
Setelah mobil Jani menghilang dari pandangannya, Atar hendak pergi ke tempat kontruksi tapi tiba-tiba handphonenya bergetar, dia segera merogoh handphone disaku celananya. Dilihatnya nama si pemanggil.
"Ibu?! Tumben ibu nelepon aku, ada apa ya?" tanya Atar pada dirinya sendiri, dia lalu mengangkat teleponnya.
📞Assalamualaikum ada apa ibu nelepon aku?
📞Waalaikummusalam Atar kamu apa kabarnya?
📞Alhamdulillah aku disini baik-baik saja bu, ibu, bapak sama bang Dion gimana kabarnya?
📞Alhamdulillah disini kami juga baik-baik saja hanya saja...
📞Kenapa bu?
📞Sebenarnya ibu merasa tak enak untuk cerita ini tapi ibu bingung.
📞Ya udah ibu cerita aja aku akan dengerin ko.
📞Ini soal abang kamu, dia buat masalah lagi. Dia nabrak orang, Atar. Sekarang orangnya masih keritis.
📞Astagfirullahaladzim ko bisa bu bang Dion nabrak orang?
📞Abangmu bawa motor dalam keadaan mabuk, kamu kan tahu sendiri abangmu itu pengangguran suka mabuk-mabukan, sukanya ngerepotin ibu, bapak sama kamu melulu.
📞Ibu nggak boleh ngomong begitu walau bagaimana juga bang Dion itu juga kan anak ibu sama bapak juga, aku yakin sebenarnya bang Dion baik hanya saja dia pemalas dan mudah kesinggung jadi dia kaya gitu.
📞Kamu ya, masih aja suka belain abangmu jelas-jelas dia itu suka ngerepotin kamu dan kerjaannya marah-marah terus sama kamu.
📞Tidak apa-apa bu, sifatnya bang Dion kan udah kaya gitu jadi mau di apain lagi, aku udah memalumi ko.
📞Sebenarnya ibu nelepon kamu karena mau minta tolong sama kamu, kamu bisa kan tolongin ibu?
📞Minta tolong apa bu?
📞Kamu ada uang tidak? Ibu mau pinjam uang buat ganti rugi sama orang yang udah ditabrak sama abangmu, ibu lagi nggak ada uang soalnya kemarin ibu baru bayar para pekerja ditoko kelontong kita ditambah ibu baru belanja buat ngisi toko karena udah banyak barang-barang dagangan yang habis.
📞Ooo...itu. Emang ibu butuh uang berapa nanti aku transfer ke rekening ibu?
📞 Delapan puluh juta ada nggak? Nanti kalau udah ada uangnya di ibu, ibu akan ganti uang kamu.
📞Iya ada bu nanti aku transfer uangnya dan ibu tidak usah mengganti uangnya aku masih ada tabungan ko.
📞Ya nggak bisa gitu, ibu maunya hasil kerja kamu itu ditabung buat masa depan kamu, buat kamu nikah jadi nanti kalau uangnya udah ada ibu akan ganti uang kamu.
📞Beneran bu, ibu nggak usah ganti aku ikhlas ko, aku masih ada tabungan dan tiap bulan juga uangku nambah dari hasil kerjaku. Jadi ibu tidak usah mengganti uangku.
📞Atar maafin ibu ya, ibu jadi merasa tidak enak hati sama kamu, kamu emang anak kebanggaan ibu, abangmu itu memang benar-benar tidak bisa diandelin. Jaga terus kesehatan kamu disana nak, jangan sampai telat makan.
Atar merasa sedih saat ibunya berkata seperti itu, bagaimana bisa ibunya bilang kalau Atar itu anak kebanggaan ibunya sementara ditempatnya bekerja dia punya masalah yang jelas-jelas bisa mencoreng nama baik keluarga mereka.
"Ibu bikin aku sedih aja, ibu tidak tahu aja kalau aku sudah buat masalah besar yang bisa mencoreng nama baik keluarga" batin Atar merasa sedih karena mengecewakan ibunya.
📞Iya bu aku akan jaga pola makanku. Ibu, bapak dan bang Dio juga semoga sehat selalu disana ya bu.
📞Iya Atar, kamu disana jangan terlalu fokus kerja ya, cobalah sekalian cari jodoh kali aja disana ada jodoh kamu, ibu juga kan udah pengen ngemong cucu, kalau abangmu itu kan tidak bisa diandelin mana ada yang mau sama pengangguran yang tidak jelas kaya abangmu itu. Itu anaknya tetangga kita kan seumuran sama kamu tapi dia udah punya tiga anak loh jadi kamu cepet nikah ya.
"Ibu juga udah punya cucu bu, maafin aku karena sekarang aku belum bisa ceritain soal Shabira sama ibu" batin Atar.
__ADS_1
📞Disini itu yang kerja cowok semua bu, mana bisa aku cari jodoh di sini.
📞Ih! Kamu ko malah putus asa gitu, kan nggak ada yang tahu kali aja jodoh kamu itu orang sana, makannya setiap ada kesempatan cobalah kamu cari jodoh kamu kan udah mapan, usia juga udah 28 tahun bentar lagi juga 29 tahun jadi udah matanglah buat cepat nikah.
📞Ah! Ibu, ibu kira buah-buahan udah matang. Bu udah dulu ya neleponnya aku mau kerja dulu.
Setiap kali teleponan sama ibunya Atar pastilah suka lupa waktu karena hari juga sudah semakin siang akhirnya dia mengakhiri pembicaraannya ditelepon. Panggilan telepon pun terputus Atar lalu pergi ke tempat kontruksi.
...****************...
Anak-anak kelas 3 SD sudah diizinkan untuk pulang sementara kelas 4,5, dan 6 masih mengikuti pelajaran. Shabira dan Jidan lalu keluar dari kelasnya.
"Jidan, aku males nungguin kakak-kakak pulang aku mau pulang duluan aja ah! Lagian tadi pagi bunda kan bilang bunda tidak akan bisa menjemput kita karena mau ke kota, jadi kita pulang duluan aja yuk" ajak Shabira.
"Itu si Sifa, Riyan sama Diva gimana? Apa mereka juga mau pulang duluan?" tanya Jidan
Bukannya menjawab Shabira malah menghampiri Sifa, Riyan dan Diva. Dia menanyakan langsung pertanyaan Jidan pada mereka dan mereka lebih memilih pulang sama kakak-kakaknya karena pak Husen yang akan menjemput mereka jadi ketiga anak itu memilih menunggu jemputan.
Sementara Shabira tetap bersikekeh mau pulang duluan, sebenarnya Jidan juga mau ikut nunggu jemputan tapi karena Shabira maksa Jidan buat pulang bareng akhirnya Jidan ikut pulang duluan sama Shabira. Mereka lalu pulang dengan menggunakan angkot.
Sesampainya dikampung mereka turun dari angkot, karena mereka tak bisa naik angkot sampai rumah sebab tak ada jalur angkot yang bisa dilewati menuju kerumah mereka.
"Shabira tugas kita buat bikin rantai makanan mahluk hidup gimana?"
"Ya udah kita cari hewan-hewannya dulu"
"Kira-kira kita cari hewan apa aja ya?"
"Cari katak sama belalang aja yuk" ajak Shabira.
Saat asyik bicara tiba-tiba mereka melihat ada banyak belalang di ilalang, Shabiara lalu mengajak Jidan untuk menangkap belalang terlebih dahulu sebelum pulang kerumah.
Anak laki-laki itu mengiyakan, mereka akhirnya menangkap belalang diantara semak belukar hingga sampailah diarea persawahan dikaki gunung.
Ketika melihat sawah Shabira mengajak Jidan untuk menangkap katak, sebelum turun ke sawah mereka melepas kaos kaki, sepatu dan tasnya lalu menyimpannya dipinggir sawah.
Mereka mulai turun kesawah dengan masih menggunakan seragam sekolah. Karena kataknya susah ditangkap jadi mereka gagal terus untuk bisa menangkap katak dengan tangan kosong.
Ditempat berbeda, Atar sedang berjalan kaki sambil membawa tas selempang, alas papan, kertas gambar dan pensin. Dia menatap kertas gambarnya yang masih kosong.
"Uuhh! Kenapa otakku buntu banget sih, aku tak bisa menggambar apa pun. Kayanya aku harus jalan-jalan dulu nih! Biar dapat inspirasi" gumam Atar
Lalu dia membuang nafas kasar, diedarkan pandangannya kesekeliling untuk mencari tempat sejuk yang indah untuknya agar bisa menggambar pola bangunan.
Tanpa sengaja kedua netranya malah menangkap dua sosok anak kecil yang sudah tak asing lagi baginya.
"Itu kan Shabira sama Jidan, ngapain mereka disawah?" batin Atar
Dia lalu mendekati kedua bocah itu kemudian memanggil mereka.
"Shabira! Jidan! Kalian ngapain turun kesawah masih pakai seragam sekolah lagi?" tanya Atar dengan berteriak.
Kedua bocah itu lalu menatap Atar dan menghentikan aktifitasnya menangkap katak.
"Kami lagi nyari katak" jawab Shabira
"Buat apa nyari katak?"
__ADS_1
"Buat praktek disekolah"
"Harusnya kalian pulang dulu, ganti dulu bajunya mana itu bajunya berwarna putih lagi, nanti kalau kotor susah nyucinya. Ayo! Naik" ucap Atar
"Tanggung yah, kita akan hati-hati ko biar bajunya nggak kotor" kata Shabira.
"Udah kalian naik biar ayah saja yang nangkap kataknya, Ayo! Sini naik" ajak Atar sambil mengulurkan kedua tangannya
Akhirnya Shabira dan Jidan mau naik ke pematang sawah. Setelah itu Atar membuka sepatu, kaos kaki, dan tasnya lalu menyimpan di pinggir sawah kemudian Atar turun kebawah dan mulai menangkap katak.
Setelah mendapatkan beberapa katak akhirnya dia naik lagi ke pematang sawah. Lalu memberikan katak yang sudah dimasukan ke kantong plastik pada mereka.
Setelah itu Atar mengajak anak-anak untuk mencuci tangan dan kaki mereka yang kotor disungai yang ada dipinggir jalan yang tidak jauh dari sawah itu.
Ketika sedang mencuci kaki, tiba-tiba Jidan terpeleset ke sungai dia lalu tercebur hingga basah kuyup.
Byuurr!
"Jidan!" serempak Shabira dan Atar berucap.
Shabira buru-buru menolong Jidan untuk naik lagi ke tepi sungai dengan mengulurkan tangannya. Sebenarnya sungai itu tidak dalam hanya saja karena Jidan jatuh dengan posisi duduk jadi setengah badannya kerendem air.
Karena pinggiran sungainya licin tiba-tiba Shabira juga tercebur ke air saat menarik tubuh Jidan alhasil kedua anak itu pada basah kuyup.
"Aduh! Kalian jadi pada basih gini. Ayo! Sini, sini biar ayah tarik kalian ketepi" ucap Atar merasa khawatir pada dua bocah itu.
Shabira dan Jidan lalu mendekati Atar tapi setelah dekat bukannya Shabira berpegangan pada tangan Atar dia malah mencipratkan air sungai ke tubuh Atar sambil tersenyum senang.
Sontak Atar langsung menutup tubuhnya dengan kedua tangan meski itu tetap tak bisa menghindari cipratan air yang diarahkan padanya oleh Shabira.
"Aduh! Shabira, baju ayah jadi basah ini"
"Biarin, biar semua basah-basahan" kata Shabira yang terus menyerang Atar dengan cipratan air.
"Dasar kamu nakal ya.Awas! Aja ayah akan balas kamu" ucap Atar lalu turun ke air dia lalu membalas Shabira.
Selain pada Atar, Shabira juga mencipratkan air pada Jidan, tentu saja Jidan juga tak mau kalah dia lalu membalas serangan Shabira dengan mencipratkan air padanya.
Gelak tawa pun akhirnya menggema diudara dari ketiga insan itu karena sejatinya Shabira dan Jidan itu masih anak-anak seperti apa pun sifat mereka tetap saja mereka masih suka bermain-main.
Sementara Atar yang menyayangi anaknya tentu saja merasa bahagia saat buah hatinya itu merasa bahagia.
Ditempat berbeda Jani baru pulang dari kota dia lalu naik ojek untuk sampai kerumahnya dan tanpa sengaja dia melewati sungai tempat Atar, Shabira dan Jidan berada.
Jani yang melihat mereka lalu menghentikan abang ojeknya kemudian membayarnya.
"Mereka ngapain main air disungai, mana pakai baju sekolah lagi" gumam Jani sambil menatap berang pada mereka.
Jani buru-buru menghampiri mereka.
"Shabira, Jidan! Kenapa kalian basah-basahan gini sih, nanti masuk angin loh" kata Jani dengan nada suara agak tinggi.
Sontak ke enam mata itu langsung menatap Jani dan menghentikan aktifitasnya. Shabira bisa melihat ada kemarahan di netra Jani, dia lalu menunduk karena takut dan merasa bersalah.
Tapi hal tak terduga terjadi, Shabira dan Jidan pikir bundanya itu akan memarahi mereka habis-habisan tapi nyatanya tidak. Jani malah memarahi Atar dan menyalahkannya setelah dia menyuruh Shabira dan Jidan untuk segera naik ke tepi sungai. Mereka bertiga lalu naik.
Bersambung
__ADS_1