
Atar langsung beranjak dari duduknya, dia lalu memeluk Shabira dan Jidan. Dia berharap kedua anaknya itu bisa mempercainya ketimbang mempercayai Raisa.
"Shabira, Jidan, ayah mohon percayalah pada ayah, ayah tidak mengkhianati bunda kalian, apa yang kalian lihat itu tidak seperti yang kalian pikirkan" ucap Atar masih memeluk kedua anaknya.
Jidan dan Shabira membiarkan Atar memeluknya meski dihati kedua bocah itu ada sedikit perasaan marah karena melihat foto itu.
"Yang ingin aku dengar bukanlah pembelaan diri dari ayah, yang ingin aku dengar adalah tolong ayah jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Siapa tante diruang tamu itu dan kenapa ayah duduk didepan pintu kamarku?" tanya Shabira dengan tatapan datar.
Atar lalu melepaskan pelukannya dari kedua bocah itu, dia lalu berlutut sambil menunduk sedih dan dengan penuh penyesalan.
"Ayah minta maaf pada kalian semua, ayah juga ingin minta maaf pada bunda kalian karena ayah sudah melakukan kesalahan besar. Tapi, ayah benar-benar jujur pada kalian ayah tak punya niat sedikit pun untuk mengkhianati bunda, itu terjadi begitu saja tanpa ayah kehendaki"
Dari kalimat yang diucapkan oleh Atar, Shabira sudah bisa menyimpulkan bahwa ayahnya itu sudah melakukan kesalahan besar meski Shabira sendiri tak tahu kesalahan apa yang sudah dibuat oleh Atar.
"Ayah, duduk disini karena bertengkar dengan bunda, bunda sangat marah sama ayah, sekarang bunda ada dikamar kamu dan mengunci pintunya, bunda tidak mau bertemu dengan ayah, tante diruang tamu itu bukan siapa-siapa, ini hanya salah paham saja" lirih Atar amat sedih.
"Biarkan bunda menenangkan dirinya, lebih baik ayah selesaikan masalah ayah dengan tante itu" ucap Shabira.
Sepertinya yang dikatakan putrinya itu ada benarnya juga, lebih baik sekarang Atar menemui Raisa dan menyelesaikan masalah mereka sebelum kesalah pahaman makin memperburuk keadaan. Atar lalu pergi menemui Raisa.
Saat Atar duduk disofa suasana menjadi hening untuk sejenak, aura dingin mulai terasa mencekam saat Atar menatap Raisa dengan penuh kemarahan karena dia sudah membuat wanita yang dicintainya sakit hati dan meneteskan air matanya karena rasa sakit yang dirasakannya.
"Raisa! Apa tujuanmu datang kesini? Apa kau ingin menghancurkan rumah tanggaku?" tanya Atar sambil menatap sinis wanita itu.
"Kita sudah menikah mas, jadi wajar kalau aku mendatangi suaminya yang tak pernah pulang kerumah" lirih Raisa.
"Menikah kamu bilang? Apa aku tidak salah dengar? Apa calon mertuamu tidak mengatakan apa pun soal pernikahan itu padamu?" tanya Atar.
"Mengatakan apa mas? Mantan calon bapak mertuaku sudah meninggal mas, jadi beliau tidak mengatakan apa pun padaku" jawab Raisa kebingungan.
"Aish! Sialan! Pantas saja Raisa datang kesini dan memintaku kembali kerumahnya untuk jadi suaminya. Aku bela-belain memutuskan kerja sama sepihak di Banyuwangi karena tak mau terlibat lagi dengan masalah mereka tapi kenapa sekarang aku malah terjebak di situasi ini" keluh Atar dengan berkata lirih sambil membuang muka dari Raisa.
__ADS_1
Wajah wanita itu hanya memandang wajah tampan Atar dengan kebingungan, Atar lalu menegaskan pada Raisa tentang hubungannya dengan Raisa.
"Oke, biar semua aku perjelas disini, setelah itu aku mau kamu meninggalkan tempat ini dan tak pernah kembali lagi kesini karena aku tak mau melihatmu lagi menampakan wajahmu di hadapanku dengan bayimu itu" tegas Atar yang membuat Raisa meneteskan kembali air matanya.
"Dengarkan baik-baik ucapanku ini. Aku bukanlah suamimu karena pernikahan kita itu tidak sah sebab nama yang terdaftar dibuku nikah itu bukan atas namaku, melainkan dia adalah pria yang sudah menghamilimu, aku hanya dijadikan alat oleh orang tuamu dan calon bapak mertuamu untuk menutupi aib kalian agar kamu tidak gagal menikah, aku terpaksa mengikuti keinginan mereka karena terus didesak, akhirnya aku mau menolong kamu karena merasa kasihan padamu dan juga keluarga mu, dengan syarat setelah pelafazan ijab kabul itu selesai maka selesai pula kesepakatan perjanjia kita, aku, kamu dan keluargamu tidak ada urusan lagi" tutur Atar menjelaskan dengan tegas pada Raisa.
"Tapi kan yang melakukan ijab kabul didepan penghulu itu kamu, mas. Bukan mas Reza, jadi yang jadi suamiku itu kamu bukan mas Reza. Karena aku sudah jadi istrimu otomatis anakku ini juga jadi anakmu" lirih Raisa sedih.
"Apa perkataan yang kusampaikan tadi itu kurang jelas? Dengarkan sekali lagi, saat ijab kabul itu penghulunya menikahkan atas nama Reza Alamsyah dibuku nikahnya juga atas nama Reza bukan atas namaku, Rafata Alfarasya. Jadi sudah jelas yang nikah sama kamu itu si Reza bukan aku" ucap Atar dengan ngegas hingga terlihat urat di lehernya menegang.
Raisa lalu menangis sambil berkata dengan sendu, "Bagiku kamu yang jadi suamiku karena kamu yang melakukan ijab kabul di hadapan penghulu saat itu, bukannya mas Reza"
Kesabaran Atar sudah habis untuk memberi pengertian pada Raisa bahwa Atar bukanlah suami yang sah untuknya. Dia lalu menggeram kesal sambil mengumpat, "Arrrggghhh! Sialan, kenapa si brengsek itu malah lari dari tanggung jawab? Kenapa si pengecut itu malah kabur dihari pernikahannya hingga aku yang malah dikorbankan untuk menanggung semuanya"
Atar lalu berdiri kemudian dia mengusir Raisa dari rumahnya, wanita malang yang ditinggalkan kabur oleh calon suaminya itu hanya bisa menangis sambil terus menggendong bayinya.
"Tolong mas, jangan usir aku, disini aku tidak punya tempat tinggal, kalau kamu mengusirku lalu aku dan bayiku akan tinggal dimana?" tanya Raisa dengan memelas agar Atar tak mengusirnya.
"Aku tidak mau mas, tolong jangan usir aku, aku cuma mau tinggal sama kamu mas"
Atar tak mempedulikan rintihan wanita itu dia tetap mengusir Raisa sebab Atar lebih peduli pada perasaannya Jani dari pada Raisa. Akhirnya wanita muda yang membawa bayinya itu menangis histeris.
Dia langsung duduk dilantai sambil terus menangis sesegukan agar Atar tak bisa mengusirnya. Pria tampan itu dibikin frustasi oleh tingkah Raisa hingga membuat Atar ingin mengunyeng ubun-ubun wanita itu, tapi Atar menahan kemarahannya karena dia tak mungkin menyakiti perempuan.
Dikala Atar kehabisan akal untuk mengusir Raisa tiba-tiba Rumi datang, dia langsung menghardik sikaf tak terpuji Atar yang terus memarahi wanita muda yang terus menangis sambil menggendong bayinya itu.
"Atar! Apa-apa kamu, kenapa memarahi wanita ini dengan amat kasar?" hardik Rumi lalu menjewer telinga Atar hingga dia meringis kesakitan.
"Aaaaawww...! Sakit bu"
Raisa lalu menoleh pada Rumi, Atar terlihat begitu takut dan segan pada wanita itu hingga membuat Raisa bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
"Siapa wanita ini? Kenapa mas Atar memanggilnya ibu? Apa dia ibunya mas Atar? Sepertinya ibu ini bisa mengendalikan mas Atar, aku harus mendapatkan hatinya untuk mendukungku agar mas Atar tidak mengusirku" batin Raisa.
Atar lalu menjelaskan pada ibunya tentang penyebab dia marah-marah pada Raisa, hingga Jani amat marah pada Atar. Lagi, lagi dan lagi ulah putra bungsunya membuat dada Rumi terasa sesak dan sakit. Kini gelar yang disematkan pada putra bungsunya itu bahwa dia sebagai anak kebanggaannya sudah tak berlaku lagi untuk Atar karena dia selalu membuat masalah yang membuat Rumi sering mengelus dada.
Jika pernyataan Atar bertentangan dengan pernyataan Raisa ketika ia menjelaskan permasalahan yang ada, maka wanita itu akan mencela perkataan Atar karena Raisa tak mau ibunya Atar berpikir kalau anaknya itu sudah benar dan Raisa hanya berkata bohong, mendengar semua penjelasan Atar dan keluhan Raisa membuat hati Rumi nelangsa, karena hati ibu mana yang tak kecewa mendapati kelakuan putranya yang sudah beristri dan punya anak tapi dia malah berselingkuh hingga wanita selingkuhannya itu hamil.
"Bukan seperti itu bu, bayi itu bukan anakku, Raisa cuma berbohong bu" ucap Atar membela diri.
"Aku tidak berbohong bu, mas Atar itu suamiku ini adalah foto pernikahan kami, dan bayiku ini adalah anaknya mas Atar bu" ucap Raisa sambil memberikan foto pernikahan itu.
Sebenarnya kepala Rumi sudah pusing dari tadi gara-gara masalah ini, rasa pusingnya semakin bertambah ketika melihat foto itu, tapi sebisa mungkin dia tidak boleh berlaku tidak adil pada mereka meski pun jika dipermasalahan ini Atar tak bersalah.
Melihat posisinya di pojokkan oleh Raisa, Atar tak tinggal diam, dia terus melakukan pembelaan terhadap dirinya dengan menjelaskan kalau pernikahannya itu tidak sah karena ada unsur penipuan didalam ijab kabul serta data si pengantin laki-lakinya. Iya memang Atar yang melakukan ijab kabul di pernikahan Raisa tapi itu bukan atas namanya, nama si pengantin laki-laki tetap memakai nama calon suami Raisa yang kabur saat mereka akan melangsungkan pernikahan.
Atar dan Raisa lalu berdebat kembali untuk mempertahankan pernyataannya masing-masing kalau dirinyalah yang paling benar.
"Sudah cukup! Kalian jangan bertengkar lagi, lebih baik kita bicarakan ini secara baik-baik" lerai Rumi yang berhasil membuat mereka semua bergeming.
Rumi lalu mengajak Atar dan Raisa masuk kedalam rumah untuk membicarakan dan mencari solusi dipermasalahan mereka.
Bersambung
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Halo semua, Apa kabar semoga kalian semua sehat ya, Aamiin๐๐คฒ. BTW aku mau nanya nih menurut kalian semua pernikahannya Atar sama Raisa itu sah gak sih, soalnya author sendiri masih bingung soal ini? Sedikit bocoran aja ya, sebenarnya ini kisah nyata yang terjadi dilingkunganku, jadi ada seorang perempuan yang hamil duluan saat dia akan dinikahi sama yang menghamili nya, cowoknya malah kabur, tak mau rasa malunya makin bertambah akhirnya orang tua calon si pengantin laki-laki mencari orang buat menggantikan anaknya menikah tapi saat ijab kabul mereka masih memakai nama si calon pengantin pria yang kabur itu, jadi mereka tidak memakai nama asli pria yang melakukan ijab kabul nya. Jadi menurut kalian pernikahan Atar sama Raisa itu sah gak sih?
Satu lagi ya, sebenarnya pernikahan Jani sama Azka yang disuruh sama kakak kelas itu, itu juga kisah nyata, itu pengalaman teman sekelas aku saat kami mengikuti masa orientasi siswa untuk masuk ke sekolah menengah kejuruan (SMK)๐.
Mohon komen dibawah ya soal kasus Atar dan Raisa๐๐ฅฐ
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1