
Cukup lama Atar terpaku dalam diamnya didepan pintu sambil mengintip di balik jendela tapi tak terlihat tanda-tanda kalau Shabira akan keluar kembali. Akhirnya Atar memutuskan untuk pulang kembali.
Baru beberapa langkah dia melangkahkan kakinya tiba-tiba Jani membuka pintu dan langsung menarik baju Atar dari belakang sontak Atar jadi beringsut mundur sambil melirik kebelakang.
"Jani?"
"Mau kemana kamu?" tanya Jani. Atar lalu berbalik menghadap Jani.
"Tadinya mau pulang karena gak ada orang disini, tapi karena ada kamu aku gak jadi pulang deh"
Jani langsung menyingsingkan lengan bajunya, tatapannya begitu bringas dan tajam setajam mata elang.
"Ah! Kebetulan. Kamu ini ya, sudah membuat jiwa bar-barku keluar lagi dari persembunyiannya. Karena jiwa bar-barku sudah terlanjur keluar kita gelud yuk" tantang Jani yang sudah siap menghajar Atar sambil mengarahkan tinjuannya pada Atar.
Sementara Atar hanya melongo kebingungan.
"Kamu kenapa sih, ko aneh banget? Apa kamu sehat Jani" tanya Atar dengan wajah tanpa dosanya sambil menempelkan punggung tangannya di jidat Jani.
"Kamu nanya aku kenapa? Apa kamu gak sadar dimana kesalahanmu?"
Atar hanya menggelengkan kepalanya karena bingung. Jani lalu menepuk jidat sambil mendengus kesal.
"Rafatar! Dimana sih otak kamu, dimana sih pikiran kamu? Kenapa kamu malah mempermalukan putrimu sendiri?" bentak Jadi yang sukses membuat kedua mata Atar membulat sempurna karena kaget.
"Maksud kamu gimana aku nggak ngerti?" Atar masih kebingungan.
Melihat wajah polos yang tanpa dosa itu membuat Jani mengelus dada untuk berusaha bersabar.
"Kenapa kamu kasih Shabira skincare dan pembalut hah? Kamu pikir dia udah perawatan? kamu pikir dia udah datang bulan? Wooooyyy! Rafatar! Shabira itu masih kecil dia masih kelas 3 SD lalu kenapa kamu ngasih barang-barang yang kaya gituuuu?" berang Jani sambil mendengus kesal membuat Atar sedikit menciut.
"Aku... aku... tidak tahu soal itu kan aku gak pernah mengalami yang namanya datang bulan?" ujar Atar dengan sedikit terbata-bata seraya menampakan wajah polos tanpa dosanya.
"Emang didunia ini cowok mana yang udah pernah datang bulan, hah?" bentak Jani yang emosinya mulai meledak-ledak dan itu membuat Atar jadi menunduk kikuk dan membisu.
"Aku tuh gak ngerti ya, sama kamu. Masa kamu gak pernah denger soal seorang cewek mengalami masa menstruasinya di umur berapa tahun? Emang kamu nggak punya ibu, gak pernah punya teman cewek, gak pernah dekat sama cewek jadi gak tahu soal itu?"
"Ibu gak pernah cerita sama aku soal itu. Atar ibu datang bulan diumur sekian loh, ibu gak pernah ngomong kaya gitu ke aku, Jani" ucap Atar dengan polosnya sambil menirukan gaya bicara ibunya.
Jani memejamkan matanya barang sejenak untuk mencoba menenangkan emosinya yang meluap karena ucapan Atar meski rasanya dia ingin mencakar congornya Atar.
"Teman perempuan ku juga gak pernah cerita soal itu mereka gak pernah bilang kaya gini 'Atar, Atar kamu tahu gak pertama kali aku menstruasi diumur sekian loh' mereka gak pernah ngomong kaya gitu Janiiii..." ucap Atar lagi dengan wajah polosnya sambil menggerakan setiap gesture tubuhnya sesuai ucapannya.
"Aku juga gak pernah dekat atau menjalin hubungan spesial dengan seorang perempuan Eh!...." lirih Atar seraya menggantung kalimatnya.
"Aku pernah dekat sama seorang perempuan tapi kami tidak pernah membicarakan soal itu juga sih" sambung Atar sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
Kalimat Atar itu mendadak membuat Jani posesif dan makin penasaran, dia membulatkan matanya dengan sempurna seraya mendesak Atar dengan berkata
"Siapa perempuan yang udah dekat sama kamu?" tanya Jani sambil melototi Atar.
Atar yang menangkap ada rasa cemburu diwajah cantik itu lalu tersenyum dengan sumringah pasalnya jika seseorang mencintai lawan jenisnya pasti dia cemburu padanya saat pasangannya itu dekat dengan seseorang.
"Kamu cemburu sama aku ya?"
"Cemburu kamu bilang? Yang benar saja, tak ada di kamusnya seorang Rinjani cemburu sama kamu, Rafatar!" ucap Jani dengan tegas dan lugas.
"Hahaha... tak apalah kamu tak mau mengakui juga yang penting sekarang aku sudah tahu kalau sekarang kamu juga cinta sama aku tapi kamu tidak usah khawatir karena kamu yang pertama buat aku, aku belum pernah pacaran"
"Eh! Itu kamu yang ngomong, bukan aku ya" kata Jani seraya meninggikan suaranya.
"Ngaku aja nggak usah gengsi" lirih Atar tanpa melihat kearah Jani dan tanpa sengaja Jani mendengar ucapannya. Jani tak ingin membahas soal ini lebih jauh akhirnya dia kembali pada pokok pembicaraan kesemula.
"Eh! Eh! Kenapa malah membahas soal itu, aku kan lagi marah sama kamu karena Shabira merasa malu punya ayah seperti kamu" sambung Jani yang mulai sadar pembicaraannya sudah keluar jalur.
"Owh kamu lagi marah ya sama aku? Aku minta maaf kalau begitu" ucapnya dengan wajah datar.
"Apa! Kamu ya... astagfirullah...sabar Jani, sabar Jani" hibur Jani pada dirinnya sendiri.
Lalu mereka saling diam untuk sejenak seraya Jani mengumpulkan kesabarannya agar bisa bicara dengan Atar yang amat menyebalkan bagi Jani.
"Heh! Atar! Bagaimana bisa sih kamu kepikiran beliin skincare sama pembalut buat Shabira?"
"Nanya kesiapa? Orang sesat mana yang udah bilang ke kamu buat nyuruh kamu beli yang kaya gitu untuk Shabira?"
"Aku nanya ke mbah Google" jawab Atar dengan wajah polosnya
"Ataaaarrrr...! Otak kamu dimana sih? Kapan kamu akan memakai pikiranmu dengan baik sih? Sama google aja ketipu apa lagi sama orang? Kamu itu udah dewasa masa mau terus ditipu sih" maki Jani.
"Bikin anak aja udah bisa masa soal kaya gini aja gak ngerti sih" batin Jani kesal.
"Kamu tahu gak, gara-gara kamu Shabira jadi merasa malu banget bahkan saking malunya dia, dia gak mau ketemu sama aku, bundanya sendiri" omel Jani tanpa jeda.
"Niatku kan cuma pengen ngebahagiain Shabira, kalau ternyata usahaku salah terus aku harus bagaimana dong?" lirih Atar sambil menunduk karena tak berani menatap Jani yang emosinya tengah meledak-ledak.
"Kalau udah kaya gini urusannya mana kutahu harus ngapain yang pasti Shabira mau aku mecat kamu jadi ayahnya"
Sontak Atar langsung mengangkat kepalanya dan berkata dengan memelas. "Jangan gitu dong, aku janji deh gak akan ngasih Shabira skincare sama pembalut lagi"
Jani langsung mencibir dan bersikaf bodo amat. "Ya itu terserah kamu, aku kan cuma nyampein keinginan Shabira aja"
"Ah! Aku harus kedalam nih, aku harus minta maaf, aku tidak boleh dipecat jadi ayahnya" kata Atar bergegas masuk kedalam rumah dengan sedikit mendorong Jani yang menghalangi jalan hingga dia bergeser ke samping.
__ADS_1
"Ih! Dasar si Atar main dorong aja" gerutu Jani lalu dia nyusul Atar kedalam rumah.
...****************...
Didepan pintu kamar Shabira, Atar segera mengetuk pintu.
Tok
Tok
Tok
"Shabira boleh ya, ayah masuk ke kamar kamu, ayah mau bicara" teriak Atar.
"Aku gak mau ketemu sama siapa pun" sahut Shabira dari dalam.
"Ayah minta maaf Shabira, sumpah ayah gak ada maksud apa pun sama kamu, niat ayah cuma pengen buat kamu senang tapi ternyata ayah malah buat kesalahan ayah minta maaf ya" teriak Atar lagi.
Kali ini tak ada sahutan dari dalam, hati Atar belum tenang kalau Shabira belum memaafkan akhirnya dia menerobos masuk kekamar Shabira tanpa izin dari pemiliknya.
Didalam gadis kecil itu sedang duduk ditempat tidurnya dengan posisi bersila seraya memeluk bantal tapi saat Atar menerobos masuk kedalam kamarnya dia kemudian menutup wajahnya dengan bantal.
Atar segera memohon pada putrinya agar dia memaafkan kesalahannya tapi Shabira terus terdiam sambil menutupi wajahnya dengan bantal karena dia masih merasa malu.
"Shabira, tolong maafin ayah ya, ayah mohon ayah janji tidak akan mengulang kesalahan ayah"
Berkali-kali Atar memohon tapi gadis kecil itu tetap diam.
"Oh iya, ayah akan membuang benda-benda ini jadi tolong maafin ayah ya dan tolong jangan pecat ayah jadi ayah kamu, ayah mohon jangan lakukan ini sama ayah ya" Atar memelas pada Shabira kemudian dia membuang skincare dan pembalut keluar lewat jendela kamar Shabira tapi tetap saja dia tak merespon.
Atar jadi frustasi dia lalu meminta bantuan Jani yang saat itu ada dikamar Shabira, untuk membujuk putri mereka.
"Jani bantuin aku dong bujukin Shabira supaya maafin aku dan jangan pecat aku jadi ayahnya" pintar Atar dengan memelas.
"Kamu yang buat salah ya kamu harus tanggung jawab dong"
"Aku kan udah minta maaf tapi dia diam aja. Kamu kan lebih tahu Shabira jadi tolong bantu aku bujukin agar dia gak marah lagi sama aku pleaseeee.... " pinta Atar seraya memohon dengan sungguh-sungguh dan sambil memegang lengan Jani yang saat itu sedang disilangkan dibawah dadanya.
Sebenarnya Jani enggan untuk membantu Atar tapi wajahnya terlihat begitu menyedihkan hingga dia merasa iba pada Atar yang sungguh-sungguh tak mau dipecat jadi ayahnya Shabira. Jani lalu duduk disamping putrinya dia lalu membelai lembut rambut Shabira.
"Shabira, sepertinya ayah kamu memang benar-benar ingin meminta maaf, tolong maafin ayah ya, jangan pecat ayah jadi ayah kamu karena ayahmu akan amat sedih, bunda kan pernah bilang sama kamu, tolong lebih mema'lumi dan lebih memahami ayah karena kamu tahu sendiri kan.... " Jani tak melanjutkan kalimatnya karena Shabira mulai mengintip dari balik bantal.
Dia mengintip Atar yang nampak amat sedih karena putrinya masih tak mau memaafkannya. Kemudian dia berbisik pada Jani tanpa mau memperlihatkan wajahnya pada Atar.
"Bunda aku sudah memaafkan ayah ko, tapi saat ini aku tak mau melihat ayah, aku malu bunda, tolong bunda suruh ayah pulang, aku belum mau bertemu dengan ayah"
__ADS_1
Jani yang paham akan keinginan putrinya lalu mengajak Atar keluar kamar setelah diluar dia menyampaikan apa yang tadi dibisikin oleh Shabira. Meski hati Atar masih sedih karena putrinya masih belum mau melihatnya tapi pada akhirnya dia menuruti permintaan putrinya.
Bersambung