
Seperti biasa malam tadi Dion tak pulang kerumahnya karena dia pergi bersenang-senang di bar bersama teman-temannya. Pagi ini dia baru pulang dengan berjalan kaki melewati jalan raya dan gank-gank kecil, aroma minuman beralkohol itu masih tercium ditubuh Dion.
Tanpa sengaja kakinya melewati rumah megah yang dibeli oleh adiknya. Tiba-tiba saja dia teringat wanita cantik nan anggun yang berkerudung putih tempo hari yang ditemuinya.
Niatnya untuk segera pulang kerumahnya tapi kakinya malah berbelok kerumah megah berlantai dua itu. Rupanya rasa penasaran Dion mengalahkan pikirannya yang ingin melihat kembali wanita anggun itu.
Mungkin nasib baik sedang berpihak padanya, wanita yang dicarinya kini sedang menjemur pakaian dihalaman rumah seraya bersholawat, suaranya terdengar begitu merdu dan menyejukan hati, membuat Dion ingin jelas lagi melihat dan mendengar suaranya yang merdu.
Akhirnya Dion lebih mendekat dengan masuk kedalam halaman rumah itu dan untungnya gerbangnya sedikit terbuka hingga Dion bisa masuk kedalam dan mengintip wanita berkerudung itu dibalik semak-semak.
Jidan dan Shabira yang berniat main kerumah itu tanpa sengaja melihat Dion sedang mengendap-endap seraya matanya terus mengintip wanita berkerudung yang masih menjemur pakaian.
Jidan dan Shabira langsung mendekati Dion, mereka ikut jongkok di belakang Dion yang saat itu sedang jongkok sambil asyik ngintipin Tari. Menyadari kalau om nya sedang memperhatikan mbak Tari, Shabira langsung berkata.
"Namanya mbak Tari, dia sebatang kara yang diajak tinggal bersama ibu dan bapak untuk membantu merawat anak-anak panti, mbak Tari juga belum menikah om"
Dion yang terkejut karena dia sedang mengintip tiba-tiba kedua bocah itu muncul dibelakangnya, hampir saja dia berteriak tapi Dion keburu menutup mulutnya.
"Dasar bocah tengik! Ngapain kalian disini? Ngapain juga lo kasih tahu soal cewek itu ke gue?" umpat Dion karena kesal sudah dikagetkan oleh mereka.
"Ya om, ngapain disini mindik-mindik? Lagi ngintipin mbak Tari kan?" Shabira balik bertanya.
"So tahu lo, jangan gangguin gue lo dan satu lagi gue bukan om lo jadi jangan panggil gue om" ketus Dion.
"Namaku Shabira aku anaknya ayah Atar dan ini saudaraku namanya Jidan. Bukan kah om ini kakaknya ayah Atar jadi aku harus panggil om dengan sebutan om" Shabira tersenyum pada Dion sambil mengulurkan tangannya pada Dion.
Tentu saja Dion tak mau membalas uluran tangan Shabira karena dia anaknya Jani dan Atar sebab Dion tak menyukai rencana Atar dan Jani untuk menikah.
"Eh! Sampai kapan pun lo gak akan gue anggap sebagai keponakan gue karena gue gak punya keponakan kaya lo" Dion masih menampakan wajah tak sukanya pada Shabira.
"Tidak apa-apa tidak diakui juga sama om sebab itu tidak penting bagiku" ucap Shabira dengan wajah datar.
"Hah! Sombong kali ini bocah tengik" Dion mencibir pada sikap Shabira.
Dia melirik kearah Tari, tapi rupanya wanita berkerudung itu sudah masuk kedalam rumah karena dia sudah selesai menjemur pakaiannya. Dan itu membuat Dion jengkel karena kedua bocah itu sudah mengganggu kesenangannya. Dion lalu melangkah pergi meninggalkan kedua bocah itu.
"Om, kalau mau ketemu sama mbak Tari, ayo! Main kedalam. Kenapa om malah pulang?" pekik Shabira.
"Bodo amat! Siapa juga yang mau ketemu sama dia?" sahut Dion tanpa menoleh kebelakang.
Shabira dan Jidan terus menatap berlalunya punggung pria itu hingga menghilang dari pandangan mata. Setelah itu Shabira menyeringai karena otaknya menemukan cara untuk menjinakan om nya yang keras itu.
"Kamu kenapa sih ko Senyum-senyum gitu?" tanya Jidan kebingungan.
"Aku punya cara untuk menjinakan om Dion. Jidan kamu harus bantu aku"
"Baiklah aku akan membantumu. Lalu apa rencanamu?"
__ADS_1
Shabira lalu tersenyum kemudian dia menceritakan rencananya pada Jidan.
...****************...
Beberapa hari kemudian.
Siang ini Jidan dan Shabira baru keluar dari sekolah. Karena sekolah mereka lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah makannya mereka berangkat dan pulang sendiri, kadang dengan berjalan kaki kadang juga dengan menggunakan sepedah.
Tapi kali ini mereka berjalan kaki. Saat tengah asyik berbincang tiba-tiba netral Shabira melihat Dion sedang minum, minuman beralkohol dibawah pohon rindang yang dibawahnya terdapat sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu.
Shabira mengajak Jidan untuk mendekatinya dan mulai menjalankan misinya menjinakan singa garang itu. Sesuai perintah Shabira Jidan mindik-mindik dibelakang Dion yang saat itu sedang meneguk minuman dari botolnya. Sementara Shabira menyapa Dion.
"Hay om Dion!"
Dion sempat melirik kearah Shabira kemudian dia kembali meneguk minumannya tanpa menggubris gadis kecil itu. Shabira segera memberi kode pada Jidan agar botol minuman milik Dion yang satunya lagi segera diganti airnya dengan air mineral tak lupa Jidan mencuci terlebih dahulu botolnya hingga bersih diwarteg yang tak jauh dari tempat itu.
Sementara Shabira terus berceloteh untuk mengalihkan perhatian Dion supaya dia tak sadar kalau botol minumannya diambil oleh Jidan. Ketika Jidan sudah kembali dan menyimpan botol minuman berwarna hijau tosca itu disamping Dion, Shabira baru memulai aksinya.
"Hay om! Apa Om berani menerima tantanganku untuk minum? Siapa yang tepar duluan berarti dia kalah dan harus mengabulkan permintaan si pemenangnya?" tantang Shabira dengan entengnya.
Mendengar celotehan konyol bocah itu Dion malah terkekeh geli karena tak mungkin gadis kecil itu bisa mengalahkannya tapi keberaniannya sungguh luar biasa, berani menantang Dion yang jelas-jelas seorang pemabuk, pastilah gadis kecil itu kalah pikir Dion.
"Hahaha... berani sekali lo nantangin gue, bocah tengik, Pasti lo kalahlah" ledek Dion.
Shabira yang tak merasa takut akan kalah dari Dion hanya melemparkan senyuman kecut. Tanpa aba-aba Shabira segera mengambil botol minuman yang tadi sudah diganti isinya dengan air mineral oleh Jidan. Dia lalu membuka tutupnya dan hendak meminum tapi tangannya ditahan oleh Dion.
Dalam hati Shabira tersenyum karena meski mulut Dion menolak dan tak mau mengakui Shabira sebagai keponakannya tapi ternyata Dion masih peduli sama Shabira karena melarangnya meminum minuman beralkohol. Tapi Shabira tidak bodoh dia tak mungkin bisa meminum minuman itu makannya dia menyuruh Jidan untuk mengganti isinya tanpa sepengetahuan Dion.
"Aku rela melakukan apa saja asal om mau mengabulkan permintaanku" ucap Shabira.
"Emang lo mau apa dari gue?" tanya Dion malas sambil melepaskan tangan Shabira.
"Tolong restui ayah dan bunda untuk menikah" jawab Shabira.
"Cih! Gak sudi gue nurutin mau lo, paling lo cuma ngegertak doang, lagian mana mungkin lo kuat minum minuman ini" ketus Dion seraya mencibir.
"Kalau aku bisa ngehabisin minuman sebotol ini dan aku tidak mabuk berat om janji ya harus ngabulin permohonanku"
Dion hanya mencibir karena dia begitu yakin bocah itu tidak akan mampu menghabiskan minuman itu. Tapi tanpa terduga Shabira meneguk minuman itu hingga tandas. Dion sempat melongo kaget ketika gadis kecil itu nekad meminumnya hanya karena ingin permohonannya dikabulkan.
"Aku sudah menghabiskan minuman ini dan aku tidak mabuk berat jadi om harus mengabulkan permohonanku"
Dion yang tak mau mengabulkan permohonan Shabira kemudian dia berdiri dan melengos pergi. Tak menyerah sampai disini Shabira yang merasa rencana pertamanya gagal lalu menjalankan rencana keduanya.
"Om Dion! Aku bisa membantu om agar bisa mendekati mbak Tari asal om merestui ayah dan bunda untuk menikah" teriak Shabira dan itu berhasil membuat Dion menghentikan langkah kakinya.
"Yes! Om Dion berhenti, aku yakin om Dion pasti suka sama mbak Tari makannya om Dion berhenti dan dia pasti menerima tawaranku" batin Shabira.
__ADS_1
Dion terus bergeming tanpa menoleh kearah Shabira. Gadis kecil itu segera menghampiri Dion.
"Jadi bagaimana om? Apa om menerima tawaranku?" tanyanya lagi.
Dion tak menjawab dia hanya menatap Shabira dengan tatapan datar.
"Mbak Tari itu orangnya sangat baik, rajin, taat pada agama dan suka nolongin orang, Bu Retno dan Pak Husen selalu menyuruhnya untuk segera menikah tapi karena mbak Tari seorang yang pemalu jadi dia tak pernah mendekati laki-laki duluan dan tak ada laki-laki yang melamar dia hingga dia belum menikah sampai sekarang. Aku tahu om Dion itu aslinya baik tapi karena om pernah dikecewakan seseorang jadi om berubah. Kalau om bisa berubah menjadi orang baik lagi aku yakin mbak Tari akan menerima om" tutur Shabira panjang lebar.
"So tahu lo. Siapa yang bilang gue pernah dikecewain sama seseorang" sangkal Dion yang merasa gengsi untuk mengakuinya.
"Itu tidak penting aku tahu dari siapa. Yang penting jika om suka sama mbak Tari, om yang harus deketin duluan. Oh iya, hari ini hari jum'at biasanya mbak Tari dan ibu suka ngadain jum'at berkah dimesjid dengan membagikan makanan buat orang-orang yang pulang shalat jum'at. Kalau om mau bertemu dengan mbak Tari lebih baik om pergi jum'atan sana" saran Shabira seraya mengulas senyuman disudut bibirnya.
Sejenak Dion berpikir tapi dia mencoba menepis semua perasaannya yang sedang berperang antara mempertahankan egonya atau menuruti saran dari Shabira. Tak mau di goyahkan oleh Shabira, Dion lalu memilih untuk meninggalkan Shabira dengan berpura-pura cuek.
"Bodo amat gue gak peduli" ketus Dion.
"Untung aja kemarin aku sempat bertanya-tanya sama ayah tentang om Dion jadi aku tahu kalau om Dion pernah dikecewakan sama seseorang. Aku yakin om Dion dan mbak Tari itu cocok kalau om Dion bisa merubah sifatnya ke sifat yang semula" batin Shabira.
Kali ini Shabira tak mengikutinya dia hanya mematung ditempatnya seraya menatap om nya berlalu pergi hingga dia menghilang dari pandangan mata.
"Aku sudah memasang umpan, sekarang aku hanya tinggal melihat apakah om Dion akan memakan umpanku atau tidak?" gumam Shabira.
"Langkah selanjutnya apa lagi setelah ini?" tanya Jidan yang baru menghampiri Shabira setelah tadi bersembunyi disemak-semak.
"Kamu pergi shalat jum'at sana ke tempatnya mbak Tari ngadain jum'at berkah dan nanti perhatikan apakah om Dion akan datang kemasjid itu atau tidak? Kalau datang nanti perhatikan apakah om Dion deketin mbak Tari atau tidak? Kalau iya itu artinya om Dion suka sama mbak Tari" titah Shabira.
"Oke aku siap menjalankan misi kita" seru Jidan penuh semangat kemudian mereka tos.
"Semoga misi kita berhasil" serempak Jidan dan Shabira berucap.
...****************...
Arya sedang duduk disofa, dia sudah siap dengan berpakaian baju koko, peci, pake sarung dan membawa sajadah untuk berangkat shalat Jum'at dimesjid. Tapi dia sedang menunggu Atar yang masih bersiap-siap dikamarnya dan tak berapa lama Atar pun keluar dari kamarnya.
"Ayo! Pak, kita berangkat aku sudah siap" ajak Atar sambil berdiri dekat sofa.
"Ayo" ucap Arya seraya beranjak dari duduknya.
Tapi belum sempat mereka melangkah keluar mereka dikejutkan oleh Dion yang tak biasa. Pria bertubuh tinggi tapi agak kurus itu mendahului mereka dengan berpakaian yang tidak biasa. Dion memakai baju koko, peci, sarung dan membawa sajadah sambil terus berlalu pergi tanpa menghiraukan bapak dan adik laki-lakinya.
"Atar, Apa bapak tidak salah lihat. Yang tadi itu Dion, abang kamu kan? Ko tumben dia pake baju koko, sarung, peci sama bawa sajadah, emang dia mau kemana?" tanya Arya tak percaya.
"Iya bener pak, tadi itu bang Dion tapi aku juga heran ada angin apa ya ko tiba-tiba bang Dion pake baju kaya gitu, seperti mau berangkat shalat jum'at gitu loh pak" Atar pun keheranan dengan tingkah Dion yang tak biasa mengingat sudah beberapa tahun ini mereka tak pernah melihat Dion seperti itu, semenjak dia gagal menikah hidup Dion jadi kacau.
Akhirnya Atar dan Arya pergi kemesjid untuk shalat jum'at tapi tanpa disangka Dion pun pergi kemesjid dan ikut dishaf yang lainnya untuk mengerjakan shalat jum'at.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk para readers yang sudah mampir, terimakasih juga untuk para author yang selalu mendukungku maaf aku belum bisa mampir soalnya setiap hari sabtu, minggu dan selasa aku sibuk di dunia real makannya up dan mampir juga telat, tapi aku akan mampir lagi buat nyicil baca kalau sudah sempat๐๐ฅฐ๐ค๐