Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Wanita dengan bayi kecilnya


__ADS_3

Waktu yang terus berlalu meninggalkan sisa sejarah yang tertoreh dihidupku, begitu banyak kisah yang aku lalui dengan anugrah kebahagiaan yang tak terkira setalah melewati banyak air mata yang tercurahkan tapi pada akhirnya kebahagiaan itu datang juga dan memberikan warna-warna yang indah dihidupku.


Sekarang Jho dan Azka pun sudah menemukan kebahagiaannya, aku juga berharap Gio pun akan segera menemukan kebahagiaannya karena aku sendiri merasa tidak tenang kalau Gio masih sendiri hingga sekarang dan dia malah memilih pergi ke Australia.


Seperti biasanya pagi ini pun aku berangkat kerja dan akhir-akhir ini aku sering pulang larut malam karena harus lembur, terkadang kami secara bergantian pergi keluar kota dan menginap untuk beberapa hari sebab pekerjaan menuntut kami untuk sering pergi keluar kota.


Aku yang kini sudah terbiasa tinggal dengan istri dan anak-anakku jadi sering merasa rindu pada mereka karena aku sering pergi keluar kota. Alhasil ketika aku menginap dihotel dan menjelang tidur aku pasti melakukan video call bersama istri dan anak-anakku.


Setelah selesai melakukan panggilan video call aku segera pergi tidur karena besok pagi aku akan datang kerumah investor yang akan menggunakan jasa di perusahan yang kami kelola untuk mengadakan meeting.


...****************...


Dua hari kemudian.


Setelah menemui investor diluar kota akhirnya aku kembali pulang kerumahku, malam ini rasanya amat melelahkan setelah aku melakukan perjalanan jauh sendirian dari luar kota, ini bukan kali pertama aku melakukan perjalanan keluar kota. Tapi, kali ini aku merasa sangat lelah dan merasa begitu amat tak semangat hingga istriku yang memang sengaja menungguiku pulang hingga dia ketiduran disofa, tak aku sapa bahkan aku membiarkannya tetap tidur di sopa.


Aku segera masuk ke kamar lalu membersihkan tubuhku dengan guyuran air setelah selesai mandi aku langsung merebahkan tubuhku dikamar. Baru saja aku hendak memejamkan mata ternyata Jani terbangun dari tidurnya dan langsung menemui aku.


"Kamu sudah pulang? Ko aku nggak tahu. Ah!Mungkin aku ketiduran, aku minta maaf ya" ucap Jani sambil duduk disampingku.


Aku lalu bangun dan langsung duduk, kutatap wajah Jani, dimataku dia masih saja cantik seperti biasanya, rasa sayangku padanya pun tetap terjaga dengan utuh dihatiku. Namun, kali ini ada perasaan sesak didadaku saat menatap wajahnya, aku langsung memeluk tubuh mungil itu.


"Jani maafkan aku ya" ucapku begitu saja keluar dari mulut ini.


Jani tak bergeming dia membiarkan aku tetap memeluknya dengan erat, tapi sepertinya Jani merasa bingung kenapa tiba-tiba aku meminta maaf hingga dia bertanya kepadaku.


"Kamu kenapa minta maaf?" tanya Jani.


Pertanyaan itu membuat dadaku amat sakit, tapi aku tak bisa menjawab pertanyaan Jani akhirnya aku mengalihkan pembicaraan dengan menyuruhnya agar segera tidur.

__ADS_1


"Jani, aku sangat sayang sama kamu. Ini sudah malam ayo kita tidur" ucapku lalu ku tarik tubuh mungil istriku dan merebahkan nya lalu ku selimuti dia.


Setelah itu aku pun segera masuk kedalam selimut Jani untuk segera tidur, aku segera memejamkan mata seraya memeluk tubuh istriku yang masih menampakan wajah bingungnya karena sikaf anehku. Tapi lagi-lagi aku tak bisa berkata apa-apa, hanya kata, "Maafkan aku, Jani" hanya itu saja yang bisa aku ucapkan padanya.


Esok paginya aku sengaja tak bangun pagi dan tak masuk kerja, aku juga sengaja mematikan ponselku agar tak ada yang menghubungiku. Jani sempat membangunkanku untuk sarapan, tapi aku menolak, aku katakan padanya aku merasa kurang enak badan jadi butuh istirahat dan aku belum mau sarapan.


"Kamu sakit apa, ko badanmu tidak panas?" tanya Jani yang saat itu duduk disampingku seraya menempelkan punggung tangannya dijidatku.


"Sepertinya aku akan flu kepalaku pun terasa pusing" jawabku.


"Ya udah kalau gitu kamu istirahat saja, tapi kamu harus sarapan walau cuma sedikit, aku ambilkan sarapan sama obat buat kamu ya, ke kamar ini"


Aku hanya mengangguk lalu Jani pergi mengambil sarapan dan obat untukku, tak lama dia kembali dengan membawa nampan yang berisi sepiring nasi bersama lauknya, segelas air putih dan obat untukku. Aku menyuruhnya untuk menyimpan semua itu dimeja setelah itu aku menyuruh Jani untuk tidak terlalu mengkhawatirkanku karena aku hanya butuh istirahat dan akan segera membaik. Dia lalu menganggk seraya berkata.


"Baiklah, semoga kamu cepat sembuh ya. Oh iya, tadi Azka menelepon ku karena handphonemu tidak aktif. Dia nanyain kamu. Kenapa kamu tidak masuk kerja? Aku katakan saja kalau kamu lagi kurang enak badan terus Azka nanya lagi, Kenapa proyek di Banyuwangi dibatalkan secara sepihak? Apa meetingnya tidak berjalan lancar?"


"Oh soal itu nanti aku telepon Azka deh, untuk menjawab pertanyaannya" jawabku tak semangat


Sepuluh bulan kemudian.


Minggu pagi yang cerah ini aku sengaja tak pergi kemana-mana, mumpung hari libur kerja aku sengaja diam dirumah untuk membantu istri tercintaku mengerjakan pekerjaan rumahnya, mungkin orang berpikir jika aku membantu pekerjaan istriku, aku ini terlihat seperti tipe suami takut istri tapi kenyataannya tidak seperti itu juga.


Ini adalah salah satu wujud rasa sayangku pada wanita yang sudah melahirkan anak-anakku, aku tahu mungkin pekerjaan mengurus rumah, mengurus anak-anak dan mengurus suami terlihat sepele, tapi sebenarnya itu adalah pekerjaan yang amat berat dan mulia.


Bagaimana tidak, istriku begitu telaten mengurus semuanya, tanpa mengeluh, tanpa rasa lelah yang dirasakannya dia tetap tersenyum melayani aku dan anak-anak dengan baik, aku benar-benar merasa bersyukur punya istri seperti Jani.


Pada awalnya aku tak menyangka kalau mantan gadis tomboy itu akan bisa menjadi istri yang baik tapi kenyataannya, Jani tidak seperti yang aku pikirkan, aku benar-benar tidak pernah menyesal menikahinya dan menjadikannya ibu dari anak-anakku karena dia adalah wanita sempurna yang aku impikan.


Setelah selesai sarapan aku membantu Jani mencuci piring sementara dia membereskan meja makan dan juga dapur bekas tadi dia masak. Tiba-tiba bel rumah berbunyi, Jani segera pergi kedepan untuk membuka pintu. Saat pintu dibuka nampak lah seorang wanita muda yang membawa bayi. Jani tak mengenali wanita itu dan apa tujuannya datang kesini.

__ADS_1


"Maaf ya, kamu siapa dan ada perlu apa datang kesini?" tanya Jani.


"Perkenalkan mbak, nama saya Raisa dari Banyuwangi. Apa benar ini rumahnya mas Atar?"


Sontak Jani langsung membulatkan matanya dengan sempurna sebab perempuan itu menanyakan suaminya, lalu siapa dia dan ada hubungan apa dengan suaminya itu? Tak berapa lama pria bertubuh tinggi yang sekarang hanya mengenakan kaos berwarna putih dan celana pendek selutut itu langsung menghampiri kedua wanita itu.


Atar pun kaget ketika melihat wajah tamunya yang sudah familiar baginya itu. Ada apa gerangan wanita itu datang ke sini, masih menjadi pertanyaan besar dibenak Jani mau pun Atar, tapi perasaan Atar mulai tidak enak dan cemas akan kehadiran wanita itu.


"Atar. Apa kamu kenal dengan wanita ini?" tanya Jani dengan tatapan mengintimidasi.


Atar tak bisa menjawab karena entah kenapa tiba-tiba bibirnya terasa kelu hingga dia tak mampu berkata apa pun. Raisa yang kala itu menanti jawaban dari Atar dengan berharap Atar masih mengingat dirinya, merasa tak sabar mendengar jawaban dari Atar. Akhirnya dia berinisiatif untuk lebih memperkenalkan dirinya lagi pada wanita yang tinggal serumah dengan Atar.


Tanpa tak terduga Raisa mendekati Atar seraya menangis, sontak Atar jadi beringsut mundur kebelakang tubuh Jani karena dia tak mau Raisa mendekatinya. Jani semakin bingung dengan situasi saat itu hingga akhirnya teka teki tentang wanita itu perlahan mulai terungkap.


"Mas kenapa kamu tega padaku? Sekarang aku sudah melahirkan, bayiku membutuhkan ayahnya. Kenapa kamu tidak pulang-pulang kerumah kita? Dan membiarkan aku melahirkan sendirian, kamu tega mas. Aku selalu menunggumu tapi kamu tak kunjung pulang. Apa kamu sudah melupakan aku mas?" ucap Raisa dengan air mata yang terus mengalir deras.


Deg


Hati Jani mendadak sakit meski dia masih belum mengerti siapa wanita itu dan ada hubungan apa dengan suaminya? Jani langsung menatap tajam pada Atar untuk meminta penjelasan tentang ucapan wanita itu. Seketika wajah Atar berubah jadi sangat panik dan frustasi.


"Jujur padaku, katakan siapa wanita ini? Dan ada hubungan apa sama kamu?" desak Jani seraya menahan gemuruh yang bergejolak di hatinya.


Atar melihat jelas ada kemarahan yang tersirat disorot mata Jani, dia benar-benar bingung harus berkata apa karena Atar tak mau Jani marah padanya akhirnya dia hanya bisa menelan salivanya seraya terus bergeming.


"Katakan padaku siapa wanita ini?" bentak Jani yang sudah tak kuat menahan kemarahan diubun-ubunnya.


Melihat Atar terus diam Raisa lalu menjawab pertanyaan Jani, "Aku adalah istrinya mas Atar dan bayi ini adalah anak kami"


Deg

__ADS_1


Kemarahan dan kekecewaan Jani pada Atar sudah tak tertahankan lagi, seketika itu pula butir bening di kelopak mata Jani langsung menggelincir tanpa izin.


Bersambung


__ADS_2