Cinta terhalang persahabatan

Cinta terhalang persahabatan
Pengakuan Atar


__ADS_3

Suasana sempat hening kembali barang sejenak hingga Gio mencairkan suasana dengan memberi syarat yang ambigu bagi Atar.


"Baiklah, aku akan memaafkan Atar tapi... " Gio menggantung kalimatnya netranya menatap serius pada semua orang.


"Seperti yang kita semua tahu aku, Jho, Azka dan Atar sangat menyukai kamu yang sekarang ini Jani. Awalnya kita ingin bersaing secara sportif untuk bisa memikat dan memiliki hatimu tapi karena masalah ini semua jadi kacau" lanjut Gio.


Semua hanya bergeming tanpa ada yang membuka suara sedikit pun kecuali Gio sendiri.


"Dari itu, seperti yang kamu minta, Jani. Aku akan memaafkan Atar dan kita akan berteman seperti dulu lagi tapi..." Gio menggantung lagi kalimatnya yang tentu saja ini membuat penasaran semuanya.


"Tapi demi menjaga semua hati agar tidak ada yang terluka maka tak ada satu pun dari kami yang boleh menikahi kamu Jani" lanjut Gio yang langsung mendapat protes dari Atar.


"Tapi Gio, aku ingin menebus kesalahanku pada Jani dan Shabira, aku ingin ada untuk mereka, aku ingin menjadi ayah yang baik buat Shabira, kalau itu persyaratanmu lalu bagaimana aku bisa menebus kesalahanku?" tanya Atar sambil protes karena merasa keberatan dengan syarat yang diajukan oleh Gio.


"Aku sudah mencintai Jani sejak masih SMP dan aku tak rela karena adanya Shabira malah Atar yang memiliki Jani padahal aku sudah berkorban terus memendam perasaan ini hanya demi persahabatan kita, tapi sekarang dengan mudahnya Atar mau memiliki Jani dengan alasan adanya Shabira" batin Gio tak rela.


"Ya terserah, kalau kamu ingin dimaafkan turuti syaratnya.Tapi kan meski begitu kamu masih tetap bisa jadi ayah yang baik untuk Shabira, kamu bisa menafkahi dia, memberikan perhatian dan kasih sayang kamu padanya, kalau Shabira membutuhkanmu diwaktu tertentu kamu bisa meluangkan waktumu untuknya semua itu bisa dilakukan walau pun kamu tidak menikahi Jani" ujar Gio.


"Aku setuju dengan Gio, kalau kamu ingin kami memaafkanmu maka penuhi persyaratannya tak boleh ada yang menikahi Jani dari kita, kita hanya akan berteman untuk selamanya dari situ hatiku bisa rela meski cintaku ditolak oleh Jani" tambah Jho menguatkan keinginan Gio.


Sementara Azka lebih memilih diam dan tak ikut berkomentar meski sebenarnya dia lebih setuju dengan persyaratan itu dari pada harus memihak pada Atar, Azka bersikaf demikian karena dia merasa bersalah semua masalah ini ditimbulkan karena minuman haram yang dibawanya kalau saja dia tak membawa minuman itu ke vila mungkin Atar tidak akan terus dipojokan seperti sekarang ini.


Sementara Jani juga tak ikut berkomentar, hatinya terlalu kacau saat itu dia tak bisa berpikir apa pun kecuali dia hanya ingin membuat Shabira bahagia, tentang keputusan dari para sahabatnya mengenai masalah mereka Jani lebih memilih keputusan terakhir dari mereka, apa pun itu mungkin dia akan berusaha menerimanya karena dia sendiri tak ingin menuntut apa pun dari Atar.


Setelah banyak berunding akhirnya sudah ditetapkan satu keputusan atas masalah mereka yaitu Atar akan menafkahi hidupnya Shabira layaknya seorang ayah pada anaknya, dia akan menyekolahkan Shabira setinggi mungkin dan akan menjadi ayah yang baik untuk Shabira tapi tanpa harus menikahi Jani itu semua dilakukan demi menjaga hati semua orang.


...****************...


Kabut yang beberapa hari ini menyelimuti hatiku perlahan memudar dan itu semua karena adanya campur tangan dari Shabira. Tak pernah terbayangkan sebelumnya olehku diusiaku yang ke 28 tahun aku akan memiliki seorang putri yang kini sudah berusia 9 tahun.


Sudah bisa dibayangkan betapa masih sangat mudanya aku kala itu, disaat Shabira terlahir kedunia ini tapi, semua ini sangat aku sesali karena disaat wanita yang tengah mempertaruhkan hidup dan matinya demi melahirkan darah dagingku, aku malah tak ada disampingnya.


Dari itu aku bertekad untuk menebus semua kesalahan dan waktuku yang hilang buat mereka. Meski aku tak bisa menikahi Jani tapi karena rasa bersalah ini aku juga jadi tak punya keinginan untuk menikahi wanita lain. N'tahlah apa yang akan aku lakukan selanjutnya karena semua ini tak sesuai dengan keinginanku jadi ini membuatku tak semangat menjalaninya.


Semua permasalahanku dengan Jani dan ketiga sahabatku sudah terselesaikan tinggal masalah aku dan Sabira, aku harus segera memberitahunya bahwa akulah ayah kandung dia. Siang ini aku berencana untuk menemui Shabira karena aku akan membicarakan semuanya.


Siangnya aku mencari Shabira karena biasanya jam segini dia suka main sama Jidan. Tapi setelah aku cari kemana-mana aku tak bisa menemukannya, aku pun memutuskan untuk pergi ke panti, mungkin dia ada disana.


Belum sampai dipanti ternyata aku malah bertemu dijalan dengannya aku pun menghampirinya.


"Shabira! Tunggu!" teriakku.


Gadis kecil itu menghentikan langkahnya lalu menoleh kearahku.


"Shabira, Om mau bicara denganmu bisakah kamu meluangkan waktumu untuk Om"


Shabira mengangguk, kami pun akhirnya pergi mencari tempat duduk agar bisa ngobrol dengan nyaman. Setelah menemukan tempat yang cocok untuk bicara kami lalu duduk.


Suasana menjadi hening untuk sejenak kala itu karena Shabira terus diam dan aku pun belum memulai pembicaraan kami, aku merasa bingung harus ngomong dari mana dulu tapi pada akhirnya aku memulai berbicara agar kami tak terus saling diam.

__ADS_1


"Eeee...Shabira... "


"Iya, Apa?"


"Bagaimana sekolah kamu apa semuanya lancar dan baik-baik saja?" tanyaku.


"Ya semuanya lancar dan baik-baik saja"


"Jidan kemana, tumben kamu tidak sama Jidan?"


"Aku nggak tahu tadi aku pergi sendiri"


Aku masih bingung harus memulai pembicaraan dari mana akhirnya aku hanya bisa berbelit-belit tanpa bisa bicara pada inti permasalahan yang ingin aku sampaikan. Lama-lama nampaknya Shabira mulai jenuh dia menatapku dengan wajah merengut.


"Sebenarnya Om mau bicara apa sih, kenapa dari tadi muter-muter melulu?" tanya Shabira nampak kesal.


"Iya, iya, Om minta maaf jadi gini bolehkan Om bertanya sesuatu padamu?"


"Ya udah tanyain aja" ucapnya agak ketus.


"Apa selama ini kamu hidup bahagia dengan keadaan seperti ini, maksud Om kamu hidup tanpa seorang ayah?"


"Anak yang mana sih yang mau hidup seperti ini, aku rasa semua orang pasti menginginkan keluarga yang utuh" jawab Shabira dengan wajah datar.


"Om minta maaf kalau itu membuatmu sedih" ucapku dengan sungguh-sungguh.


"Apa kamu ingin bertemu dengan ayah kandungmu?" tanyaku tanpa basa basi lagi.


Sontak Shabira langsung menatapku tanpa berkata apa pun, aku pun mengulang pertanyaanku.


"Apa kamu ingin bertemu dengan ayah kandungmu?"


Kali ini Shabira menganggukan kepalanya dengan tatapan datar.


"Om bisa mengabulkan keinginan kamu..." aku menggantung kalimatku karena ingin melihat reaksi Shabira yang hingga detik ini masih terlihat datar.


Aku lalu menunduk sambil berkata "Sebenarnya ayah kandung kamu itu adalah Om, Om Atar adalah ayah kandung kamu"


Aku lalu menatap Shabira yang masih menatapku. Ini diluar ekspetasiku, kupikir Shabira akan kaget, shock atau apalah itu tapi gadis kecil itu hanya menunjukan wajah datar.


"Apa kamu tidak kaget, shock atau apalah mendengar ini semua?" tanyaku keheranan.


"Tidak, aku sudah tahu kalau Om Atar adalah ayah kandungku" jawab Shabira.


"Ko bisa, kapan kamu tahu itu? Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu diam saja, tak menanyakan soal ini pada Om?"


"Buat apa aku tanya soal ini pada seseorang yang tak mengakui aku sebagai anaknya"


"Tidak seperti itu Shabira, Om bukannya tidak mau mengakui kamu sebagai anak Om tapi dulu Om tidak tahu kalau Om punya putri secantik kamu bunda kamu tidak cerita soal ini pada Om" ucapku sambil menatap netra putriku dan membelai lembut kedua pipi Shabira.

__ADS_1


"Lalu ?" tanya Shabira.


Aku menatap lekat putri kecilku dengan sedih, kupegang kedua tangannya.


"Karena kamu sudah tahu kalau Om ini ayah kandung kamu jadi maukah sekarang kamu memanggil Om dengan sebutan Ayah?" tanyaku sambil tersenyum.


Tiba-tiba saja senyuman itu terbingkai disudut bibir putriku, betapa senangnya aku ketika dia mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu coba kamu panggil Om dengan panggilan Ayah, Om mau mendengarnya"


"Ayah" ucap Shabira sambil tersenyum.


"Apa Om nggak dengar, coba ucap sekali lagi" ucapku pura-pura tak mendengar karena aku ingin mendengarnya lagi, Shabira memanggilku ayah.


"Ayah"


"Apa! Suara kamu kurang keras Om tidak mendengarnya"


"Ayah aku merindukan ayah" teriak Shabira.


Tangisan haru pun mulai meleleh dinetraku, aku lalu memeluk putriku sambil berkata.


"Ayah juga merindukan kamu Shabira, maafkan ayah karena baru menemuimu sekarang, ayah sayang sama Shabira"


"Tidak apa-apa ayah aku mengerti ko, aku juga sayang sama ayah"


Aku melepaskan pelukanku lalu menatap kedua netra putriku yang begitu mirip dengan ibunya.


"Sayang, terimakasih ya" ucapku sambil membelai lembut pipi putriku.


"Terimakasih untuk apa?"


"Terimakasih karena kamu sudah tumbuh menjadi putri ayah yang baik, pintar, cantik dan kuat meski ayah tak ada disamping kamu selama ini"


Shabira lalu mengangguk sambil tersenyum. Kami akhirnya mengobrol panjang lebar hingga lupa waktu saatku sadar hari mulai sore aku pun mengakhiri pembicaraan lalu menguruh Shabira untuk pulang. Kuantar dia pulang sampai kepanti tapi sebelumnya kami mampir dulu dimini market yang kami lewati, kubelikan dia banyak makanan sesuai keinginannya setelah itu barulah kami pulang.


"Ayah pulang dulu ya, kamu langsung masuk kerumah jangan main kemana-mana lagi" ucapku sambil mengelus rambut Shabira.


"Baik ayah. Apa ayah tidak mampir dulu?"


"Lain kali saja ya, ayah masih ada urusan lain"


"Baiklah kalau begitu.Hati-hati dijalannya ayah"


"Makasih sayang, ayah akan hati-hati, sekarang ayah pulang dulu ya"


Shabira lalu mengangguk, dia langsung masuk kerumah sementara aku kembali ke vila.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2