Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Bertengkar


__ADS_3

Pagi ini rencananya Gio akan pergi ke toko matrial, setelah agak jauh dari vila tiba-tiba handphonenya berbunyi dia pun segera meraih handphone dari dashboard mobilnya kemudian mengangkat panggilan teleponnya.


๐Ÿ“žHalo, Jani ada apa nelepon aku?


๐Ÿ“žGio kamu dimana? Tolongin aku dong bisakah kamu datang ke panti sekarang juga? Shabira demamnya tinggi banget aku harus bawa dia kedokter masalahnya mobil di panti lagi dipake sama pak Husen belanja ke pasar jadi aku nggak ada kendaraan buat pergi kedokter 'Ujar Jani panik.


๐Ÿ“žOh iya, iya tunggu sebentar aku akan segera datang ke panti.


๐Ÿ“žIya Gio, baruan ya aku tungguin kamu, jangan lama-lama ya.


๐Ÿ“žIya Jani.


Gio pun segera memutar balik mobilnya kearah panti asuhan. Setelah sampai mereka segera membawa Shabira ke rumah sakit. Dirumah sakit dia segera ditangani dokter. Ternyata Shabira terkena Typus dan dia butuh istirahat total agar dokter bisa setiap saat mengontrolnya Shabira disuruh dirawat dirumah sakit.


Beberapa hari kemudian


Siang itu Jidan hendak pulang ke panti tapi tak sengaja dia berpapasan dengan Atar. Tentu saja Atar langsung menyapanya.


"Jidan kamu habis dari mana?"


"Eh! Om Atar, aku dari rumah teman habis pinjam buku sekarang mau pulang" jawab Jidan.


"Tumben kamu tidak sama Shabira, emangnya Shabira kemana?" tanya Atar.


"Emang Om nggak tahu ya, udah beberapa hari ini kan Shabira dirawat dirumah sakit, dia kan lagi sakit" jawab Jidan sontak Atar langsung panik mendengar putrinya sakit.


"Sa-sakit apa? Sekarang keadaannya gimana? Shabira ada dimana? Kenapa bisa sakit? Om benar-benar gak tahu karena gak ada yang ngasih tahu om" Atar menjejali anak laki-laki itu dengan banyak pertanyaan membuat bocah laki-laki itu kebingungan menjawabnya.


"Shabira sakit typus om panasnya udah turun tapi dia masih butuh istirahat, dia dirawat dirumah sakit dekat alun-alun kecamatan" kata Jidan.


"Kalau gitu ayo kamu antar om kita pergi kerumah sakit sekarang juga" ajak Atar tanpa menunggu persetujuan dari Jidan.


Dia langsung menarik tangan Jidan untuk segera pergi. Jidan dan Atar lalu pergi kerumah sakit. Dirumah sakit mereka langsung menuju kamar rawat inap Shabira. Ketika sampai didepan pintu Atar menghentikan langkahnya yang kemudian diikuti oleh Jidan.


"Kenapa berhenti Om?" tanya Jidan.


"Ko om Gio ada disini? Apa dia tahu kalau Shabira sakit?" Atar malah balik bertanya.


"Kan yang bawa Shabira kerumah sakit ini bunda sama om Gio" jawab Jidan dengan jujur.


Atar langsung marah mendengar pernyataan dari Jidan itu, dia lalu mengepalkan kedua tangannya sambil menatap marah dan kecewa pada Jani dan Gio, dibalik pintu kamar inap Shabira yang sedikit terbuka.


"Kalau Gio emang tahu dari awal Shabira sakit kenapa dia gak cerita sama aku? Jani juga kenapa dia malah ngasih tahu Gio duluan dari pada aku padahal kan aku ini ayahnya Shabira?" batin Atar kecewa.

__ADS_1


Didalam kamar


Gio pamitan pulang setelah selesai menjenguk Shabira.


"Jani, aku pulang dulu ya nanti aku kesini lagi" ucap Gio.


"Iya makasih ya Gio, kamu udah jengukin Shabira" kata Jani.


"Sama-sama Jani" ucap Gio sambil tersenyum.


Gio lalu keluar dari kamar rawat inap Shabira. Atar buru-buru menarik Jidan untuk segera pergi agar mereka tidak ketahuan sama Gio. Jidan yang bingung hanya bisa mengikuti saja. Setelah Gio pergi barulah Atar dan Jidan masuk kekamar. Atar segera melihat keadaan Shabira yang sedang tertidur dengan masih terpasang jarum infus ditangannya.


"Shabira kenapa kamu bisa sakit begini?" ucap Atar khawatir sambil mengelus lembut rambut putrinya.


Jani tercengang kaget ketika Atar tiba-tiba datang.


"Shabira lagi tidur mungkin itu pengaruh obat, biarkan dia istirahat dulu" kata Jani.


Atar lalu menatap Jani dengan tatapan tajam, sorot matanya memancarkan kemarahan yang terpendam. Tanpa sepatah kata pun dia lalu menarik tangan Jani untuk keluar menjauh dari kamar. Jidan yang masih kebingungan dengan sikaf Atar, dia hanya menatap kedua orang dewasa itu keluar dari kamar tanpa mau mengikutinya karena dia memilih untuk menjaga Shabira dari pada mau tahu urusan orang dewasa.


...****************...


Di lorong rumah sakit


"Atar kamu mau bawa aku kemana?" tanya Jani.


"Kamu kenapa sih kaya gini ke aku? Kamu masih nganggap aku apa? Kenapa kamu nggak bilang kalau Shabira sudah beberapa hari dirawat dirumah sakit? Kamu malah bilang ke Gio duluan dari pada ke aku, ayahnya Shabira. Apa kamu tahu aku sangat sedih saat mendengar Shabira sudah beberapa hari dirawat dirumah sakit?" Atar menjejali Jani dengan banyak pertanyaan.


Jani bingung harus menjawab yang mana dulu.


"Iya aku minta maaf karena tidak mengabari kamu, aku terlalu khawatir sama Shabira jadi lupa sama kamu" ujar Jani dengan wajah datar.


"Oh jadi begitu? Kamu lebih mengingat Gio dari pada aku, ayahnya Shabira?" tanya Atar kesal dengan penuh penekanan.


"Bukan begitu juga, waktu itu aku panik karena Shabira demam tinggi aku ingin segera membawa dia kerumah sakit tapi kendaraannya lagi dipake pak Husen, jadi aku mencoba menghubungi seseorang..." kalimat Jani tiba-tiba dipotong oleh Atar.


"Kenapa kamu tidak menghubungiku? Kenapa kamu malah menghubungi Gio?"


"Aku asal manggil aja kebetulan saat itu dipanggilan telepon ku cuma ada nama Gio jadi aku menelepon dia dan meminta bantuan padanya" jelas Jani.


"Jadi selama ini kamu suka teleponan sama Gio? Ngomongin apa aja? Pasti dia godain kamu kan supaya kalian diam-diam menjalin hubungan khusus dibelakang aku, Azka dan Jho. Dasar pengkhianat! Ternyata Gio diam-diam mau nikung kami dari belakang" gerutu kesal Atar.


"Kamu kenapa sih ko tiba-tiba jadi posesif kaya gini? Aku dan Gio tak punya hubungan spesial hubunganku dengan Gio sama kaya aku ke kamu, Azka dan juga Jho" ujar Jani dengan wajah merengut kesal.

__ADS_1


"Iya kamu emang nganggapnya biasa tapi Gio menganggapnya lebih" ketus Atar.


"Udah deh! Kalau kamu datang kesini cuma buat ngajak bertengkar lebih baik kamu pulang aja, aku nggak mau bertengkar sama kamu lebih baik aku jagain Shabira dari pada ngabisin waktu gak penting sama kamu" ketus Jani sambil melengos pergi.


Atar lalu mendahului Jani dan mencegatnya untuk tidak pergi.


"Janiiii...Bukan seperti ini yang aku mau, aku juga tak mau bertengkar sama kamu aku hanya..." Atar menggantung kalimatnya sejenak kemudian dia melanjutkan kalimatnya kembali.


"Aku nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi jadi untuk mencegahnya lebih baik kita nikah aja ya, biar kita bisa tinggal bersama dan kalau ada apa-apa dengan Shabira aku bakal langsung tahu tanpa kamu harus memberitahuku" ujar Atar tanpa jeda.


Jani jadi melongo kaget mendengar ucapan Atar "Kamu apa-apaan sih ko ujung-ujungnya malah ngajak nikah? Kita kan sudah sepakat membuat perjanjian bahwa di antara kalian berempat tidak ada yang boleh jadi suamiku"


"Aku mencintai kamu Jani, aku mau kamu jadi istriku" ucap Atar sungguh-sungguh.


Jani yang merasa dilema hanya bisa memalingkan wajahnya dari Atar membuat Atar merasa sedih karena mungkin dirinya ditolak mentah-mentah oleh Jani.


"Apa kamu menolakku, Jani? Apa kamu tidak bisa melihatku sebagai seorang pria bukan sebagai sahabatmu? Apa kamu tidak bisa melihat dan menganggapku sebagai ayahnya Shabira?" desak Atar pada Jani yang masih setia dalam diamnya sambil menatap Atar dengan tatapan hampa.


Jani yang kebingungan harus berkata apa masih tetap memilih untuk diam.


"Oh aku tahu. Jangan-jangan kamu menolakku karena kamu masih membenciku ya, kamu masih marah sama aku karena aku udah ngehancurin hidup kamu?" tanya Atar sedih.


Karena Jani masih diam seribu bahasa Atar jadi menunduk murung dengan mulut agak manyun.


"Aku tahu aku memang tidak berguna, aku hanya bisa nyusahin hidup kamu, aku hanya bisa membuatmu sedih dan menderita tapi meski begitu aku juga ingin menebus semua kesalahanku, aku ingin memperbaiki semuanya meski aku tahu aku tidak mampu melakukannya tapi..." Atar menggantung kalimatnya.


Dia lalu menyentuh kedua bahu Jani dan menatap lekat kedua netra wanita yang merupakan ibu dari anaknya itu.


"Tak bisakah kamu memberiku kesempatan untuk jadi suamimu yang akan selalu ada untukmu, menjagamu dan anak- anak kita, dan menyayangi kamu. Tak bisakah kamu memberiku kesempatan bagiku untuk jadi ayah yang baik buat anak-anak kita?" tanya Atar.


"Akan ada banyak hati yang terluka jika kita menikah. Aku tak mau mengkhianati persahabatan kita, mengkhianati Jho, Azka dan Gio, aku tidak bisa. Apa lagi Jho dan keluarganya, aku banyak berhutang budi pada dia dan keluarganya yang sudah ikut menjagaku saat aku masih kecil, aku tak bisa mengkhianati semuanya, Atar!" lirih Jani.


"Meski demi Shabira kamu tak bisa melakukannya?"


Jani menatap kedua netra Atar lalu dia menggelengkan kepalanya pertanda tidak bisa.


"Tolonglah Jani demi Shabira, mau kan kamu menikah denganku kalau perlu kita kawin lari aja, kita pergi keluar negri agar tak ada yang bisa mengganggu dan memberatkan hubungan kita. Kalau kamu masih ragu kita coba dengan backstreet aja dulu setelah proyek pembangunanku disini selesai kita pergi sejauh mungkin dengan Shabira, kita tinggalkan semuanya dan hidup bahagia ditempat yang jauh" Atar membujuk Jani.


"Maaf Atar, aku tidak bisa tolong kamu jangan terus memaksaku"


"Kenapa tidak bisa? Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Atar dengan sedikit mendesak.


"Jangan tanya itu padaku, aku tidak bisa menjawabnya alasanku menolakmu karena aku tak bisa mengkhianati perjanjian persahabatan kita, aku terlalu banyak berhutang budi pada Jho dan keluarganya jadi tolong jangan bahas ini lagi karena aku tak bisa menjadi orang yang tak punya hati yang menjadi pengkhianat" ujar Jani lalu melengos pergi.

__ADS_1


Atar jadi bergeming dan mematung ditempatnya, netranya yang memancarkan kesedihan hanya bisa menatap punggung wanita yang dicintainya berlalu pergi begitu saja tanpa mampu berkata-kata lagi. Kalimat yang dilontarkan Jani padanya sudah cukup jelas memberi jawaban bagi Atar kalau Jani menolak cintanya. Kini Atar hanya menunduk sedih.


Bersambung


__ADS_2