
Saat petang telah tiba Atar memutuskan untuk kembali ke vila. Semoga kali ini ketiga temannya mau membukanan pintu agar dia tak tidur diluar lagi.
"Semoga pintunya tidak dikunci" harap Atar ketika dia ada didepan pintu.
Ceklek!
Pintu pun terbuka, dia merasa bersyukur karena kali ini dia bisa masuk lagi ke vila itu. Dia pun masuk lalu mencari ketiga temannya.
"Itu dia mereka" gumam Atar saat melihat ketiga temannya sedang duduk diruang tengah sambil nonton tv.
Dia lalu menghampiri ketiga temannya.
"Jho, Gio, Azka" panggil Atar
Ketiga pria itu lalu melirik kesumber suara. Mendadak keceriaan yang tadi terbingkai diwajah mereka kini berubah jadi rasa tidak suka dan marah terhadap Atar.
"Gio, Azka aku males disini, aku kekamar dulu ya" ucap Jho lalu pergi ke kamarnya.
Gio lalu menatap sinis pada Atar kemudian dia berkata pada Azka.
"Azka,aku mendadak ngantuk nih, aku kekamar dulu ya"
"Eh! Gio aku juga ikut deh soalnya ada hal yang harus kukerjakan dikamar" Azka lalu menyusul Gio yang sudah duluan pergi.
"Ternyata mereka masih marah padaku" lirih Atar sambil menunduk sedih.
...****************...
Esok hari kemudian.
Atar masih dalam kebimbangan yang tak berujung pasalnya ketiga sahabatnya itu masih marah padanya atas kekacauan yang terjadi selama ini membuat ruang gerak Atar serasa terbatas.
Bukan tanpa sebab hal itu dikarenakan Atar merasa dalam kebuntuan dikala masalahnya begitu menekan batinnya dan saat itu semua temannya malah menjauh.
Atar benar-benar bingung harus berbuat apa pada ketiga temannya yang terus menghindarinya belum lagi masalahnya dengan Jani dan Shabira, ini semua membuat kepala Atar serasa ingin pecah karena bingung memikirkannya.
__ADS_1
Lagi-lagi dia hanya bisa duduk melamun sendiri ditempat yang jauh dari keramaian. Dan tanpa sengaja Jani yang saat itu terlihat terburu-buru melewati Atar, Atar yang melihat Jani langsung menghampirinya.
Dari arah lain ternyata ada Shabira dan Jidan yang akan pulang ke panti dan tak sengaja melewati tempat itu. Karena melihat Jani dan Atar yang nampak sedang bicara serius, diam-diam Shabira mengajak Jidan untuk menguping pembicaraan mereka. Sambil mindik-mindik mereka mendekati Atar dan Jani, kemudian mereka bersembunyi disemak-semak.
"Ada apa kamu memanggilku?" tanya Jani sambil menepis tangan Atar yang memegangi tangannya.
Atar lalu melepaskan tangan Jani, dia menatap Jani dengan tatapan serius.
"Jani, Kenapa kamu biarin aku jadi orang paling jahat didunia ini? Kenapa kamu biarin aku tidak tahu apa-apa selama ini? Kenapa kamu harus lari dan menanggung semuanya sendiri?" tanya Atar penuh penekanan.
"Kamu ngomong apaan sih? Nggak jelas, aku nggak ngerti" ketus Jani
"Kamu jangan pura-pura tidak ngerti, kamu tidak bisa menutupi semuanya lagi, sekarang aku sudah tahu semuanya" ujar Atar
"Tahu apa?" tanya Jani
"Soal Shabira. Aku tahu dia adalah anakku kan? Dia darah dagingku" jawab Atar
Sontak Jani langsung tercengang kaget, bagaimana Atar bisa tahu soal itu padahal selama ini tak ada satu pun orang yang mengetahui ayah kandung Shabira itu siapa?
"Shabira, jadi ayah kandung kamu itu adalah Om Atar" ucap Jidan
Gadis kecil itu tak bisa berkata-kata karena dia merasa shock mendengar itu semua, ada kesedihan yang diam-diam menyelusup ke relung hatinya tapi dia tak bisa berbuat apa-apa ketika keadaan masih belum berpihak padanya.
"Bagaimana bisa kamu ngomong seperti itu? Bisa saja kan Shabira itu bukan anakmu" tanya Jani
"Aku, Gio, Azka dan Jho diam-diam melakukan tes DNA dengan Shabira. Hasil tes DNA dari semua ternyata akulah yang dinyatakan sebagai ayah biologis dari Shabira" jawab Atar
Sekarang Jani tak bisa berkata-kata atau pun menyangkal lagi dia hanya bisa bergeming sambil menunduk. Atar lalu memegangi kedua lengan Jani dan bertanya dengan nada mendesak.
"Bagaimana bisa kamu mengandung dan melahirkan anakku,Jani? Aku tak bisa mengingat apa pun. Kapan kita melakukan hubungan itu? Kenapa bisa itu semua terjadi?"
Jani yang kesal pada Atar lalu mendorongnya hingga dia beringsut mundur.
"Apa maksudnya kamu nanya seperti itu? Apa kamu nyalahin aku atas semua yang sudah terjadi?" bentak Jani
__ADS_1
"Bukan begitu, aku hanya merasa kesal saja. Bagaimana bisa semua ini terjadi, kamu tahu gara-gara ini Jho,Azka dan Gio sangat marah padaku mereka bahkan tak mau membukakan pintu untukku dan membiarkan aku tidur diluar, hingga detik ini mereka masih marah dan terus nyalahkanku" ujar Atar.
Shabira yang kini sudah tahu kalau ayah kandungnya itu adalah Atar, dia merasa tidak tahan lagi mendengar pertengkaran antara Jani dan Atar akhirnya Shabira pergi meninggalkan tempat itu.
Jidan yang melihat Shabira sedih lalu mengikuti kemana pun dia pergi karena ingin menghibur Shabira yang sekarang suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Sementara pertengkaran antara Jani dan Atar masih terus berlanjut.
"Jadi kamu mau nyalahin aku atas semua ini? Apa kamu nggak mikir gimana hancurnya aku saat itu? Apa kamu nggak mikir gimana tertekannya batinku saat itu? Apa kamu gak tahu gimana takutnya aku pada bapak karena gagal jadi putrinya yang baik? Dimana otak kamu, kenapa kamu bisanya cuma nyalahin aku?" bentak Jani dengan butir bening yang berhasil lolos dari pertahanannya.
"Bukan seperti itu Jani. Aku tidak menyalahkanmu, yang ingin aku tahu kenapa kamu harus lari dan menanggung semua ini sendirian? Kalau aku tahu dari awal aku tidak akan membiarkan kamu menderita sendirian, aku pasti bertanggung jawab" ucap Atar dengan lembut agar Jani tak salah paham lagi.
"Sama aja, itu kamu nyalahin aku.Kamu pikir aku mau seperti ini pikiranku buntu saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa, aku terlalu takut bapak akan menyalahkanku dan memarahiku karena ini,aku tak mau bapak kecewa padaku jadi yang ada dipikiranku saat itu hanyalah lari dan pergi sejauh mungkin" ucap Jani sambil menunduk sedih.
Atar lalu memeluk Jani, itu membuat Jani kaget. Ingin rasanya dia melepaskan pelukan itu tapi tiba-tiba saja tubuhnya terasa kaku hingga akhirnya Jani hanya bisa bergeming.
"Maafkan aku Jani, tak ada sedikit pun niatku untuk menyelahkan kamu aku hanya tak habis pikir saja kenapa bisa aku menjadi seorang pria brengsek yang menghancurkan hidup kamu, yang membuat sahabatnya sendiri merasa tertekan dan amat takut, aku minta maaf Jani" lirih Atar meminta maaf dengan sungguh-sungguh
"Aku kesal pada diriku sendiri kenapa aku malah menjadi penyebab seorang anak terpisah dari bapaknya, akulah penyebab hancurnya persahabatan kita, dosaku terlalu besar hingga tak bisa diampuni, aku tidak tahu dengan cara apa aku harus menebus kesalahanku padamu dan Shabira" lirih Atar dengan terisak.
Jani terdiam mendengar kesungguhan ucapan Atar. Atar melepaskan pelukannya lalu menatap lekat kedua netra Jani, dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh kemudian dia berucap.
"Aku minta maaf Jani, tolong maafkan atas semua kesalahanku ini aku berjanji akan menebus semua kesalahanku, kumohon maafkanlah aku"
Jani merasa bingung harus berkata apa karena jujur saja sebenarnya dalam hatinya ada rasa marah dan kecewa pada Atar tapi sepertinya Atar melakukan kesalahan itu tanpa disengaja.
"Aku... aku akan berusaha mencoba memaafkanmu walau jujur aku sangat marah,kecewa bahkan dulu aku sempat membencimu tapi aku sudah melupakan perasaan benci itu"
"Aku paham itu, pastilah kamu merasa marah, kecewa bahkan membenciku karena aku sudah menghancurkan hidup kamu, sekali lagi aku minta maaf tolong beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku" ucap Atar sepenuh hati
Suasana menjadi hening untuk sesaat hingga Jani mulai berbicara.
"Ya sudah, aku akan memaafkan kamu, kamu tidak perlu menebus apa pun karena aku juga tidak akan minta apa pun dari kamu"
Atar lalu menunduk sambil mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena Jani mau memaafkan kesalahannya.
Bersambung
__ADS_1