
Sepulang sekolah Jidan datang kerumah sakit untuk bergantian menjaga Shabira karena orang-orang panti sedang ada urusan sementara Jani pergi keruangan dokter untuk menanyakan kondisi Shabira dan kapan gadis kecil itu bisa pulang?
Kamar berukuran sedang itu nampak lengang dan hening karena Shabira mau pun Jidan masih menutup rapat mulutnya, beberapa kali gadis kecil yang masih terbaring ditempat tidurnya itu terlihat menghempaskan nafas kasar, seketika rasa bosan yang melanda mulai terbingkai diwajah polosnya.
"Hulfh! Aku bosan tidur terus" keluh Shabira sambil mendengus kesal.
"Sabar Shabira, bunda kan lagi nanyain ke dokter kapan kamu bisa pulang" ujar Jidan.
"Semoga aja hari ini juga aku bisa pulang, aku sudah tidak betah berada disini terus" lirih Shabira yang masih bisa didengar oleh Jidan.
Jidan pun segera meng'aamiin'kan permohonan Shabira.
"Shabira, sepertinya om Atar sama bunda sedang marahan deh" celetuk Jidan tiba-tiba sontak membuat kedua netra gadis kecil itu merotasi kearahnya.
"Marahan kenapa? Ko kamu bisa menyimpulkan begitu?" tanyanya penasaran.
"Kamu masih ingat kan saat om Atar kemarin kesini?" tanya Jidan sebelum menjawab pertanyaan Shabira.
Gadis itu pun mengangguk, Jidan pun kembali melanjutkan kalimatnya.
"Saat aku dan om Atar kesini dia langsung ngajak bunda ngobrol empat mata, dari sikaf dan tatapannya sepertinya om Atar sangat marah sama bunda dan ketika mereka selesai ngobrol lalu kembali kesini saat itu kamu masih tidur, om Atar tak langsung masuk, dia malah duduk diluar dari wajahnya tersirat kesedihan yang amat mendalam. Tapi aku nggak tahu kenapa om Atar seperti itu. Tak lama kemudian kamu pun bangun dan om Atar baru masuk kedalam tapi sikafnya jadi berubah pada bunda"
"Masa sih kaya gitu? Ko aku gak ngeh ya?"
"Ya mungkin karena kamu gak fokus aja karena baru bangun tidur, kalau aku sih terus memperhatikan sikaf bunda dan om Atar"
Shabira lalu mengangguk-angguk paham.
"Ngomong-ngomong kenapa bunda dan ayah marahan ya?" tanya Shabira.
"Aku juga nggak tahu karena nggak nguping pembicaraan bunda dan om Atar"
Mendadak sikaf tak biasa Atar pada Rinjani itu membuat Shabira jadi kepikiran terus sama mereka dan itu membuat gadis kecil itu merasa tak bisa tenang.
"Ini nggak bisa dibiarin aku nggak mau kalau ayah dan bunda marahan terlalu lama, ayah kan orangnya lelet dia tak bisa cepat tanggap. Sepertinya aku harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini" ucap Shabira sambil memicingkan kedua alisnya.
"Apa kamu punya rencana untuk masalah itu?"
Shabira tak menjawab dia hanya menampakan lengkungan garis tipis dibibirnya.
...****************...
Hari ini Shabira sudah diizinkan untuk pulang kerumahnya dia dijemput oleh pak Husen dan bu Retno, setelah Jani membereskan pakaian Shabira dan semuanya sudah siap, mereka akhirnya pulang.
Keempat pria tampan itu yang sudah tahu kalau Shabira akan pulang jadi mereka menyempatkan diri untuk pergi kepanti karena akan menyambut kedatangan Shabira sekalian menjenguknya.
__ADS_1
Ketika mobil yang membawa Shabira sampai dipelataran rumah semua menyambutnya dengan senang hati setelah sepekan dia dirawat dirumah sakit dan akhirnya gadis kecil itu pulang juga, tentunya dengan kondisi yang sudah pulih dari sakitnya.
"Alhamdulillah akhirnya kamu pulang juga, cantik" ucap Atar dengan mengulas senyuman didibirnya.
Shabira pun membalas senyuman dari ayahnya itu. Gio, Azka dan Jho lalu menanyakan kondisi Shabira padanya setelah gadis kecil itu dibawa ke kamarnya lalu berbaring karena dia masih lemas.
Mereka semua kemudian ngobrol panjang lebar. Namun, ketika Jho, Azka, Gio ngobrol sama Rinjani, Atar terlihat cenderung lebih banyak diam itu karena dia masih merasa marah dan canggung pada Rinjani sebab cintanya yang sudah ditolak mentah-mentah oleh Jani.
Sejak kejadian dirumah sakit itu Atar jadi sering menghindari Jani. Berbagai pikiran buruk kerap kali merasuki pikiran Atar tentang prasangka buruk pada Jani.
Apa Jani masih membenciku atas kemalangan hidupnya?
Apa dia sengaja menolakku untuk balas dendam agar aku merasakan sakit yang dia rasakan selama 10 tahun terakhir ini?
Apa mungkin Jani menolakku karena dia menyukai salah satu diantara kami?
Prasangka buruk itu membuatnya menjauhi wanita yang sudah melahirkan anaknya meski sebenarnya didalam relung hatinya yang terdalam dia tak ingin kehilangan wanita yang sudah memikat hatinya itu.
Ternyata prahara diantara mereka terus diamati oleh Shabira secara diam-diam hingga menjadikan gadis kecil itu enggan berlama-lama untuk menunda rencananya yang ingin selalu mendekatkan hubungan antara ayah dan bundanya.
Ketika Shabira benar-benar sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala, disuatu hari dia meminta bundanya untuk dibuatkan stuff roti, ibu muda itu segera membuatkan untuk putri kesayangannya.
"Bun, udah belum bikinnya?" tanya Shabira tiba-tiba ketika Rinjani tengah asyik memberi topping stuff rotinya.
"Eh! Sayang, sebentar lagi selesai ko. Kamu sudah tidak sabar ya ingin cepat memakannya?" tanya Jani dengan sekilas melirik Shabira yang kini sudah berdiri disampingnya.
Setelah stuff rotinya jadi mereka lalu duduk disofa kemudian Jani menyuruh Shabira untuk segera memakannya.Tapi ketika makanan itu sudah ada dihadapannya gadis kecil itu hanya menatap stuff rotinya.
"Ko dilihatin aja, katanya mau makan stuff roti?" tanya Jani.
"Aku tiba-tiba malah kepikiran sama ayah" celetuk gadis kecil itu membuat kedua alis mata Jani sedikit terangkat.
"Emangnya ada apa dengan ayah kamu?"
"Aku kesal sama ayah. Kenapa sih ayah tidak pernah mengerti perasaanku dan keinginanku? Ayah tak pernah peka dengan perasaan orang lain, kalau punya masalah ayah tak pernah bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Apa sebegitu bodohnya kah ayah hingga tak bisa mengerti perasaan orang lain?"
"Shabira, kamu tidak boleh mengatai ayah kamu bodoh walau bagaimana juga dia itu ayah kamu, sayang" ujar Jani dengan lembut sambil membelai lembut rambut putrinya.
"Dengerin bunda ya sayang, perempuan itu memang rumit, terkadang laki-laki tak bisa menebak perasaan dan keinginan perempuan yang tak dikatakan secara langsung. Tapi sebenarnya didunia ini tidak ada orang bodoh hanya saja, terkadang seseorang lemah disuatu hal tapi dibalik itu dia punya kelebihan dan bakat tersendiri. Misalnya saja ayah kamu..." Jani menggantung kalimatnya.
"Dia sangat hebat dibidang arsitektur, banyak prestasi dan penghargaan yang sudah didapatnya atas bakat dan karyanya yang luar biasa tapi..." Jani menggantung kalimatnya lagi
"Dia lemah dalam hal menebak perasaan orang, ayahmu tidak bisa peka pada perasaan dan keinginan seseorang yang terpendam dalam hati, makannya dari itu jika kamu menginginkan sesuatu dari ayahmu katakanlah dengan sejelas mungkin agar ayahmu mengerti dan jangan pakai bahasa isyarat untuk menyampaikan keinginanmu"
"Oh jadi ayah orangnya seperti itu ya bun?"
__ADS_1
Jani mengulas senyuman dibibirnya sambil mengangguk dan berkata "Iya sayang"
"Jadi kalau aku menginginkan sesuatu aku harus ngomong langsung ya, jangan sampai ayah menebak-nebak agar dia tidak salah memenuhi keinginanku?" tanyanya lagi.
Jani mengangguk lagi sambil tersenyum. Sebisa mungkin dia tidak akan membuat citra buruk bagi Atar dihadapan putrinya agar Shabira tak membencinya, apa lagi Atar pernah mengecewakan putrinya dengan tak pernah ada disamping putrinya selama 9 tahun belakangan ini.
"Berarti kalau aku marah sama ayah dan saling diam aku harus duluan ya ngomong ke ayah kenapa aku marah dan aku harus mengutarakan keinginanku secara langsung?"
"Iya sayang, katakan saja pada ayahmu tanpa rasa ragu, kalau kamu ada masalah dengan ayahmu dan kamu tahu cara menyelesaikannya, selesaikanlah duluan agar masalahmu tidak berlarut-larut jangan menunggu ayahmu memulai duluan, sekarangkan kamu sudah tahu kelemahan ayahmu itu, dia tak bisa peka terhadap perasaan orang dan dia sedikit lambat dalam menanggapi masalah yang berhubungan dengan hati"
"Baiklah bun, aku akan mencoba lebih memahami ayah lagi. Tapi aku perhatikan sepertinya bunda dan ayah ko seperti lagi selek ya" kata Shabira mulai menatap Jani dengan tatapan mengintimidasi.
Jani tak bisa menatap netra putrinya itu karena dia tak bisa berkata bohong sebab Shabira selalu bisa membedakan kalau Jani sedang berkata bohong.
"Aku harap bunda tak menjawab dengan perkataan bohong" ucap Shabira masih menatap Jani dengan tatapan mengintimidasi.
"Eeee...itu...anu...Bunda..." Jani gelagapan sambil menatap mata putrinya yang tajam.
"Iya...iya...ibu emang lagi marahan sama ayah kamu. Eh! Tapi, ayah kamunya aja yang sensi"
"Tadi bunda bilang apa? Katanya nggak boleh biarin masalah berlarut-larut lalu kenapa bunda sama ayah masih marahan?"
"Ya ampun aku lupa putriku itu sangat pintar. Sepertinya Shabira emang sengaja menjebakku dengan ucapannya. Kalau udah begini tak ada pilihan lain aku memang harus ngomong duluan ke si Atar. Aku terjebak dalam ucapanku sendiri" Batin Jani sambil tersenyum kecut.
Jani lalu menghela nafas panjang sebelum dia menjawab pertanyaan Shabira yang kini masih setia menanti jawabannya dengan tatapan tajam yang tegas dan penuh makna.
"Baiklah bunda akan bicara duluan sama ayah kamu agar kami tidak saling diam"
"Kalau begitu sekarang bunda cepat kirim pesan pada ayah, ajak ayah ketemuan sekarang juga" pinta Shabira.
"Emang harus sekarang juga?"
"Lebih cepat lebih baik, kalau bisa sekarang kenapa harus nanti"
"Oke, bunda akan turuti keinginan kamu"
Jani lalu mengirim pesan pada nomor whatshapp Atar dan kebetulan saat ini nomornya Atar sedang online jadi tak butuh wakti lama untuk menunggu pesan itu dibaca oleh si pemilik nomor.
"Oke pesannya sudah dibaca dan ayahmu bisa menemui bunda. Apa sekarang kamu puas?" tanya Jani.
Shabira lalu mengulas senyuman bahagia sambil berkata.
"Terimakasih bunda, bunda memang yang terbaik. Oh iya bawa stuff roti ini untuk ayah. Ayah pasti lelah bekerja jadi ayah harus banyak makan untuk menambah energinya" ujar Shabira.
Jani hanya mengangguk sambil mengangkat sebelah alisnya kemudian dia pamit pergi pada putrinya.
__ADS_1
Bersambung