
Bulatan purnama itu begitu sempurna, bersinar terang dilangit malam yang gelap gulita, mengusik kesunyian ditengah keheninagn malam yang hanya ditemani semilir angin yang begitu menusuk tulang rusuk.
Namun itu tak mampu mengusir Atar dalam kesendiriannya dibelakang teras rumah yang sedang melamun sambil menatap bulan purnama, untuk segera masuk kedalam rumah meski waktu sudah menunjukan pukul 23.30 malam. Hatinya masih berkecambuk akan fakta yang mencuat kepermukaan.
Tanpa dia sadari Raisa yang saat itu terjaga dari tidurnya dan hendak kedapur untuk mengambil minuman tak sengaja melihat Atar sedang melamun sendirian.
"Itu mas Atar lagi ngapain ya, sendirian diteras? Ah! Ini kesempatan bagus untukku untuk ngajaknya tidur bareng mumpung gak ada mbak Jani" gumam Raisa.
Kemudian dia hendak menghampiri Atar namun langkahnya terhenti ketika dia mendengar Atar bermonolog sendiri.
"Ah! Bagaimana bisa Alif dinyatakan sebagai anakku padahal aku yakin kalau aku tak meniduri Raisa" ucap Atar frustasi sambil mengacak rambutnya.
"Aku yakin ini pasti ada yang salah tapi dimana letak kesalahannya ya? Sepertinya aku harus mencari fakta lebih banyak tentang Raisa dan bayinya agar aku bisa mengungkap kebenarannya"
Sejenak Atar berpikir keras untuk melakukan hal apa lagi agar dia bisa mengungkap kebenaran didalam kasusnya bersama Raisa
"Banyuwangi, ya aku harus ke Banyuwangi untuk mencari fakta, Apa benar Raisa itu pernah keguguran? Aku harus nanyain ke tetangganya soal ini. Kalau Raisa tak pernah keguguran itu artinya Alif adalah anak kandungnya Reza. Iya, aku harus segera ke Banyuwangi" pikir Atar.
"Apa! Jadi selama ini mas Atar diam-diam masih mencari tahu tentang kebenaran ayah biologisnya Alif? Ini tidak boleh dibiarkan, aku harus mencegahnya agar mas Atar berhenti menyelidiki ayah biologisnya Alif, susah-susah aku bisa masuk kedalam keluarga ini tapi mas Atar malah masih mencari ayah biologisnya Alif" batin Raisa.
Dia lalu pergi ke kamarnya dan langsung mencari ponselnya karena dia akan menelepon ibunya d Banyuwangi. Tak berapa lama sambungan telepon pun terhubung.
📞Halo, Raisa kamu kemana aja? Kenapa baru menghubungi Ibu? Ibu nyari kamu kemana-mana?' terdengar suara diujung telepon.
📞Maaf Bu aku sudah membuat ibu khawatir, sekarang aku ada di Bogor, aku kesini karena ingin mencari kebahagianku bu, aku menemui suamiku.
📞Suamimu? Maksud kamu Reza? Apa kamu sudah menemukan Reza?
📞Bukan mas Reza Bu. Tapi, mas Atar karena dia yang menikahiku waktu itu.
📞Tapi, Raisa pernikahan kamu sama Atar itu tidak sah karena saat ijab kabul menggunakan nama Reza.
📞Aku tidak peduli Bu, pokoknya suamiku itu mas Atar titik.
__ADS_1
📞Tapi, Raisa! Bukankah dia itu sudah punya istri dan anak. Apa kamu akan menjadi perebut suami orang?
📞Bu, mas Atar itu tidak bahagia dalam pernikahannya, dia tetap bertahan karena dia terlalu sayang sama anaknya padahal istrinya itu selingkuh sampai dia hamil dan melahirkan anak selingkuhannya yang bernama Jidan.
📞Apa benar seperti itu, Raisa?
📞Tentu saja benar bu aku tidak mungkin bohong sama ibu, dari itu aku ingin menjadi istri yang terbaik buat mas Atar dan ingin menyadarkannya kalau istri pertamanya itu tidaklah baik. Tolong bantu aku untuk mewujudkan semua itu, aku juga ingin bahagia bersama mas Atar, sudah cukup aku menderita karena mas Reza. Jadi inilah saatnya aku untuk bahagia bu.
Hati ibu yang mana yang tak menginginkan anaknya bahagia? Tentu saja ibunya Raisa pun ingin putrinya bahagia setelah dia melewati banyak kesulitan yang disebabkan oleh Reza. Karena mendengar Atar si pria yang dikenal amat baik bagi ibunya Raisa itu diselingkuhin sama istrinya meski itu hanyalah sebuah fitnah yang dilontarkan oleh Raisa terhadap Jani, dari itu ibunya Raisa mendukung apa yang akan dilakukan oleh anaknya itu.
📞Lalu apa yang bisa ibu bantu agar kamu bisa bersama Atar?
📞Aku katakan pada mas Atar kalau aku ini keguguran jadi anaknya mas Reza itu sudah meninggal dunia dan aku katakan pada mas Atar kalau Alif ini adalah anak kandungnya mas Atar.
📞Bagaimana jika kebohongan itu ketahuan? Karena Alif kan memang benar-benar anak kandungnya Reza kan?
📞Iya bu Alif memang anak kandungnya mas Reza tapi itu tidak akan sampai ketahuan kalau ibu tidak menceritakan ini pada siapa pun, aku juga akan tinggal di Bogor bu karena disini tak ada orang yang mengetahui masa laluku. Hanya dengan cara ini mas Atar bisa menerimaku bu, jadi tolong kalau dia mendatangi ibu dan menanyakan apakah aku pernah keguguran atau tidak dan siapa ayah kandungnya Alif katakan saja padanya iya aku pernah keguguran dan Alif itu anak kandungnya mas Atar. Katakan seperti itu ya bu.
"Mas Atar, kamu tidak akan menemukan apa-apa di Banyuwangi karena aku akan mencegah kebenaran terungkap. Aku yakin selain mas Atar bertanya pada keluargaku dia juga akan bertanya pada tetanggaku untuk mengorek informasi tentang ayah kandungnya Alif, tapi itu tidak akan kubiarkan terjadi aku akan nyuruh orang untuk berpura-pura jadi tetanggaku dan memberikan informasi yang salah pada mas Atar terkait ayah kandungnya Alif" monolog Raisa sambil tersenyum jahat.
"Sama halnya seperti Tes DNA itu seribu kali pun kamu mengulang Tes DNA itu hasilnya pasti akan tetap positif karena aku memberikan sempel DNA milik Shabira yang sudah jelas dia itu anak kandungmu mas, aku tak mau memberikan sempel DNA milik Alif karena aku tahu hasilnya pasti negatif karena dia bukan anak kandungmu. Sebelum aku menantangmu melakukan Tes DNA aku diam-diam masuk ke kamar Shabira dan mengambil rambut Shabira di bekas ikat rambutnya, aku juga sengaja membiarkan mbak Jani untuk memilih rumah sakitnya agar tuduhan bersekongkol dengan Dokternya terbantahkan"
Setelah merasa puas akan rencana jahat yang akan dilakukannya Raisa lalu kembali tidur.
...****************...
Malam itu Jani sedang membantu mengajarkan Shabira dan Jidan mengerjakan tugas rumahnya. Tiba-tiba Shabira bertanya dengan pertanyaan yang membuat hati jadi nelangsa.
"Bunda, Kenapa sekarang tante Raisa tinggal dirumah kita? Kenapa dia meminta aku dan Jidan untuk memanggilnya mama? Dan kenapa tante Raisa bisa mengatakan kalau Alif itu adalah adik aku dan Jidan?" tanya Shabira dengan tatapan datar.
Jani tak langsung menjawab pertanyaan putrinya itu dia hanya menatap sendu wajah polos yang amat penasaran dengan masalah orang tuanya itu, Jani lalu mengelus lembut rambut Shabira sambil tersenyum.
Sebisa mungkin dia amat berhati-hati menjawab pertanyaan putrinya itu sebab Jani tak mau karena masalah ini kedua anaknya jadi membenci ayahnya.
__ADS_1
"Sayang, setiap orang dewasa itu pasti punya masalah dan pasti pernah berbuat kesalahan karena didunia ini tak ada orang yang sempurna yang bisa luput dari kesalahan kecuali nabi Muhammad SAW. Dan ini adalah masalah yang terjadi antara ayah, tante Raisa dan juga bunda. Kamu dan Jidan tidak akan mengerti soal ini jika kalian sudah dewasa kalian pasti paham soal ini. Jadi sekarang panggil lah tante Raisa dengan panggilan mama dan anggaplah Alif sebagai adik kalian ya" ucap Jani dengan suara lembut dan senyuman hangat meski hatinya menjerit kesakitan.
Walau didepan Shabira, Jani nampak terlihat tegar tapi gadis kecil itu tahu kalau bundanya sedang terluka.
"Apa sekarang bunda baik-baik saja?" tanya Shabira merasa khawatir.
Jani lalu tersenyum pada putrinya untuk menyembunyikan rasa sakit di dalam hatinya.
"Tentu saja bunda baik-baik saja, kamu jangan mengkhawatirkan bunda ya, bunda tidak apa-apa ko" jawab Jani sambil tersenyum.
Sementara anak laki-laki itu tetap memilih diam seribu bahasa karena otaknya tak bisa mencerna apa yang diobrolkan oleh kedua perempuan beda generasi itu.
...****************...
Pagi harinya Jidan dan Shabira hendak berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda, sebelumnya Atar memberi mereka uang jajan dengan nominal lima puluh ribu dua lembar dan saat Atar memberikan uang itu Raisa melihatnya. Jidan yang saat itu sudah siap dengan sepedanya sementara Shabira sedang mengambil sepedanya digudang. Anak laki-laki itu lalu menunggu Shabira didepan rumah.
Saat Jidan sedang menunggu Shabira, tiba-tiba Raisa menghampiri Jidan dan langsung berkata, "Jidan, mana uang yang tadi ayah berikan padamu?"
"Kenapa mama menanyakan uang itu?" tanya anak laki-laki itu tak mengerti.
"Gak usah banyak omong kamu cepat berikan uang itu" bentak Raisa pada Jidan.
Membuat anak laki-laki itu jadi menciut, dia segera merogoh saku bajunya dan segera memberikan semua uang itu pada Raisa dengan wajah yang terlihat sedih.
"Nah! Gitu dong, kamu gak usah banyak nanya dan gak usah lelet. Mulai sekarang jatah jajan kamu akan mama potong jadi setiap kamu diberi uang oleh bunda Jani dan ayah Atar kamu harus menyetorkan uang itu pada mama ya, ini uang jajan kamu lima puluh ribu aja" titah Raisa sambil memberikan selembar uang lima puluh ribu pada Jidan dan lima puluhnya lagi masuk kesaku Raisa.
"Ko gitu sih ma" protes Jidan.
"Kamu gak usah protes. Ingat! Kamu ini hanya anak angkat segitu juga udah bagus kamu masih diberi uang jajan jadi jangan protes dan satu lagi kamu tidak boleh cerita soal ini pada siapa pun termasuk pada Shabira, kalau kamu berani menceritakan ini maka mama akan menghukum kamu dengan hukuman yang amat berat. Ingat itu!" ancam Raisa pada Jidan setelah itu dia pergi.
Anak laki-laki itu hendak menangis karena sedih sudah diperlakukan seperti itu, dia tahu dia memang hanya seorang anak angkat, tapi apakah harus dia diperlakukan seperti itu oleh Raisa sementara Atar dan Jani tak pernah membeda-bedakan dirinya dengan Shabira meski status anak mereka berbeda. Saat Shabira datang Jidan buru-buru menyeka air matanya sebelum Shabira melihatnya menangis karena Jidan takut pada ancaman dari Raisa. Mereka lalu berangkat sekolah tanpa Shabira tahu kalau Jidan tadi hendak menangis karena uang sakunya diambil oleh Raisa.
Bersambung
__ADS_1