Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Kebohongan Jani


__ADS_3

Pov Azkara


Semalaman suntuk aku tak bisa tidur memikirkan hal ini, semua berita yang belakangan ini kudengar sangatlah mengganggu pikiranku, rasa tak tenang, gelisah dan perasaan bersalah itu begitu menyeruak dihati ini.


Bukan tanpa sebab aku seperti ini, itu semua karena begitu sayangnya aku pada Jani, sahabat masa kecilku itu tapi dia harus menanggung semua kesalahan ini sendirian.


Bagaimana hatiku tak terenyuh jika kesalahan itu adalah kesalahan yang kubuat, meski hatiku masih ragu akan kebenaran ayah biologis dari Shabira yang bisa saja itu adalah aku.


Dilema ini begitu menyesakan dada membuatku tak tahan untuk segera bertanya langsung pada Jani tentang ayah kandung dari anaknya.


Ketika pagi sudah datang aku pun segera bergegas kekamar mandi untuk membersihkan badanku karena setelah ini aku akan menemui Jani untuk memastikan semuanya.


Tapi rupanya bukan cuma aku yang penasaran. Atar,Jho dan Gio pun penasaran, mereka sudah terlihat rapih pagi ini dan kulihat sepertinya mereka pun akan segera pergi. Saat kutanya ternyata mereka pun ingin menemui Jani untuk memastikan semuanya.


Kami pun akhirnya pergi bersama untuk menemui Jani. Rupanya pagi ini Jani sedang membantu pak Husen dirumah makan setelah dia pergi mengantarkan anak-anak kesekolah.


...****************...


Keempat pria tampan itu langsung duduk disalah satu kursi meja makan yang tersedia dirumah makan yang terlihat seperti lestoran kecil. Mereka melihat Jani sedang melayani pembeli, Jani juga sempat melirik keempat pria itu akan tetapi dia tak langsung menghampiri mereka karena ada pelanggan yang lebih dulu datang yang harus diutamakan oleh Jani.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya Jani menghampiri dan menyapa mereka.


"Apa kalian kesini untuk sarapan pagi? Kalau iya, ini menunya silahkan kalian memilih lalu memesan" tanya Jani sambil memberikan menu pada mereka.


Tiba-tiba Jho berdiri lalu menyiapkan tempat duduk untuk Jani, wanita berparas cantik itu lalu dipaksa untuk duduk bersama mereka.


"Eh! Jho, kamu apa-apaan sih?" protes Jani.


Netra keempat pria tampan itu lalu menatap tajam pada Jani membuat Jani merasa risih ditatap seperti itu.


"Jani kenapa kamu tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak 10 tahun yang lalu?" tanya Gio to the point.

__ADS_1


"Sudahlah itu kan masa lalu kenapa harus dibahas lagi sih" Jani menolak untuk membahas kembali tentang masa lalu mereka.


"Ini sangat penting Jani, jadi kamu harus cerita dari awal" kata Azka.


"Nggak ada yang penting Azka jadi buat apa bahas soal ini" ujar Jani masih menolak.


"Ini penting Jani, kami sudah tahu semua soal Shabira, dia anak kamu kan? Bagaimana bisa kamu punya dia? Shabira bilang padaku ayahnya dia itu salah satu dari kami lalu siapa dia katakan pada kami Jani?" tanya Atar.


Jani tercengang kaget mendengar pertanyaan Atar, dia lalu berdiri dan hendak menghindari mereka tapi Gio menarik tangan Jani dan menyuruhnya untuk duduk kembali.


"Kalau kamu tidak mau menjawab kami akan tetap mencari kamu untuk mencari jawabannya jadi kamu jangan coba-coba untuk menghindari kami" kata Gio yang masih memegangi tangan Jani.


Jani menghela nafas kasar lalu dengan berat hati dia duduk kembali, ditatapnya keempat pria itu.Sebenarnya hati Jani sedih kalau harus mengungkit-ungkit masa lalu yang tak ingin diingat-ingat lagi itu tapi keempat pria itu terus mendesaknya hingga terpaksa Jani harus bercerita juga.


"Ya udah, apa yang ingin kalian tahu dariku? Ayo! tanyakan padaku, aku akan menjawabnya. Oh iya, kalian kan mau tahu kenapa aku tiba-tiba menghilang saat divila itu kan?..." kata Jani menggantung kalimatnya sejenak.


"Saat itu aku mabuk, tanpa kusadari aku malah pergi jauh dari vila dan tak bisa pulang karena tak tahu jalan pulang hingga akhirnya aku bertemu dengan pemilik panti, aku akhirnya ikut dengan mereka hingga sekarang" tutur Jani.


"Kenapa kamu tidak pernah mencoba untuk pulang dan kembali pada kita?" tanya Jho.


"Menikah dengan siapa? Lalu mana suami kamu?" tanya Azka.


"Kalian tidak akan kenal ditambah suamiku sudah meninggal dunia karena kecelakaan saat Shabira masih bayi" jawab Jani.


"Aku melihat ada kebohongan dimatamu Jani, kamu tidak bisa membohongi kami, anak panti itu cerita ke aku kalau mereka tak pernah melihat suamimu jadi kamu jangan mengarang cerita yang tidak-tidak" kata Gio.


"Nggak mungkin juga Shabira berbohong padaku dengan mengarang cerita kalau ayahnya itu salah satu dari kami karena dia tak pernah mengenal kami sebelumnya, pasti dia tahu tentang kami ini dari kamu iya kan Jani?" tanya Atar.


Jani tak bisa menyangkal lagi dia lalu tertunduk sedih tidak karuan.


"Lalu mau kalian apa? Apa yang harus kukatakan pada kalian?"Jani malah balik bertanya.

__ADS_1


"Katakan pada kami siapa dari kami yang merupakan ayah biologis dari Shabira?" ucap Azka.


"Baiklah aku akan menjawab dengan jujur tapi sebelum itu aku mau bertanya dulu pada kalian, kalau seumpamanya ayahnya Shabira itu benar salah satu dari kalian lalu kalian mau apa?" tanya Jani.


"Ya setidaknya dia harus tanggung jawab pada kamu dan Shabira" jawab Jho mewakili semuanya.


"Tanggung jawab seperti apa maksud kamu Jho?" tanya Jani lagi.


"Ya dia harus menebus kesalahannya padamu dan Shabira misalnya dia harus menikahi kamu, menafkahi kamu dan Shabira" jawab Jho lagi.


"Apa kamu sudah gila Jho? Kita semua ini berteman dari kecil, kalau salah satu dari kalian harus menikah denganku itu akan terasa sangat canggung bagiku" kata Jani.


"Kamu pikir kita semua tidak merasa canggung jika tiba-tiba harus jadi suamimu? Sama saja Jani, kita juga merasa canggung tapi apa kamu tidak kasihan pada Shabira, dia juga butuh sosok ayah dihidupnya, Apa kamu akan menjadi orang yang egois hanya karena merasa canggung terhadap kami lalu mengabaikan Shabira" tanya Gio.


"Cukup! Jangan bertanya apa pun lagi padaku, jangan pernah bahas soal ini lagi denganku kalian semua hanya menyakiti perasaanku, aku tak ingin melihat kalian lagi kalau kalian terus memaksaku untuk menjawab semua itu maka kalian jangan pernah menampakan batang hidung kalian lagi dihadapanku" ucap Jani dengan tegas dan lugas sambil berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.


Semua akhirnya bergeming dan tak berkutik saat Jani berkata seperti itu, Jani lalu pergi dan mereka hanya bisa menatap berlalunya punggung wanita cantik itu karena tak ingin semakin menyakiti perasaannya.


Ketika berada diambang pintu rumah makan itu Jani menghentikan langkahnya lalu menatap salah satu dari mereka.


"Haruskah kamu bertanya padaku siapa ayah biologis Shabira? Apa kamu tidak bisa mengingat sedikit pun kejadian malam itu? Kalau memang tidak bisa mengingat apa pun, setidaknya kamu harus punya perasaan berbeda pada Shabira karena walau bagaimana pun didalam tubuh Shabira mengalir darahmu" batin Jani sambil menyeka air matanya.


"Setidaknya kamu bisa merasakan ada semacam ikatan batin dengan Shabira, Apa kamu tidak bisa merasakan itu?" lanjut Jani dalam hatinya lalu dia pergi menjauh dari tempat itu.


Sementara keempat pria itu makin terlihat frustasi ketika Jani memilih pergi meninggalkan mereka tanpa penjelasan yang membuat hati mereka tak tenang karena sudah mengetahui fakta yang sebenarnya.


"Bagaimana ini Jani masih tak mau jujur sama kita tentang siapa ayah kandungnya Shabira, padahal aku penasaran banget pengen tahu tentang itu sampai-sampai semalam aku tidak bisa tidur gara-gara mikirin soal ini" ucap Azka.


"Iya sama aku juga kepikiran terus soal ini" tambah Jho.


"Ya udah, sekarang kita biarin aja dulu, mungkin Jani butuh waktu untuk bisa berkata jujur pada kita, kita jangan sampai membuat dia tertekan karena aku tahu ini pasti sangat sulit bagi Jani" ujar Atar.

__ADS_1


Akhirnya mereka memberikan waktu buat Jani agar bisa menenangkan diri dan tak memaksa dia untuk jujur sekarang.


Bersambung


__ADS_2