Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Tak sadarkan diri


__ADS_3

Siang ini Jidan dan Shabira baru pulang dari sekolah, setelah sampai dirumah mereka segera mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian biasa lalu Jidan dan Shabira bermain di teras rumah.


Tak berapa lama Atar baru kembali setelah hatinya sedikit tenang. Namun, pikirannya masih melayang hingga dia tak bisa fokus bahkan Atar melewati kedua anaknya begitu saja tanpa menyapa mereka, Shabira yang merasa keheranan lalu menyapa Atar, hingga pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik pada sumber suara.


"Ayah, Apa ayah habis menjemput bunda? Terus bundanya mana?"


"Bunda masih kangen sama kakek jadi bunda belum mau pulang" Setelah menjawab Atar lalu masuk kedalam rumah.


"Ayah ko kelihatan aneh banget ya, sebenarnya ayah kenapa sih?" tanya Shabira.


"Mungkin ayah lagi ada masalah sama bunda" jawab Jidan dengan asal.


Gadis kecil itu lalu berdecak sambil menatap punggung ayahnya berlalu.


Satu hari kemudian. Jani sedang berbaring diatas tempat tidurnya, kedua netranya terus menatap kelangit-langit kamarnya. Seketika itu pula bayangan Atar saat dia menangis terbayang kembali dipelupuk matanya.


Jani membuang nafas kasar lalu bergumam, "Aku baru pertama kalinya melihat dia menangis seperti itu. Apa yang diucapkannya itu benar-benar kata hatinya? Aku melihat dia amat putus asa. Sebenarnya aku tak percaya dengan wanita itu, aku percaya suamiku hanya saja wanita tidak tahu malu itu terus menggoda suamiku"


Jani lalu bergelud dengan pikirannya sendiri, dia terus berusaha mencerna, menimbang-nimbang dan meyakinkan hatinya kalau suaminya itu amat tulus padanya meski wanita itu terus mengikis kepercayaan Jani agar dia tak mempercayai lagi suaminya hingga rumah tangganya makin retak dan hancur.


"Kenapa Atar begitu yakin kalau Alif itu bukan anak kandungnya? Kalau memang Alif bukan anak kandung Atar lalu kenapa juga hasil Tes DNA itu harus positif?"


Jani semakin bingung dengan masalahnya tapi disisi lain dia begitu penasaran kenapa Atar begitu yakin kalau Alif itu bukan anak kandungnya meski hingga detik ini dia masih belum bisa membuktikan fakta yang sebenarnya.


"Aku harus bertanya pada suamiku kenapa dia begitu yakin Alif bukan anaknya sementara hasil Tes DNAnya menyatakan kalau Alif itu anak kandungnya. Ya, aku


harus menanyakan soal itu pada dia. Sebaiknya besok aku pulang saja kerumah" tekad Jani.


...****************...


Esok hari kemudian


Pagi ini Atar masih berbaring dikamarnya bahkan kali ini dia tak menyiapkan sarapan pagi untuk kedua anaknya hingga Shabira dan Jidan tidak bisa sarapan karena tak ada makanan yang tersaji dimeja makan, mereka juga tak meminta uang saku pada Atar untuk pergi kesekolah karena Atar terus tidur saat kedua anaknya memanggil dia hingga akhirnya kedua anak itu memutuskan untuk tidak minta uang, apa lagi pergi kerja sudah pasti dia tidak akan masuk lagi hari ini.


Pria tampan itu masih meringkuk di tempat tidurnya meski dia sudah bangun. Atar merasa hidupnya hampa tanpa Jani, bahkan dia merasa separuh nafasnya telah hilang hingga dia tak bergairah untuk melanjutkan hidupnya dan melupakan kebutuhan fisiknya untuk menerima asupan nutrisi.


Ya, sudah dua hari ini dia tidak berselera untuk makan dan minum padahal tubuhnya membutuhkan energi dari makanan itu karena itu pula wajah Atar terlihat amat pucat sepertinya kalau dia bangun dari tidurnya dia akan lemas karena tak ada asupan nutrisi kedalam tubuhnya.

__ADS_1


Dan itu baru disadari oleh Raisa ketika wanita itu masuk ke kamar Atar untuk mengecek kondisinya sebab pagi ini dia tak terlihat keluar dari kamarnya.


Ceklek!


Pintu kamar pun terbuka, Raisa segera masuk dan menghampiri Atar yang masih meringkuk diatas tempat tidurnya.


"Mas, kenapa kamu tidur terus?" tanya Raisa.


Atar tak menjawab pertanyaan Raisa meski dia mendengar Raisa berbicara padanya, seketika wajah Raisa jadi panik ketika melihat wajah Atar begitu pucat dan bibirnya mengering.


"Mas kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kamu sakit?" tanya Raisa lalu dia menempelkan punggung tangannya dijidat Atar.


"Ya ampun, kenapa badanmu panas banget" ucap Raisa makin cemas dan Khawatir.


Tiba-tiba kepala Atar terasa amat pusing, pandangan matanya mulai kabur dan dengan keadaan lemas dia lalu berkata dengan lirih sambil mengangkat tangannya dengan perlahan.


"Ja.. ni.. Jani.. Jani..jangan tinggalkan aku"


Atar terus mengigau memanggil nama Jani, yang terlihat dimata Atar, wanita yang kini ada di hadapannya itu adalah Jani bukan Raisa, dia hendak menyentuh wanita itu tapi tangannya tak sanggup menggapai karena dia terlalu lemas, akhirnya Raisa mendekatkan tubuhnya pada Atar agar bisa dijangkau oleh pria itu.


"Iya mas, aku disini aku tidak akan meninggalkan kamu" ujar Raisa yang berpura-pura jadi Jani.


"Kamu ingin bicara apa mas? Aku tak bisa mendengar"


Meski Atar terus berusaha berucap tetap saja tak bisa didengar oleh Raisa lalu wanita itu mendekatkan telinganya ke bibir Atar dan tanpa terduga Jani telah kembali pulang, dia langsung mencari suaminya.


Dan Jani lagi-lagi mendapati suaminya tengah berduaan dikamar bersama wanita lain, adegan mereka itu membuat Jani berpikiran negatif, Jani yang sangat marah melihat itu langsung terkulai lemas ke meja rias yang letaknya dekat dengan pintu kamar hingga alat-alat rias miliknya tersenggol dan jatuh ke lantai.


Bruk!


Prank!


Kretak!


Suara benda-benda berjatuhan itu mengalihkan atensi Atar dan Raisa ke sumber suara. Mata Atar yang masih terlihat kabur samar-samar mulai bisa melihat sosok ringkih didekat pintu kamarnya. Menyadari kehadiran Jani didepan pintu dan Raisa yang sedang duduk disampinya yang tengah meringkuk, Atar mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa untuk bangun karena dia akan menghampiri Jani.


Namun, Jani yang pulang karena ingin memaafkan suaminya lagi-lagi dibuat kecewa oleh suaminya hingga kali ini Jani tak bisa lagi memaafkan kesalahan Atar, wanita cantik itu lalu berlari keluar rumah sambil menangis.

__ADS_1


Atar yang menyadari ada kesalah pahaman lagi lalu mengejar Jani tapi naas Atar tak punya tenaga untuk mengejar istrinya akhirnya dia terjatuh dan tidak sadarkan diri. Raisa yang panik lalu segera menelepon orang tua Atar untuk segera datang kerumah.


Sepuluh menit kemudian Rumi dan Arya baru sampai dirumah Atar, mereka langsung membawa Atar kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit Atar segera ditangani oleh Dokter, sementara Rumi, Arya, Raisa dan bayinya hanya bisa menunggu didepan ruang UGD.


"Raisa, apa yang terjadi kenapa Atar bisa sampai pingsan seperti itu?" tanya Rumi merasa Khawatir pada Atar.


"Mas Atar lagi sakit bu, sementara mbak Jani malah kelayaban terus jadi mas Atar nekad nyari mbak Jani padahal kondisinya sangat lemah, aku udah nyoba ngelarang tapi tidak didengar jadilah mas Atar seperti ini" tutur Raisa berbohong agar kedua orang tua Atar membenci Jani.


"Apa benar seperti itu?" tanya Rumi serius.


"Iya bu aku serius masa aku bohong sih, buat apa juga aku bohong sama ibu"


"Jani kenapa kamu seperti ini pada Atar" gumam Rumi yang mulai terhasut oleh ucapan Raisa.


...****************...


Sudah dua hari ini Atar dirawat dirumah sakit karena dia belum sadarkan diri juga dan sudah dua hari ini juga Rumi serta Arya menjaga Atar dirumah sakit karena Raisa punya bayi jadi dia tidak bisa menginap dirumah sakit.


Sementara Shabira dan Jidan diurus oleh Dion dan istrinya Tari sebab Jani masih belum kembali pulang sejak kejadian itu.


Akhirnya kedua anak itu terkatung-katung tak ada yang mengurus, Dion dan Tari lah yang kemudian mengurusi mereka.


Rumi masih menatap putra bungsunya yang masih belum membuka mata, tak terasa butir beningnya menetes tanpa permisi ketika dia melihat wajah pucat dengan banyak selang yang menempel ditubuhnya.


"Atar, kenapa kamu tidak bangun-bangun sih, apa kamu tidak kasihan sama kedua anakmu? Sementara istrimu, Jani hingga detik ini masih tak menampakan barang hidungnya padahal suaminya sudah dua hari tak sadarkan diri dirumah sakit" isak tangis Rumi mulai pecah ketika hatinya terenyuh melihat penderitaan yang dialami putra bungsunya itu.


"Jani kemana lagi, apa dia tak merasa khawatir dengan suami dan kedua anaknya? Dia benar-benar istri yang durhaka" umpat Rumi kesal karena Jani menghilang dikala suaminya sedang terbaring lemah dirumah sakit.


"Sudahlah bu, ibu jangan mengumpat menantu kita terus, lebih baik sekarang kita do'ain aja supaya Atar cepat sadar dan pulih kembali dari sakitnya" hibur Arya pada istrinya.


"Tetap aja pak, ibu kesal sama Jani harusnya Jani ada disini merawat suaminya tapi apa bahkan sudah dua hari Atar dirawat disini Jani tak menampakan batang hidungnya sedikit pun, malah disini yang selalu jagain Atar itu Raisa, padahal dia itu punya bayi dan bayi itu dilarang masuk kerumah sakit kalau hanya untuk menjenguk orang sakit" gerutu Rumi amat kesal.


"Ibu kan tahu sendiri Atar sama Jani itu sedang punya masalah dalam rumah tangga mereka, mungkin saja saat ini Jani sedang marah sama Atar dan dia tidak tahu kalau suaminya lagi sakit dari itu dia tak datang kesini" bela Arya pada Jani.


"Bapak ini belain menatunya terus, kalau Jani tak peduli sama Atar seharusnya dia inget sama kedua anaknya dan tak meninggalkan kedua anaknya tapi apa? Emang Jani peduli sama anak-anaknya? Boro-boro peduli ingat saja tidak" gerutu Rumi.


Arya akhirnya hanya memilih untuk bergeming karena tak mau emosi istrinya makin tersulut jika dia meladeni kemarahannya Rumi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2