
Angin yang berkesiur dimalam hari terasa begitu menusuk tulang dan persendian, apa lagi suasana di pegunungan itu sangat dingin tapi rupanya itu tak menggoyahkan keputusan mereka bahkan tak ada sedikit pun rasa iba dihati mereka padaku, mereka tetap mengusir ku dimalam ini.
Dengan gontai ku langkahkan kaki menjauh dari vila untuk mencari tempat bernaung dimalam ini. Meski hatiku merasa sedih tapi semua harus kujalani. Untuk sementara waktu aku pun memutuskan untuk tidur dikantor yang ada ditempat kontruksi sebelum pada akhirnya aku menemukan kontrakan untuk ku tinggali.
...****************....
Pagi harinya semua para pekerja datang ke lokasi kontruksi. Sebenarnya hari ini aku bangun kesiangan karena semalam aku tak bisa tidur dari itu aku segera membereskan bekas tidurku sebelum Azka, Jho dan Gio datang kekantor.
Setelah semuanya beres aku lalu mandi ditoilet kantor karena hanya ini yang bisa kugunakan untuk mandi. Ketika aku selesai mandi dan berpakaian aku baru keluar dari toilet seraya mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk kecil. Tapi rupanya Azka, Gio dan Jho sudah datang aku lalu menyapa mereka dengan senyuman ramahku.
"Gio, Azka, Jho kalian sudah datang, maaf ya semalam aku tidur disini karena aku bingung harus pergi kemana lagi"
"Bodo amat, siapa yang nanya" ketus Gio.
Jho lalu mengambil koper dan barang-barangku kemudian dia membuangnya keluar.
"Siapa sih yang membuang sampah disini merusak pemandangan aja" ketus Jho dengan berpura-pura tak menyadari kehadiranku.
Sungguh perkataanya membuatku amat sakit hati, Jho benar-benar menganggapku seperti sampah, ingin rasanya aku menangis dan menjerit sejadi-jadinya atas perlakuan Jho dan Gio tapi aku tak mungkin melawan mereka karena aku tahu mereka seperti itu karena rasa kecewa dan marahnya padaku.
Aku hanya bisa bergeming dan berusaha untuk sabar meski harga diriku diinjak-injak. Memang, sebelumnya aku tak pernah membayangkan sahabatku yang dulu begitu baik kini berubah jadi kejam dan tak berperasaan.
Lagi dan lagi aku tak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya karena aku sadar ini adalah bentuk protes mereka karena mereka menganggapku seperti pengkhianat.
Kemudian aku mengamankan barang-barangku ketempat yang lebih aman setelah itu aku kembali ke kantor untuk bekerja tapi saat aku kembali meja dan kursi kerjaku sudah tidak ada diruangan itu. Aku tahu itu pasti perbuatan ketiga sahabatku tapi lagi dan lagi aku harus tetap bersabar untuk menerima konsekuensi atas keputusanku untuk tetap menikahi Jani.
Aku lalu memberikan rancangan finish ku pada Jho yang beberapa hari lalu sudah aku kerjakan, tapi Jho menolaknya dia malah melemparkan map itu ke wajahku hingga kertas-kertasnya berhamburan.
"Aku tidak butuh ini, kita bisa menyelesaikan proyek itu sampai akhir tanpa kamu jadi lebih baik kamu kembali saja ke Bogor. Kami tidak butuh kamu lagi" ketus Jho.
Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan berat kemudian ku punguti kertas itu satu persatu dan memasukannya ke dalam map, kutatap sekilas wajah Azka yang sedari tadi hanya duduk di kursinya sambil menyaksikan Gio dan Jho membulyku.
Aku tahu kenapa Azka tak ikut membulyku itu karena dihatinya mungkin masih ada sedikit rasa iba terhadapku makannya selama ini dia lebih memilih diam ketimbang harus ikut-ikutan menunjukan rasa tidak sukanya padaku seperti yang dilakukan oleh Jho dan Gio.
Setelah itu aku memutuskan untuk pergi dari kantor. Sepertinya memang kali ini tak ada toleransi lagi buatku dari mereka, mereka memang ingin mengakhiri persahabatan ini lalu memusuhiku.
Ya sudahlah, mungkin aku harus berhenti membujuk mereka agar bisa menerimaku kembali, lebih baik kali ini aku lebih fokus pada Shabira dan Jani saja, mau dibawa kemana hubunganku dengan Jani, itulah yang harus kulakukan. Aku harus segera memperjelas statusku dengan Jani.
Ya Tuhan, kenapa hatiku masih tak bisa menerima kalau saat ini hubungan persahabatanku dengan Gio, Azka dan Jho sudah benar-benar berakhir, pikiranku malah makin kacau saat aku ingin fokus pada Shabira dan Jani, aku masih saja teringat pada ketiga sahabatku.
...****************...
Saat aku berada dibawah pohon besar tempat pertama kali aku bertemu dengan putriku, aku lalu menyimpan koper dan barang-barangku kemudian aku duduk diatas gundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan yang menghijau, kutatap map yang tadi dilemparkan oleh Jho.
Aku merasa semuanya benar-benar terasa sia-sia, buat apa semua ini aku kerjakan kalau pada akhirnya hanya akan menjadi sampah yang tak berguna yang dibuang begitu saja, perasaan kecewa, kesal dan marah yang beberapa hari ini terus mengganggu hatiku kini telah mencapai puncak klimaksnya.
Aku benar-benar merasa frustasi, kalau saja tangan Jani bisa kugenggam dengan mudah untuk menghadapi semua ini mungkin saat ini aku tidak akan seputus asa seperti sekarang ini. Tapi Jani sendiri seolah memberikan harapan yang tak pasti, bahkan saat ini aku tak yakin kalau Jani sudah mencintaiku.
Terkadang aku berpikir apakah pengorbanan yang kulakukan akan sebanding dengan apa yang kudapat, atau kah semua akan berakhir dengan sia-sia, aku yang kehilangan ketiga sahabatku dan aku juga yang tak bisa menggapai hati Jani hingga dia tak bisa kumiliki.
__ADS_1
Kalau saja bukan karena Shabira yang menjadi penyemangatku mungkin detik ini juga aku sudah mundur dari persaingan cinta ini karena aku tak ingin ada perpecahan diantara persahabatan kami. Aku yang kesal pada keadaanku saat ini lalu melemparkan mapku hingga isinya berhamburan kemudian aku menunduk sedih dengan mata yang berkaca-kaca.
Tanpaku sadari ada tangan kecil yang sedang memunguti satu persatu kertas yang berserakan itu seraya menatap setia gambar, dia lalu menghampiriku seraya menunjukan satu gambar padaku.
"Ini gambar apa, ayah?"
"Shabira?!" seruku.
Ku lirik rancangan gambar yang ditunjukan oleh putriku.
"Itu gambar water dance" jawabku.
"Apa itu water dance?" tanya Shabira lagi.
"Air terjun yang menari sayang. Apa kamu pernah melihat water dance Dubai fontain disosial media? "
Shabira yang tak pernah melihat lalu menggelengkan kepalanya.
"Ayah pernah melihat itu secara langsung di Dubai, air terjunnya menari-nari dan itu sangat indah" ujarku.
Kulihat mata putriku berbinar-binar, ada rasa penasaran yang tergambar jelas diwajahnya.
"Apa ayah berencana membuat air terjun menari disini?" tanya Shabira.
"Tadinya sih begitu tapi ayah tak yakin ini akan dibuat atau tidak"
Aku tak langsung menjawab pertanyaan Shabira, aku hanya menatap lekat wajahnya yang terlihat sangat penasaran. Aku juga tak mau menceritakan soal Gio, Azka dan Jho yang kini sedang memusuhiku.
Aku bingung harus menjawab apa tapi belum sempat aku menjawab Shabira sudah bertanya lagi ketika netranya melihat ada koper dan barang-barang ku.
"Apa ini koper ayah? Kenapa koper dan barang-barang ayah ada disini? Apa ayah sedang kabur dari rumah?"
"Tidak sayang, ayah hanya butuh suasana baru supaya dapat inspirasi soalnya pikiran ayah butek banget jadi ayah bingung harus menggambar apa" jawabku dengan berbohong karena aku tak mau Shabira mengetahui masalahku.
"Ayah belum jawab pertanyaanku soal air terjun itu"
Karena aku tak yakin Jho, Azka dan Gio akan membuat air terjun di proyek itu akhirnya aku katakan pada putriku kalau suatu hati nanti aku akan membawanya melihat air terjun di Dubai. Wajahnya terlihat kegirangan saat kukatakan seperti itu.
Ya, aku memang tak ingin membawa Shabira atau pun Jani kedalam masalahku biar masalahku, ku selesaikan sendiri. Aku hanya ingin melihat mereka bahagia itu sudah cukup bagiku.
...****************...
Satu bulan kemudian.
Tak terasa waktu yang terus berputar kini membawaku ke garis akhir. Ini adalah akhir perjanjian ku dengan Jani soal membuatnya jatuh hati padaku, nyaliku mendadak menciut saat ini karena aku tak yakin bisa membuat Jani jatuh cinta padaku pasalnya sejak aku diusir dari Vila dan pindah kesebuah kontrakan, pikiranku terus kacau hingga aku tak berusaha untuk menaklukan hati Jani.
Tapi aku pasrahkan saja semua ini pada Allah, semoga Allah memberikan yang terbaik untukku, semoga Jani bisa menerimaku sebagai suaminya. Siang ini adalah hari dimana tempat parawisata yang kami bangun akan diresmikan dan segera dibuka untuk umum.
__ADS_1
Banyak pihak yang diundang oleh Pak Wilyam untuk acara pembukaan tempat parawisata itu, meski pun aku sudah berhenti bekerja di proyek itu dari sebulan yang lalu, tapi Pak Wilyam tidak tahu soal itu mungkin Jho, Azka dan Gio tak menceritakan permasalahan kami padanya hingga beliau mengundangku secara langsung ke acara itu.
Tentu saja aku akan datang ke acara itu karena walau bagaimana pun juga yang Pak Wilyam tahu aku masih bagian dari perusahaan arsitektur yang dia sewa untuk membangun tempat parawisatanya, ini sebagai bentuk penghormatan ku atas undangan beliau.
Selain mengundang kami, koleganya dan banyak orang yang dikenalnya rupanya Pak Wilyam juga mengundang warga sekitar untuk menghadiri peresmian tempat parawisata itu. Beliau membuka seluruh wahana yang ada untuk dinikmati para pengunjung yang datang secara gratis, ini adalah bentuk promosinya agar banyak pelancong yang singgah dan menikmati banyak wahana ditempat ini.
Rupanya kesempatan ini tak disia-siakan oleh anak-anak panti, mereka juga ikut menghadiri acara itu karena ingin menikmati dan menaiki wahana yang ada di tambah orang-orang dipanti itu juga ternyata diundang oleh Pak Wilyam untuk mengadakan pengajian.
Semua acara sudah selesai dan kini tibalah saatnya semua yang hadir menyerbu semua wahana yang ada, aku tak ikut bermain, aku hanya duduk sendiri sambil mengawasi Shabira dan jidan yang sedang berlarian dan bermain di wahana yang mereka ingin naiki.
Kulihat juga Jani sedang mengawai anak-anak dari dekat, mereka semua terlihat sangat bahagia dan itu sudah cukup menghibur hatiku meski aku sedih karena tak bisa bergabung dengan Jho, Gio dan Azka yang kini sedang berbincang dengan para kolega dan investor.
Bukan aku tak ingin bergabung dengan mereka tapi sikaf ketiga sahabatku itu kini sudah berbeda, mereka benar-benar memusuhiku dan menganggapku seperti tidak ada jadi setiap aku bergabung pasti aku diacuhkan.
Sedih memang rasanya, jika kita ada tapi dianggap tak ada, tapi mau apa lagi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya bisa menunduk sedih di tengah keramaian dengan hati yang terasa sakit disaat semua sedang berbahagia bersama orang-orang yang dicintainya.
Saat aku tengah terhanyut dalam perasaan ini tiba-tiba ada seseorang yang mengasongkan minuman kaleng padaku, aku lalu mendongakan wajahku pada dia yang kini berdiri dihapanku. Kuambil minuman itu lalu meminumnya, dia kemudian duduk disampingku.
"Kenapa kamu nggak ikut bergabung sama yang lain?" tanya Jani padaku. Aku lalu mengulas senyuman lalu menjawab.
"Iya nanti, sekarang aku mau duduk aja dulu" jawabku.
"Kamu ko sendirian aja disini, kenapa gak ikut gabung sama Azka, Gio dan Jho, Apa mereka masih marah sama kamu?" Jani mencecarku dengan banyak pertanyaan.
Aku lalu mengangguk karena aku tak mungkin berbohong pada Jani sebab Jani sudah dewasa tak mungkin dengan mudah ku bohongi.
"Ya sudahlah, biarkan saja mereka seperti itu aku tak apa ko" ucapku seraya mengulas senyuman di bibirku.
Kemudian aku ambil sebuah kotak kecil disaku celanaku yang sudah kusiapkan dari jauh-jauh hari dan ku berikan itu pada Jani.
"Apa ini?"
"Kurasa batas waktuku telah habis, proyek pembangunan ku sudah selesai, aku memang tak berbuat banyak padamu karena aku merasa sedang kacau tapi...ini adalah usaha terakhirku..." aku sengaja menggantung kalimatku karena sedang menyiapkan mental dengan jawaban dari Jani yang mungkin saja akan semakin membuatku hancur atau sebaliknya.
"Aku ingin serius padamu Jani, aku sangat menyayangi kamu dan anak kita. Apakah kamu bersedia menjadi istriku yang akan selalu menemaniku di keadaan apa pun?" tanyaku penuh harap.
Sebelum menjawab dia terlihat menghela nafas panjang lalu membuangnya, wajah cantik itu terlihat sedang berpikir dan menimbang-nimbang banyak hal tapi pada akhirnya dia kembali bersua juga.
"Apa kamu yakin ingin menikah denganku Atar? Apa kamu tidak akan menyesal dikemudian hari? Coba pikir baik-baik aku ini bukan seorang gadis lagi loh, aku sudah punya anak" kata Jani seolah sedang menyurutkan niatku untuk menikahinya.
"Kamu ko ngomong gitu sih, Jani. Aku sudah tahu kamu bukan seorang gadis lagi, aku tahu kamu sudah punya anak lalu kenapa kamu harus ngomong kaya gitu bukan kah aku yang sudah merampas kesucianmu, bukankan aku yang jadi ayah dari anakmu lalu kenapa kamu seolah menyurutkan niatku untuk melamarmu?" tanyaku sedikit manyun karena pertanyaan konyol dari Jani.
"Bukan begitu maksudku aku hanya tak mau kamu menyesal dikemudian hari karena selain aku punya Shabira aku juga punya 4 anak angkat. Emang kamu bakal bisa menerima semua anak-anak ku. Orang kan tahunya kamu belum menikah. Apa kamu tidak akan menyesal jika ada orang yang bilang si Atar menikah belum lama udah punya lima anak aja" tutur Jani.
Sebenarnya aku sempat meragu tapi raguku bukan karena aku tak mau menikahi Jani tapi, aku ragu karena aku takut tak mampu menafkahi anak dan istriku nanti, tapi semua kutepis saat ku tanamkan keyakinan dalam diriku bahwa setiap anak itu membawa rezekinya masing-masing asal aku diberi badan yang sehat untuk mencarinya lalu kenapa aku mesti ragu.
"Aku tidak merasa ragu untuk menikahi kamu Jani, aku yakin dan tak akan pernah menyesali semuanya, karena setiap anak itu membawa rezekinya masing-masing jadi kenapa aku harus mundur untuk menikahi kamu meski kamu punya lima anak atau lebih? Kalau pun aku harus menafkahi kalian semua itu artinya ada rezeki anak-anak yang dititipkan lewat tanganku untuk diberikan pada Anak-anak dan istriku, asal aku diberi badan yang sehat saja untuk mencari rezeki agar aku bisa menafkahi kamu dan anak-anak kita"
Mendengar jawabanku Jani langsung menunduk, meski begitu aku bisa melihat dia sedang tersenyum haru dengan ucapan yang tadi baru aku ucapkan, mungkin Jani tak menyangka aku akan berkata seperti itu. Tapi semua ucapanku itu benar-benar tulus dari dalam hati terdalam ku.
__ADS_1
"Lalu apa jawabanmu, Jani. Apa kamu akan menerimaku jadi suamimu?"
Bersambung