karena banyaknya para kuli bangunan membuat Pak Husen, Jani dan Tari merasa sedikit kerepotan karena para pekerja itu sudah tak sabar ingin cepat makan siang. Agar yang melihat kesibukan Jani, dia lalu menghampiri Jani.


"Wah! Sepertinya kamu terlihat sangat kerepotan, sini biar aku bantu" kata Atar sambil tersenyum penuh cinta pada Rinjani.


Jani membalas senyuman Atar sambil mempersilahkan Atar untuk membantunya. Mereka terlihat begitu ceria dan saling membahu untuk bekerja sama. Tak berapa lama Azka, Gio dan Jho baru keluar dari kantor, mereka hendak mengambil jatah makan siang mereka yang tentunya jatah makan keempat arsitek muda itu berbeda dari para pekerjanya karena mereka bosnya ditempat ini dan mereka yang membayar catering itu. Jadi menu makanan mereka pun berbeda dari para pekerja bangunan lainnya.


"Ini makan siang untuk kamu Jho" ucap Atar sambil tersenyum ramah dan menyodorkan box makanan untuk Jho.


Tapi Jho tak mau menerimanya dia malah menatap sinis pada Atar kemudian dengan tatapan sumringah dia menyapa Jani.


"Hi, Jani! Apa kamu memasak makanan yang aku pesan?"


Jani yang tak menyadari sikaf Jho yang berbeda pada Atar karena tadi fokusnya hanya membagikan makanan pada para pekerja lalu menjawab Jho dengan ramah dan sedikit menggodanya.


"Iya tentu saja aku buatkan makanan sesuai dengan pesanan bos Jho"


"Jani, kamu apaan sih manggilnya jangan kaya gitu ah, manggilnya biasa aja, aku kan jadi gak enak sama kamu"


"Hehehe... gitu aja ko ngerasa gak enak, bukankah kalian disini emang jadi bosnya kan?" kata Jani.

__ADS_1


"Gak ada bos, bos'an buat kamu, Jani"


Jani lalu tersenyum kemudian dia memberi makanan pada Jho sementara Atar masih menyodorkan makanan meski Jho tak mengambilnya, setelah mengambil makanannya Jho berlalu pergi kemudian giliran Gio yang mengambil jatah makan siangnya.


Niat hati ingin memberikan pada Gio karena Jho menolaknya tapi ternyata Gio pun bersikaf sama seperti Jho, dia mengacuhkan Atar dan malah meminta jatah makanan pada Jani demikian pula dengan Azka, dia pun dia pun sama dengan kedua temannya tak mau menerima makanan dari tangan Atar alhasil kotak makan yang dipegang Atar terus menggantung diudara tanpa ada yang mau mengambilnya.


Setelah ketiga pria tampan itu berlalu pergi, Jani yang melihat ada keganjilan diantara sikaf para pria itu lalu dia menatap Atar dengan penuh tanda tanya?


"Gio, Jho dan Azka kenapa ko mereka nyuekin kamu sih?"


Atar tak ingin Jani mengetahui kalau ketiga pria itu sedang memusuhinya karena keputusan Atar yang ingin bertanggung jawab dan menikahi Jani, dia juga tak mau bercerita kalau ketiga sahabatnya itu sudah mengeluarkan dia dari perusahaan yang mereka bangun bersama hingga sesukses ini karena mungkin setelah berakhirnya proyek pembangunan tempat parawisata ini Atar akan menjadi pengangguran.


Tapi karena dia mempunyai kewajiban untuk menafkahi istri dan anaknya nanti dia bertekad untuk membangun usaha sendiri agar predikat pengangguran itu tak betah berlama-lama dia sandang kelak. Atar kemudian menyunggingkan senyuman hangat penuh cinta pada calon istrinya itu.


"Ini udah biasa jadi tidak apa-apa kami akan segera baikan ko"


N'tah kenapa Jani merasa ragu dengan ucapan Atar meski pria itu meyakinkan Jani dengan senyuman ramahnya bahwa dia baik-baik saja dan tak ada masalah berat diantara Atar dan ketiga temannya itu.


"Beneran gak apa-apa nih?" tanya Jani meragu pasalnya dia takut kalau pertengkatan Atar dan ketiga sahabatnya itu disebabkan oleh dirinya.


"Beneran Jani, gak apa-apa ko bentar lagi aku bakal baikan sama mereka"


"Aku ko merasa ragu ya, Beneran kan kamu marahan sama mereka bukan karena aku?" tanya Jani yang hatinya tak bisa dibohongi tapi Atar terus meyakinkannya dan segera mengalihkan pembicaraan agar Jani dan Atar tak membicarakan soal ini lagi.


Lima belas menit kemudian, Atar yang makannya super cepat dan banyak sudah menghabiskan makanannya dia lalu cuci tangan sementara Jani makanannya kalah cepat dari Atar.


"Kamu makannya lama ih!" sindir Atar sambil tersenyum.


"Ih! Biarin aja, makan itu dikunyah ya, bukan langsung ditelen biar pencernaannya lancar. Tuh! Kamu makannya cepat-cepat kaya takut nasinya diserobot orang aja, ada nasi di mulutmu tuh"


"Hah! Nasi, sebelah mana, mana?" Atar langsung panik sambil mengusap mulutnya.


Jani malah terkekeh melihat Atar yang panik pasalnya dia tak perlu panik hanya karena sebutir nasi yang nyangkut di mulutnya.


"Ih! Jani, beneran mana nasinya ko gak ada?" wajah Atar masih terlihat panik.


Jani sengaja membiarkan Atar dengan kepanikannya karena dia terlihat lucu kalau lagi panik. Atar yang menyadari Jani seperti sedang mengerjainya akhirnya dia balik mengerjai Jani.


"Kamu lagi gak bohong sama aku kan, Jani?" tanya Atar dengan memasang wajah serius.


"Nggak, kenapa aku harus bohong? Itu beneran ko ada nasi di mulutmu" sangkal Jani berpura-pura karena memang tak ada nasi disekitar bibirnya.


"Kalau gitu tolong ambilin dong soalnya aku gak bisa melihat ada dimana nasinya" pinta Atar.

__ADS_1


"Ogah! Ambil aja sendiri aku kan lagi makan. Nih, tanganku berminyak karena makanan" tolak Jani sambil menunjukan jari jemarinya yang berminyak dan berbumbu karena Jani makan dengan tangannya langsung tanpa mengunakan sendok.


"Ya udah, ambilnya pake mulut kamu aja" goda Atar sambil menahan tawanya.


Seketika kedua bola mata milik Jani langsung mendelik menatap Atar, otaknya jadi traveling ke mana-mana. Tak ingin otaknya traveling terlalu jauh Jani langsung menepis semuanya dengan menoyor kepala Atar yang saat itu sedang melebarkan senyuman dibibirnya, dengan tangan kirinya yang bersih dari bumbu-bumbu makanan.


"Awas! Ya, kalau otakmu mulai berani mesum didepanku, ku tabok mukamu" ancam Jani dengan garangnya.


Melihat ada kegelisahan diwajah cantik itu membuat Atar tertawa geli karena dia berhasil membuat Jani jadi dongkol.


"Hahaha...aku cuma bercanda Jani. Mana berani aku seperti itu bisa-bisa aku dipecat jadi calon suamimu" ujar Atar sambil tertawa dan mengelus pucuk kepala Jani.


"Hey! Rafatar Alfarasya, aku belum bilang iya loh buat mau jadi istri kamu jadi kamu jangan ngaku-ngaku dulu" ucap Jani dengan tegas sambil menepis tangan Atar dari kepalanya.


"Apa, tadi kamu ngomong apa aku gak denger?"


Jani lalu mengulang kembali kalimatnya dengan jelas seperti yang tadi diucapkannya tapi Atar masih bertanya dengan alasan dia tak mendengarnya.


"Bukan itu kalimat terakhirmu belum jelas tadi kamu ngomong apa?"


"Aku belum bilang iya aku mau jadi istri kamu" ucap Jani mengulang kalimatnya.


"Bukan itu Jani, abis kata aku mau kamu ngomong apa lagi?"


Jani mulai kesal karena Atar mendadak jadi budeg dia lalu mengulang kembali kalimat terakhirnya dengan jelas, tegas dan lugas tanpa ada rasa curiga sedikit pun.


"Aku mau jadi istri kamu" teriak Jani.


Tentu saja itu membuat wajah Atar jadi sumringah. "Tuh kan, tuh kan, kamu udah bilang loh mau jadi istri aku. Jadi kapan kita akan menikah?"


Jani jadi melongo kaget, heran dan merasa ditipu oleh Atar. Dia lalu menatap berang pada Atar sambil mengangkat jari telunjuknya yang dia arahkan kepada Atar.


"Kamu, kamu udah nipu aku ya?"


"Nipu apaan sih, orang barusan kamu sendiri yang ngomong kamu mau jadi istri aku pake teriak segala lagi padahal aku gak minta kamu buat teriak. Apa itu karena kamu ingin semua orang dengar kalah kamu mau jadi istri aku? Emang sih pesonanya seorang Rafatar Alfarasya itu tidak bisa dipungkiri bikin hati kamu kelepek-kelepek ya" ujar Atar seraya mengulas senyuman bangga dan narsisnya dengan tingkat percaya diri yang amat tinggi.


Membuat Jani tak henti-hetinya menggeram kesal dan menepuk jidatnya sendiri.


"Ataaarrr!! Kamu yah... Iihhh!! Kesel aku" Jani menggeram kesal sambil mengangkat kedua tangannya seperti hendak mencakar.


Atar hanya tersenyum melihat Jani yang sedang marah. Batinnya lalu berkata, "Meski hidupku terasa sulit tapi cuma kamu yang bisa membuatku tertawa meski hatiku sedang sedih, Jani"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2