
Sebelum pergi ke bandara dia pulang dulu kerumah untuk membawa peralatan dan berkas-berkas pekerjaannya setelah itu dia segera pergi ke bandara. Di sepanjang jalan hatinya terus tak tenang karena memikirkan Shabira.
Atar sangat takut pikiran buruknya akan menjadi nyata. Beberapa jam kemudian dia telah sampai di bandara terdekat di tempat kerjanya. Setelah turun dari pesawat dia segera berlari mencari taxi untuk segera sampai kerumah sakit.
Di jalan dia terus menghubungi temannya untuk menanyakan rumah sakit mana tempat Shabira dirawat. Setelah menempuh perjalanan sangat jauh akhirnya Atar sampai juga di rumah sakit tempat Shabira dirawat.
Atar segera menghampiri petugas resepsionis untuk menanyakan di kamar mana Shabira di rawat. Berbekal informasi dari petugas resepsionis Atar segera berlari dilorong panjang rumah sakit untuk mencari kamar rawat inap Shabira.
Tak berapa lama dia sampai di ruang UGD, semua orang sedang duduk cemas didepan ruangan. Atar segera menghampiri mereka dan langsung menanyakan kondisi Shabira.
"Jani, Kenapa Shabira bisa kecelakaan? Bagaimana keadaannya sekarang"
Sontak semua mata langsung tertuju padanya karena Jani tak kuasa menahan kesedihannya dia tak bisa bercerita dia hanya menatap Atar dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya Gio menceritakan kronologi dibalik kecelakaannya Shabira.
Tentu saja cerita itu membuat hati atar serasa dicabik‐cabik dan karena itu lagi-lagi Atar tak pernah ada untuk putrinya di saat dia dalam bahaya dan di saat kondisi apa pun.
Itu menjadi penyesalan terbesar dan rasa bersalah yang menghujam batinnya hingga dia menjatuhkan tas selempangnya lalu terduduk lemas di lantai. Atar menunduk sedih dan tak kuasa lagi dia menahan bendungan air matanya.
"Ya tuhan, kenapa engkau menghukumku dengan perasaan bersalah yang amat menyiksa batinku, kenapa harus putri semata wayangku yang menerima hukuman atas kesalahamku? Kenapa harus dia yang merasakan sakit bertubi-tubi?" batin Atar merasa nelangsa.
Atar terus menangis dalam rutukan batinnya yang tak bisa didengar oleh siapa pun kecuali tuhan yang menciptakannya. Azka langsung jongkok dan menepuk bahu kekar itu dalam lirihnya dia berkata.
"Atar yang sabar ya, aku tahu kamu sedih atas musibah yang menimpa Shabira, kami pun amat sangat sedih dengan ini semua tapi ini adalah cobaan yang harus kita terima dengan sabar dan ikhlas...." kalimat Azka tergantung karena menahan sesak didadanya atas kesedihan yang dirasa kini.
"Atar, Sahabira butuh transfusi darah hanya saja darah yang di milikinya sangat langka. Apa darahmu golongan darah emas atau golden blood? Kalau iya segeralah donorkan darahmu padanya agar dia bisa melewati masa kritisnya hingga bisa sembuh"
Atar lalu mengangkat wajahnya untuk menatap Azka.
"Iya keluargaku memang memiliki darah langka ibuku menurunkan darah itu padaku hingga golongan darahku jadi golden blood" jawab Atar dengan tatapan nanar.
Seperti mendapat secercah harapan dikala kebuntuan didepan mata, akhirnya semua bisa bernapas lega mendengar ucapan Atar. Pria bertubuh tinggi itu lalu bangkit dari duduknya bersama Azka.
"Segeralah temui dokter agar darahmu bisa segera diberikan pada Shabira" pinta Rinjani dengan kedua bola mata indahnya yang berbinar‐binar.
Atar lalu mengangguk, Jani dan Atar segera ke ruangan dokter untuk mengambil darahnya Atar.
Dua jam kemudian.
Derap langkah lalu lalangnya manusia di tempat itu semakin sore semakin berkurang dan sang surya pun mulai kembali keperaduannya hingga meninggalkan jejak warna jingga yang dengan perlahan tapi pasti mulai memudar dan berganti menjadi gelap gulita.
Namun, meski gadis kecil itu sudah menerima transpusi darah, tetap saja tak ada perubahan yang signifikan, Shabira masih belum sadar dari tidur panjangnya.
Gadis kecil itu masih bertarung nyawa dalam tidurnya yang n'tah bisa bangun lagi atau tidak dan itu membuat semua orang tak bisa berhenti dilanda kesedihan.
Atar, Jani, Gio, Jho dan Aska kini boleh menunggu Shabira di kamar rawatnya hanya saja mereka tidak boleh berisik. Atar menyentuh tangan mungil gadis kecil yang masih tertidur dengan lemahnya.
__ADS_1
Hatinya terenyuh dan tak tega melihat banyak selang yang terpasang ditubuh kecil gadis itu, wajah kecilnya terlihat amat pucat seperti mayat hidup yang tergolek kaku di pembaringannya.
Karena Shabira masih belum sadar juga, terbersitlah kemarahan yang membuncah di dada Atar, marah pada dirinya sendiri karena tak bisa menolong buah hatinya dari musibah ini dan marah karena terlambat mengetahui kalau Shabira dan Jidan di culik hingga mengalami kecelakaan seperti ini.
Akhirnya dia menyalahkan dirinya sendiri dan juga para sahabatnya yang tak memberi tahukan soal ini dari awal.
Andai saja kalau aku tidak telat menolong Shabira ini semua tidak akan terjadi, andai saja teman-temanku memberi tahuku dari awal hilangnya Shabira dan Jidan mungkin musibah ini tidak akan terjadi.
Atar terus berandai‐andai dalam batinnya, lalu dia bangkit dari duduknya, di tatapnya ketiga sahabatannya itu dengan tatapan tajam setajam silet.
"Kalian kan sudah tahu kalau Shabira dan Jidan diculik lalu kenapa kalian tak memberi tahuku dari awal? Kenapa kalian selalu begini padaku? Sama seperti dulu saat Shabira sakit" tanya Atar dengan berang.
"Maaf Atar kamu kan pulang karena ibumu sakit kami tak mau membebani pikiranmu lagian di sini juga kami terus berusaha mencari Shabira dan Jidan" kata Azka.
"Ya tidak bisa begitu tetap saja kalian harus memberi tahu kan soal ini padaku karena aku ayahnya Shabira" berang Atar.
"Emang kalau kami memberi tahu kamu, kamu akan segera menemukan Shabira dan Jidan?" tanya Gio.
"Ya setidaknya aku akan berusaha mencarinya tanpa harus diam seperti sekarang yang tidak tahu apa-apa"
"Ya sudahlah semua sudah terjadi lebih baik kita doa kan saja Shabira agar cepat sadar" ujar Jho dengan entengnya.
"Gampang banget kamu ngomong kaya gitu Jho, kamu gak tahu gimana rasanya jadi aku yang selalu dihantui oleh rasa bersalah, belum tuntas aku menyesali kesalahanku pada Jani sekarang di tambah lagi pada Shabira..." kalimat Atar dipotong oleh Jho.
"Kenapa kamu harus marah, harusnya kamu terima saja hukumannya sendiri karena itu buah dari kesalahan besar yang udah kamu buat pada Jani, jadi pantas saja kalau kamu terus dihantui oleh rasa bersalah" smirik Jho pada Atar.
Dan ini sudah menyulut kemarahan Atar sebab gara-gara satu hal masalah jadi merembet kemana-mana. Merasa tak tahan menahan kemarahan di dadanya Atar lalu berkata dengan nada suara meninggi.
"Kenapa kamu terus menyalahkanku Jho. Apa kamu nggak nyadar perasaan bersalahku tidak akan semakin besar kalau kamu mengizinkan aku untuk bertanggung jawab pada Jani dan Shabira dengan menafkahi dan menikahi Jani"
"Apa! Menikahi Jani? Owh, jadi sekarang kamu udah terang-terangan akan mengkhianati kami? Dan mau menyalahkan apa yang terjadi tentang semua ini pada kami" berang Jho dengan tatapan mata elang yang tajam sambil mendorong dada Atar hingga dia beringsut mundur.
Atar maju satu langkah sambil mengarahkan telunjuknya pada Jho.
"Kamu....!"
"Apa! Kamu, kamu...!" sergah Jho menantang Atar.
Menyadari situasi makin tidak kondusif karena cekcok antara Atar dan Jho yang semakin memanas akhirnya Jani menghentikan pembicarana mereka.
"Berisik! Tidak kah kalian bisa diam, putriku sedang sakit dia butuh ketenangan. Kenapa kalian malah cekcok disini sih? Kalau mau terus seperti ini keluar dari sini" usir Jani pada Atar dan Jho.
Bentakan dari Jani itu membuat kedua pria itu tidak berkutik, mereka langsung menciut dan langsung diam. Jho kembali duduk dekat Azka dan Gio sementara Atar kembali duduk di kursi disamping brankar Shabira.
Hening!
__ADS_1
Kedua mata Jani selalu berkabut setiap kali melihat putri kecilnya masih terbaring lemah. Doa yang tak ada putusnya terus dia lafazkan dalam hati demi kesembuhan sang putri hingga akhirnya Allah mengabulkan doa seorang ibu untuk putri tercintanya.
Jari jemari gadis itu mulai bergerak dengan lemah dan perlahan. Shabira mulai mencoba membuka matanya meski terlalu berat. Yang terlihat dimatanya hanyalah siluet hitam sesosok manusia, samar-samar suara isak tangis haru terdengar di telinganya hingga suaranya semakin jelas.
Dan Shabira semakin membuka lebar kedua matanya hingga terlihat sang ayah yang tengah menatapnya dengan penuh haru, dia membelai lembut rambut Shabira dan berbisik ditelinga gadis kecil itu.
"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar ayah sangat mengkhawatirkan kamu"
Atar lalu mencium kening putrinya dengan lembut. Bibir kecil milik Shabira terlihat mengatup seperti ingin mengatakan sesuatu namun dia terlalu lemah untuk berucap hingga Atar tak dapat mendengar gumaman putrinya.
Atar yang menyadari putrinya itu ingin bicara tapi karena kondisinya sangat lemah jadi dia tak bisa meski hanya untuk sekedar berucap akhirnya Atar mendekatkan telinganya ke mulut Shabira yang masih terpasang ventilator.
"Apa yang ingin kamu kata kan pada ayah Shabira?" lirih Atar.
"A..Aku..ta..ta..kut..A..yah" suara Shabira terdengar tertahan dibibirnya.
Atar lalu menggenggam erat tangan putrinya dia berkata dengan mata yang berkabut "Ayah ada di sini sayang, ayah akan menjagamu dan ayah tidak akan pergi meninggalkanmu"
Jani pun membungkukan tubuhnya sambil merangkul putrinya lalu berucap dengan suara lembut.
"Bunda juga ada untuk kamu sayang, bunda juga akan menjaga kamu dan akan tetap di sisimu"
Penculikan dan mengalami kecelakaan yang di alami gadis kecil itu ternyata menyisakan bekas ingatan kelam yang membuatnya takut itu akan terulang kembali walau pun Shabira anak yang kuat dan pemberani tapi ini adalah pertama kalinya dia mengalami hal terburuk dalam hidupnya hingga menyisakan rasa takut.
Tapi hatinya berubah menjadi tenang dan damai ketika tangannya dirangkul oleh kedua orang tuanya hingga akhirnya Shabira mengulas senyuman dikedua sudut bibirnya yang terlihat lebam.
Hati Atar dan Jani pun jadi lebih tenang ketika putrinya bisa tersenyum kembali. Tiba‐tiba Shabira yang semula dipegang sebelah tangannya oleh Jani kini Shabira yang memegang tangan Jani lalu dia simpan diatas perutnya.
Kemudian dia juga melakukan hal yang sama pada Atar, dipegangnya tangan Atar setelah itu diletakan diatas punggung tangan Jani sontak itu membuat Jani dan Atar saling menautkan pandangannya mereka lalu menatap putrinya yang tengah membingkai senyuman dibibirnya yang masih tertutup alat bantu nafas.
Seketika suasana bagi Atar dan Jani jadi canggung. Sementara Gio dan Jho yang tak bisa menerima saat Atar disuruh memegang tangan Jani dihadapannya oleh Shabira, mereka lalu melangkahkan kaki untuk mencegah aktivitas itu berlangsung lama.
Tapi Azka yang saat itu berada ditengah-tengah Gio dan Jho, langsung merentangakan kedua tangannya untuk mencegah mereka sambil berkata dengan lirih.
"Jangan! Jangan rusak kebahagiaan Shabira yang baru siuman dari komanya, biarkan Shabira merasakan kebahagian untuk sesaat. Mari mengalah untuk sejenak demi Shabira"
Meski hati mereka dilanda cemburu tapi pada akhirnya mereka mengurungkan juga niat hati yang ingin menghentikan itu karena tak tahan melihatnya, ini semua mereka lakukan demi Shabira.
Ada perasaan senang dan tak enak hati pada ke tiga sahabatnya itu di hati Atar. Senang karena dia Shabira mendukung hubungannya dengan Jani yang jelas-jelas ditentang oleh ke tiga sahabatnya, dia juga senang karena ada kontak fisik dengan Jani.
Dan merasa tidak enak hati karena kontak fisik itu dilakukan dihadapan ke tiga temannya yang tentu saja itu membuat mereka tidak senang.
Kemudian Atar dan Jani menatap kearah Gio, Jho dan Azka, dari gesture tubuh mereka nampaknya untuk kali ini mereka mengizinkan terjadinya kontak fisik antara Atar dan Jani itu semua dibiarkan semata-mata hanya demi gadis kecil yang baru sadar dari komanya.
Bersambung
__ADS_1
Begitu banyak para Author di platform ini yang berjuang keras untuk membuat karya agar bisa diterima dan disukai banyak orang, tapi tidak sedikit dari mereka yang didalam perjalanan menyelesaikan suatu karya sering merasa down karena dukungan yang sedikit, viwes yang makin tak ada, berbagai cara dan kemampuan dikerahkan untuk memperbaiki setiap kesalahan didalam karyanya tapi tetap saja tak pernah sesuai ekspetasi akhirnya para author yang seperti ini dilanda down yang berkepanjangan. Hanya dukungan dari para author lain dan para readers yang bisa membangkitkan semangatnya meski terkadang banyak readers yang acuh akan usaha author ini, sebagian orang hanya menikmati karya tanpa meninggalkan jejak dukungan untuk author. Tapi inilah konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada bagi author. Untuk para author yang mengalami ini AYO SEMANGAT! mari saling menguatkan agar tidak mundur ditengah jalan. Dan terimakasih untuk semua readers yang sudah mendukung usaha jerih payah para author. Ingatlah! Tak ada orang yang bisa sukses secara instan tanpa usaha keras jadi SEMANGAT💪🥰😍💖💖💖💖💖