
Beberapa hari ini hati Jani terus dilanda dilema yang tak bertepi, hatinya makin kacau dan bingung tiap kali melihat putrinya yang begitu menginginkan keluarga yang utuh dan itu membuat perasaannya makin menggebu-gebu hingga akhirnya Jani memutuskan untuk mencoba menerima tawaran Atar.
Dia ingin mencoba membuka hatinya untuk sahabat masa kecilnya itu. Jani lalu mengajak Atar ketemuan di sebuah kedai bakso yang terkenal enak ditempat itu, untuk membicarakan soal ini. Mereka lalu duduk berhadapan setelah memesan bakso dan es jeruk.
Tak berapa lama pesanan mereka datang, Jani yang merasa grogi untuk memulai pembicaraan lalu dia terus mengulur-ngulur waktu dengan fokus makan bakso dan minum es jeruknya. Sementara Atar terus memperhatikan Jani sambil makan bakso yang ada dihadapannya.
"Sebenarnya ada apa kamu ngajak ketemuan? Apa kamu lagi butuh uang buat Shabira?"
Spontan Jani langsung menggelengkan kepalanya sambil berkata 'Tidak' dengan mulut penuh makanan.
"Tidak, tidak bukan itu"
"Kalau bukan itu lalu apa? Kenapa dari tadi kamu cuma diam aja tanpa berkata apa pun?"
Jani lalu menghentikan aktifitas makannya, sekilas dia melirik kearah Atar kemudian menunduk, rona merah di pipinya mulai samar-samar terlihat tatkala dia hendak memulai pembicaraan.
"Belakangan ini aku lihat kamu semakin dekat dan akrab sama Shabira..." kalimat Jani terhenti karena Atar memotong pembicaraannya.
"Aku kan ayahnya jadi wa... " sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya Atar terpaksa diam karena Jani memberi isyarat pada Atar untuk tak melanjutkan ucapannya sambil mendelikan kedua bola matanya.
"Gak usah dilanjutin ucapannya. Shabira itu anakku, kamu adalah sahabat masa kecilku aku ngerasa aneh denger kamu nyebut ayah, ayah kaya gitu... " Jani jadi cemberut.
"Aku jadi ilfeel sama kamu karena kita pernah melakukan...hingga adanya Shabira" sambungnya dengan memelankan suaranya dan tak mau mengucapkan itu hingga dia melewati ucapannya, tapi Atar masih sempat mendengar.
Atar jadi menunduk sedih. Suasana pun jadi hening dalam waktu seperkian menit.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Atar tak semangat.
Jani menarik nafas panjang dan dia mulai mengutarakan maksud hatinya dengan intonasi pelan.
"Aku melihat sepertinya Shabira dan kamu saling membutuhkan, rasanya sangat egois jika aku memisahkan kalian. Hidupku sudah terlanjur seperti ini, aku tak punya keinginan lain selain hanya ingin membahagiakan Shabira jadi..."
"Jadi apa?"
"Sepertinya aku akan memberimu kesempatan untuk jadi bagian dari hidup aku dan Shabira... "
Atar langsung mendelikan kedua bola matanya saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Jani, seperti mendapat setitik harapan yang terlihat samar-samar dan semakin nyata, dia lalu bertanya dengan mata yang berbinar-binar, "Maksud kamu menjadi bagian hidupmu dan Shabira itu seperti apa?"
Rinjani lalu menunduk sambil menjawab pertanyaan Atar dengan wajah datarnya. "Aku mau menerima tawaranmu, aku mau menikah denganmu dengan syarat... "
Atar jadi kegirangan bukan main saat Jani memberi lampu hijau akan terbalasnya cinta dan keinginannya untuk menikahi Rinjani, sontak dia langsung menautkan kesepuluh jarinya dijari jemari jenjang dan lentik milik Jani.
__ADS_1
"Apa kamu serius dengan ucapan kamu ini, Jani?" tanya Atar merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Jani menatap kedua netra Atar yang berbinar-binar, dengan tatapan datar lalu dia mengangguk.
"Lalu syaratnya apa agar kamu mau menikah denganku? Apa pun syaratnya aku akan melakukannya, Jani" tanya Atar.
"Aku merasa canggung dan tak nyaman jika kita menjalani hubungan lebih dari sekedar persahabatan, aku mau kamu buat aku merasa nyaman ada didekatmu, buatlah aku jatuh cinta padamu karena saat ini perasaanku biasa saja sama kamu"
"Iya, Jani. Aku akan mencoba membuatmu jatuh hati padaku, aku akan...." kalimat Atar terpotong oleh Jani.
"Buat aku jatuh cinta padamu dengan batas waktu yang aku tentukan jika kamu tak bisa membuatku cinta sama kamu setelah batas waktunya habis maka aku tidak mau menikah dengan kamu" ucap Jani dengan tegas hingga sedikit menciutkan hati pria itu.
Tapi tekad Atar tak berhenti sampai disitu meski tadi sempat terpatahkan oleh ucapan Jani, dengan keyakinan dan tekad yang membara Atar lalu menyetujui kesepakatan itu demi cintanya pada Jani dan juga demi buah hati mereka.
"Oke, aku setuju, aku akan menaklukan hati kamu, Jani" ucap Atar dengan semangat yang membara dan menantang.
Jani hanya menanggapi dengan senyuman simpul yang terbingkai disudut bibirnya.
"Lalu batas waktunya sampai kapan?" tanya Atar.
"Sampai kamu menyelesaikan proyek pembangunanmu" jawab Jani.
"Proyek pembangunannya sudah mencapai enam puluh persen itu artinya tinggal empat puluh persen lagi akan rampung dan perkiraan selesainya sekitar dua bulanan lagi jadi aku punya kesempatan sekitar dua bulanan lagi untuk menaklukan hatimu" Atar bermonolog.
"Jadi deal kan sekarang kita pacaran dulu aja supaya hatimu lebih mantap lagi padaku" kata Atar yang kemudian di anggukan oleh Jani.
"Maaf Jani, saat ini aku tak bisa meresmikan hubungan kita di khalayak umum karena Gio, Jho dan Azka pasti menentangnya dari itu bersediakah kamu menjalani hubungan ini secara Backstreet dulu?"
Jani yang paham akan situasi mereka lalu menyetujui dengan hubungan Backstreet itu. Dan sejak hari itu mereka memulai hubungan rahasia mereka dibelakang Gio, Azka dan Jho.
Dari itu pula Atar mulai menyusun rencana untuk menaklukan hati seorang Rinjani Maharani yang merupakan ibu dari darah dagingnya.
...****************...
Beberapa hari ini Atar terus ditelepon oleh Pak Wilyam, dia terus menanyakan pembangunan castile yang hingga detik ini masih belum ada kabarnya dari para arsitek muda itu. Akhirnya Atar terpaksa harus segera menjalankan rencana C nya yang sempat tertunda gara-gara banyak hal.
Kemudian siang ini Atar akan mengajak Pak Husen untuk mulai menjalankan rencana C nya karena Pak Husen adalah kunci utama akan keberhasilan rencananya itu.
Dia datang kepanti asuhan untuk menemui Pak Husen, karena Pak Husen yang saat itu sedang mengalami Flu terpaksa libur dulu dirumah makan dan sebagai gantinya Jani dan mbak Tari yang membuka rumah makan itu.
Diruang tamu dengan sofa berwarna biru tua yang senada dengan warna dinding telah duduk seorang laki-laki tua yang ditemani oleh istrinya, mereka itu adalah Bu Retno dan Pak Husen. Atar yang baru datang segera dipersilahkan duduk disofa.
__ADS_1
"Sebenarnya ada maksud apa atas kedatangan nak Atar ini?" tanya Pak Husen mengawali pembicaraan.
Atar sebenarnya agak sungkan untuk membicarakan soal ini pasalnya ini berkaitan dengan keberlangsungan hidup anak-anak panti dan karena Bu Retno dan Pak Husen juga selama ini sudah banyak membantu membesarkan anaknya Atar.
"Sebelumnya saya mau minta maaf karena saya sudah mengganggu istirahat bapak yang katanya bapak sedang sakit kan?"
Laki-laki tua itu lalu menyunggingkan senyuman hangat dan ramahnya pada Atar yang kala itu terlihat merasa tak enak hati pada dirinya.
"Tidak apa-apa nak, bapak udah baikan ko, ini flunya udah beberapa hari jadi tinggal pemulihan aja" tutur ramah Pak Husen.
Atar lalu membalas senyuman Pak Husen kemudian mengangguk.
"Pak, Bu, sekarangkan bapak sama ibu sudah tahu kalau saya... saya ini ayah kandungnya Shabira...dari itu saya ucapin terimakasih banyak karena bapak dan ibu selama ini sudah menjaga dan membesarkan Shabira, maafkan atas semua kesalahan saya" ucap Atar penuh penyesalan sambil menunduk dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Kamu tidak perlu minta maaf sama kami karena kamu tidak punya salah pada kami. Sekarang kami sudah tahu apa yang terjadi pada kamu dan Jani karena Jani sudah menceritakan semuanya pada kami, bapak dan ibu saat ini cuma bisa berharap mulai saat ini kamu jangan meninggalkan Shabira dan Jani lagi, bapak berharap kamu bertanggung jawab pada mereka"
"Iya Pak, saya ingin bertanggung jawab pada Shabira dan Jani tapi saat ini langkahku tertahan karena suatu masalah, saya berharap bapak bisa membantu menyelesaikan masalahku ini" pinta Atar.
"Apa yang bisa bapak bantu untukmu nak?"
"Sebentar lagi proyek pembangunan saya akan segera selesai, rencananya saat saya akan kembali pulang kerumah saya di Bogor saya berencana untuk membawa Shabira dan Jani tapi...." Atar menggantung kalimatnya sejenak.
"Tapi Jani pasti menolak karena dia tak akan mau meninggalkan panti asuhan ini ditambah ketiga sahabat saya pasti menentang ini karena jika saya berhasil membawa Shabira dan Jani pulang, orang tuaku dan bapak kandungnya Jani yang ada di Bogor pasti menikahkan saya dan Jani saat orang tua kami tahu saya dan Jani sudah punya anak diluar nikah, sementara ketiga teman saya pasti menentang pernikahan kami karena mereka bertiga menyukai Jani"
Atar sebenarnya merasa malu harus mengatakan ini di hadapan orang tua angkat Jani tapi dia harus segera menyelesaikan masalah ini dan harus mengesampingkan dulu rasa malu akan aibnya itu.
"Di Bogor saya tinggal sama orang tua saya dan kakak saya meski begitu sebenarnya saya sudah menyiapkan sebuah rumah tanpa sepengetahuan siapa pun, rencananya rumah itu akan saya tempati dengan istri dan anak saya kelak jika saya sudah menikah tapi berhubung ada masalah sepertinya saya harus mewakafkan rumah itu untuk panti asuhan milik bapak" tutur Atar.
"Lah kenapa nak Atar mau mewakafkan rumah itu buat panti asuhan ini padahal rumah itu untuk masa depan nak Atar?" tanya Pak Husen keheranan.
"Karena saat saya harus kembali pulang ke Bogor saya mau bapak, ibu dan semua orang-orang di panti ini ikut pulang dengan saya dengan begitu Jani pasti mau tak mau akan pulang ke keluarganya di Bogor dan ini juga sebagai bentuk ucapan terimakasih saya pada bapak dan ibu karena selama ini sudah menjaga Shabira dan Jani"
"Kalau begitu bagaimana dengan rumah kami dan rumah makan kami dikampung ini kalau kami harus pindah ke Bogor?"
"Saya harap bapak mau menjual lahan dan rumah makan itu kepada investor kami, saya berjanji di Bogor nanti saya akan menjadi donatur tetap untuk panti asuhan bapak dan jika bapak mau buka rumah makan lagi di Bogor nanti saya akan carikan lahan yang bagus dan strategis untuk tempat usaha bapak" bujuk Atar.
Sepasang suami istri tua itu saling bertatapan karena ragu dan bingung jika harus menerima tawaran dari Atar. Atar yang bisa menangkap keraguan mereka lalu dia terus meyakinkan mereka. Tak lupa Atar memberikan sertifikat rumah dan tanahnya di bogor yang tadi ia ceritakan.
Saat dia pulang ke Bogor karena ibunya sakit dan karena Atar gagal membujuk Pak Wilyam untuk tidak menggusur rumah makan itu jadi terpaksa dia harus menjalankan rencana C nya, Atar juga sempat membawa sertifikat rumahnya untuk meyakinkan Pak Husen dan Bu Retno.
Sepasang suami istri tua itu lalu berunding sejenak untuk menerima atau menolak tawaran dari Atar. Setelah berpikir bolak balik akhirnya mereka setuju menjual rumah makan itu pada investor dan bersedia ikut pulang ke Bogor jika Atar dan kawan-kawan sudah selesai menyelesaikan proyek pembangunannya ditempat ini.
__ADS_1
Bersambung