
Sang mentari kini telah terbit diupuk timur, cahayanya yang hangat disambut ceria oleh siulan burung yang saling bersahutan, semilir angin sejuk dipagi itu menambah keasrian udara pagi yang belum tercemar oleh polusi.
Keempat pria itu pun kini sudah bangun dari tidurnya untuk memulai aktifitasnya. Seperti yang sudah-sudah, jika mereka kerja diluar kota dan tinggal untuk waktu yang cukup lama maka mereka akan berbagi tugas untuk memenuhi kebutuhan mereka seperti makan, minum dan membersihkan tempat tinggal mereka.
Ya, meski kini mereka sudah bergelimang harta tapi gaya hidup dan pola hidupnya masih sederhana dan bersahaja jadi mereka tetap mengerjakan semuanya sendiri jika mereka masih mampu mengerjakannya.
Ada pun penghasilan yang didapat dari keringat mereka sendiri maka mereka akan simpan ditabungan masing-masing untuk masa depan mereka kelak yang tentunya suatu hari nanti mereka pun akan membina biduk rumah tangga dengan jodohnya masing-masing yang hingga kini n'tah ada dimana?
Karena hingga detik ini, meski pun mereka berparas tampan dan sudah mapan tapi jodoh mereka tak kunjung tiba. Namun, meski begitu mereka tak ambil pusing karena yang ada dipikiran mereka hanyalah memanfaatkan masa muda sebaik-baiknya untuk masa tua mereka.
Kalau soal jodoh, kalau sudah waktunya tiba pastilah mereka akan memperjuangkannya dan menikah juga.
Setelah sarapan pagi, Gio pergi ketoko matrial untuk mulai belanja bahan bangunan, Atar pergi jalan-jalan sendiri dikebun teh sambil membawa peralatan menggambarnya karena dia akan melanjutkan membuat denah serta isinya yang masih belum selesai karena saat meeting dia hanya menerangkan sebagian lahan yang akan dibangun.
Jho dan Azka pergi ke tempat pembangunan yang sekarang akan melakukan penebangan pohon yang menghalangi jalan pembangunan, pembersihan lahan dan perataan tanah yang berundak-undak agar bisa dibangun bangunan permanen dengan mengerahkan kendaraan berat.
...****************...
"Sepertinya disana tempat yang cukup nyaman untuk aku menggambar" gumam Atar sambil menatap pohon besar ditengah-tengah perkebunan teh yang berundak-undak.
Atar yang kala itu ada dijalan yang berada dibawah perkebunan teh kemudian naik ke atas ketempat pohon besar nan rindang itu berada.
"Wow! Keren, diatas sini aku bisa melihat pemandangan yang indah dan juga lahan pembangunan tempat parawisata itu" ujarnya penuh kekaguman akan lukisan alam yang indah yang terbentang luas dihadapan pandangannya.
Hiks.. hiks.. hiks.. hiks..!!
Samar-samar Atar mendengar suara tangisan dia lalu mencari sumber suara yang ternyata ada dibalik pohon besar itu. Dilihatnya seorang gadis kecil yang memakai seragam sekolah dasar dengan tas yang tersimpan disampinya. Gadis kecil itu membenamkan kepalanya diantar kedua lututnya sambil terisak-isak.
"Hay! Dek, kenapa kamu menangis sendirian disini?" tanya Atar tiba-tiba.
Gadis itu mendongakan wajahnya untuk menatap seorang pria yang tengah berdiri dihadapannya.
"Bukan urusanmu, Om" jawab gadis kecil itu dengan jutek membuat Atar sedikit mengangkat kedua alisnya yang hitam dan tebal.
Atar lalu duduk disamping gadis kecil itu, ditatapnya sekilas tapi tatapan Atar lebih tertarik pada beberapa kertas gambar dan buku gambar yang agak berserakan diatas tas sekolah gadis itu.
"Apa itu buku gambarmu? Apa kamu suka menggambar?"
Gadis kecil itu masih terlihat jutek, dia segera merapihkan kertas-kertas dan buku gambarnya lalu memasukan kedalam tas karena dia tak ingin gambar-gambar itu dilihat oleh Atar.
"Oke, jika kamu masih ingin tetap diam dan tak mau menjawab pertanyaan Om, Om tidak akan bertanya lagi" ucap Atar lalu mengeluarkan peralatan menggambarnya.
__ADS_1
"Om juga suka menggambar dan ini adalah pekerjaan Om, jadi Om tidak akan bicara lagi dan hanya akan fokus menggambar karena Om datang kesini untuk menggambar" ujar Atar sebelum dia benar-benar diam dan tak bicara lagi pada gadis kecil yang tak mau bicara padanya.
Hening!
Lama-lama gadis kecil itu penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Atar, dia lalu diam-diam mencuri pandangan pada Atar dan gambar yang sedang dibuatnya tapi tanpa gadis itu sadari Atar menyadari kalau ada gadis kecil yang sedang diam-diam mencuri pandang padanya.
"Kalau kamu ingin melihat gambar milik Om, silahkan lihat tidak perlu diam-diam curi pandangan seperti itu" ucap Atar yang terus fokus pada gambarnya tanpa melihat gadis kecil itu.
Sontak itu membuat dia jadi malu dan canggung karena ketahuan sedang curi pandang pada pria asing yang baru ditemuinya.
"Aku tidak tertarik dengan gambar milik Om, karena aku sendiri sangat pandai menggambar" ketus gadis kecil itu.
Gadis kecil itu lalu mengeluarkan kembali alat-alat menggambarnya kemudian dia juga menggambar.
"Gambar apa yang ingin kamu buat?" tanya Atar penasaran.
Gadis itu hanya melirik tanpa menjawab lalu dia melanjutkan menggambar.
"Kenapa kamu menggambar banyak orang?" tanya Atar lagi.
"Ini keluargaku" jawab singkat gadis kecil yang mulai membuka suara.
Atar lalu mangut-mangut lalu bertanya lagi "Kenapa gambar anak-anaknya sangat banyak?"
Tiba-tiba dari arah lain ada seorang anak laki-laki yang nampak sebaya dengan gadis kecil itu, dia celingukan sambil terus memanggil sebuah nama.
"Shabiraaaa... Shabiraaaa... kamu dimana? Shabiraaa....jangan ngumpet lagi dong... Shabiraaa..."
Teriakan itu terdengar oleh Atar dan gadis kecil itu. Gadis itu lalu buru-buru memasukan peralatan menggambarnya kedalam tas.
"Om, jika anak laki-laki itu bertanya padamu tentang aku tolong bilang padanya kalau Om tidak melihatku ya" pinta gadis kecil itu.
"Kenapa Om harus berbohong?" tanya Atar kebingungan.
"Jangan banyak nanya turuti aja kemauanku" ketus gadis kecil itu masih bersikaf galak pada Atar.
Atar lalu pura-pura menggambar lagi ketika anak laki-laki itu mendekatinya.Tak berapa lama anak laki-laki yang bernama Jidan menghampiri dan bertanya pada Atar.
"Permisi Om, bolehkah aku bertanya pada Om?"
"Tentu saja boleh, Apa yang ingin kamu tanyakan?"
__ADS_1
"Apa Om lihat gadis kecil yang tingginya sekitar segini, rambutnya lurus dan panjang, kulitnya putih dan dia cantik?" tanya Jidan.
"Dari tadi tidak ada siapa pun disini. Om cuma sendirian disini" jawab Atar berbohong karena permintaan gadis kecil itu.
"Oh begitu ya Om, kalau begitu terimakasih Om sudah menjawab pertanyaanku" ucap Jidan.
"Iya sama-sama"
Jidan lalu berpamitan pada Atar kemudian dia pergi. Setelah jauh dan tak terlihat lagi dari pandangan mata gadis kecil itu lalu keluar dari persembunyiannya sambil melihat kearah perginya Jidan untuk memastikan kalau dia sudah benar-benar pergi jauh dari tempat ini.
"Kenapa kamu menghindari dia?" tanya Atar yang penasaran pada gadis kecil yang masih celingukan melihat kearah Jidan pergi.
Gadis kecil itu lalu melirik kearah Atar sambil menjawab dengan juteknya "Itu bukan urusan Om"
Tiba-tiba Atar tertawa sambil menerka masalah si gadis kecil dengan anak laki-laki itu.
"Hahaha... Om tahu kamu pasti lagi bertengkar ya sama pacarmu hingga tadi kamu menangis lalu ketika pacarmu mencarimu kamu tidak mau menemuinya karena masih marah iya kan? Hahahaha..."
Gadis kecil itu lalu mendekati Atar dan langsung menjitak kepalanya hingga membuat Atar berhenti tertawa karena kaget dan heran akan keberanian gadis kecil yang berani menjitak orang asing yang baru ditemuinya.
Peletak!
"Kenapa kamu menjitak kepala Om?"
Gadis kecil itu lalu berkacak pinggang dan menatap Atar yang kebingungan sambil berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ck.. ck.. ck.. Apa orang tua Om tidak pernah mengajari Om?" tanya balik gadis kecil itu.
"Mengajari apa?" tanya Atar tiba-tiba terlihat polos.
"Kalau masih kecil tidak boleh pacaran. Apa Om tidak pernah diajarkan seperti itu oleh orang tua Om? Kalau tidak, aku saranin jika saat ini Om belum menikah maka jika Om bertemu dengan seorang wanita yang bisa membuat Om jatuh cinta padanya sebaiknya Om ta'aruf saja lalu nikahi dia jangan pacaran dulu itu dilarang oleh agama" jawab gadis kecil yang terlihat so dewasa itu.
Atar hanya bisa melongo heran dan tak percaya ada seorang anak kecil yang sedang menasehatinya sontak itu membuat Atar terlihat seperti orang bodoh, kata-kata anak itu membuatnya tak berkutik.
"Bagaimana bisa dia menasehatiku seperti itu? Anak siapa sih dia?" batin Atar.
Gadis itu lalu melambai-lambaikan tangannya didekat wajah Atar karena dia terus melamun keheranan.
"Om, Om, ko malah diam sih? Udah ah! Om nya diam terus aku pergi aja" gadis kecil itu lalu berlalu pergi.
Tak lama kemudian kesadarannya kembali utuh meski dia tetap keheranan akan perkataan sigadis kecil itu.
__ADS_1
"Sunggu, benar-benar tidak dapat dipercaya barusan gadis kecil itu habis menasehatiku" gumam Atar sambil mengarahkan telunjuknya kearah dirinya.
Bersambung