Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Ketahuan


__ADS_3

Derap langkah kaki Azka terasa beritme saat dia baru keluar dari kantor, itu karena dia terlalu fokus pada map yang dibawanya, map yang berisi laporan keuangan itu sedang ditelaahnya secara terperinci. Mata tajamnya terus membidik angka-angka yang tertera di laporan keuangannya seraya sesekali dia menyernyitkan dahinya ketika nalarnya bertentangan dengan isi laporan keuangan itu.


Saking fokusnya Azka pada catatan keuangan itu hingga dia tak memperhatikan pada keadaan sekitar meski kakinya terus melangkah melewati para pekerja kontruksi yang sedang mengerjakan pembangunan castil.


Ketika dia berada di pertengahan bangunan castil yang masih belum beratap karena masih membuat dindingnya, tiba-tiba hebel atau bata rangan terjatuh dari atas tepat dibawahnya ada Azka yang sedang berdiri.


"Awas! Pak Azkaaaaa!" teriak para pegawai yang melihat jatuhnya hebel itu untuk memperingati Azka.


Tapi Azka tak mengindahkan peringatan dari mereka karena fokusnya hanya kepada map yang sedang dipegangnya kini.


Buk!


Hebel itu jatuh tepat diatas kepala Azka, seketika Azka merasa ada banyak kunang-kunang yang mengelilingi kepalanya, saking pusingnya dia tak menyadari ada warna merah menggelincir diatas kepalanya melewati jidat, pelipis, dan berakhir dipipinya.


Tak berapa lama Azka tumbang dan tersungkur ketanah. Semua yang melihat langsung panik dan berhamburan memburu Azka. Mereka menelantangkan tubuh Azka yang tengkurap, terlihat darah segar itu terus mengalir dikepalanya.


Mereka membangunkan Azka dengan menggoyangkan tubuhnya namun tak ada respon karena Azka sudah kehilangan kesadarannya. Disisi lain Jani dan Tari baru sampai ditempat kontruksi itu sebab di jam segini pasti mereka datang ketempat kontruksi untuk mengirim dan membagikan jatah makan siang untuk para pekerja.


Melihat ada kerumunan membuat Jani penasaran dia akhirnya melihat ke kerumunan itu. Netra Jani membulat sempurna ketika melihat Azka tak sadarkan diri dengan kepalanya yang terus meneteskan darah.


"Azka! Kenapa kamu berdarah gini?" tanya Jani sangat khawatir.


"Pak Azka tadi tertimpa hebel mbak" jawab seorang saksi yang tadi melihat kejadian itu.


"Ya ampun Azka. Ayo! Bawa dia kerumah sakit pake mobil saya saja" kata Jani yang panik karena cemas dan khawatir pada Azka.


Orang-orang itu mulai mengangkat tubuh Azka kedalam mobil yang dibawa Jani. Dengan ditemai dua orang mandor, Jani membawa Azka kerumah sakit.


...****************...


Dirumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit Azka segera ditangani oleh Dokter. Sementara Jani menunggu Azka diluar, dia terus mondar mandir tak tenang karena cemas dan khawatir pada sahabat masa kecilnya itu.


Waktu pun terus berputar disetiap detik, menit dan jamnya hingga tak terasa kini sudah tiga jam Jani dan Azka ada dirumah sakit beserta kedua mandor yang tadi ikut mengantar Azka.


Kini Azka sudah sadar dengan luka jahitan dikepalanya, pria tampan berkulit putih itu masih terbaring dibrankarnya karena dia masih merasa pusing akibat tertimpa hebel. Jani langsung duduk di kursi yang ada disamping Azka seraya menatap lekat sahabat masa kecilnya itu.


"Kamu ko bisa kaya gini? Aku sangat khawatir saat kamu tidak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir dikepalamu"


"Aku tidak tahu kalau ada hebel yang jatuh karena saat itu aku terlalu fokus pada map yang kubawa. Ya, mungkin hari ini aku sedang naas saja jadi kena musibah kaya gini"


"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati saat kamu berada di area kontruksi dan kamu juga terlalu fokus pada pekerjaan hingga tak menyadari keadaan disekitarmu"


"Iya Jani, maksih atas perhatianmu" ucap Azka sambil mengulas senyuman bahagia karena diperhatikan sama Rinjani.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu ruangan Azka dirawat terbuka dan tak lama muncul lah sosok Atar dibalik pintu, dia segera menghampiri Jani dan Azka.


"Azka, apa kamu tidak apa-apa? Aku sangat khawatir saat aku dengar kamu dilarikan kerumah sakit gara-gara tertimpa hebel, aku jadi langsung buru-buru kesini karena aku ingin tahun keadaan kamu" ucap Atar dengan cemas dan khawatir.


Sebenarnya Azka masih marah sama Atar karena kedekatannya dengan Jani tapi diantara Gio dan Jho, hanya Azka yang masih bisa berbaik hati pada dan sedikit member intoleransi pada Atar karena Azka masih merasa bersalah sebab dia sudah membuat Atar dan Jani terjerat dihubungan terlarang hingga terlahir lah Shabira.


Ditambah lagi di hadapannya kini ada Rinjani jadi dia tidak mencueki Atar seperti saat berada di Vila, tempat kerja dan saat Jani yang ada di hadapan mereka.


"Tidak ada luka yang serius ko meski ada jahitan di kepalaku, aku hanya butuh istirahat saja karena efek pusingnya masih terasa" jawab Azka.


"Alhamdulillah syukurlah kalau tak ada luka yang cukup serius" Atar mengucap rasa syukur karena tak ada luka yang serius pada Azka.


Sore hari kemudian, Jani dan Atar masih setia menunggu Azka yang masih terbaring dan berapa lama perawat datang sambil membawa obat dan makanan untuk Azka. Perawat itu menyuruh Azka agar segara meminum obatnya.


Jani langsung berinisiatif membantu Azka untuk duduk, dibantu oleh Atar juga. Setelah itu dia memberikan makanan pada Azka tapi karena Azka mengeluarkan banyak darah itu membuat Azka jadi lemes bahkan hanya untuk sekedar memegang sendok saja tangannya begitu kepayahan.


Jani yang merasa kasihan pada Azka lalu dia meminta sendok yang dipegang oleh Azka kemudian dia menyuapi Azka sementara Azka disuruh duduk bersandar pada tempat tidurnya.


"Udah sini biar aku aja yang suapin kamu karena kamu masih kelihatan lemes banget.


Kalimat Jani itu berhasil membuat Atar jadi membulatkan kedua matanya dengan sempurna.


"Bisa-bisanya Jani berinisiatif menyuapi Azka. Apa Jani lupa disini ada aku" berang Atar didalam hatinya sambil menatap kearah Azka dan Jani dengan tatapan sinis.


Tapi mau tak mau Atar harus menahan rasa cemburunya karena dia tak mau kalau Azka tahu dia dan Jani menjalin hubungan spesial dibelakang mereka. Sementara Jani sendiri tak menyadari kalau sikap perhatiannya pada Azka itu sudah berhasil menyalakan api cemburu dihati Atar hingga dia merasa panas.


Tapi rupanya perhatian Jani itu dianggap tak wajar bagi Atar yang melihatnya karena merasa itu terlalu berlebihan, Atar berubah posesif seperti itu karena dia terbakar api cemburu yang tak pernah disadari boleh Jani hingga disuatu ketika Atar sudah tak tahan melihat perhatian Jani pada Azka, saat ada kesempatan berduaan Atar lalu mengungkapkan ketidak sukaannya itu.


"Jani"


"Apa?"


"Jani"


"Apa?"


"Janiiiii... "


"Apa sih dari tadi Jani, Jani, Jani melulu" Jani mulai kesal.


"Lain kali kamu jangan begitu ya" titah Atar sambil manyun.


"Jangan gitu apanya?"


"Kamu jangan kasih Azka perhatian lebih aku nggak suka"

__ADS_1


Jani lalu menatap Atar yang saat itu sedang cemberut.


"Kamu sendiri kan yang bilang kalau kita harus Backstreet, jadi aku harus bersikaf senetral mungkin agar tak ada yang curiga"


"Tapi kamu sudah tidak wajar lagi, Jani. Aku tidak suka, kamu jangan gitu lagi ya" titah Atar.


"Gak wajar gimana? Menurutku itu wajar kalau aku perhatian sama sahabat masa kecilku"


"Bagiku pokoknya itu nggak wajar Jani, itu terlalu berlebihan aku tidak suka, jangan kaya gitu lagi ya, aku tuh sayang sama kamu hatiku serasa panas kalau kamu ngasih perhatian lebih sama cowok lain selain aku, apa pun alasannya aku tak mau lihat kamu kaya gitu lagi" pinta Atar terus curhat sambil menunduk murung.


Jani hanya mencibir lalu meninggalkannya. Atar yang baru sadar kalau dari tadi dia ngomong sendiri lalu menggerutu. "Ih! Jani, aku lagi curhat malah ditinggalin gitu aja, Jani gak peka banget sih"


...****************...


Beberapa hari kemudian.


Waktu menunjukan pukul 13.00 dan ini sudah masuk waktu jam makan siang tapi Atar masih berkutat dengan leptopnya. Sementara Azka yang sudah sembuh dari cederanya masih makan siang dengan Jho dan Gio.


Disisi lain Jani yang kala itu masih ditempat kontruksi lalu membereskan perabotannya setelah selesai membagikan box makanan pada para pekerja kontruksi, tapi tiba-tiba netranya melihat sebuah kotak makan.


"Ini ko masih ada kotak makanan padahalkan bikinnya pas. Apa masih ada yang belum ngambil kotak makanannya kah? Kalau dilihat dari ukuran dan tempatnya sepertinya kotak makan ini buat Azka, Gio, Jho dan Atar lalu diantara mereka siapa yang belum mengambil kotak makanannya ya?" Monolog Jani sambil mengingat kembali siapa yang kira-kira belum mengambil kotak makanannya.


"Oh iya, Atar belum mengambil kotak makanannya dia kemana ya tumben belum kesini?"


Karena Atar tak kunjung mengambil kotak makanannya Jani berinisiatif untuk memberikannya langsung lalu dia mencari Atar ke kantor mereka. Dan benar saja rupanya pria tampan itu masih duduk di kursi kerjanya sambil berkutat dengan leptopnya.


Jani lalu mengetuk pintu dan itu sempat mengalihkan pandangan mata Atar kearah Jani dan sesaat kemudian dia kembali fokus pada layar lebar di hadapannya.


"Jani, masuk Jan" titah Atar tanpa menatap wanita itu.


Jani lalu mendekati Atar dan menyimpan kotak makanan milik Atar dimeja kerja Atar seraya berkata "Kamu lagi ngapain sih sampai lupa makan siang"


Atar tersenyum pada Jani lalu dia kembali fokus ke layar leptop.


"Aku lagi nyari tambahan buat biaya pernikahan kita" goda Atar pada Jani yang sukses membuat Jani mencibir.


"Jangan terlalu fokus mencari cuan kalau sampai lupa makan, itu perutmu udah minta diisi tuh"


"Entar dulu deh, lagi nanggung" ujar Atar yang masih fokus pada leptopnya.


"Ini udah lewat jam makan siang loh, kamu masih belum makan juga, cepat makan sana nanti kamu sakit perut lagi" titah Jani.


Atar lalu menghentikan aktivitasnya dia kemudian tersenyum pada Jani sambil menggandeng tangan Jani yang saat itu sedang berdiri disampingnya, dengan kepala yang disenderkan pada tubuh Jani Atar lalu berkata dengan manja.


"Makasih calon istriku, kamu udah perhatian sama aku calon imammu, aku jadi makin sayang deh sama kamu"

__ADS_1


Jani melongo kaget melihat sikaf manja Atar yang tiba-tiba itu pada dirinya. Dan tanpa mereka sadari Jho, Gio, dan Azka yang baru kembali setelah makan siang, melihat dan mendengar adegan itu sontak wajah ketiga pria tampan itu berubah menjadi merah padam.


Bersambung


__ADS_2