
Aku terus menatap Jani dengan penuh harap, sementara dia terus terdiam menimbulkan rasa penasaran yang amat sangat dibenakku. Ku ulang pertanyaanku lagi karena aku tak sabar ingin segera mendengar jawaban darinya.
"Jani, aku sangat menyayangimu mau kah kamu menikah denganku dan menjadi istriku yang akan selalu menemaniku di keadaan apa pun hingga kita menua dan maut memisahkan kita, tolong jawab pertanyaanku Jani?"
Jani lalu menatapku dengan tatapan datar, lalu dengan perlahan dia mulai menerbitkan senyuman disudut bibirnya, hatiku semakin deg-degan dikala pancaran mata Jani mulai berbinar-binar.
"Aku... " Jani menggantung kalimatnya membuat rasa penasaran ku makin bertambah besar.
"Aku ingin Shabira bahagia, aku juga ingin Shabira memiliki seorang ayah jadi aku mau menerimamu sebagai suamiku" tutur Jani.
Membuatku kegirangan bukan main, aku benar-benar bahagia akhirnya Jani mau menerimaku menjadi suaminya. Dengan mata yang berbinar-binar penuh haru aku segera memasangkan cincin dijari manis Jani yang tadi kuberikan padanya.
Tak lupa kupakai juga cincin dijari manisku karena cincin ini adalah lambang pengikatnya cinta kami. Kedua mata kami pun saling bertautan dengan penuh cinta dan aku merasa hari ini hidup ku penuh dengan warna. Tapi aku harus jujur dengan keadaanku sekarang karena aku tak mau jika aku dan Jani menikah tapi ada rahasia diantara kami, akhirnya ku utarakan semuanya pada Jani.
"Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu sebelum kita menikah"
"Hal apa itu?"
"Jho, Gio dan Azka masih marah padaku bahkan mereka mengeluarkanku dari perusahaan jadi saat ini aku tidak lebih dari seorang pengangguran. Sebenarnya aku bisa saja membuat sebuah pabrik atau kantor baru karena aku masih punya tabungan untuk memulai bisnisku kembali tapi masalahnya aku masih bingung harus membuat usaha atau bisnis apa. Jadi apa kamu akan tetap menerimaku di keadaanku yang sekarang?"
"Apa alasanku untuk menolakmu jika aku sudah menerima lamaranmu? Jadi aku akan tetap menerimamu jadi suamiku. Kalau kamu mau kita bisa memulai usaha bersama aku bersedia membantumu, apa lagi aku punya anak yang banyak jadi aku harus menafkahi mereka"
"Tentu saja aku mau membangun usaha bersama kamu tapi aku lebih senang kalau istriku nanti diam saja dirumah, kamu cukup mengurus aku, anak-anak kita dan mengurus rumah. Soal menafkahi anak kita dan anak angkatmu aku bersedia menafkahi semuanya karena mereka anak-anak mu itu artinya mereka juga anak-anak ku"
Aku lalu tersenyum pada Jani ketika dia bersedia menerima keadaanku saat ini dan aku juga akan berusaha untuk menjadi suami yang bertanggung jawab yang akan menafkahi keluargaku nanti.
Aku jadi makin cinta sama Jani. Cinta yang Jani semaikan dihatiku ini membuatku jadi semangat kembali setelah beberapa hari lalu hari-hariku terasa kelabu. Ketika kami masih saling berpandangan sambil tersenyum tiba-tiba suara Shabira mengejutkan kami hingga aku pun melepaskan tangan Jani.
"Ayah, Bunda! Ayo ikut bermain bersama kami" ajak putriku dengan senyuman ceria yang terbingkai dibibirnya.
Aku dan Jani lalu berdiri dan mengikuti kemana larinya Shabira dan Jidan yang mengajak kami bermain. Kami pun berkeliling ditempat parawisata itu. Wajah putriku tertegum saat kedua netranya melihat sesuatu yang ingin dilihatnya.
Ya, rupanya Jho, Azka dan Gio membuat water dance meski tanpa melihat dan mengikuti rancangan ku, mungkin mereka bertiga yang merancangnya sendiri, tapi tak apa yang penting Shabira bisa melihat water dance itu.
"Wah! Keren banget, ayah apa yang ayah lihat di Dubai sama seperti disini?" tanya Shabira dengan penuh antusias.
__ADS_1
"Iya Shabira, air terjunnya hampir mirip dengan ini hanya ukuran di Dubai lebih besar dari ini" jawabku seraya tersenyum pada putri kecilku.
Aku sangat senang dia dan Jidan nampak sangat antusias melihat water dance ini, senyum ceria yang terlihat polos itu benar-benar melengkapi kebahagiaanku hari ini. Setelah aku berhasil melamar Jani sekarang aku juga bisa melihat putriku amat bahagia ditempat parawisata ini. Inilah sesuatu hal yang tak pernah bisa kuberikan pada putriku ini.
Mungkin karena selama ini putriku jarang diajak pergi jalan-jalan oleh ibunya makannya saat sekarang dia pergi ketempat parawisata dia nampak sangat senang dan menikmati hiburan yang tersaji ditempat ini.
Sebenarnya ini juga salahku kalau saja dari dulu aku ada untuk anak dan istriku mungkin mereka akan bisa menikmati hidup yang sesungguhnya bersama dengan keluarga yang utuh.
Tapi ya sudahlah, semua sudah terjadi kali ini tak akan kubiarkan anak dan istriku menderita lagi, sebisa mungkin aku akan membuat mereka bahagia, menjaganya dan menyayangi mereka.
Tak ingin terus berlarut-larut dalam kesalahan dimasa lalu, kulupakan sejenak semua itu, mumpung ada event ini aku akan bersenang-senang dengan istri, anakku dan juga Jidan, anak laki-laki yang selalu ada untuk Shabira, yang menyayangi putriku seperti saudara kandungnya sendiri.
Aku tak boleh mengabaikannya, aku tahu dia amat tulus dan dia juga membutuhkan kasih sayang dari sebuah keluarga, kurasa tak ada salahnya jika aku menganggap Jidan seperti Jani yang menganggapnya seperti anaknya sendiri. Kami pun lalu bersenang-senang.
...****************...
Tanpa Atar, Shabira, Jani dan Jidan sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka dari jauh, sepasang mata itu milik Gio. Ya, sedari tadi Gio terus memperhatikan mereka. Tergambar jelas ada sebuah kebahagiaan yang tengah menyelimuti hati mereka dan itu membuat Gio berpikir karena hatinya tersentuh oleh kebahagiaan mereka.
"Shabira kayanya senang banget bisa bersama ayah dan bundanya" batin Gio seraya terus menatap mereka dengan tatapan datar.
...****************...
POV RAFATAR
Dua hari kemudian.
Pagi ini ku langkahkan kakiku menuju vila seraya membawa koper dan bareng-barangku, karena yang kutahu Jho, Azka dan Gio akan kembali pulang ke Bogor dan meninggalkan semua kenangan dikampung ini sebab masa kerja disini sudah berakhir.
Semoga kali ini mereka berbaik hati untuk memberiku tumpangan agar aku bisa kembali pulang ke Bogor bersama mereka bukan karena aku tak bisa pulang sendiri tapi kami datang kesini bersama dan kuharap pulangnya pun akan bersama juga.
Dari kejauhan aku sudah bisa melihat kalau Gio dan Jho tengah sibuk memasukan koper dan barang-barang mereka ke mobil. Aku pun menghampiri mereka dan menyapanya.
"Selamat pagi Gio, Jho" sapaku dengan senyuman ramah tapi mereka hanya melirik ku sesaat kemudian kembali pada aktifitas mereka tanpa menjawab sapaanku.
"Jho, Gio, kita datang kesinikan bersama aku berharap pulangnya juga bersama jadi boleh ya aku ikut pulang dengan kalian?" tanyaku tapi lagi-lagi mereka tak menggubris ku.
__ADS_1
"Jho, Gio, hari ini orang-orang dipanti juga akan ikut pulang ke Bogor, kalian akan mampir dulu kan ke panti soalnya kan mereka tak tahu jalannya yang menuju tempat tinggal kita dimana jadi kita sebagai petunjuk arah buat mereka kebetulan tadi aku telepon Jani, dia bilang mereka sudah siap untuk berangkat" ujarku terus bicara pada Jho dan Gio seraya mengikuti mereka terus.
Tapi mereka masih tak menanggapi apa yang aku ucapkan hingga tak berapa lama Azka baru keluar dari dalam vila.
"Teman-teman apa semua barang-barang kita sudah dimasukan kedalam mobil?" tanya Azka yang sempat melirik keberadaanku tapi dia pun acuh padaku sama halnya seperti Gio dan Jho yang seolah tak menganggap keberadaanku ditempat ini.
"Sudah dimasukan ke mobil semua, Apa didalam tak ada barang-barang yang ketinggalan, Azka?" tanya Jho.
"Tidak ada, semua barang-barang kita sudah dikeluarkan" jawab Azka.
"Kalau begitu ayo! Kita pergi" ajak Jho yang langsung mengambil kemudi.
Mereka semua lalu masuk tapi ternyata mereka tak mengizinkan aku untuk pulang bersama mereka karena begitu mereka masuk kedalam mobil pintunya langsung dikunci dan Jho langsung tancap gas.
Ini bukan pertama kalinya aku ditinggalkan oleh mereka, jadi hatiku sudah cukup kuat untuk menerima semua ini. Setelah mobil yang ditumpangi mereka meng hilang dari pandangan mata, aku segera pergi ke panti asuhan karena mereka sedang menungguku disana.
Butuh waktu 10 menit bagiku untuk bisa sampai dipanti asuhan, disana semua orang sudah berada diluar, mobil truk pengangkut barang, satu mobil travel dan satu mobil milik panti asuhan sudah berada di halaman panti asuhan. Aku pun segera menghampiri Jani.
"Atar, Kapan kita akan berangkat? Gio, Jho dan Azka mana? Apa kita akan pulang bersama mereka?" Jani melemparkan banyak pertanyaan padaku.
Aku menggelengkan kepalaku seraya berkata dengan tak semangat, "Tidak, mereka pulang duluan mungkin karena mereka masih marah padaku"
"Owh, ya sudahlah. Kamu pulang bersama kami saja. Bu Retno dan Pak Husen akan naik mobil travel bersama anak-anak, aku, Shabira, Jidan dan mbak Tarik akan pake mobil panti, aku yang nyetir. Kamu mau ikut ke mobil mana?"
"Ya tentu saja aku mau ikut sama mobil yang ditumpangi kamu dong, Jani. Biar aku saja yang nyetir, kamu duduk didepan ya sama aku, temani aku" ucapku sambil tersenyum genit padanya.
"Oke" jawab singkat Jani sambil melengos pergi menemui Pak Husen dan yang lainnya untuk memberitahukan bahwa sekarang akan segera berangkat.
Semua langsung masuk kedalam mobil sesuai tempat duduk masing-masing. Karena aku yang akan menjadi petunjuk jalan bagi semua jadi mobil yang kusetir yang berada didepan setelah itu baru mobil travel yang diikuti mobil truk. Setelah semua siap mobil pun mulai melaju.
Butuh waktu beberapa hari untuk bisa sampai ke Bogor dengan melalui jalur darat. Diperjalanan kami selalu berhenti jika ada seseorang yang ingin pergi ke toilet umum dan kami juga akan berhenti jika sudah waktunya makan karena perut kami butuh diisi meski perjalanan yang kami tempuh sangat jauh.
Dijalan Shabira, Jidan dan mbak Tari sering terlihat ketiduran karena mungkin merasa lelah, sementara aku terus fokus pada kemudi yang terus ditemani oleh Jani.
Setelah beberapa hari didalam perjalanan, akhirnya kami sampai juga dikota kelahiranku. Aku segera membawa mereka kerumahku yang dulu rencananya akan aku tempati bersama anak dan istriku karena sepertinya semua orang sudah sangat lelah jadi sebelum aku pulang kerumah orang tuaku aku membawa mereka dulu kerumahku.
__ADS_1
Bersambung