Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Tetap pada pendirian


__ADS_3

Setelah mengadakan kesepakatan antara Atar dan Pak Husen, dia kembali pulang ke Vila. Dirumah itu sudah ada Gio, Azka dan Jho, mereka tengah serius berbincang dan itu mengundang rasa penasaran dibenak Atar. Dia lalu ikut bergabung.


"Kalian lagi ngomongin apaan sih, ko serius amat?" tanya Atar sambil duduk disofa bersama mereka.


"Aku tuh, lagi pusing nih, Pak Wilyam neleponin melulu nanyain soal pembangunan Castile padahal kita belum memulainya sama sekali" jawab Azka dengan mimik wajah frustasi.


Atar langsung menarik garis lengkung dibibirnya seraya berkata, "Kalian jangan khawatir masalah itu sudah beres tinggal langsung pengerjaannya aja"


Setelah itu dia mengeluarkan map didalam tas selempangnya lalu menyimpannya dimeja yang ada dihadapan mereka.


"Pak Husen udah setuju untuk menjual lahan rumah makan itu, kita tinggal mencairkan uang dan membayarnya saja karena beliau sudah menandatangani kesepakatan jual beli tanahnya" tutur Atar.


"Ko bisa sih? Bagaimana caranya hingga Pak Husen bisa berubah pikiran?" tanya Azka.


"Aku kasih penawaran lah. Rencananya aku akan mewakafkan rumahku di Bogor untuk panti asuhan milik Pak Husen, aku juga akan carikan lahan strategis untuk Pak Husen membuka usaha lestoran dan setelah banyak pertimbangan akhirnya beliau bersedia menjual rumah makan dan lahannya itu" jawab Atar.


"Eh! Tunggu ko tiba-tiba kamu mau mewakafkan rumahmu sih? Kenapa juga kamu harus memboyong orang-orang panti ke Bogor? Jangan-jangan kamu ingin kenalin Shabira pada orang tuamu dan juga bapaknya si Jani ya?" tanya Gio dengan tatapan mengintimidasi.


Atar lalu menunduk pasrah karena terkaan Gio itu benar adanya dan Atar sendiri tak mungkin selamanya akan merahasiakan Shabira dari keluarganya.


"Shabira itu putriku tak mungkin aku merahasiakan dia selamanya dari keluargaku karena lama-kelamaan pasti ketahuan juga" ucap Atar dengan lirih dan sedih.


Brak!!


Dengan spontan Gio memukul meja, wajahnya berubah jadi merah padam.


"Aku gak mau tahu Atar! Keluarga kamu dan keluarga Jani tak boleh tahu soal Shabira karena kami tahu dengan keluarga kalian mengetahui soal itu udah pasti kamu dan Jani pasti dinikahkan oleh keluarga kalian, kalau begitu lalu bagaimana dengan perasaan kami?" bentak Gio yang merasa takut Jani akan menikah dengan Atar.


Semua mata lalu menatap Atar dengan tatapan sinis yang tersirat rasa penuh ketidak relakan atas keputusan Atar itu. Kemudian Atar menatap nanar ketiga sahabatnya itu, Atar tahu kalau hal ini akan terjadi kalau dia nekad untuk memperkenalkan Shabira ke keluarganya lalu menikah dengan Jani pasti ketiga sahabatnya akan memusuhi dia.


"Kenapa kalian semua egois? Shabira terlahir jauh sebelum kalian mencintai Jani jadi tolong jangan salahkan aku jika aku lebih berhak memiliki Jani karena aku mau menebus semua dosaku padanya, tolong biarkan aku menikah dengan Jani karena putriku sangat membutuhkan ayah dan bundanya" Atar memelas dengan netra yang berkaca-kaca, berharap ketiga temannya itu tak menghalangi hubungannya dengan Jani.


Meski Atar benar-benar bersungguh-sungguh meminta pengertian mereka tetap saja mereka tak bisa menerima kalau Atar dan Jani menikah apalagi pernikahannya karena didasari oleh adanya Shabira yang diklaim sebagai anak yang terlahir diluar nikah karena hubungan terlarang antara Atar dan Jani yang terjadi sepuluh tahun lalu.


"Maafkan aku teman-teman, aku tahu kalian pasti sangat marah padaku dan kalian pasti membenciku tapi aku hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah kubuat pada Jani dan Shabira, aku tak mau aib ini ditanggung oleh Jani sendirian selama hidupnya, semua harus tahu kalau ini adalah kesalahanku jadi aku juga harus dihukum, keputusanku sudah bulat aku akan tetap menikahi Jani meski tanpa restu dari kalian, aku mohon kalian memakluminya dan dengan sepenuh hatiku aku benar-benar minta maaf pada kalian"

__ADS_1


Gio, Jho dan Azka sangat marah akan keputusan nekadnya Atar itu, merasa muak dengan keputusan Atar akhirnya mereka meninggalkan Atar.


...****************...


Waktu tak pernah berhenti berputar meski itu hanya sedetik. Atar yang tetap bertekad akan keputusannya dan Gio, Jho serta Azka yang tinggi akan egonya, mereka tetap mempertahankan egonya masing-masing kemudian ketiga pria itu memusuhi Atar kembali dengan harapan Atar akan membatalkan niatnya untuk menikahi Jani.


Tapi rupanya itu tak bisa menggoyahkan sedikit pun keputusan Atar, dia tetap pada pendiriannya yang ingin menikahi Jani dan tentu saja itu semakin membuat hati ke tiga pria itu berang akhirnya mereka bertiga bersepakat untuk memutuskan hubungan persahabatan mereka dengan Atar.


Kerja sama dengan Atar pun akan diakhiri setelah proyek pembangunan tempat parawisata ini selesai, sebenarnya mereka ingin segera mengakhiri hubungan kerja sama dengan Atar tapi karena mereka harus profesional dalam bekerja jadi terpaksa sebelum proyek pembangunan tempat parawisata itu selesai, mereka harus tetap bekerja sama dengan Atar.


Mereka bertiga diam-diam menghitung aset perusahaan yang dibangun berempat hingga bisa sesukses sekarang ini kemudian mereka membagi dengan adil pada setiap orangnya, setelah ditetapkan hasil dan jumlahnya ketiga pria itu bersepakat akan memberikan aset perusahaan bagian Atar.


Ketika mereka berempat pulang kerja dan berkumpul diruang tengah, Jho lalu memberikan sebuah map yang isinya berkas-berkas aset perusahaan untuk bagian Atar.


"Apa ini?" tanya Atar keheranan.


"Itu adalah aset perusahaan yang kita bangun bersama kami sudah membaginya secara adil dan itu bagian kamu" jelas Jho dengan raut wajah sinis.


"Kenapa kalian memberikan ini padaku?" tanya Atar, perasaannya mulai tak enak.


Seketika Atar lalu menunduk sedih, hatinya benar-benar sakit seperti mengalami putus cinta berkali-kali dalam waktu yang berdekatan, bukan keinginan hatinya untuk mengakhiri persahabatan yang sudah terjalin dari mereka masih kecil hingga kini mereka sudah dewasa, tapi karena keegoan para sahabatnya yang tinggi yang membuat dia harus pasrah menerima semua ini.


"Aku minta maaf sudah membuat kalian sakit hati, meski kalian berkata seperti itu padaku dan akan mengakhiri tali silaturahmi kita, bagiku tidak akan seperti itu apa pun yang terjadi kalian tetap sahabat terbaikku, tapi aku juga minta maaf karena aku tak akan merubah keputusanku untuk menikahi Jani karena aku sudah berjanji pada Shabira maka aku akan menepati janjiku pada putriku" lirih Atar sambil menunduk sedih.


Tentu saja perkataan Atar itu membuat ketiga pria itu merasa muak, akhirnya mereka pergi ke kamar masing-masing tanpa mempedulikan perasaan Atar yang tidak karuan karena sedih dan dilema dengan masalah persahabatan dan cintanya.


Beberapa hari kemudian.


Waktu jam makan siang telah tiba, kali ini Atar mengajak Jani untuk makan siang bersama karena ada hal yang ingin dia sampaikan pada Jani. Mereka akhirnya janjian bertemu di sebuah warteg yang ada didesa tetangga.


"Hi Jani. Apa kamu sudah lama menungguku?" sapa Atar langsung duduk berhadapan dengan Jani sambil meletakan tas selempangnya diatas meja.


"Nggak, aku juga baru datang ko" jawab Jani.


"Apa kamu sudah pesan makanan?"

__ADS_1


Jani langsung menggelengkan kepalanya pertanda dia belum memesan makanan. Atar kemudian memesan makanan sesuai selera mereka, sambil menunggu pesanan datang mereka lalu berbincang.


"Katanya ada yang ingin kamu omongin. Emang kamu mau ngomong apa?" tanya Jani.


"Oh iya soal itu aku mau ngasih tahu kamu aja, tolong sampaikan ke Pak Husen rumah makan itu akan segera digusur jadi tolong barang-barangnya segera dirapihkan" jawab Atar yang kemudian diberi anggukan oleh Jani.


"Apa Pak Husen benar-benar akan membawa orang-orang panti pindah ke Bogor?"


"Iya benar. Emang kenapa kamu nanya kaya gitu, kamu ko kaya ragu gitu?"


Jani tak langsung menjawab raut wajahnya jadi murung dan sedih itu semua karena dia teringat kembali pada keluarganya di Bogor, ingat pada Pak Hadi, Om Toriq, Om Irwan dan kakek Muiz. Setelah 10 tahun berlalu apa kabarnya dengan mereka? Ada rasa rindu yang kini melanda hatinya, rindu pada mereka yang ia tinggalkan selama 10 tahun terakhir ini.


Atar menyadari ada kesedihan yang terbingkai diwajah cantik itu, dia lalu menggenggam lembut kedua tangan Jani yang saat itu menelungkup diatas meja. Jani tak merespon apa pun, dia malah membiarkan tangan kekar itu menyentuh tangannya karena Jani terlalu terhanyut dalam kesedihannya.


"Ini saatnya kamu pulang, kembalilah pada keluargamu, Om Hadi sangat merindukan kamu Jani. Apa kamu tak ingin bertemu lagi dengan bapakmu, Jani?" ucap Atar.


"Aku takut Atar, aku takut bapak marah karena saat aku kembali pulang pasti aku akan membawa Shabira. Apa yang harus kukatakan pada bapak tentang Shabira?" ujar Jani dengan mata berkaca-kaca.


Atar semakin mengeratkan sentuhan tangannya pada tangan Jani, dia lalu menguatkan dan meyakinkan Jani.


"Ini kesalahanku Jani, jadi aku akan membelamu dan akan selalu ada disampingmu untuk menghadapi semua ini, aku akan mengakui kesalahanku padamu di hadapan bapakmu, aku akan bertanggung jawab padamu jadi kamu jangan takut pada apa pun lagi, percayalah padaku"


Jani menatap mata Atar yang begitu meyakinkan meski tetap saja ada rasa takut dan keraguan dihati Jani tapi dia sadar tak mungkin selamanya dia terus lari dari masalah, mau tak mau Jani harus menyelesaikan masalahnya ini Agar tak ada penyesalan dalam hidupnya kelak.


"Tolong Jani, terimalah aku sebagai suamimu agar aku bisa menepati janjiku pada putri kita. Aku sudah berjanji pada Shabira kalau aku akan menikahi kamu, kita akan tinggal bersama dan hidup bahagia jadi aku mohon dengan amat sangat terimalah cintaku, terimalah aku sebagai suami dengan sepenuh hatimu" pinta Atar dengan wajah memelas.


Jani menarik napas panjang kemudian dia mengeluarkannya dengan perlahan, ditatapnya wajah tampan pria yang ada dihadapannya kini.


"Tolong beri aku waktu untuk menjawab karena aku masih dilema" ujar Jani.


Atar menyunggingkan senyuman kecil sambil mengangguk. Tak berapa lama makanan pun datang. Mereka lalu menarik tangan mereka kebawah meja, tepatnya diatas paha mereka. Setelah pelayan menyiapkan pesanan mereka dimeja, mereka langsung makan siang.


Bersambung


Mohon tinggalkan jejak kalau malas komen tekan like saja sudah cukup, terimakasih buat semua yang sudah mendukung karya ini🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2