
Pagiku terasa cerah hari ini, secerah hatiku yang tengah berbunga-bunga. Ya, sepertinya aku sedang jatuh cinta meski aku tidak pernah menyadari kapan perasaan ini datang padaku, padahal aku selalu bersama dengannya setiap hari dari kami masih sangat kecil hingga sekarang tapi, perasaan ini baru aku sadari sekarang. Setiap malam aku selalu ingin segera pagi agar aku bisa segera melihat pujaan hatiku itu, rasanya dunia ini sangat indah setiap kali aku melihatnya.
Ya, gadis itu terlihat begitu menawan bagiku meski dia berbeda dari gadis yang lain, penampilannya seperti laki-laki tapi n'tah kenapa aku sangat menyukainya. Namun, hingga detik ini aku tak pernah berani menyatakan perasaanku padanya karena aku sangat takut jika aku dan dia bertengkar lalu kami putus dan akhirnya hubungan persahabatan kami pun berakhir.
Akhirnya kuputuskan untuk selalu menyimpan perasaanku rapat-rapat didalam relung hatiku yang terdalam. Walau hanya berstatus sebagai sahabat aku sudah bahagia asal bisa melihatnya setiap hari.
...****************...
Gio terus tersenyum sambil berkata dalam hatinya dari pertama menginjakan kaki digerbang sekolah SMPnya menuju kekelasnya. Rasanya dia tak sabar untuk segera bertemu dengan Jani, si gadis penawan hatinya itu. Dan rupanya, kala itu Jani sudah didalam kelas sedang mengobrol sambil bercanda bersama Azka, Atar dan Jho.
"Pagi semua!" sapa Gio dengan senyuman diwajahnya.
"Gio, aku udah nungguin kamu dari tadi" ucap Jani kegirangan saat Gio datang
"Beneran kamu nungguin aku?" tanya Gio agak ragu meski hatinya tengah kembang kempis karena bahagia.
"Beneran Gio" ucap Jani lalu menggandeng tangan Gio kemudian dia berbisik ditelinga Gio membuat jantung remaja itu berdetak tidak karuan.
"Aku belum ngerjain PR, aku nyontek dong PR punya kamu"
"Ah! Kamu kebiasaan deh! Pengen nyontek melulu, belajar dong" gerutu Gio.
Meski agak kesal tapi Gio tetap memberikan buku PRnya pada Jani.
"Ah! Makasih Gio, kamu memang is the best" ucap Jani tersenyum senang sambil menepuk lembut pipi Gio.
Setelah itu Jani mengerjakan PRnya.
"Gio, aku juga nyontek ya soalnya aku juga belum mengerjakan tugas nih" ucap Jho yang langsung duduk disamping kursi Jani dan langsung ikutan nyontek.
Azka dan Atar lalu membawa kursi ke meja Jani dan Jho lalu mereka juga ikutan nyontek.
"Aku juga nyontek tugas kamu ya Gio" ucap Atar.
"Aku juga ikutan ya, soalnya aku juga belum ngerjain PR" kata Azka.
"Ah! Kalian kapan nggak nyonteknya sih, PR, tugas disekolah sama ulangan semua nyontek ke aku" gerutu Gio.
"Makannya otak encer kamu bagi-bagi ke kita dong biar kita nggak nyontek terus" ujar Jho.
"Ah! Gimana otak kalian mau pada encer kalau setiap kali aku ajak belajar kalian suka nolak dengan seribu alasan" sangkal Gio.
Jho hanya membalas dengan cengirannya saat Gio memutar balikkan fakta.
...****************...
Waktu terus berputar diantara ruang dan waktu yang terus bergulir, menyisakan setiap cerita yang kelak akan menjadi sejarah diperjalanan hidup seorang insan yang mungkin kelak akan diceritakan kembali pada keturunannya nanti.
Pagi itu.
Atar duduk sendiri dipinggir jalan, raut wajahnya terlihat semerawut dan cemas, sesekali dia menggerakan kedua kakinya sambil celingukan seperti sedang menunggu seseorang.
Tak berapa lama Jani datang sambil mengayuh sepedanya dengan tas sekolah yang dia gendong dipundak, dia yang melihat Atar lalu menghampirinya dan langsung menyapanya.
"Atar! Ngapain disini aja bukannya buru-buru kesekolah?"
"Aku lagi nunggu si Om yang tadi pinjam uangku, katanya dia mau balik lagi setelah nukerin uangnya untuk mengganti uangku yang dipinjamnya tapi, sampai sekarang Om itu belum kembali padahal itu uang jajanku dan uang buat iyuran praktek kesenian" jawab Atar.
__ADS_1
"Si Om yang mana?"
"Aku nggak tahu, aku nggak kenal" ucap Atar.
"Dasar lemot, kamu udah ditipu itu si Omnya gak bakal balik lagi dia pasti kabur bawa uang kamu" gerutu Jani kesal karena kasihan pada Atar yang terlalu percayaan pada orang, sekali pun orang itu tidak dikenalnya.
"Ya aku nggak tahu kalau si Om nipu aku, aku kasihan sama si Omnya karena saat dia mau bayar ke si abang penjual tapi nggak ada kembaliannya sedangkan si abang penjual mau segera pergi berkeliling akhirnya aku pinjamkan semua uangku karena dia berjanji akan segera kembali setelah menukarkan uangnya. Padahal aku sudah lama nunggu tapi si Omnya belum kembali juga"
"Kamu, lagian percaya aja sama orang asing itu"
"Tadinya aku merasa kasihan sama dia, lagian kata ibuku aku tidak boleh suudzon sama orang aku harus selalu berpikiran positif. Tapi, sekarang aku bingung buat bayar iuran itu dari mana uangnya kan harus bayar hari ini juga, aku nggak mungkin minta uang lagi sama ibu" ujar Atar.
"Gini nih! Punya teman terlalu baik, terlalu gampang percayaan sama orang, jadi kena tipukan kamu"
Atar hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya udah, kamu pakai uang jajan aku aja dulu buat bayar iurannya. Sekarang buruan naik sepedaku biar aku bonceng kamu, ini udah siang kalau disini terus bisa telat kita masuk sekolah" ajak Jani pada Atar.
"Terus nanti kamu jajannya gimana kalau uangnya dikasih ke aku?"
"Gak jajan sehari itu gak bakal bikin orang mati, lagian aku bawa bekal dari rumah ko nanti aku bisa makan itu disekolah"
"Hehehe.. iya juga sih! Oke kalau begitu. Ayo! berangkat"
Atar segera naik sepeda Jani dibelakang setelah itu Jani mengayuh sepedanya dengan kencang. Sebenarnya Atar agak takut dibonceng oleh Jani yang urakan tapi agar dia tidak kesiangan kesekolah terpaksa dia harus mau dibonceng oleh Jani.
"Jani, pelan-pelan dong nanti aku jatuh nih!" pinta Atar setengah berteriak.
"Bawel ih! Kalau telat gimana?" sergah Jani.
"Ribet banget kamu, Rafatar! Kalau ngebonceng ya ngebonceng aja gak usah banyak ngomong" sergah Jani lagi.
Atar jadi diam seribu bahasa.Tak berapa lama mereka melewati jalan yang menurun, membuat laju sepedanya makin kencang meski tanpa dikayuh oleh Jani.
"Jani, Jani, Jani, rem sepedanya Jani. Ayo! Rem biar gak terlalu kencang" titah Atar yang takut jatuh.
"Remnya blong" ujar Jani.
"Apa! Remnya blong? Emang waktu kamu bawa aku nyungseb ke got waktu itu gara-gara rem blong sampai sekarang masih belum dibetulin juga remnya?" tanya Atar.
"Belum, aku lupa terus ngomong ke bapak minta dibetulan remnya" jawab Jani.
"Terus nanti ini ngeremnya gimana, mana jalannya menurun lagi?" Atar mulai panik karena takut dibawa nyungseb lagi sama Jani.
"Tenang aja, ini kan masih ada rem kaki" jawab Jani sambil mengacungkan kedua kakinya sambil tersenyum
"Gila kamu, awas aja kalau aku dibawa nyungseb lagi" kata Atar dengan nada sedikit mengancam Jani.
Belum lama Atar ngomong tiba-tiba arah sepeda yang mereka tumpangi hendak menabrak gerbang sekolah.
"Jani belokin! Jani belokin gerbangnya jangan ditabrak" teriak Atar sambil menepuk-nepuk bahu Jani.
Sepedanya mulai oleng ketika jani hendak berbelok tapi banyak para siswa yang hendak masuk ke sekolah yang menghalangi jalannya.
"Woooyy! Minggir woooyy!" teriak Jani.
Sebagian orang ada yang menyingkir dan sebagian masih ada yang tetap berjalan dengan santainya membuat Jani geram hingga akhirnya dia membelokan kearah gerbang karena tak mau menabrak mereka.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaa...!!" teriak Jani dan Atar serempak.
Jjeguar!!
Traang!!
Gedebut!!
Akhirnya Jani dan Atar terjatuh dari sepedah dengan sebagian tertindih sepeda.
"Aaaauuhh!" ringis Atar yang saat itu sikut dan jidatnya memar karena goresan akibat bergesekan dengan aspal jalanan.
"Tadi siapa yang nabrak gerbang?" tanya security yang langsung mengecek kedekat gerbang sekolah saat mendengar suara sepeda Jani menabrak gerbang.
"Jani! Atar! Kenapa bisa nabrak gerbang?" tanya security.
"Rem sepedanya blong pak" jawab Jani sambil cengengesan.
"Apa kalian tidak apa-apa?"
"Cuma sedikit memar doang sih pak" jawab Jani.
"Ya udah, sepedanya biar bapak yang bawa masuk ke tempat parkir kalian obati aja dulu lukanya. Ayo! Bangun" security itu lalu mengulurkan tangannya pada Atar yang masih terduduk.
Atar lalu berdiri setelah itu Jani dan Atar masuk kesekolah.
...****************...
Masih ada waktu 15 menit sebelum bel sekolah berbunyi, saat itu Atar masih duduk dikursi panjang yang ada dibawa pohon rindang sambil melihat sikutnya yang tergores akibat jatuh tadi karena menahan beban tubuhnya. Luka itu masih terasa perih ketika disentuh olehnya.
"Aauhh! Perih banget ini" ringisnya.
Tak berapa lama Jani datang lalu duduk disamping Atar.
"Dasar cengeng luka segitu aja udah seperti patah tulang" ledek Jani.
"Ini tuh! kulit daging bukan kulit baja, sakit tahu" ketus Atar.
"Yaaaa... aku minta maaf. Sini biar aku pakaikan handsaplas" ucap Jani dengan tulus sambil menarik tangan Atar.
Dia lalu memakaikan handsaplas disikut tangan Atar kemudian dia lebih mendekat pada Atar hingga hembusan nafas gadis tomboy itu terasa diwajah Atar. Seketika Atar membelalakan kedua netranya sambil menatap wajah cantik yang tersembunyi dibalik penampilannya yang tomboy.
Sikaf gadis itu diam-diam membuat Atar jadi gerogi dan baper, detak jantungnya pun meningkat lebih kencang hingga terdengar seperti suara genderang yang mau perang.
"Kenapa, Kenapa aku jadi gerogi seperti ini? Ah! Ini membuatku tak tenang, aku ingin segera mengakhiri adegan ini tapi, Kenapa terasa begitu lama Jani memasangkan handsapals dijidatku?" batin Atar yang tak bisa berhenti menatap netra Jani yang saat itu fokus kejidat Atar.
Ketika selesai Jani langsung beringsut mundur tapi netra mereka sempat bertautan hingga membuat Atar makin baper karena sudah tak tahan lagi Atar lalu membuang muka dari Jani.
"Heh! Kenapa kamu, ko langsung buang muka gitu?" tanya Jani yang saat itu terlihat biasa saja.
"Ng-nggak, bukan apa-apa" Atar gelagapan.
Dia lalu berdiri kemudian pergi ke kelas. Jani jadi garuk-garuk kepala tak gatal dengan sikaf Atar yang tak biasa.
"Dia kenapa sih ko aneh banget?" gumam Jani.
Bersambung
__ADS_1