Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Pertanyaan bikin bingung


__ADS_3

Aku menatap kagum pada Jani, setelah 10 tahun berlalu, begitu banyak perubahan darinya. Dia yang dahulu tomboy kini berubah jadi lebih feminim dan dia juga terlihat sangat cantik hingga aku dibuat pangling olehnya, bahkan saat pertama kami bertemu aku tak mengenalinya, kupikir dia wanita lain tapi ternyata dia itu adalah Rinjani, sahabat masa kecilku.


Tak bisa kupungkiri hati ini, ke cantikannya sudah menawan hatiku, aku begitu mengaguminya, wajahnya yang teduh dan memancarkan aura penuh kasih sayang membuatku betah untuk berlama-lama menatapnya.


Tapi bagiakan pungguk merindukan bulan, seperti itulah keadaanku sekarang. Karena persahabatan kami berlima aku tak akan bisa memiliki Jani demi menjaga hati yang lain agar tidak terluka.


"Jani" ucapku.


"Hhmm... " jawab singkat Jani.


"Sekarang kamu banyak berubah ya, aku sampai pangling ngelihat kamu, saat pertama bertemu kupikir kamu wanita lain tapi ternyata kamu itu Rinjani sahabat masa kecilku...Jani, sekarang ini kamu terlihat sangat cantik" ucapku sambil menatap jani dengan melebarkan garis lengkung dibibirku.


Jani langsung menunduk tersipu, tapi meski begitu aku tak pernah tahu isi hatinya seperti apa? Apakah dia juga mengagumiku atau dia malah menaruh hati pada salah satu diantara kami, n'tahlah aku tak bisa membaca hatinya.


Hening!


Setelah suasana hening cukup lama karena kami saling diam akhirnya suasana cair kembali saat Jani bertanya padaku.


"Atar, Apa kamu tahu nama lengkap Shabira?"


"Ya aku tahu, kamu memberi namanya Shabira Nur Arafah kan?" jawabku.


"Apa dari awal kamu tidak curiga kalau dia itu anakmu? Aku kan menyisipkan namamu dinama Shabira. Arafah kalau huruf A dan huruf H nya dibuang maka itu akan membentuk namamu" tutur Jani.


"Aku nggak kepikiran sampai disitu, Jani" ucapku.


Jani membuang nafas kasar wajahnya terlihat kecewa atas jawabanku tapi mau bagaimana lagi aku benar-benar tak kepikiran sampai disitu.


"Atau kalau nggak... Saat pertama kali kamu ketemu sama Shabira kamu merasakan perasaan berbeda terhadap Shabira misalnya semacam ikatan batin gitu. Apa kamu merasakan itu saat melihat Shabira?" tanya Jani penuh harap, berharap Atar akan peka dengan itu.


Namun, Atar malah garuk-garuk kepala tak gatal raut wajahnya nampak kebingungan sementara Jani terus memandang Atar penuh harap seraya menunggu jawaban darinya.


"Aku... aku...aku tidak tahu" jawab Atar sambil mengedarkan pandangannya dengan gelisah.


Jani nampak kesal mendengar jawaban Atar, seketika Jani langsung merengut. Atar yang tahu akan kekecewaan Jani dia lalu berkata.


"Ya sudah, sekarang kita cari Shabira yuk" ajak Atar sambil berdiri.


Jani mendongakan wajahnya sambil menatap Atar.


"Buat apa cari Shabira?"


"Ya biar aku tahu apakah saat aku ngelihat Shabira aku merasakan ikatan batin itu atau nggak?" jawab Atar dengan polosnya.


Jani langsung tercengang kaget dan heran. Dia nampak makin kesal sama Atar.


"Nggak usha deh, percuma aja, itu udah telat karena semuanya udah ketahuan kalau Shabira itu anak kandung kamu" ketus Jani lalu manyun.


"Ya udah, kalau kamu nggak mau tahu, nggak jadi deh cari Shabiranya" kata Atar sambil duduk kembali.

__ADS_1


"Ya nggak usah percuma aja" ketus Jani.


Hening!


Tapi Jani tak bisa menahan kekesalan dalam hatinya akhirnya dia menggerutu kesal.


"Dasar cowok emang nggak peka banget sih, padahalkan Shabira itu darah dagingnya sendiri masa ditanya gitu aja bilang nggak tahu, dasar nggak punya hati, udah nggak pernah ada buat anaknya sendiri selama ini ditambah dia nggak bisa ngerasain ikatan batin sama darah dagingnya sendiri, ayah macam apaan kaya gitu?" Jani ngedumel dengan lirih sambil membuang wajahnya dari Atar.


"Tuh! kan, katanya udah nggak mau tahu ko malah ngedumel" ucap Atar yang masih bisa mendengar ucapan Jani.


Atar lalu berdiri lagi sambil menarik tangan Jani.


"Ya udah. Ayo! Kita cari Shabira biar aku tahu perasaan aku ke dia kaya gimana?" ajak Atar.


"Nggak usah!" Ketus Jani sambil melepaskan tangan Atar.


"Kalau nggak usah kamu jangan marah lagi dong" pinta Atar.


Jani lalu melirik sinis pada pria bertubuh tinggi itu kemudian dia membuang mukanya pertanda dia masih kesal pada Atar.


"Terus aku harus bagaimana agar kamu nggak marah sama aku lagi?" tanya Atar kebingungan.


Jani lalu berdiri dia lalu berkata sambil melengos pergi meninggalkan Atar.


"Pikir aja sendiri"


Atar melongo kebingungan lagi untuk yang kesekian kalinya, dia lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dia lalu memanggil Jani berkali-kali tapi Jani tak menggubris Atar dia terus berlalu pergi.


...****************...


Sang rawi kini kembali menyapa penghuni bumi dengan cahayanya yang hangat dan terang. Semua mulai beraktifitas seperti sedia kala, sama halnya juga dengan para penghuni panti asuhan yang mulai sibuk dengan rutinitas seperti biasanya.


Semua bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, bu Retno dan asisten rumah tangganya mbak Tari yang masih berusia 35 tahun itu sibuk dengan pekerjaan rumahnya, sementara pak Husen sudah sejak subuh pergi kerumah makan.


"Anak-anak ayo cepetan siap-siapnya ini sudah telat kita harus segera berangkat sekolah!" teriak Jani sibuk memanggil semua anak-anak panti.


Tak berapa lama semua berkumpul dan siap naik mobil untuk segera berangkat sekolah. Setelah semua naik mobil Jani pun segera mengemudikan mobilnya.


Ditempat berbeda, Atar siap berangkat ketempat kontruksi dengan berjalan kaki setelah semua teman-temannya berangkat duluan. Saat dijalan dia ke pikiran sama Jani yang saat itu merasa kesal padanya gara-gara tidak tahu jawaban atas pertanyaan Jani.


"Jani masih marah nggak ya soal itu? Ah! Aku nggak bisa tenang nih kalau dia masih marah" gumam Atar merasa galau.


"Sekarangkan aku sudah tahu jawabannya, apa aku temuin Jani aja buat ngasih tahu jawabannya?" pikir Atar menimbang-nimbang.


"Ya aku harus temui dia biar hatiku tenang" gumam Atar lagi.


Dia lalu melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.

__ADS_1


"Jam segini sepertinya Jani masih nganterin anak-anak sekolah deh"


Saat melihat jam tangannya Atar yang baru keluar dari gank tak sengaja melihat mobil Jani melintas dihadapannya, dia lalu berteriak sambil melambaikan tinggi-tinggi kedua tangannya untuk menghentikan laju mobil itu.


Tapi Jani yang tak melihat Atar terus fokus pada kemudinya. Atar yang melihat mobil terus melaju lalu berlari mengejarnya, dia memotong jalan agar bisa mendahului mobil.


Dengan susah payah dia mengejar mobil dengan berlari hingga nafasnya ngos-ngosan akhirnya berhasil mendahului mobil. Atar segera melompat ke tengah jalan, dia berdiri ditengah jalan sambil merentangkan kedua tangannya.


Jani yang melihat Atar muncul secara tiba-tiba sontak jadi kaget, untung dia langsung menginjak pedal rem dengan spontan hingga Atar tak tertabrak mobil yang dikemudikannya.


Tapi karena menginjak rem mendadak menimbulkan suara decitan ban yang beradu dengan aspal jalanan, sontak itu membuat anak-anak sedikit terdorong kedepan hingga menimbulkan kegaduhan.


"Ada apa kak Ririn ngerem mendadak?" tanya anak-anak itu dalam benak mereka.


"Bunda, Kenapa ngerem mendadak?" tanya Shabira yang duduk dibelakang jok tempat duduk Jani.


"Didepan tuh, ada yang tiba-tiba menghentikan mobil" jawab Jani sambil menunjuk ke arah Atar.


Shabira lalu melihat kedepan kaca mobil, dilihatnya Atar masih berdiri ditengah jalan.


"Ayah, ngapain menghentikan mobil sih?" batin Shabira.


Jani lalu turun dari mobil kemudian menemui Atar.


"Kamu mau aku tabrak, tiba-tiba muncul didepan mobil yang lagi melaju? Aku kaget tahu, untung aja aku bisa ngerem tepat pada waktunya" ucap Jani agak kesal.


"Ya maaf habisnya aku panggilin ini mobil suruh berhenti malah melaju terus"


"Ya mana kutahu kamu manggilin aku, aku nggak ngelihat kamu. Terus ngapain kamu mau berhentiin mobilku?" ketus Jani.


"Aku mau bilang kalau aku udah tahu jawabannya" ucap Atar dengan kedua mata yang berbinar-binar.


"Jawaban apa?"


"Soal pertanyaan kamu tentang ikatan batin itu antara aku dan Shabira" jawab Atar masih dengan mata berbinar-binar.


"Terus jawabannya apa?" tanya Jani so tak peduli padahal hatinya sangat penasaran dengan jawaban dari Atar.


"Setelah aku ketemu sama Shabira ternyata perasaanku biasa aja sih"


Jani merasa kecewa dengan jawaban Atar karena dia benar-benar tidak bisa peka, dia lalu berkata dengan ngegas.


"Terus ngapain kamu ngomong ke aku kalau jawabannya kaya gitu? Ngeselin aja sih! Kamu, buang-buang waktuku aja, anak-anak udah telat ke sekolah nih! Gara-gara kamu anak-anak jadi makin telat. Udah minggir sana, nggak usah ngehalangi jalanku kalau nggak mau aku tabrak"


"Tapi aku sayang sama Shabira kok, Jani"


Jani tak peduli karena kesal lalu dia melengos pergi untuk masuk ke mobil, Atar kemudian menyingkir ke pinggir karena mobilnya akan segera melaju. Mobil Jani pun melaju kembali sementara Atar masih mematung ditempatnya dengan kebingungan.


"Jani kenapa marah-marah terus sih? Nggak dijawab salah dijawab juga salah ko aku jadi serba salah melulu sih? Aku jadi bingung deh" ucap Atar makin kebingungan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2