
Mereka terus memaksaku meski aku terus menolak mentah-mentah keinginan mereka hingga tiba-tiba Pak Wiguna meringis kesakitan, istrinya bilang itu karena dia mengidap penyakit jantung, dia tak boleh punya banyak pikiran karena ini akan berpengaruh pada kesehatannya.
Tapi masalah tak bisa dihindari karena nasi sudah menjadi bubur, Reza putranya Pak Wiguna telah menghamili Raisa namun dia malah kabur dihari pernikahannya dan ini membuat Pak Wiguna terus memikirkan pernikahan putranya itu.
Aku yang merasa iba pada beliau akhirnya bersedia mewakilkan Reza untuk mengucapkan ijab kabul dengan syarat setelah ini aku tak mau berurusan lagi dengan mereka karena aku tak mau Jani sampai tahu soal ini.
Acara ijab kabul pun dilangsungkan di kediaman keluarga Raisa, tapi acara tak berjalan lancar karena aku terus kepikiran sama istriku, setiap aku menyebut nama pengantin wanitanya selalu nama Rinjani Maharani binti Hadi Himawan yang selalu keluar dari mulutku tanpa sadar.
Semua sudah memperingatiku dengan berbagai cara agar aku tak salah lagi mengucap nama pengantin wanitanya namun semua itu sia-sia karena aku tetap menyebut nama Rinjani walau acara ijab kabulnya sudah diulang hingga sepuluh kali.
Raisa dan semua pihak pengantin jadi sedih karena aku yang selalu salah. Aku pun mendapat peringatan keras dari penghulu agar tak salah lagi menyebut nama pengantin wanitanya, penghulu memberiku kesempatan sepuluh menit untuk menghapal kalimat ijab kabulnya padaku, jika yang terakhir ini masih salah maka penghulunya akan pindah ketempat lain untuk menikahkan pengantin yang lainnya dan membatalkan pernikahan Raisa dan Reza.
Mereka tak mau kesalahan ini terjadi lagi akhirnya mereka memikirkan cara agar aku tak mengulang lagi kesalahanku. Kemudian mereka memasang earphone dan menyuruhku untuk mengikuti kalimat yang nanti akan terdengar di earphone yang terpasang ditelingaku.
Sepuluh menit kemudian acara pun dilanjut dan aku akhirnya berhasil melafazkan ijab kabul dengan benar berkat mendengarkan kalimat yang terdengar di earphone. Setelah acara itu selesai aku segera berpamitan dari tempat itu karena aku tak mau berlama-lama disini.
Meski ini acara pernikahan Raisa dan Reza tapi hatiku tetap merasa bersalah pada Jani karena aku menggantikan pengantin prianya walau pun ini hanya pura-pura, aku terlalu takut Jani mengetahui ini dan dia marah padaku karena salah sangka padaku.
"Pak, acara ijab kabulnya sudah selesai jadi saya mau pamit, saya tidak bisa berlama-lama disini" ucapku berpamitan pada semua orang tua mempelai pengantin.
"Nak Atar, tolong kami sekali lagi, tetaplah kamu disini sampai acara selesai, kalau Raisa dipelaminan sendirian maka itu akan menjadi pertanyaan bagi para tamu undangan, apa kamu tega melihat Raisa sedih karena menanggung semua ini sendirian" bujuk ibunya Raisa.
Kutatap wajah Raisa dari kejauhan, yang kala itu dia sedang duduk dipelaminan sendirian, ini adalah hari pernikahannya harusnya kebahagiaan terbingkai diwajahnya tapi yang kulihat hanya kesedihan yang tergambar diwajahnya, hatiku pun terenyuh melihat kemalangan wanita itu. Tapi rasa cintaku terhadap Jani terlalu besar hingga bisa mengalahkan semua gemuruh perasaan yang bergejolak dihatiku, hingga aku menutup mata dan hatiku untuk tak melihat semuanya.
Namun lagi dan lagi para orang tua itu terus memaksaku dengan terus memelas hingga akhirnya aku luluh juga. Aku pun tetap berada ditemukan itu hingga acara selesai. Tapi, mereka melanggar perjanjian lagi setelah acara selesai pun aku tak bisa kembali ketempat penginapan ku.
Mereka memaksaku untuk tidur satu kamar dengan Raisa karena ini sudah larut malam dan diluar sedang turun hujan deras, entah rencana apa lagi yang mereka susun hingga menyuruh Raisa berpakaian amat mini seperti baju yang kekurangan bahan seolah dia hendak menggodaku dengan kemolekan tubuhnya. Hatiku benar-benar kesal melihat pemandangan ini rasa bersalah terhadap Jani pun semakin menyeruak dihati ini.
Aku pun segera mengambil bantal dan selimut kemudian segera berpura-pura tidur dilantai karena aku tak mau melihat atau pun berbicara dengan Raisa. Menjelang pagi buta aku terbangun dari tidurku, ku lirik Raisa masih terbaring dalam peraduannya dia nampaknya masih terbuai dalam mimpinya.
__ADS_1
Aku pun bergegas bangun dari tidurku, dengan mengendap-endap aku perlahan keluar dari kamar karena tak mau Raisa terbangun dari tidurnya. Diluar kamar masih nampak lengang dan sepi, sepertinya mereka semua masih terlelap tidur dan ini kesempatan bagus untukku agar bisa segera kabur dari rumah ini.
Tanpa berpikir panjang lagi setelah berhasil kabur dari rumah Raisa aku bergegas pergi ke penginapan dan mengambil semua barang-barangku setelah itu aku kembali pulang ke Bogor dengan tak lupa aku langsung membatalkan kerja sama perusahan dengan pihak Pak Wiguna secara sepihak karena aku tak mau berurusan lagi dengan mereka.
Sebab aku tak mau gara-gara ini pernikahanku dengan Jani jadi hancur. Aku pun memutuskan untuk merahasiakan ini dari Jani dan semua orang yang mengenalku.
,
,
Flashback Off
,
,
"Jadi itulah yang terjadi antara aku dan Raisa" ucapku.
"Maafkan aku Jani, aku terlalu takut kehilanganmu. Waktu 10 tahun sudah cukup bagiku untuk dijauhkan dari kamu, aku tak mau ini terulang lagi jadi aku tak mau kehilangan kamu lagi karena aku sangat menyayanginmu, dimataku kamulah yang paling sempurna yang tak akan bisa digantikan oleh siapa pun"
"Tapi tetap saja kamu salah, kamu tidak jujur padaku dan kamu tidak bisa tegas pada mereka untuk menolak pernikahan itu. Kalau sudah begini kamu mau apakan si Raisa itu?"
"Aku akan jelaskan semua ini pada Raisa, Ibu dan semuanya kalau pernikahanku dengan Raisa itu tidak sah sebab yang menikah saat itu adalah Raisa dan Reza, aku hanya perantara yang mewakili pernikahan mereka jadi Raisa bukanlah istriku"
"Kalau Raisa tetap kekeh mengaku kamu ini suaminya dia gimana?"
Aku lalu menatap kedua netra Jani dengan begitu dalam, kupegang erat kedua tangannya seraya berkata, "Makannya dari itu kamu harus tetap percaya padaku apa pun yang terjadi, aku hanya mencintai kamu dan tak sedikit pun punya niat untuk selingkuh dari kamu dan dari itu juga tolong bantu aku untuk meyakinkan semua kalau Raisa itu bukan istriku karena istriku hanya kamu seorang, Jani"
Lalu Jani menatapku dengan tatapan penuh curiga sambil mendekatkan wajah cantiknya ke wajahku dan hanya menyisakan jarak 5 cm saja.
__ADS_1
"Apa kamu yakin kamu tidak melakukan apa pun dikamar itu dengan Raisa?"
"Tentu saja tidak, bagiku kamu sudah cukup segala-galanya, aku hanya butuh kamu aku tak butuh wanita lain"
Jani semakin memicingkan kedua matanya dan menatapku dengan tatapan mengintimidasi. "Kali ini aku akan berusaha percaya sama kamu tapi jika kamu mencoba mengkhianati kepercayaanku maka jangan harap aku akan memaafkanmu"
"Iya, iya, sayang aku janji tidak akan mengkhianati kepercayaanmu padaku, jadi sekarang kamu tidak marah lagi sama aku kan?"
Jani hanya mengangguk perlahan, semburat cahaya kebahagian terpancar dari aura wajahku, aku langsung mendekap hangat tubuh mungil itu.
...****************...
Setelah mendapat kepercayaan dari Jani aku tak menyia-nyiakan semua ini, aku pun segera menyelesaikan masalahku dengan Raisa dan menjelaskan semuanya dengan gamblang tapi nyatanya semua tak semudah membalikan telapak tangan.
Rupanya Raisa sudah menyiapkan segala cara agar dia diterima dikeluarga ini sebagai istriku dan juga ayah dari anaknya. Dia terus melontarkan bualan kosong yang terus memojokan ku hingga aku dan semuanya bisa menerima dia masuk kedalam kehidupan kami dengan cara memfitnahku dan meneteskan air mata palsu yang membuat semua orang iba padanya.
"Iya, aku memang pernah hamil oleh mas Reza tapi aku keguguran hingga kehilangan bayiku, setelah mas Reza meninggalkanku aku sering bertemu dengan kamu mas Atar, suatu ketika kita malah melakukan hubungan itu hingga aku hamil lagi, aku lalu memintamu untuk menikahiku sepuluh bulan yang lalu, setelah kita menikah kamu malah meninggakanku seperti mas Reza" tutur Raisa sambil menangis.
"Kamu jangan memfitnah aku Raisa, itu semua tidak benar, aku hanya bertemu denganmu sekali dan itu pun kita tak melakukan hubungan itu" bantah ku.
"Lalu siapa yang akan mempercayai ucapanmu, mas? Bukankah selama ini kamu sering pergi keluar kota untuk menemuiku dengan alasan pada istrimu bahwa kamu ada pekerjaan diluar kota" ujar Raisa membuat Jani makin Ragu padaku. Aku makin kesal pada Raisa, kulontarkan kata-kata pedas padanya hingga dia kembali meneteskan air matanya.
Dan air mata palsu Raisa membuat semua orang meragu padaku hingga Jani pun sepertinya goyah karena ucapan Raisa. Tak mau kepercayaan Jani runtuh padaku, aku terus meyakinkan Jani tapi dia tetap bergeming dan tak merespon ku seolah dia lebih percaya pada Raisa dari pada aku.
Aku yang kesal dan marah karena itu lalu membentak Raisa hingga dia menangis sesegukan dan pada akhirnya Raisa menyudahi semua dengan menantang ku untuk melakukan tes DNA terhadap bayinya.
Bukannya merasa tenang dengan adanya tes DNA itu tapi hatiku mendadak jadi tak tentang apa lagi ketika Raisa menantang ku melakukan tes DNA dengan begitu yakin dan percaya dirinya. Firasatku mengatakan kalau Raisa punya rencana lain dibalik tes DNA itu.
Kalau tidak begitu mana mungkin dia begitu yakin dan percaya diri untuk melakukan tes DNA itu sebab sudah pasti anaknya bukanlah darah dagingku karena aku sangat yakin aku tak pernah berhubungan badan dengannya.
__ADS_1
Bersambung